
Setelah tiba di kediaman ayahnya, Argha segera memasuki ruang kerja sang ayah. Dia cukup terkejut saat mendapati Ilona tengah duduk di sofa ruangan itu.
"Duduklah!" perintah Tuan Jaya kepada anaknya
Argha menurut, dia kemudian duduk di sofa single yang berada tak jauh dari sofa yang diduduki Ilona.
Ilona semakin cemberut melihat sikap Argha yang memilih duduk di sofa yang lain daripada sofa panjang yang sedang dia duduki. Ada apa ini, Kak Argha? Kenapa sepertinya aku merasa kamu sedang menghindari aku, batin Ilona.
"Argha, Papa memanggil kamu hanya untuk mendengar kepastian dari mulut kamu tentang hubunganmu dengan gadis ini," ucap Tuan Jaya.
"Argha tidak mengerti, Pa," jawab Argha.
Tuan Jaya menghela napasnya, "Gadis ini meminta pertanggungjawaban kamu atas malam itu. Jadi, apa jawaban kamu?" tanya Tuan Jaya, to the point.
Argha sama sekali tidak terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini Ilona selalu mengancam hendak menemui ayahnya, tapi Argha tidak peduli.
"Aku pasti bertanggung jawab, tapi tidak sekarang," jawab Argha.
"Apa mak–"
"Lalu kapan? Kapan Kakak akan menikahi aku? Apa harus menunggu aku hamil dulu?" Saking emosinya mendengar jawaban Argha, Ilona sampai memotong kalimat Tuan Jaya. Dan Tuan Jaya tidak menyukai hal itu.
"Tapi faktanya kamu tidak hamil, 'kan? Kamu sendiri tahu aku sedang berusaha untuk menerima kamu. Tolong jangan paksa aku!" ucap Argha.
"Tapi ini tidak adil! Kakak yang telah menghancurkan masa depanku, apa aku harus diam saja menerima semua itu?" teriak Ilona.
"Aku pasti bertanggung jawab, aku hanya minta waktu sedikit lagi, Na. Aku–"
"Cukup!" Tuan Jaya memotong perdebatan mereka.
"Jadi kapan, Argha?" tanya Tuan Jaya penuh penekanan
"Pa, Argha masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Tolong beri Argha waktu satu bulan lagi. Setelah itu, Argha siap melakukan apa pun yg ilona minta," jawab Argha.
"Apa kamu dengar itu?" tanya Tuan Jaya kepada Ilona.
Ilona mengangguk dan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, saya rasa semuanya sudah cukup jelas. Silakan kalian pergi dari ruangan saya!" usir Tuan Haya kepada kedua orang yang telah menghapus rasa simpatinya.
🍀🍀🍀
"Jadi pindah kamarnya, Neng?" tanya Bik Susan saat melihat Gintani tengah membersihkan kamar kakek Wira.
"Iya, Bik. Kamar kakek sirkulasi udaranya jauh lebih bagus. Ruangannya juga cukup luas, jadi gintan bisa naruh box baby-nya di sini," jawab Gintani.
"Iya, Neng bener juga. Ya sudah, nanti biar Bibik suruh orang untuk mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan," ucap Bik Susan.
Gintani mengangguk. Dia kembali memeriksa barang-barang yang tidak terpakai di kamar kakeknya. Setelah melipat rapi sisa pakaian kakeknya, Gintani mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah koper. Rencananya, dia akan menaruh pakaian kakeknya itu di dalam sebuah koper yang nantinya akan diletakkan di dalam lemari. Gintani memang sengaja menyimpan beberapa setel pakaian milik kakeknya.
Pandangan Gintani terkunci pada suatu benda yang tergeletak di atas lemari. Dia kemudian menarik kursi dan menaikinya. Kaki Gintani sedikit berjinjit untuk mengambil benda yang tak lain adalah sebuah koper kecil.
__ADS_1
"Ish Neng, hati-hati!" teriak Bik Susan yang kaget melihat Gintani berdiri di atas kursi.
Teriakan bik Susan cukup mengejutkan Gintani. "Eh," ucap Gintani terkejut.
"Astaghfirullah hal adzim, awas Neng!" pekik Bik Susan.
Gintani terlihat hilang keseimbangan dan tubuhnya oleng. Beruntungnya tangan kanannya reflek memegang lemari dan tanpa sadar mendorong koper kecil itu hingga jatuh ke lantai.
Brakk!
Koper itu jatuh dan terbuka, hingga membuat isi koper keluar berserakan di lantai.
Gintani turun dari atas kursi. Dia berjongkok untuk melihat barang-barang dalam koper itu.
"Apa ini?" gumam Gintani, meraih beberapa berkas yang berserakan di atas lantai.
"Surat Penyerahan Adopsi." Gintani kembali bergumam.
Gintani membuka satu per satu lembaran kertas tersebut. Kertas-kertas yang berisi tentang pengambilan hak asuh dirinya dari sebuah panti asuhan.
Tangan Gintani meraih sebuah kotak yang berisi barang-barang yang tertinggal saat di rumah pamannya. Senyum Gintani mengembang saat melihat rantai gelang kecil miliknya dulu. Gintani segera melepaskan liontin merpati dari kalung yang dipakainya. Dia kemudian mengembalikan liontin tersebut pada tempatnya.
"Hmm, kini kau kembali tinggal bersama temanmu, 'kan? Sudah lama kalian terpisah, pasti kalian sangat kesepian satu sama lain." Gintani bermonolog sendiri seraya menatap dua buah mainan burung merpati yang terpasang dalam gelang itu.
"Ini kado untukmu!"
"Apa ini kakak?"
"Itu gelang. Tadi malam, Kakak sama enin jalan-jalan ke pasar malam. Tiba-tiba, Kakak melihat gelang berbandul burung merpati. Kakak tahu kamu sangat menyukai burung merpati, karena itu Kakak membelinya untuk kamu."
"Sini, biar Kakak pakaikan!
"Pas, 'kan?"
Iya, Kakak ... gelangnya pas di tangan Na."
"Na," gumam Gintani.
"Aarghh!"
Gintani berteriak, dia memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Neng, ada apa Neng?" Bik Susan yang sedang membereskan meja kerja kakek Wira menjadi kaget, segera dia menghampiri Gintani.
"Ke-Kepala Gintan sakit banget, Bik," ucap Gintani, masih memegang kepalanya.
"Ya, sudah ... kita istirahat dulu, yuk!" ajak Bik Susan.
Bik Susan meraih tubuh Gintani supaya berdiri, dia hendak membawa Gintani ke kamarnya.
"Nanti, tolong bawa benda-benda itu ke kamar Gintan ya, Bik!" Gintani menunjuk beberapa benda dari dalam koper itu.
__ADS_1
Bik Susan mengangguk. Setibanya di kamar, Bik Susan membantu Gintani merebahkan dirinya di atas ranjang. Kehamilan Gintani mulai membesar, karena itu pergerakannya menjadi sedikit terganggu.
"Neng tidur saja, Bibik ambilkan obat dan vitamin Neng dulu," ucap Bik Susan.
Gintani mengangguk.
Bik Susan kemudian pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tak lama kemudian, dia kembali lagi ke kamar Gintani.
"Diminum Neng, obatnya," ucap Bik Susan.
Gintani bangun, dia menerima beberapa butir obat dan vitamin dari tangan Bik Susan, lalu meminumnya.
"Sekarang, Neng tidur ya, biar sisanya Bibik yang bereskan," kata Bik Susan.
"Bik, tolong ambilkan dulu kotak yang berwarna merah tadi!" pinta Gintani.
"Baiklah," jawab bik Susan.
Bik Susan kemudian pergi ke kamar kakek Wira untuk mengambil benda-benda yang diminta oleh Gintani. Beberapa menit kemudian, Bik Susan kembali dengan membawa kotak merah di tangannya.
"Ini, Neng," ucap Bik Susan.
Gintani bangun. Dia menerima kotak itu dari tangan Bik Susan.
"Terima kasih, Bik," jawab Gintani.
"Ya sudah, kalau begitu bibik lanjut beres-bered ulu, Neng. Kalau ada perlu, Neng tinggal teriak panggil Bibik saja," ucapnya.
"Iya, Bik," jawab Gintani.
Setelah Bik Susan pergi, Gintani kembali membuka kotak itu. Dia mengeluarkan foto-foto masa kecilnya satu per satu. Ada satu foto yang sangat menarik perhatian Gintani.
"Foto ini? Kenapa foto ini ada di sini?" gumam Gintani.
"Kak Adi! Kak Adi!" teriak gadis kecil itu.
"Hai, Na! Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya laki-laki kecil itu.
"Hehehe, ini sebagai ungkapan pembelaan Na kepada negara Palestina, Kak," jawab gadis itu sambil terkekeh.
"Aku foto ya, Na!" ujar anak laki-laki itu.
"Cetak dua ya Kak! Buat Na satu!" pinta gadis kecil tersebut.
Saat kedua anak kecil sedang menikmati makanannya di bawah pohon akasia. Tiba-tiba,
"Na...! Na...! Niaaa... Ayo kita pulang!"
"Nia? Nia ... Si-Siapa Nia? Siapa wanita paruh baya itu ... Aaargh!"
Gintani kembali memegang kepalanya saat tak mampu mengingat setengah bagian bayangan kedua anak kecil itu. Sejurus kemudian, dia kembali membaringkan tubuhnya supaya lebih rileks lagi. Gintani tidak ingin anaknya ikut stress karena dia memaksakan diri untuk mengingat kembali wajah-wajah yang melintas dalam ingatannya. Namun, tidak dipungkiri jika Gintani masih memiliki rasa penasaran akan bayangan-bayangan itu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏