Takdir Gintani

Takdir Gintani
Sakit


__ADS_3

Empat puluh menit perjalanan, akhirnya Ilona tiba di sebuah rumah yang tampak asri. Ilona mengetuk pintu. Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu.


"Maaf, cari siapa?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Apa Celine ada di rumah?" Ilona balik bertanya.


"Siapa, Mbok?" teriak seseorang dari dalam rumah.


"Ini, Nya..., ada yang mencari Nona Celine," jawab Mbok Inem.


Sejurus kemudian, Nyonya Shella keluar untuk menemui tamu anaknya.


"Tika?" teriak Nyonya Shella, terkejut mendapati teman anaknya yang telah hilang selama bertahun-tahun.


"Ta-tante, apa kabar?" sapa Ilona.


"Tante baik, Nak. Kamu apa kabar? Sudah lama kamu tidak pernah main ke rumah ini. Sebenarnya, apa yg terjadi sama kamu? Terakhir tante dapat kabar jika kamu mengalami kecelakaan. Benarkah itu?" cehcar Nyonya Shella.


"Ma-maaf tante. Bolehkah Tika masuk?" pinta Ilona.


"Ah, ya. Masuklah, Nak!"


Ilona kemudian memasuki rumah diikuti oleh Nyonya Shella dan asisten rumah tangganya.


"Mbok, tolong buatkan susu coklat hangat, ya. Setelah itu, panggil Celine kemari!" perintah Nyonya Shella.


"Baik, Nyonya."


Mbok Inem pergi ke belakang. Sedangkan Nyonya Shella mengajak Ilona untuk duduk di ruang tamu.


Tak lama kemudian.


"Tika!" pekik Celine yang mendapati sahabat SMP-nya sedang duduk bersama ibunya.


"Cel!" jawab Ilona.


Seketika, Ilona menghambur ke dalam pelukan Celine. Bertemu lagi setelah puluhan tahun berpisah, sungguh membuat hati keduanya terasa haru.


"Kamu kemana saja, Tik? Terakhir pamanmu bilang, kamu mengalami kecelakaan. Apa itu benar?" tanya Celine setelah mengajak Ilona duduk kembali.


Ilona hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Celine.


"Kecelakaan apa sih, Tik? Soalnya, paman kamu nggak pernah cerita tentang kecelakaan yang menimpa kamu."


"Ceritanya panjang, Cel. Tapi saat ini, aku butuh bantuan kamu."


Celine dan ibunya saling pandang untuk sejenak. Mereka belum mengerti apa maksud dan tujuan Ilona datang ke rumahnya.


"Tante, Celine, se-sebenarnya, aku mau minta izin tinggal di sini untuk beberapa waktu. Apa kalian keberatan?" tanya Ilona.


Meskipun sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ilona, tapi Nyonya Shella berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.


"Tentu saja tante tidak keberatan. Lagipula, kalian sudah sangat lama tidak bertemu. Pasti ada banyak pengalaman yang ingin kalian ungkapkan satu sama lain. Bukan begitu, Cel?"


Celine mengangguk sambil menggenggam erat tangan Ilona yang sedikit gemetar. Dia menatap wajah Ilona yang pucat.


"Tik, sepertinya kamu kelelahan. Kita istirahat di kamarku saja, yuk! Lagian, ini sudah malam. Oh iya, apa kamu sudah makan?" tanya Celine.


Ilona hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Hmm, ya sudah, aku akan minta mbok Inem untuk membawa makan malam kamu ke kamar kita. Ayo!" ajak Celine. "Kita ke kamar dulu, ya Mah!" pamit Celine kepada ibunya.


Nyonya Shella mengangguk.


Setelah mendapatkan persetujuan ibunya, Celine memapah Ilona menuju kamarnya di lantai atas.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya.


Hangatnya sinar mentari pagi menyeruak ke dalam kamar Gintani. Selepas membersihkan diri, Gintani pun keluar menuju dapur. Tampak Bi Sumi sedang sibuk menata bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya untuk sarapan.


"Pagi, Bi!" sapa Gintani menepuk pelan Bi Sumi.


"Eh, copot-copot!" Bi Sumi yang latah, seketika terkejut mendapati suara dan tepukan lembut di bahunya.


Gintani sedikit tergelak melihat tingkah Bi Sumi yang menurutnya sangatlah lucu. "Maaf, mengagetkan, Bi," ucap Gintani.


"Eh, tidak apa-apa, Non! Non perlu apa, biar Bibi bawakan."


"Tidak usah Bi, aku hanya ingin mengambil air minum saja," jawab Gintani.


"Baiklah, Bibi ambilkan, ya! Non duduk saja."


"Tidak usah, Bi! Saya bisa mengambilnya sendiri. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya," tolak Gintani.


Selang beberapa menit, Gintani kembali mendekati Bi Sumi. "Masak apa, Bi?" tanyanya.


"Sayur sop, Non. Kebetulan, semalam Nona Jessica meminta Bibi untuk membuat sayur sop," jawab Bi Sumi.


"Gintan bantu, ya?" ucap Gintani seraya mengambil beberapa buah wortel untuk dibersihkan.


"Tidak usah, Non! Ini sudah tugas bibi. Sebaiknya Non istirahat saja! Non, kan, belum pulih benar."


Gintan pun mulai asyik mengupas wortel-wortel Itu. Hingga tanpa terasa, makanan kini telah siap untuk dihidangkan di meja makan.


"Alhamdulillah, beres juga. Bibi tolong panggil Mbak jessica, ya! Biar bisa sarapan bareng," pinta Gintani.


"Segera, Non!" jawab Bi Sumi. Sejurus kemudian, Bi sumi pergi ke atas untuk membangunkan majikannya.


Beberapa menit berlalu, Gintani telah selesai menata hidangannya di meja makan. Dia kemudian duduk untuk menunggu kedatangan Jessica.


"Pagi, Gin!" sapa Jessica seraya menuruni tangga.


"Pagi juga, Mbak." jawab Gintani. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Jessica yang dengan wajah bantalnya langsung duduk di meja makan.


"Mbak, apa nggak sebaiknya Mbak cuci muka dulu!" ucap Gintani pelan-pelan. Takut menyinggung perasaan jessica.


"Ups! Lupa, Gin! Maklum, kebiasaan dari kecil, hehehe...."


"Ish, jorok," jawab Gintani.


Jessica pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh mukanya. Sepuluh menit kemudian, dia kembali mendaratkan bokongnya di kursi tadi. "Sudah, makan yuk!" ajaknya.


Gintani mengangguk, mereka akhirnya sarapan bersama.


"Gin, abis sarapan, kita jogging yuk! Jangan jauh-jauh, kita keliling komplek aja." ujar Jessica.


"Tapi, Mbak_"

__ADS_1


"Ayolah, Gin! Please...!"


"Hmm, baiklah."


"Naah, gitu dong. Abis jogging, nanti kita jalan-jalan ke mall, ya!"


"Ish, Mbak ini!"


"Hehehe, sekali-kali Gin...,


"Iya-iya."


Mereka pun kembali melanjutkan sarapannya.


.


.


.


Selesai sarapan, Jessica hendak membawa Gintani berjalan-jalan keliling komplek. Tiba di pintu gerbang, Gintani tertegun melihat mobil yang mirip dengan mobil suaminya. Namun Gintani segera menepiskan pikirannya.


Mas Srgha pasti sudah pulang, batinnya. Dia kemudian berlari kecil menyusul Jessica yang sudah terlebih dulu berlari.


Sekitar satu jam mereka mengitari komplek, hingga akhirnya Gintani mengajak Jessica pulang.


"Mbak, apa Mbak memperhatikan mobil itu?" tunjuk Gintani pada mobil sport berwarna hitam yang terparkir sedikit jauh dari gerbang pagar rumah Jessica.


Jessica menatap mobil itu seraya mengernyitkan keningnya. "Sepertinya itu mobil Argha, Gin. Tapi nggak mungkin, ah! Argha, kan, semalam sudah pulang."


"Ta-tapi, semalam, mm...sebenarnya, Mas Argha kembali lagi, Mbak."


"Apa? Bu-bukankah, semalam Mang Diman bilang, dia sudah pulang?"


"Iya, mbak. Tapi sepertinya, Mas Argha kembali lagi. Semalam, dia mengetuk-ngetuk pintu jendela. Gintan sempat membukanya dan meminta dia untuk pergi."


"Ya sudah, kita lihat saja. Apa benar itu mobilnya Argha."


Jessica mengajak Gintani untuk mendekati mobil sport berwarna hitam itu. Dan ternyata benar, mobil itu milik Argha. Bahkan di dalamnya, terlihat Argha sedang tertidur pulas sekali.


Jessica mengetuk kaca jendela mobil. Tapi Argha sepertinya enggan untuk bangun. Berulang kali Jessica mengetuk, namun reaksi Argha masih tetap sama. Akhirnya Jessica menyerah dan meminta bantuan Mang Diman untuk membongkar kunci pintu mobil Argha.


Gintani tampak semakin cemas, saat Mang Diman pun mengalami kesulitan membongkar pintu mobil milik suaminya. Mulut Gintani berkomat-kamit memanjatkan do'a keselamatan bagi sang suami.


Klek!


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Mang Diman bisa membuka paksa pintu mobil Argha.


"Den! Den Argha, bangun Den!" Mang Diman menggoyang pelan tubuh Argha.


"Astagfirullah!"


Mang Diman terkejut saat meraba kulit lengan Argha yang terasa panas. Dia kemudian meraba kening Argha.


"Ya Tuhan, sepertinya Den Argha demam," gumam Mang Diman.


"Gimana, Mang?" tanya Gintani.


"Anu, Neng...! Sepertinya, Den Argha sakit!"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, vote n komennya... 🙏🤗


__ADS_2