
Setelah mendapatkan kuncinya, Alex kemudian membuka pintu rumah itu. Dia mengajak Gintani memasuki rumahnya.
"Bagaimana, Tan? Suka?" Alex kembali bertanya.
"Suka, Bang. Rumahnya nyaman dan nggak terlalu luas juga. Jadi nggak terlalu capek untuk membersihkannya, hehehe," gurau Gintani.
"Huh, dasar pemalas," ucap Alex seraya mengusap pucuk kepala Gintani.
Gintani hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan hangat Alex. Dari dulu, Alex memang selalu bisa membuat hatinya merasa nyaman. Dia sudah seperti seorang kakak yang bisa melindungi Gintani dari hal apa pun.
"Sebentar, Abang bersihkan dulu kamarnya. Setelah itu kamu tidurkan anakmu di kamar," kata Alex.
Gintani mengangguk, dia kemudian duduk di kursi sambil menggendong putrinya yang masih terlelap.
Beberapa menit berlalu. Alex kembali mendekati Gintani. "Tidurkan anakmu, Tan!" perintah Alex.
Gintani mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamar untuk menidurkan putrinya.
Alex membuka jendela-jendela agar udara masuk dan ruangan ini tidak terlalu pengap. Dia pergi ke ruang TV dan mulai membuka kain-kain putih yang menutupi barang-barang di sana.
"Ada sapu, Bang?" tanya Gintani mendekati Alex.
"Tuh, di sudut ruang keluarga," jawab Alex.
Gintani pergi untuk mengambil sapu tersebut. Dia pun mulai asyik membersihkan rumah yang akan ditempatinya.
Pukul 4 sore, acara membereskan rumah pun selesai. Alex memesan makanan online untuk makan siang mereka yang telah terlewat. Sedangkan Gintani, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat dia membuka jendela dapur, pandangan Gintani terkunci pada sebuah bukit yang telah menjadi kenangan. Hanya saja, penampakan bukit itu terlihat dari belakang. Hmm, apa ini perkampungan yang sama dengan panti asuhan tempat aku tinggal dulu? batin Gintani. Dia mengedarkan pandangannya, tapi tidak melihat keberadaan rumah besar itu. "Ah sudahlah, mungkin itu bukit yang berbeda," gumam Gintani.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Gintani kembali bergabung bersama Alex di ruang keluarga.
"Makan, Tan?" tawar Alex begitu melihat Gintani duduk di hadapannya.
Gintani mengangguk, dia pun mulai mengambil makanannya.
"Oh iya, Bang. Apa di sini ada pasar loak?" tanya Gintani.
Alex mengernyitkan keningnya. "Pasar loak?" ucap Alex, mengulang pertanyaan Gintani.
"Iya, tempat yang menjual barang-barang bekas," jawab Gintani.
"Iya, Abang tahu. Tapi untuk apa kamu menanyakan hal itu?" Alex balik bertanya.
"Gintan mau beli mesin jahit bekas. Siapa tahu Gintan bisa buka usaha jahit di tempat ini," jawab Gintani.
Alex merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Setelah beberapa detik, telepon mulai tersambung.
"Hallo Dek, apa mesin jahit di rumah masih layak pakai?" tanya Alex yang rupanya sedang mengubungi adiknya.
"Masih Bang. Memangnya kenapa?" tanya Geisha di ujung telepon.
__ADS_1
"Apa kamu akan menggunakan mesin itu?" Alex kembali bertanya.
"Hadeh Abang ... jangan ngelindur, deh. Geisha, 'kan nggak bisa menjahit. Mesin itu masih kita rawat karena peninggalan ibu," jawab Geisha.
"Teman Abang ada yang membutuhkan mesin tersebut. Apa boleh Abang minta untuk teman Abang?" tanya Alex lagi.
"Silakan, Bang. Daripada di sini nggak dipakai, lebih baik diberikan sama teman Abang yang membutuhkan. Lumayan, 'kan, bisa dimanfaatkan," jawab Geisha lagi.
"Ya sudah, makasih ya Dek," kata Alex.
"Sama-sama, Bang. Oh iya, kapan Abang pulang? Ini sudah sangat sore, loh!" tanya Geisha.
"Mungkin agak malaman Abang pulang. Abang sedang membantu teman yang lagi pindahan rumah," jangan Alex.
"Oh, ya sudah. Hati-hati, Ya Bang. Daaah ..." ucap Geisha.
"Ya," jawab Alex, singkat.
Alex menutup teleponnya.
"Kamu dengar itu? Besok akan aku kirimkan mesin jahitnya kemari," kata Alex kepada Gintani.
Gintani tersenyum. "Makasih ya, Bang," ucapnya.
"Sama-sama. Oh iya, Abang mau ke minimarket dulu sebentar, mau beli bahan makanan buat isi kulkas. Jadi kalau nanti malam kamu lapar, kamu nggak akan kesulitan cari makanan," ucap Alex.
"Nggak perlu repot-repot Bang, Gintan bisa sendiri kok," jawab Gintani.
"Sudah, nggak merepotkan sama sekali kok. Kamu tunggu di rumah sebentar, ya!" perintah Alex.
"Heru, Tan!" Alex menunjukkan layar ponselnya kepada Gintani.
"Angkat saja, Bang! Mungkin penting," jawab Gintani.
Alex mengangguk dan menggeser icon berwarna hijau.
"Ya, hallo Her!" sapa Alex.
"Lex, apa kamu sudah bertemu mereka? Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka baik-baik saja?" Heru terdengar cemas di ujung telepon.
"Her, ada yang harus aku sampaikan padamu. Sebenarnya, begitu aku datang," Alex menatap Gintani, "ca-calon istrimu sedang mengalami masalah," lanjut Alex.
"Maksud kamu? Apa yang terjadi padanya?" Heru bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.
Akhirnya, Alex menceritakan kejadian yang Gintani alami sesaat sebelum akhirnya Gintani pergi. Satu pun tak ada yang terlewat.
"Lex, apa sekarang dia sedang bersamamu?" tanya Heru.
"Ya," jawab Alex.
"Bisakah kamu memberikan teleponnya kepada dia?" pinta Heru.
__ADS_1
"Tentu saja. Sebentar...."
Alex menyerahkan ponselnya. "Heru ingin berbicara denganmu, Tan," bisik Alex.
Gintani pun menerima ponsel Alex. "Hallo, Mas!" sapa Gintani
"Gin, apa kamu baik-baik saja?" tanya Heru.
"Iya, Mas. Gintan baik-baik saja. Mas tidak perlu khawatir," jawab Gintani.
"Bagaimana Mas tidak khawatir, kamu keluar rumah tanpa minta persetujuan dari Mas. Kenapa kamu tidak menunggu sampai Mas pulang? Bukankah kita bisa mencari jalan keluar tanpa harus pergi dari rumah?" tanya Heru.
"Tidak Mas, bagaimanapun juga, Gintan harus pergi dari rumah. Gintan tahu, mungkin semua ini terkesan begitu egois. Tapi inilah yang terbaik Mas. Gintan tidak mau Mas mengalami masalah lagi karena kehadiran Gintan," jawab Gintani.
"Tapi, Gin ...."
"Sudahlah Mas. Lagi pula, Gintan sudah menemukan tempat yang cocok untuk Gintan. Kalau Mas mau, kapan-kapan Mas bisa main ke rumah Gintan," kata Gintani.
"Tentu saja Mas akan main ke rumah kamu. Mas kangen sama si kecil. Ya sudah jika itu memang keputusan kamu, Mas akan menghargainya, meskipun Mas sangat kecewa. Tapi Mas tidak bisa memaksa kamu. Mas tutup dulu teleponnya, ya. Mungkin dua atau tiga hari lagi, Mas baru bisa pulang. Jaga diri kamu baik-baik, Gin."
"Iya, Mas."
Gintani mengakhiri teleponnya. Dia mengembalikan benda pipih itu kepada Alex. Setelah itu, Alex pergi ke sebuah minimarket terdekat untuk membeli bahan makanan.
πππ
Sementara itu, di apartemen Argha.
"Ini kamar kamu," kata Argha membawa Miki ke sebuah kamar yang selalu ditempati oleh adiknya.
"Sepertinya ini kamar wanita," ucap Miki, dingin.
"Gunakan saja dulu. Besok kamu bisa minta tukang untuk mengubah dekorasinya," kata Argha.
"Baiklah," jawab Miki singkat.
"Dengar Miki, aku tidak ingin ada jarak di antara kita. Jika kamu butuh sesuatu, bilang saja. Selama aku mampu, aku pasti akan memenuhinya," ucap Argha mencoba untuk bersikap baik terhadap bocah dingin itu.
"Bukan aku yang menciptakan jarak tersebut. Tapi Andalah yang justru membuat jarak di antara kita," jawab Miki, sinis.
"Apa maksud kamu? Aku tiβ"
"Sudahlah, aku capek. Tolong tutup kembali pintunya!"
Argha terkejut mendengar kekurangajaran bocah itu dalam bertutur kata. Dengan mendengus kesal, dia kemudian menutup pintunya.
Ya Tuhan, Bram ... kok bisa-bisanya kamu memiliki keturunan seperti itu, gerutu Argha dalam hati.
Argha kembali memasuki kamarnya. Hari yang benar-benar membuat Argha merasa lelah. Argha merebahkan dirinya di atas ranjang. Tatapan matanya terkunci pada bingkai raksasa yang memasang foto pernikahannya.
"Di mana kamu, Gin ... aku sangat merindukanmu."
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa ππ€