Takdir Gintani

Takdir Gintani
Hampir Saja


__ADS_3

"Putri makan dulu, ya, sekarang?" pinta Heru.


Putri mengangguk. Dia kemudian pergi ke meja makan untuk mengambil nasi dan lauknya.


"Gintan minta maaf ya, Mas, karena Gintan sudah lancang bilang ke Putri kalau Mas mau nginep di sini," ucap Gintani begitu Putri menghilang dari balik pintu.


"Iya, Gin ... nggak apa-apa. Mas ngerti, kok," jawab Heru.


"Entahlah, Gintan sendiri nggak tahu kenapa Putri bisa merajuk seperti itu," ucap Gintani, mengeluh.


"Mungkin karena Putri melihat teman-temannya, Gin. Dia sudah semakin besar, karena itu dia akan merasa heran ketika mendapati perbedaan antara dirinya dan teman-temannya," jawab Heru.


Gintani hanya menundukkan kepalanya mendengar penjelasan Heru.


"Ya sudah, ayo kita temani Putri makan! Aku yakin, kamu juga pasti belum makan karena memikirkan masalah Putri," ucap Heru.


"Mas benar, yuk!" ajak Gintani. Mereka berdua pun keluar dari kamar Putri untuk segera bergabung dengan Putri di ruang makan.


.


.


.


"Papa, apa malam ini kita bisa pergi ke pasar malam?" tanya Putri begitu melihat Heru duduk di sampingnya.


"Pasar malam? Di mana?" Heru malah balik bertanya.


"Eca bilang, di lapang utara ada pasar malam. Teman-teman Putri semuanya sudah berkunjung ke sana. Cuma Putri yang belum pernah ke sana, karena Papa nggak pernah pulang," jawab Putri sambil menundukkan kepalanya.


Heru mengangkat dagu Putri dan menatapnya penuh kelembutan. "Sekarang Papa sudah datang. Putri jangan bersedih lagi, ya. Kita pasti akan pergi ke pasar malam itu," ucap Heru.


Putri bersorak gembira. Hatinya benar-benar merasa senang. Ini pengalaman pertama bagi Putri bisa bermanja sepanjang waktu kepada sang ayah.


Gintani hanya menatap sendu ke arah Putri. Dia merasa bersalah karena tidak pernah bisa memberikan keluarga yang utuh untuk putrinya.


🍀🍀🍀


Sementara itu di rumah nin Ifah, seorang anak kecil tengah merajuk kepada neneknya.


"Ayolah Nenek, izinkan Ami pergi ke pasar malam itu, ya?" ucap Ami, cucunya nenek Khalimah yang sedang beranjak remaja.


"Tidak Ami. Apa kamu tidak lihat jika kakek kamu harus membantu enin Ifah menyiapkan pengajian?" ucap nek Khalimah.


"Tapi Ami bisa pergi bareng teman-teman Ami, Nek," rengek anak perempuan itu.


"Tidak Ami. Nenek tidak akan mengizinkan kamu pergi tanpa ada pengawasan orang dewasa!" bentak nek Khalimah.


"Ada apa ini, Mah? Kenapa dengan cucuku yang cantik ini? Dari tadi Enin dengar kok berdebat terus sama nenekmu," ucap nin Ifah.


"Nenek tidak mengizinkan aku pergi ke pasar malam, Nin." Kini, Ami mulai merengek kepada nin Ifah.

__ADS_1


"Sudah jangan merajuk lagi. Nanti biar om Adi yang akan menemami kamu ke pasar malam," ucap nin Ifah.


"Benarkah?" Ami terlihat senang mendengarnya.


"Tentu saja ... nanti Enin akan meminta om Adi untuk menemani kamu ke pasar malam," jawab nin Ifah, menegaskan.


"Hore! Terima kasih, Nin," ucap Ami.


Gadis yang baru beranjak ABG itu bersorak gembira. Setelah mencium kedua pipi nin Ifah, Ami pun pergi untuk memberi tahu teman-temannya. Di halaman depan, dia berpapasan dengan Argha. Gadis remaja itu pun berteriak. "Om, jangan lupa nanti malam, ya!"


Argha hanya melongo melihat tingah anak dari sepupunya itu.


🍀🍀🍀


"Mama cepetan dong, nanti keburu malam!" teriak Putri yang merasa kesal karena ibunya lama berdandan.


"Iya Put, sebentar lagi! Mama tinggal pakai kerudung, nih!" Gintani menjawab sambil berteriak pula.


"Mama kamu kalau dandan seabad ya, Put," ucap Heru menggoda anaknya.


"Iya, Pa. Kek mau kondangan aja," gerutu Putri.


"Ayo ... pada ngomongin Mama, 'kan?" tegur Gintani yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.


"Ups! Ketauan Put," ucap Heru menutup mulutnya sendiri.


"Hehehe, Putri nggak ikutan, ah," ucap Putri sambil berjalan menuju mobil.


Gintani tersenyum, sejurus kemudian dia menyambut uluran tangan Heru. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil.


.


.


.


Setelah melewati dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di lapang utara, tempat pasar malam itu diadakan. Putri melompat turun dari mobil ayahnya. Dia tampak gembira karena bisa pergi ke pasar malam bersama kedua orang tuanya. Sekarang, dia bisa merasakan apa yang pernah Eca katakan. Kebahagiaan.


"Pa, Putri mau naik itu!" teriak Putri kepada ayahnya.


Heru melihat wahana permainan yang ditunjuk putri. "Bianglala?" tanya Heru.


Putri mengangguk.


"Emangnya Putri nggak takut?" timpal Gintani.


"Putri, 'kan anak pemberani. Boleh ya, Pa?" pinta Putri.


"Tentu saja boleh. Tapi ajak juga Mama kamu, ya," ucap Heru.


"Nggak-nggak ... Mama tunggu di bawah saja," ucap Gintani.

__ADS_1


"Ah, Mama nggak asyik. Ayo dong, Ma! Papa pasti jagain kita, jadi Mama tidak usah khawatir," jawab Putri.


"Iya, ayo Gin!" Heru mengajak Gintani.


"Tapi Gintan takut," jawab Gintani.


"Tidak usah takut, aku di sini buat jagain kalian," kata Heru.


Gintani mengangguk. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk menaiki bianglala tersebut. Tanpa mereka sadari, sepasang mata, memerah menyaksikan kebersamaan itu dengan menahan amarahnya.


Seharusnya aku yang berada di posisi itu, bukan dia! batin Argha yang merasa tidak terima dengan kebersamaan anak istrinya bersama Heru. Hati Argha terasa sakit saat anaknya memanggil lelaki lain dengan sebutan Papa.


Waktu terus berlalu, tanpa terasa malam mulai semakin merangkak. Heru mengajak Putri dan Gintani untuk pulang. Setelah puas bermain, akhirnya Putri mau di ajak pulang.


"Cuci tangan, cuci kaki dulu ya, Sayang!" perintah Gintani kepada anaknya.


"Oke Mama!" jawab Putri bersemangat. Dia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, Putri kembali ke ruang tamu setelah mengenakan baju tidur.


"Mama, Papa, bobonya sama Putri ya, sambil bacain dongeng," pinta Putri kepada kedua orang tuanya.


Gintani dan Heru yang telah berganti pakaian juga, hanya saling tatap mendengar permintaan Putri.


"Kok malah bengong. Ayo masuk kamar!" ajak Putri menarik tangan kedua orang tuanya.


Heru dan Gintani terpaksa menuruti ajakan Putri agar Putri tidak curiga terhadap mereka.


Tiba di kamar, Putri segera berbenah menaiki ranjangnya. Dia mengambil posisi di tengah dan memberikan bantal di kiri kanan kepalanya.


"Papa tidur di sini, dan Mama tidur di sini!" ucap Putri menunjuk bantal-bantal tersebut.


Gintani terlihat kikuk, sedangkan Heru hanya tersenyum melihat tingkah anak asuhnya.


"Ayo, Ma!" ajak Heru pada Gintani.


Mereka berjalan menghampiri ranjang Putri dan merebahkan diri di tempat yang telah di sediakan oleh Putri. Heru meraih buku cerita yang ada di atas nakas. Dia mulai membacakan dongeng pengantar tidur untuk anaknya.


Mata gintani mulai terasa berat. Terlebih lagi saat mendengar Heru membacakan dongeng. Dia pun seakan dininabobokan oleh suara Heru yang lamat-lamat mulai tak terdengar. Akhirnya Gintani pun terbuai di alam mimpi.


Mendengar dengkuran halus di telinganya, Heru menghentikan bacaannya. Dia melihat kedua wanita berbeda generasi itu telah terlelap. Sejenak, Heru tersenyum simpul melihat wajah-wajah penuh kedamaian itu. Namun, ranumnya bibir Gintani yang merekah membangkitkan jiwa kelelakian Heru.


Heru turun dari ranjang, menggeserkan Putri sedikit ke kanan. Dia kemudian berjalan mengelilingi ranjang itu dan mulai merebahkan diri di samping Gintani. Heru memeluk Gintani untuk merasakan kehangatan dari tubuh wanita yang kini mengisi hatinya. Niat Heru hanya memeluk. Namun, pergerakan Gintani membuat sesuatu yang berada di bawah tiba-tiba menegang.


Entah memiliki keberanian dari mana, Heru pun mulai menyusupkan wajahnya di ceruk leher Gintani.


Merasai kehangatan napas seseorang, Gintani membalikkan tubuhnya. Posisi mereka kini saling berhadapan. Namun, mata Gintani masih terpejam. Heru memberanikan diri untuk mencium bibir yang tampak seperti kelopak mawar itu. Awalnya hanya menempelkan, tapi gairah tiba-tiba menguasai Heru. Dia mulai memagut bibir itu. Tanpa sadar, Gintani pun membalas pagutan Heru. Dia bermimpi jika suaminya tengah mencumbuinya.


Ciuman yang semula lembut, kini mulai memanas. Jari-jemari yang nakal mulai membuka kancing piyama satu persatu. Gintani tersadar, seketika matanya mengerjap dan mendapati wajah Heru yang begitu sayu mendambakan sesuatu. Gintani pun mendorong tubuh Heru hingga terjengkang, sejurus kemudian, dia membetulkan kancing kemejanya yang terlepas setengah karena aksi Heru. Setelah itu, dia keluar dari kamar putrinya.


Heru terpaku. Dia menyesali perbuatannya. Hampir saja dia melecehkan wanita pujaannya. "Ya Tuhan .. apa yang telah aku lakukan?"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2