
Sepeninggal Alex, Heru kembali bekerja. Dia pergi ke gudang tempat menyimpan bahan baku untuk mengecek bahan baku yang baru saja datang sore ini. Dibantu beberapa orang pekerja, Heru pun mulai mengecek ikan-ikan segar sebagai bahan dasar pembuatan bahan makanan instan.
Asyik berkutat dengan pekerjaannya, tanpa sadar Heru melewatkan jam pulang. Heru baru menyadari keterlambatan jam pulangnya saat keluar dari gudang, dia melihat langit mulai berwarna hitam.
"Astaghfirullahaladzim...! Jam berapa sekarang, Lim?" tanya Heru kepada karyawan yang sedari tadi membantunya.
Halim melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam 6 lebih seperempat, Bos," jawab Halim.
"Ya Tuhan ... aku sudah terlambat sekali," gumam Heru. Dia pun segera berpamitan kepada karyawannya.
Heru melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Entah kenapa, rasa bersalah terhadap Gintani dan putrinya menyeruak di hati Heru pada saat dia terlambat pulang.
Ya Tuhan ... perasaan apa ini, kenapa tidak nyaman sekali? batin Heru.
Heru berpikir untuk langsung pergi ke rumah sakit agar bisa segera menjaga Gintani. Tapi saat tercium bau amis dari pakaian yang dia kenakan, Heru pun mengurungkan niatnya. "Ya sudah, sebaiknya aku pulang dulu untuk mandi. Tidak mungkin aku menemui wanita itu dengan keadaan seperti ini," gumam Heru. Dia kemudian menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah.
Heru mengernyitkan kening saat melihat keadaan rumah yang gelap gulita. Apa Mina dan Mak Ijah lupa menyalakan lampu? batin Heru. Dia mempercepat langkahnya untuk segera tiba di kamar. Seluruh badannya terasa lengket dan dia sudah tidak kuat ingin segera menyegarkan tubuhnya.
Heru membuka pintu. Tangannya mulai merayap pada dinding ruang tamu untuk menyalakan saklar.
Trek!
Heru menekan saklar lampu hingga seketika ruangan itu menjadi terang benderang.
"Kejutaaaan!" ucap Mina dan Mak ijah berbarengan.
"Astagfirullahaladzim! Kalian apa-apaan sih?" Heru sedikit berteriak karena merasa kaget. Dia juga heran dengan sikap pengasuh Putri dan asisten rumah tangganya yang berdiri rapat.
"Putri mana, Min? Apa dia sedang tidur?" tanya Heru yang heran tak melihat Putri dalam gendongan Mina.
"Nananana...." Tiba-tiba, celotehan anak itu terdengar dari balik punggung Mina dan Mak Ijah.
Heru terkejut. "Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Heru menyelidik.
Mina dan Mak Ijah hanya tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Heru. Mereka kemudian bergeser ke kanan dan ke kiri, hingga wanita anggun berhijab yang tengah menggendong anak kecil, tampak di antara mereka.
"Kau?" Heru begitu terkejut mendapati Gintani berada di rumahnya. Setengah berlari, dia menghampiri Gintani. Tiba di depan Gintani, tangan Heru terulur untuk menggendong gadis kecilnya. Namun,
"No... no...." Putri menolak digendong Heru. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya ke leher Gintani.
Heru mengernyitkan keningnya, tumben Putri tidak menyambutnya pulang. Apa karena ada sang ibu? pikir Heru.
__ADS_1
"Putri nggak kangen Papa?" tanya Heru.
"Nanana...." Putri kembali berceloteh.
"Putri kangen Papa Heru, tapi Putri nggak mau digendong Papa Heru karena Papa Heru bau ikan. Bukan begitu, Put?" ucap Gintani.
"Yayaya...." Putri mengangguk-anggukan kepalanya sambil kembali melihat ke arah Heru. Tangan mungilnya membekap mulut dan hidungnya sendiri.
Heru tergelak melihat tingkah Putri. "Baiklah my little princess, Papa mandi dulu ya ... nanti kita main lagi," ucap Heru.
Putri kembali mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus berceloteh.
"Aku ke kamar dulu, ya," pamit Heru kepada Gintani.
Gintani mengangguk, sejurus kemudian, dia menyerahkan Putri kepada pengasuhnya. Gintani sendiri segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
.
.
.
"Hmm, Aldi harus tahu ini," gumam Heru. Tapi sejenak dia berpikir kembali. Tidak ... sebaiknya aku tidak menceritakan dulu kehadiran Gintani di rumah ini. Aku takut keluargaku akan salah paham, terlebih lagi bunda Rita, batin Heru.
Tiba di kamarnya, Heru segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesekali senyumnya mengembang saat membayangkan hari-harinya yang akan semakin berwarna dengan kehadiran Gintani dan putrinya.
Heru seperti mendapatkan energi positif dengan kehadiran Putri. Dan sekarang, energi positif itu semakin bertambah dengan kehadiran ibu dari gadis kecil itu. Sungguh pelengkap hidup yang begitu sempurna, pikir Heru. Senandung kecil pun mengiringi bunyi guyuran air di bawah shower.
Satu jam telah berlalu. Heru menuruni tangga untuk bergabung makan malam dengan Gintani dan Putri. Samar-samar celoteh anak kecil itu terdengar hingga ke ruang keluarga. Ah, rupanya dia sangat senang sekali dengan kehadiran ibunya. Sedikit pun, gadis kecil itu tak pernah lepas dari pangkuan sang bunda.
"Hallo Putri cantik, sudah makan, Sayang?" tanya Heru sambil mencium pucuk kepala Putri.
"Ini, baru selesai disuapi," ucap Gintani.
"Makan yang banyak, ya ... biar sehat," kata Heru.
Gadis kecil itu tertawa saat pipi gembulnya dicium Heru.
"Sudah makan, Gin?" tanya Heru kepada Gintani.
"Gintan nungguin kamu, Mas," jawab Gintani.
__ADS_1
Hati Heru menjerit senang mendengar jawaban Gintani. Baru kali ini ada seorang wanita yang menunggunya untuk makan bersama. Rasanya, jika memungkinkan, Heru ingin waktu berhenti agar kebersamaannya dengan Gintani dan Putri tidak berakhir.
"Ya sudah ... Min, tolong bawa Putri ke ruang bermain. Biar Mamanya makan dulu," perintah Heru kepada Mina.
"Baik, Tuan," jawab Mina. "Ayo Non Putri, kita nonton film kartun kuda poni, ya," ajak Mina kepada gadis kecil itu.
Putri tak pernah keberatan diajak oleh pengasuhnya. Mungkin karena Mina merawat Putri sejak bayi.
Setelah Putri pergi, Heru dan Gintani pun mulai makan bersama.
"Gin, besok aku akan mengajak kamu untuk pergi berbelanja," ucap Heru.
"Belanja? Belanja apa, Mas?" tanya Gintani.
"Semua kebutuhan kamu. Pakaian kamu, make up, tas, sepatu. Pokoknya apa saja tentang pernak-pernik wanita," jawab Heru.
Gintani tersenyum. "Tidak perlu Mas. Gintan tidak membutuhkan semua itu," jawab Gintani.
"Tapi Gin, kamu tentu membutuhkan beberapa setel pakaian untuk ganti," ucap Heru.
Gintani tampak berpikir. "Gintan akan beli online saja, Mas. Gintan nggak mau pergi ke mana-mana. Lagi pula, kota ini terlalu asing buat Gintan," jawab Gintani.
"Aku tahu. Apa kamu ingin pulang? Kalau kamu mau, aku bisa mengantarkan kamu ke kotamu," ucap Heru.
Gintani menggelengkan kepalanya. "Gintan sudah tidak punya siapa-siapa lagi Mas," jawab Gintani lirih. Seketika raut wajahnya terlihat bersedih.
Tak ingin memberikan kesedihan yang mendalam, Heru pun memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa lagi tentang kehidupan Gintani sebelumnya.
🍀🍀🍀
Di kota metropolitan yang penuh dengan berbagai aktivitas, tampak Argha sedang merenung di depan kaca jendela kantornya. Tangannya memegang secarik kertas yang dia dapatkan dari kantor polisi. Kertas itu merupakan surat Ilona yang dia terima dari salah seorang kurir dari penjara wanita.
Kebingungan melanda Argha sesaat setelah membaca isi surat itu. Di sana dikatakan jika Ilona ingin bertemu dengan Argha karena hendak mengatakan hal yang penting. Dalam surat itu juga terlampir surat keterangan dokter tentang kondisi Ilona saat ini. Diduga, kista yang dialami Ilona pecah, sehingga Ilona sering mengalami rasa sakit yang begitu hebat.
Sadar akan kondisinya yang telah parah, Ilona mengirimkan surat kepada Argha yang isinya sungguh di luar dugaan.
"Aku mohon Kakak, hanya Kakak yang bisa menyelamatkan anakku!"
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1