
"Siapa bidadari sur... " Mulut argha seakan terkunci. Dia terhipnotis dengan aura kecantikan yang keluar dari istrinya. Ya Tuhan..., aku baru menyadari jika dia sangatlah cantik, batin Argha.
"Kak! Kak Argha!" ucap Nadhifa seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah kakaknya.
Namun sang kakak, masih bergeming. Matanya tak berkedip mengagumi kecantikan istrinya.
"Kakakkkk!!" teriak Nadhifa, tepat di telinga kakaknya.
"Shitt!! Kamu apaain sih, dek?" tegur Argha kaget, dan langsung menutup kupingnya.
"Huh, kakak yang apaan? Melihat kak Gintan segitunya. Sampai bola mata mau jatuh tuh, dari tempatnya!" sungut Nadhifa, kesal.
"Maklum beb, ayang Gintan kan syantiek, makanya tuan muda begitu tersepona melihatnya. Benar kan, say?" timpal si pria kemayu itu.
"Terpesona!" Nadhifa membenarkan kata plesetan yang terucap dari pria kemayu itu.
"Itu bahasa artist beb! Ish, kamu ini seperti tidak pernah menonton TV saja!" gerutu si banci.
"Sudah-sudah, tidak perlu berdebat! Ada apa, tuan datang kemari?" tanya Gintani, mengalihkan pembicaraan.
"Apa?? Tuan??" pekik Nadhifa dan pria kemayu itu berbarengan.
"Hey kak Gintan, dia itu suami kamu. Masa iya, kamu memanggilnya tuan?" tegur Nadhifa.
"Iya say, nggak lucu banget! Nanti kalau kalian jalan, di anggap pembokat ma majikan, loh! Yassalam...!" ujar sang pria kemayu, tepok jidat.
Wajah Argha memerah, rahangnya terlihat mengeras, merasa dipermalukan oleh ucapan si pria kemayu itu.
Sebenci-bencinya Gintani kepada suaminya, namun dia masih memiliki perasaan untuk selalu menjaga kehormatan sang suami. Gintani tidak ingin harga diri suaminya jatuh di depan mata adiknya dan si pria kemayu itu.
"Sudahlah, kalian tidak perlu menggoda suamiku. Itu memang panggilan sayangku untuk tuanku yang tampan ini. Suami idaman para wanita. Benar kan, sayang?" ucap Gintani seraya menghampiri dan menyentuh dada bidang suaminya.
__ADS_1
Namun sentuhan itu ternyata di salah artikan oleh suaminya. Dengan cepat Argha menangkap tangan Gintani. Tangan kirinya menarik pinggang gintani. "Aku menyukai panggilan terakhirmu, sayang." lirih Argha.
Aroma mint yang keluar dari hembusan napas suaminya, membuat Gintani sedikit tergoda.
"Ma... maksud, anda?" bisik Gintani.
"Aku tahu kau hanya ingin menjaga kehormatanku saja. Karena itu kau berpura-pura manis terhadapku. Tak apa, aku sangat menyukainya. Bersikaplah manja, dan terus panggil aku sayang untuk selamanya!" ucap Argha penuh penekanan.
Gintani menundukkan kepalanya. Dia pun terjebak oleh kata-kata nya sendiri. Ya Tuhan, dasar pria arrogant yang tidak tahu berterima kasih, batin Gintani.
Argha meraih dagu Gintani dan sedikit mengangkatnya. Bibir mungil itu seolah menjadi magnet. Dia mendekati Gintani dan mulai mengecup lembut bibir tipis itu.
"Ish, Kak Argha! Jangan menodai kesucian mata Dhifa dengan perbuatan mesum kalian!" gerutu Nadhifa seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Tak apa beb, lumayan ... tontonan gratis!" timpal si banci.
"Dasar banci rombeng!" Kembali Nadhifa menggerutu seraya memonyongkan bibir lima sentinya.
Perdebatan adik ipar dan penata riasnya, dijadikan Gintani sebagai satu kesempatan untuk menghindari Argha. Gintani pun berlari keluar dari kamar rias itu.
"Kau mau kemana?" tanya Argha.
"Aku hendak turun tuan. Mungkin sebentar lagi acara akan di mulai," jawab Gintani.
"Acara memang sedang di mulai, karena itu papah menyuruh aku untuk mengajakmu turun. Ayo!" ajak Argha seraya menggenggam tangan Gintani. Mereka pun turun manuju ballroom hotel Crown, tempat dimana resepsi akbar digelar.
Tiba di depan pintu ballroom, kedatangan mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Terlebih lagi tamu perempuan dan juga ibu-ibu sosialita, komunitas yang dibangun oleh mamah tirinya Argha.
Mereka terlihat kecewa saat melihat pria muda menantu idaman, tengah berjalan menggandeng erat lengan seorang wanita anggun berhijab. Pun dengan beberapa kolega perempuan Argha yang terlihat cemberut dan menatap sosok Gintani dengan tatapan membunuhnya.
Senyum indah dan rona kebahagiaan, terpancar jelas di wajah pasangan itu. Dengan penuh keramaham, mereka menyalami para tamu undangan dan mengaminkan do'a yg terucap dari mulut para tamu undangan.
__ADS_1
Melihat kebahagiaan di wajah cucunya, tanpa terasa, air mata kakek Wira pun meleleh. Arya, akhirnya tugas ayah untuk menjaga putrimu, telah usai nak. Semoga engkau bahagia di sana, batin kakek Wira seraya tersenyum memandang cucunya yang sedang berdiri di atas pelaminan.
Berbeda dengan ketiga sahabat Argha. Alex, Bram dan Kevin, sangat terkejut ketika menyadari wanita yang tengah berdiri di samping sahabatnya.
"Bukankah itu gadis yang telah menampar Argha?" tanya Kevin.
Bram mengangguk tanda membenarkan.
"Ish, apa yang terjadi dengan tuan angkuh itu? Apa dia telah berubah pikiran dan berbalik mencintai gadis itu?" tanya Kevin lagi.
"Entahlah!" jawab Bram seraya mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja dia kena karmanya dan malah mencintai gadis itu. Bukankah batas cinta dan benci itu amatlah tipis?" lanjut Bram.
"Aku rasa skenarionya tidak seperti itu." jawab Alex seraya menatap tajam pasangan pengantin itu.
"Maksud lo?" tanya Kevin dan Bram seraya mengernyitkan keningnya.
"Apa kau tahu sesuatu, Al?" tanya Bram, menyelidik.
"Hei..., kenapa bertanya padaku? Bukankah kamu asistennya?" Alex malah balik bertanya.
Bram mendengus kesal. "Untuk beberapa hal, dia memang sangat terbuka padaku. Tapi untuk hal ini, aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Semenjak dia pernah menghilang tiga tahun yang lalu, dia menjadi orang yang sangat tertutup untuk urusan perempuan." lanjut Bram.
Alex diam. Dia hanya menatap tajam pasangan yang tengah tersenyum menyalami tamu-tamunya. Ada apa dibalik semua ini Ar? Aku harap kau tidak akan pernah mempermainkan kembali kehidupan gadis itu, batin Alex.
Sementara itu, di sudut kiri ballroom, tampak seorang gadis yang terlihat marah dan kecewa melihat pasangan muda yang tengah duduk di pelaminan. Dia mendengus kesal seraya menghentak-hentakan kakinya. Dengan penuh kemarahan, dia pun keluar dari ballroom hotel. "Lihat saja nanti, aku pasti akan menghancurkan pernikahanmu!" Gumamnya seraya bejalan tergesa-gesa.
Brugh...!
"Aww....!"
Bersambung...
__ADS_1
Mohon maaf, slow up...
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa