
Mak Ijah, seorang wanita yang sudah cukup tua tampak gemetar memegang nampan yang berisi air minum untuk tuannya. Tangan keriput yang hendak dia gunakan untuk mengetuk pintu, akhirnya dia tarik kembali. Dengan langkah gontai, dia pun kembali menuruni tangga.
Tiba di dapur, mak Ijah tampak berdiri terpaku di depan meja makan. Otaknya kembali berkelana pada keganjilan-keganjilan yang dia temukan. Saat membereskan kamar tuannya, mak Ijah sering melihat bantal dan selimut berserakan di atas sofa. Mak Ijah sendiri merasa heran, tapi dia mengabaikannya. Mak Ijah juga sering memergoki tuannya tidur di ruang kerja. Dan itu pun masih dia abaikan. Puncak kecurigaan mak Ijah terjadi pada saat tanpa sengaja tuannya melihat Gintani tak berhijab. Gintani begitu gugup dan segera berlari ke kamar. Padahal menurut agama, sah-sah saja seorang istri membuka auratnya di hadapan sang suami. Namun, mak Ijah kembali mengabaikannya.
Dan sekarang ... sekarang mak Ijah mengerti kenapa semua itu terjadi. Mereka bukan suami istri, dan pantas saja hubungan mereka terlihat kaku dan berbeda dengan hubungan suami istri yang semestinya. Mak Ijah menghela napasnya. Apa yang dia dengar barusan, membuat jiwa rumpinya meronta. Sayangnya, sebentar lagi azan magrib berkumandang. Mak Ijah pun tak punya kesempatan untuk merumpi dengan sesama asisten rumah tangga.
🍀🍀🍀
Argha tengah mengemasi barang-barang yang akan dia butuhkan selama tinggal di Amerika. Kebetulan, dia diminta tuan Hanzel untuk datang ke sana. Ada beberapa kolega tuan Hanzel yang merasa tertarik dengan beberapa karya Argha.
Setelah memeriksa semua dokumen atas nama Michael, Argha pun memutuskan untuk mengadopsi anak itu. Tak ada salahnya mengabulkan permintaan terakhir Ilona, toh setiap kebaikan pasti akan berbuah kebaikan pula. Terlebih lagi, anak kecil itu seorang piatu. Sudah kewajiban Argha untuk membantu memelihara dan mendidiknya.
Malam ini, Argha melakukan penerbangan dengan pesawat pribadinya. Setelah hampir 23 jam mengudara, akhirnya pesawat pribadinya mendarat juga di bandara John F Kennedy. Tiba di sana, mobil jemputan yang dikirim tuan Hanzel pun sudah tampak di pelataran parkir bandara. Argha menaiki mobil tersebut untuk menginap di rumah tuan Hanzel.
Argha disambut gembira oleh tuan hanzel. Pasalnya, selama ini dia sangat merindukan almarhum putranya. Kehadiran Argha seolah menjadi pengobat rindu.
"Daddy senang kamu mau menginap di sini," ucap tuan Hanzel memeluk Argha.
"Iya, Dad. Argha juga senang bisa menemani Daddy selama di sini, jawab Argha membalas pelukan tuan Hanzel.
"Ya sudah, istirahatlah! Kamu pasti capek setelah seharian melakukan perjalanan," lanjut tuan Hanzel.
"Iya, Dad. Kalau begitu, Argha permisi dulu," ucap Argha.
Tuan Hanzel mengangguk. Setelah kepergian Argha, tuan Hanzel pun kembali ke ruang kerjanya.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, seperti biasa Heru berangkat kerja pagi-pagi sekali. Ada banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan hari ini. Heru juga harus menghadiri beberapa rapat penting untuk kontrak kerja samanya dengan beberapa restoran dan pemilik cafe di kota ini. Setelah itu, sore harinya Heru harus mengecek barang-barang yang keluar masuk untuk hari ini.
"Aku pergi dulu ya, Gin!" ucap Heru sambil menenteng tas kantornya.
Gintani yang sedang menyuapi hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Daah Putri ... Papa kerja dulu, ya. Mau cari uang yang banyak buat sekolahnya Putri nanti." Heru mendekati Putri dan mengecup pucuk kepalanya.
Gadis kecil itu terlihat senang dengan perlakuan hangat dari orang yang dianggap ayahnya.
__ADS_1
"Mamanya nggak dicium juga, Tuan," celetuk mak Ijah yang sedang membawakan air minum untuk Putri.
Gintani dan Heru hanya bisa saling tatap menanggapi ucapan mak Ijah.
"Ya sudah, aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum," ucap Heru berlalu pergi.
"Wa'alaikumaalam," jawab Gintani dan mak Ijah.
Setelah selesai menyuapi putrinya, Gintani membawa Putri ke kamarnya. Tinggal mak Ijah seorang diri di ruang makan itu. Tak lama kemudian, Mina datang menenteng keranjang belanjaannya. Dia menyapa mak Ijah dan mulai menata barang belanjaannya di kulkas.
Mak Ijah mendekati Mina.
"Eh Min, apa kamu tahu jika tuan dan nyonya itu sebenarnya bukan suami istri?" Mak Ijah memulai pembicaraannya.
Mina menghentikan pekerjaannya. Dia menatap wanita tua itu sambil mengerutkan keningnya.
"Mak ini ngomong apa, sih?" tanya Mina tak mengerti.
"Iya, Min. Jadi, sebenarnya nyonya dan non Putri itu bukan keluarganya tuan Heru, mereka bukan anak dan istrinya majikan kita, Min." Mak Ijah memperjelas ucapannya.
Merasa tak ditanggapi omongannya, wanita tua itu hanya mengerucutkan bibirnya sambil berlalu pergi dari hadapan Mina.
Mina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita itu. "Heran, usianya semakin bertambah, bukannya mengurangi dosa, tapi malah menambahnya dengan berghibah. Mana orang yang dighibahkannya majikan sendiri lagi," gumam Mina, tersenyum kecut.
Setelah beres menata bahan makanan di kulkas, Mina mengeluarkan beberapa bahan yang akan dia masak untuk makan siang nanti. Sejak Gintani kembali dari rumah sakit, Heru memang lebih memilih makan di rumah daripada di luar rumah.
Sementara Mina sibuk di dapur, mak Ijah melipir ke halaman belakang untuk menemui gengs-nya.
"Psst... Psst...!" Mak Ijah memberikan kode kepada asisten rumah tangga di samping rumahnya. Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah samping.
"Eh, Mak Ijah ... tumben jam segini sudah santai,* ucap wanita paruh baya itu.
"Iya nih is ... kebetulan yang masak hari ini giliran Mina," ucap mak Ijah. "Kamu sendiri gimana? Apa sudah beres pekerjaanmu?" tanya balik mak Ijah.
"Jam segini, Isna sudah santai Mak. Majikan Isna, 'kan dua-duanya kerja. Setelah mereka berangkat kerja, Isna cuma bengong aja di rumah," jawab Isna.
"Eh, si Mumun mana, Is?" tanya mak Ijah.
__ADS_1
"Bentar lagi juga datang, Mak. Mumun, 'kan harus nganterin anak majikannya sekolah," jawab Isna.
"Hehehe, iya-ya ... untung anak majikanku masih kecil," ucap mak Ijah.
"Ya, tapi, 'kan Putri itu urusan si Mina, bukan urusan kamu, Mak. Nggak kayak aku, semuanya harus aku urusi sendiri. Mulai dari ngurus anaknya sampai ngurus rumahnya juga. Aku heran sama majikan aku. Kenapa sih, dia masih betah menduda?" Tiba-tiba Mumun datang dan ikut nimbrung obrolan mak Ijah sama Isna.
"Hahaha ... itu namanya paket komplit, Mun," ledek Isna.
Mereka pun tergelak bersama. Obrolan-obrolan ringan tentang majikannya masing-masing meluncur bebas dari mulut mereka yang hobinya memang bergosip. Hingga tanpa sadar mak Ijah keceplosan menceritakan apa yang kemarin dia dengar.
"Masa sih, Mak?" tanya Isna begitu terkejut mendengarnya.
"Serius, Is ... Mak sendiri nggak akan percaya kalau mendengar dari mulut orang lain. Tapi Mak dengar dengan telinga Mak sendiri kalau sebenarnya nyonya Gintani itu seorang janda," jawab mak Ijah meyakinkan gengs-nya.
"Lalu tuan Heru? Bagaimana ceritanya dia bisa membawa nyonya Gintani ke rumahnya sendiri?" tanya Mumun.
Mak Ijah hanya mengedikkan kedua bahunya. "Itulah yang tidak Mak mengerti," ucapnya.
Imelda menyeringai di balik pintu rumahnya. Kabar yang baru saja dia dengar, seolah menjadi angin surga baginya. Hmm baguslah.. Lihat saja nanti, aku pasti akan membuat mereka berpisah, batin Imelda.
Setelah mendapatkan kartu As wanita yang dianggap rivalnya, Imelda pun segera pergi ke cafe untuk bekerja.
.
.
.
Merasa kehilangan rekan kerjanya, Mina pergi ke belakang rumah untuk mencari mak Ijah. Ke mana lagi dia pergi kalau bukan ke tempat itu. Tempat di mana geng rumpi berkumpul untuk bergosip. Mina begitu geram melihat mak Ijah cekikikan ketika membicarakan para majikannya. "Heran, sudah tua tapi nggak pernah takut api neraka," gumam Mina.
"Maak, dipanggil nyonya Gintan!" teriak Mina yang seketika menghentikan tawa mereka.
Mak ijah mendengus kesal melihat Mina memanggilnya. Mau tidak mau mak Ijah pun mengakhiri acara bergosipnya. Dia segera berpamitan kepada kedua temannya.
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗
__ADS_1