Takdir Gintani

Takdir Gintani
Tidak Berjodoh


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Alex membalikkan badan dan kembali berjalan memasuki dapur. Awalnya, Alex hanya ingin mengambil makanan karena jamuan di depan hampir habis. Tapi, saat dia melihat Heru tengah berjongkok di hadapan Gintani, Alex merasa penasaran dan mendekati mereka.


Di belakang pohon beringin yang tak jauh dari hadapan mereka, Alex dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang dikatakan Heru. Meskipun sudah bisa menduganya, tapi Alex cukup terkejut melihat Heru tengah melamar Gintani. Alex merasa senang ketika melihat Heru mengutarakan isi hatinya. Namun, entah kenapa hati Alex merasa tak sanggup mendengar jawaban yang akan Gintani berikan. Karena itu, Alex memutuskan untuk pergi tanpa mendengar jawaban Gintani.


Semoga kamu bahagia, Tan, batin Alex.


.


.


.


Gintani terpaku mendengar pernyataan cinta Heru yang tiba-tiba. Jujur, dia telah menutup hatinya terhadap cinta. Gintani sudah tidak ingin mengecap rasa apa pun lagi tentang cinta. Baginya, cukup Argha yang telah memberikan pahit manisnya cinta. Dan Gintani tidak akan memberikan jalan kepada siapa pun untuk membuka pintu hatinya. Dia sudah cukup bahagia hidup berdua bersama putrinya.


"Gin, apa kamu bersedia menjadi istri Mas?" Heru mengulangi pertanyaannya.


Gintani terhenyak dari lamunannya. Sejenak dia menatap Heru untuk mencari celah ketulusan dalam kedua bola matanya yang berwarna kecoklatan itu. Dan, tentu saja ... ketulusan itu tergambar jelas di sana.


Ada rasa sakit ketika Gintani menyadari ketulusan Heru. Mungkin, jika laki-laki ini adalah orang yang pertama yang bertemu dengannya, Gintani akan menjawab 'iya'. Bagaimana tidak? Heru adalah sosok lelaki yang bertanggung jawab. Dia mempunyai hati seluas samudera, hati yang begitu tulus dalam menyayangi seseorang. Siapa pun yang akan menjadi pasangannya, tentu akan merasa beruntung.


Tapi saat ini? Ini bukan waktu yang tepat bagi Gintani untuk menerima dia sebagai pendamping hidupnya. Bagaimanapun juga, lelaki yang baik hanya tercipta untuk wanita yang baik pula. Dan Gintani merasa tidak cukup baik untuk lelaki baik itu. Heru berhak mendapatkan wanita yang sempurna. Seorang wanita yang masih perawan. Bukan seperti dia yang hanya seorang janda beranak satu.


"Gin, kok diam? Apa itu artinya ... kamu menolak lamaran Mas?" tanya Heru lagi.


"Mas ... Gi-Gintan minta maaf. Tapi jujur saja, Gintan sudah tidak memikirkan lagi untuk mencari pasangan. Gintan sangat berterima kasih atas perasaan Mas terhadap Gintan. Tapi maaf, Mas ... Gintan tidak bisa membalas perasaan Mas," jawab Gintani, lirih.


Tubuh Heru terasa lemas mendengar jawaban Gintani. Sebenarnya, Heru memang sudah menduga jika Gintani akan menolak perasaannya. Tapi, saat mendengarnya secara langsung, tidak bisa dipungkiri jika Heru merasa kecewa. Heru menundukkan kepalanya.


Gintani merasa bersalah karena tak mampu membalas rasa cinta Heru. Tapi dia juga tidak bisa berpura-pura mencintai Heru. Akan jauh lebih baik, laki-laki itu terluka sekarang daripada terus berharap akan cinta yang tidak mungkin bisa dia berikan.


Gintani memegang bahu Heru dan sedikit menggoyangkannya. "Mas ... Mas Heru tidak apa-apa, 'kan? Gintan minta maaf jika Gintan sudah menyakiti hati Mas Heru," ucap Gintani.


Heru mendongak. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya. "Mas baik-baik saja, Gin. Ayo, sebaiknya kita kembali ke aula sebelum ada yang menyadari kita menghilang," ujar Heru.


"Mas, sekali lagi Gintan minta maaf, Gintan tidak bermaksud melukai perasaan Mas. Gin–"


Heru menempelkan telunjuknya di bibir Gintani. "Ssst, jangan katakan apa pun lagi, Gin. Insya Allah, Mas ikhlas menerima semua keputusan kamu. Mas hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan Putri. Maafkan Mas karena sudah lancang mencintai kamu," kata Heru memotong kalimat Gintani.


"Tidak apa-apa, Mas. Gintan tidak menyalahkan perasaan Mas. Setiap orang memiliki hak untuk mencintai," jawab Gintani.


"Dan, setiap orang memiliki hak untuk menolak perasaan itu," tukas Heru.

__ADS_1


"Maaas ...." Gintani merengek.


"Hehehe, maaf Gin, Mas hanya bercanda. Ayo kita ke aula!" ajak Heru.


"Sebentar, Mas!" tolak Gintani.


"Kenapa? Apa kamu berubah pikiran?" tanya Heru, menggoda Gintani.


Gintani menggelengkan kepalanya. "Gintan cuma mau bilang. Semoga suatu hari nanti, Mas Heru bisa menemukan jodoh yang tepat, yang terbaik untuk masa depan Mas Heru," kata Gintani.


Heru tersenyum. "Ayo kita pergi!" ajaknya sambil mengulurkan tangan kanannya.


Gintani menerima uluran tangan itu dan mereka pun kembali ke aula panti.


Tiba di aula panti.


"Kalian dari mana?" tanya bu Ningsih begitu melihat Heru dan Gintani tiba di aula.


"Kami dari taman belakang, Bu," jawab Gintani.


"Hmm, jadi ... kapan kalian akan menikah?" tanya bu Ningsih lagi.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sementara itu, di kantor APA Architecture. Hena, sekretaris baru Argha, segera menghampiri Argha setelah selesai meeting.


"Permisi Pak, tadi ada telepon dari pihak sekolah, katanya Bapak ditunggu secepatnya di sekolah den Miki," ucap Hena.


Argha mengernyitkan keningnya. "Kenapa pihak sekolah tidak langsung menghubungi saya?" tanya Argha.


"Katanya mereka sudah menghubungi Anda, tapi ponsel Anda tidak aktif," jawab Hena.


Argha merogoh ponselnya di saku dalam jasnya. "Rupanya ponselku mati," gumam Argha. "Baiklah, setelah makan siang, saya akan pergi ke sana," lanjutnya


"Tapi, Tuan ..."


"Ada apa lagi?" Argha mulai merasa kesal oleh ulah sekretarisnya.


"Mereka minta segera. Karena den Miki ... Emh ... den Miki ..."


"Ada apa lagi dengan anak itu?" Tiba-tiba Bram menghampiri mereka.

__ADS_1


"A-anu Tuan, Den Miki dituntut dikeluarkan dari sekolah oleh para wali murid," ucap Hena.


"Apa?"


Argha sangat terkejut mendengar ucapan sekretarisnya. Secepat kilat dia pun berlari ke arah lift.


Bram hanya mendengus kesal. "Ish, kekacauan apa lagi yang sudah dia perbuat?" gerutunya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Apa kamu sudah mengutarakan perasaanmu?" tanya Alex saat mereka sedang makan siang di kantin pabrik.


Heru hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Alex. "Sepertinya, ada yang penasaran," jawab Heru.


"Hahaha, tentu saja aku penasaran. Sebagai calon kakak ipar yang baik, aku harus menyeleksi dulu apakah yang akan menjadi suami adikku itu memiliki kualitas yang baik atau tidak? Sehingga dia layak menjadi adik iparku," ucap Alex.


"Halah ... lagak lu bro!" timpal Heru seraya melemparkan kerupuk ke arah Alex.


Alex mengelak. "Hehehe, sudahlah, aku hanya bercanda. Jadi benar kamu sudah melamar Gintani. Bagaimana tanggapan dia? Apa jawaban dia terhadap lamaran kamu?" tanya Alex.


Heru menarik napasnya panjang, kemudian mengembuskannya secara perlahan. "Dia menolakku, Lex," jawab Heru.


Alex terkejut mendengar jawaban Heru. Dia sungguh tidak menyangka jika Gintani akan menolak lamaran Heru.


"Tapi kenapa, Her?" tanya Alex semakin penasaran.


"Entahlah. Dia hanya bilang, dia ingin fokus mengurus Putri," jawab Heru.


"Jujur, aku tidak tahu harus bilang apa, Her. Tapi, mungkin kalian memang tidak berjodoh," kata Alex.


"Kata-katamu sungguh menyakitkan boy. Tapi aku akui, apa yang kamu bilang, memang ada benarnya juga. Mungkin memang kami tidak berjodoh," jawab Heru.


"Bersabarlah Her. Tuhan sedang mempersiapkan hal yang indah untuk kamu di masa depan," ucap Alex sok bijak.


"Hahaha, aku nggak selebay itu kali. Aku hanya berharap, semoga Gintani menemukan orang yang tepat untuk masa depannya," jawab Heru.


"Aamiin ...."


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa πŸ€—πŸ™

__ADS_1


__ADS_2