
"Sudah kuduga. Selama ini aku memang sudah curiga kalau kamu menyembunyikan sesuatu!" teriak Nadhifa seraya berjalan mendekati Ilona.
"Fa, kamu ... sejak ka–"
Plak!
Ucapan Ilona terhenti saat Nadhifa menampar pipinya.
"Fa, apa yang kamu lakukan?" tanya Ilona sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Itu hukuman karena kamu sudah menjebak kakakku," ucap Nadhifa, geram.
"Menjebak bagaimana? Apa maksud kamu menuduhku seperti itu? Aku sungguh tidak mengerti," kata Ilona, heran.
"Jangan berpura-pura lagi di hadapanku! Aku tahu, malam itu kamu pasti menjebak kakakku, supaya kamu bisa menikah dengan kakakku, 'kan? Lihat saja, akan aku adukan semua yang kudengar saat ini pada kak Argha!" ancam Nadhifa.
Setelah mengancam Ilona, Nadhifa kemudian kembali ke meja makan.
Sejenak Ilona diam, dia berpikir mungkin Nadhifa telah mendengar pembicaraannya.
Ish, kenapa jadi seperti ini? Aku tidak akan membiarkan dia mengacaukan pernikahanku, batin Ilona.
Ilona segera berlari menyusul Nadhifa. Dan benar saja, tiba di sana dia melihat Nadhifa sedang menceritakan dirinya dengan wajah yang memerah karena amarah.
"Cukup Nadhifa Putri Adisastra, Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap tidak sopan di depan tamu!" bentak tuan Jaya.
"Maafkan aku, Pa. Tapi Kak Argha harus mengetahui hal ini." Nadhifa mencoba membela diri.
"Sudahlah Fa Sayang, jangan bicara yang bukan-bukan. Apa kamu sadar jika menuduh tanpa bukti itu jatuhnya fitnah?" ucap nyonya Rosma.
"Ma, kenapa tidak ada yang percaya sama Nadhifa. Tadi Fa dengar sendiri jika ada seseorang yang mengancam dia. Apalagi jika bukan sebuah kejahatan terencana yang sudah dia lakukan," jelas Nadhifa.
Brak!
Merasa sudah berada di batas kesabaran, Hendra menggebrak meja makan.
"Jadi, untuk ini kalian mengundang kami makan malam, hah? Memangnya siapa kalian yang bisa seenaknya mempermalukan kami di tempat umum. Huh, apa ini cara kalian memperlakukan calon menantu kalian dulu? Hmm, pantas saja jika menantumu berselingkuh," ucap Hendra, sinis.
Syerrr...
Darah Argha berdesir mendengar ucapan Hendra.
"Hentikan Nadhifa! Jangan buat kekacauan lagi. Sekarang juga, Kakak minta kamu pergi dari sini," ucap Argha membentak adiknya.
"Tapi, Kak ...."
"PERGI!"
Dengan berat hati, Nadhifa pun meninggalkan acara makan malam dua keluarga itu.
Ilona tampak tersenyum lebar dari ujung koridor. Setelah melihat Nadhifa menjauh, Ilona segera menghampiri mereka.
"Om, nenek kemarin yang kita tolong, beliau membutuhkan uang untuk perawatan rumah sakit. Baru saja pihak rumah sakit menghubungi aku. Kalau kita tidak segera melunasinya, maka nenek itu akan dikeluarkan dari rumah sakit. Padahal kondisinya masih belum pulih," ucap Ilona penuh kecemasan.
Hmm, rupanya Ilona kembali bersandiwara agar mereka tidak merasa curiga. Ilona tahu, ucapan Nadhifa bisa mempengaruhi mereka. Benar-benar wanita rubah yang sangat licik.
🍀🍀🍀
Di kamar Jessica.
"Maaf, Kak. Djenar suka langsung menghapusnya kalau sudah diedit," ucap Djenar.
__ADS_1
Tubuh Jessica lemas seketika. Padahal ini satu-satunya harapan Jessica untuk mengungkap kecelakaan yang menimpa sepupunya.
"Kamu yakin tidak menyimpan lagi di tempat lain, kartu memori atau apa gitu?" tanya Jessica, sedikit berharap bisa menemukan sesuatu.
Djenar tampak berpikir. "Sebentar," ucapnya.
Djenar kemudian meraih tas ranselnya yang tersampir di sandaran kursi. "Coba Kakak cek di flashdisk ini. Kalau tidak salah, Djenar pernah memindahkan file-file dari laptop waktu laptopnya Djenar instal ulang," jawab Djenar.
Jessica meraih flashdisk tersebut dan segera memasangnya di laptop. Perlahan dia membuka file-file yang tersimpan di sana.
"Nama file-nya, Nar?" tanya Jessica.
"Sini, biar Djenar saja yang buka. Djenar juga sudah lupa nama file-nya apa," jawab Djenar.
Djenar mengambil alih laptop tersebut dan mulai membuka beberapa file. Setelah lima belas menit.
"Ini, Kak," kata Djenar.
"Coba buka!" perintah Jessica.
Djenar membuka video tersebut. Dan benar saja, dalam rekaman yang Djenar ambil saat merekam temannya yang tengah turun dari motor, terdengar bunyi dentuman mobil menabrak sesuatu dan sebuah mobil putih melesat melaju dengan kecepatan tinggi.
"Mundur Nar!" perintah Jessica.
Djenar menekan tombol back.
"Zoom!" perintah Jessica lagi.
Djenar pun memperbesar gambar itu. Di sana terlihat dengan jelas plat mobil berwarna putih tersebut. Jessica segera mencatatnya.
"Terima kasih, Djenar," ucap Jessica.
Djenar bingung. "Sebenarnya ada apa Kak?" tanyanya.
Djenar hanya bisa nyengir kuda, dia tidak menyangka jika hobinya yang selalu dimarahi sang ayah, justru akan berguna untuk mengungkapkan kebenaran.
🍀🍀🍀
Hari demi hari terus berganti. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Tinggal dua hari lagi menuju hari yang sangat dinantikan Ilona. Ilona tampak begitu bahagia. Akhirnya, penantian dia selama 15 tahun tidak sia-sia. Sebentar lagi dia akan menyandang gelar Nyonya Adisastra.
Sementara itu di rumah sakit daerah, Heru masih dengan sabar menjaga dan merawat Gintani dan putrinya. Bayi kecil itu dari hari ke hari mulai menunjukkan perubahan. Berat badannya mulai naik, meskipun dia masih harus berada dalam inkubator. Sedangkan Gintani, dia masih terbaring koma.
Di Kalimantan, proses pembangunan pabrik berjalan dengan lancar. Para pekerja bekerja dengan giat di bawah pimpinan Jaka. Sesekali Bram pergi ke lapangan untuk memantau dan menjelaskan rangkaian desain yang tidak dipahami Jaka.
Seperti hari ini. Sejak pulang dari lokasi, Bram mampir ke rumah Jaka untuk menjelaskan beberapa hal tentang desain yang belum dipahami oleh Jaka. Mereka terlihat serius membahas rangkaian yang akan dijadikan tempat produksi. Hingga tanpa mereka sadari, malam sudah semakin merangkak.
"Permisi, Tuan! Apa saya bisa berbicara sebentar?" tanya asisten rumah tangganya Jaka.
"Ya, bicaralah!" ucap Jaka.
"Tadi saya mendapatkan telepon dari kakak ipar saya. Dia menyuruh saya pulang karena ada hal penting yang harus dia bicarakan kepada saya. Apa saya boleh meminta cuti untuk satu hari?" tanya asisten rumah tangga itu.
"Baiklah. Kamu boleh cuti besok," jawab Jaka.
"Terima kasih Tuan, kalau begitu saya pamit dulu," kata asisten rumah tangga.
"Pamit? Maksud kamu?" Jaka mengernyitkan keningnya.
"Saya mau pulang malam ini juga. Supaya besok sore, saya bisa kembali kemari," jawab asisten rumah tangga itu.
"Tapi, jarak dari sini ke rumah kamu cukup jauh. Dan ini sudah malam. Sebaiknya, besok pagi saja kamu pulang," saran Jaka.
__ADS_1
"Tidak Tuan, saya harus pulang hari ini. Tuan tidak usah khawatir, malam ini, kakak saya akan menjemput saya di terminal," jawab sang asisten rumah tangga.
"Telepon kakak kamu, suruh dia menjemputmu di rumah saja!" Tiba-tiba, Tania datang bergabung bersama mereka.
"Tapi, Nyonya ...."
"Sudah turuti saja perintah saya. Kami semua mencemaskan keadaan kamu. Lagi pula, tidak baik anak gadis pergi sendirian di waktu malam," ucap Tania.
"Baiklah. Jalau begitu, saya bersiap-siap dulu, Tuan, Nyonya."
Jaya dan Tania mengangguk. Setelah itu, Jaka melanjutkan pekerjaannya kembali bersama Bram, sedangkan Tania kembali ke kamarnya.
Setelah beberapa menit berlalu, terdengar deru motor di halaman depan.
*Assalamu'alaikum!" sapa seseorang di balik pintu.
"Wa'alaikumsalam."
Jaka berjalan untuk membukakan pintunya.
"Eh, kamu Nan, ayo masuk!" ajak Jaka kepada pegawainya.
"Saya tunggu di sini saja, Pak."
"Tunggulah di dalam. Lagi pula, adikmu sedang bersiap-siap. Ayo!"
"Baik, Pak."
Laki-laki itu masuk, mengikuti Jaka dari belakang.
"Ayo duduk, Nan!" kata Jaka.
Bram mendongak untuk melihat tamunya Jaka. Seketika dia terkejut melihat laki-laki itu berdiri di hadapannya.
"Kau?" tanya Bram.
kemarahannya datang saat mengenali wajah itu. Tak ayal lagi, Bram menghampiri laki-laki itu dan,
Bugh!
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa 🙏🤗
Untuk para readers yang masih setia mengunjungi karya recehan ini, sebelumnya author minta maaf banget jika cerita ini terlalu bertele-tele. Namun, alurnya memang seperti itu untuk mendapatkan suatu kisah yang sambung-menyambung. Akan terkesan aneh jika antagonis tertangkap tanpa sebab dan alasan. Jadi mohon bersabar, yaaa.
Pastinya ada yang bertanya-tanya kenapa banyak tokoh-tokoh yang bermunculan. Sebelumnya author mohon maaf untuk hal itu. Tapi, setiap tokoh itu muncul hanya pemanis saja. Namun demikian, mereka pun memiliki peran masing-masing dalam mengungkap kebenaran yang sedang dicari.
Bagi yang penasaran tentang siapa mereka, author akan ulas sedikit.
Bagas dan Jaka
Kalian bisa mengenal mereka dalam kisah Kyara dan Bagas di novel recehan yang berjudul Perjuangan CEO Muda.
Sedangkan untuk tokoh Djenar sendiri, dia ada dalam karya berikutnya yang memang masih author garap.
Kisah perjodohan antara seorang siswa SMA dengan ustadz muda. Kalau ada yang menyimak dari awal tentang kisah Gintani, tentunya sudah bisa menebak, 'kan, siapa ustadz muda kita ini 🤭🤭
__ADS_1
Terima Kasih