
Gintani tersenyum melihat bayangan itu. Dia tidak menyangka, jika dirinya begitu gembira saat pria kecil itu akan menikahinya. Sungguh konyol, batin Gintani.
Gintani berjalan mendekati pohon akasia tersebut. Dia mulai mengitari pohon itu untuk membuktikan sesuatu dalam ingatannya. Dan ... benar saja, meskipun terlihat samar, tapi ukiran nama mereka masih terpampang di sana. Senyum tipis tergambar jelas di raut wajah Gintani. Tangannya mulai mengusap ukiran nama itu. Tapi, siapa pria kecil yang selalu bersamanya di masa lalu? Adi?
Gintani memegang kepalanya saat sakit itu kembali menyerang. Dia mencoba mengatur napasnya. Gintani mulai duduk di bawah pohon akasia sambil menyelonjorkan kakinya. Sejenak, Gintani mengusap-usap perutnya. "Kamu capek, ya Dek? Maaf, ya ... Mama sudah membawa kamu menaiki bukit ini hingga kamu merasa lelah. Tapi Mama yakin Adek kuat. Sedikit lagi ya Dek, bertahanlah!" gumam Gintani.
Gintani mulai mengajak bicara anak dalam kandungannya. Dia tersenyum lebar saat tendangan-tendangan itu mulai dia rasakan. Seolah anaknya mengerti apa yang sedang Gintani bicarakan. Rasa lelah dan semilir angin yang menerpanya membuat Gintani terlelap ke alam mimpi.
"Kakak! Tidak jangan bawa dia, tolong jangan bawa kakak itu!"
Gintani kecil terus berteriak-teriak, tapi orang-orang yang menyeret bocah laki-laki yang dipanggilnya kakak, tidak menghiraukan teriakan Gintani.
"Tunggu! Apa yang kalian lakukan terhadap cucuku!" Tiba-tiba seorang laki-laki tua menghampiri mereka.
Bocah kecil itu meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman satpam. Dia kemudian berlari dan bersembunyi di belakang kakeknya.
"Baguslah Anda datang. Tolong ajari cucu Anda sopan santun. Mau jadi apa kelak jika sudah dewasa, kecilnya saja sudah bertingkah seperti seorang kriminal."
"Jaga mulut kamu! Cucuku memang seorang pendiam dan tidak suka bergaul, tapi dia bukan seorang penjahat."
"Iya, dia bukan seorang penjahat. Tapi calon penjahat," tukas seorang ibu-ibu.
"Apa maksud Anda?" Laki-laki tua itu mengernyitkan keningnya.
"Dia telah mencekik temannya gadis kecil itu."
"Bohong!" tukas Gintani kecil, "Dia bukan temanku, dan kakak tidak mencekik dia. Kakak menyelamatkan aku dari Kak Chantika yang selalu menggangu aku." Gintani kecil menghampiri kakek itu.
"Tolong selamatkan Kakak, Kek. Dia tidak bersalah. Dia hanya ingin menyelamatkan Na." Gintani kecil memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangan kecilnya.
Kakek itu tersenyum. "Tenanglah, Nak. Dia pasti akan baik-baik saja."
__ADS_1
Sejurus kemudian, kakek itu mendekati orang-orang tersebut. "Apa kalian dengar apa yang gadis kecil itu katakan? Cucuku hanya ingin menyelamatkan dia dari gangguan temannya."
"Tapi dia sendiri yang berteriak dan meminta tolong kepada kami karena cucu Anda ingin mencekiknya," ucap ibu-ibu itu seraya menunjuk Chantika.
"Tidak Ibu, Kakak tidak mencekik Kak Chantika. Na lihat sendiri, dia hanya memegang pipinya Kak Chantika dan memperingatkan dia untuk tidak menggangu Na lagi. Tolong jangan bawa Kakak, Na mohon Bu!"
Melihat kepolosan di wajah gadis kecil itu, akhirnya orang-orang yang hendak membawa pria kecil tersebut membubarkan diri.
"Ayo Adi, kita pulang!"
"Sebentar Kakek, Adi ingin mengucapkan terima kasih dulu pada gadis kecil itu."
Sang kakek tersenyum, dia membiarkan cucunya menghampiri gadis kecil tersebut.
"Terima kasih atas bantuannya."
"Tidak apa-apa, Kak. Kakak memang tidak bersalah. Siapa nama Kakak? Na baru lihat Kakak di sini."
"Mas Argha!"
Gintani mengerjapkan matanya. Rupanya dia kembali bermimpi tentang kedua anak kecil yang selalu bermain dalam ingatannya.
Adi? Argha Putra Adisastra ... apa mungkin anak kecil yang selalu ada dalam benakku adalah orang yang sama dengan mas Argha? Apakah aku Na yang sama yang selama ini dia cari? Jika itu benar, bagaimana cara aku mengatakan semua ini pada mas Argha. Akankah dia percaya jika aku adalah Na yang dia cari? batin Gintani.
Gintani menengadahkan wajahnya. Sejenak dia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya dengan Argha dulu. Kenapa takdir begitu kejam. Sungguh manis pertemuan di masa kecil, tapi ketika beranjak dewasa, orang yang selalu melindunginya justru memberikan luka dalam kehidupannya.
Gintani mengelus perutnya. "Ternyata, papa kamu adalah orang yang sama yang pernah menjanjikan pernikahan pada kehidupan mama. Lalu apa yang harus mama lakukan, nak? Ada banyak luka yang telah dia toreh, dan mama tidak bisa melupakannya begitu saja," ucap Gintani pada anak yang masih berada dalam kandungnya.
Sebaiknya aku pergi dari rumah kakek. Jangan sampai mas Argha menemukan aku jika suatu hari dia mengetahui kalau aku adalah Na-nya, batin Gintani.
Seulas senyum tercipta saat dia mengenang kembali kisah masa kecilnya. Takdir kehidupan seseorang memang tidak pernah bisa diduga.
__ADS_1
Tersadar dari lamunan masa kecilnya, Gintani bangkit untuk meninggalkan tempat itu. Sekarang dia sudah sangat yakin jika dirinya memang pernah tinggal di sini. Dan satu per satu, serpihan kenangan itu, kini mulai menjadi sebuah puzzle yang utuh.
Saat hendak menuruni bukit, kaki si kecil menendang perut Gintani begitu kuat. Gintani meringis merasakan sakit yang cukup hebat. Dia pun duduk di bangku kayu untuk mengatur napasnya dan memenangkan diri. Gintani mulai bersenandung melantunkan shalawat untuk menenangkan anaknya.
🍀🍀🍀
"Ini Bu, bahan makanan yang saya janjikan kemarin," ucap Heru pada ibu ketua yayasan.
"Aduh, Nak Heru. Kenapa jadi merepotkan begini. Seharusnya Nak Heru cukup memberi tahu saja. Biar Ibu yang menyuruh orang untuk mengambilnya ke tempat Nak Heru," ucap Bu Ningsih.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini sudah menjadi tugas saya," jawab Heru. "Ngomong-ngomong, mau di simpan di mana bahan makanannya, Bu?" tanya Heru lagi.
"Oh, simpan di freezer dapur saja, Nak."
"Baiklah."
Heru kemudian mengangkat bahan-bahan makanan itu untuk disimpan di dapur belakang. Saat dia sedang menyimpan bahan-bahan itu ke dalam sebuah freezer besar yang terletak di depan jendela, tanpa sengaja Heru melihat seorang wanita yang tengah duduk di bangku kayu. Meskipun dari kejauhan, tapi raut wajah wanita itu terlihat begitu meneduhkan.
Masya Allah ... Siapa wanita itu? Kenapa raut wajahnya begitu menyejukkan hati? batin Heru.
Setelah tugasnya selesai, Heru kemudian segera pamit undur diri kepada pemilik panti.
"Terima kasih Nak Heru. Semoga Allah membalas kebaikan Nak Heru berlipat ganda," ucap Bu Ningsih.
"Aamiin. Sama-sama, Bu. Mari!"
Heru melajukan mobilnya meninggalkan panti asuhan itu. Saat mobilnya mendekati bukit tersebut, wajah wanita itu semakin terlihat jelas. Karena penasaran, Heru menghentikan laju mobilnya.
Setelah memarkir mobilnya, Heru turun dan mulai menapaki jalan setapak untuk menaiki bukit. Dengan penuh semangat, Heru melangkahkan kakinya. Ini kali kedua hatinya tersentuh begitu saja oleh seorang wanita. Ya, dulu Heru pernah merasakan rasa ini terhadap mantan tunangannya. Namun, setelah mendapatkan sebuah pengkhianatan, rasa itu mati seketika. Dan sekarang, entah kenapa hatinya berdebar melihat wanita berhijab itu, meskipun dari kejauhan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗