
Gintani tak mampu menjawab sapaan Kevin. Matanya terkunci pada sosok pria yang sedari tadi duduk di samping Kevin. Pria masa lalu yang bertahun-tahun telah dia lupakan.
"Kakak ipar, hallo...! Hai.. Kakak!" ucap Kevin seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Gintani.
"Eh, i-iya, Kev..., maaf," ucap Gintani, tergagap.
"Kemarilah kakak ipar, aku kenalkan sama teman-temanku," ajak Kevin seraya meraih tangan Gintani. "Nah, mereka Bastian dan Gloria. Pasangan model yang baru saja menikah beberapa minggu yang lalu," ucap Kevin.
Gintani menyapa dan bersalaman dengan pasangan pengantin baru itu.
"Kalau itu, namanya Gio. Dia salah satu penyanyi yang banyak digandrungi kawula muda. Hati-hati kakak ipar, dia orangnya playboy," ledek Kevin.
"Waah, pelanggaran lo, Kev!" ucap Gio seraya berdiri dan menyalami Gintani. Semua orang terkekeh mendengar candaan mereka.
"Dan ini, si cantik Kasandra, seorang artis papan atas di negara kita," lanjut Kevin.
"Hmm, bisa aja lo Kev. Sorry ya, gue nggak ada uang receh," ucap wanita cantik bertubuh semampai yang memiliki rambut panjang bergelombang berwana kecoklatan. "Hai, aku Kasandra, tapi cukup panggil Sandra saja," lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
"Gintani," jawab Gintani menyambut uluran tangan artis cantik tersebut.
"Dan ini, dia adalah bestfriend aku, Kak. Penyelamat hidupku. Namanya Nando Hernandez."
Gintani mengatupkan kedua telapak tangannya untuk bersalaman secara islami dengan pria yang bukan mahramnya.
Nando yang sudah mengulurkan tangan, hanya mampu termangu melihat sikap Gintani. Rasa kagum dan takjub pun semakin tersemat dalam hatinya. Bukan hanya cantik secara lahir, gadis itu pun sungguh sangat cantik secara batiniah.
"Ayo, silakan duduk kakak ipar." Kevin menarik sebuah kursi di samping Nando.
Tak ingin membuat orang curiga, Gintani pun duduk di samping Nando. Meski perasaan canggung menyelimuti dirinya.
🍀🍀🍀
Hening. Hanya itu yang mengiringi perjalanan Dokter Richard dan Ilona untuk beberapa saat.
"Sebenarnya, kita mau kemana, Rich?" tanya Ilona memecah keheningan.
Dokter Richard melirik Ilona, sejurus kemudian dia pun mulai kembali fokus melihat jalanan ibukota. "Nanti kau juga akan tahu, Na," jawab Dokter Richard.
Hmm, ya sudahlah.... Percuma juga memaksa jika dia memang tidak pernah ingin memberi tahu, batin Ilona. Dia pun mulai kembali fokus pada ponselnya.
Dua puluh lima menit kemudian, mereka tiba di sebuah danau buatan tempat wisata milik pemerintahan daerah setempat. Dokter Richard membukakan pintu untuk Ilona dan mengajak Ilona ke sebuah bangku yang menghadap danau. Air danau tampak hijau berkilauan tertimpa cahaya matahari yang mulai meninggi.
__ADS_1
"Duduklah!" pinta Dokter Richard.
Ilona pun menuruti perintah Dokter Richard.
"Sebenarnya kita ngapain kemari, sih, Rich?" tanya Ilona yang mulai penasaran.
Dokter Richard menghela napasnya sejenak. Dia kemudian menatap Ilona. "Na, sebaiknya kamu kembali ke Amrik," ucap Dokter Richard.
Ilona mengerutkan keningnya. "Tunggu, kenapa kamu berkata demikian?" tanya Ilona dengan wajah tak suka.
"Semua ini demi kebaikan kamu juga. Hentikan niatmu dan kembalilah ke Amrik. Bila perlu, kita kembali bersama dan tinggal di sana untuk selamanya," ucap Dokter Richard.
"Tunggu-tunggu, ada apa sebenarnya ini Rich? Kenapa tiba-tiba kamu memintaku kembali ke Amrik. Dan apa ini? Kamu menyuruhku untuk menghentikan niatku? Hei..., apa yang sebenarnya terjadi Rich? Kamu, kan tahu jika Kak Argha adalah cinta matiku. Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau kembali ke Amrik. Tidak akan!" tegas Ilona.
"Tapi kamu harus kembali, Na. Kamu harus kembali demi kesehatanmu. Aku tidak mau kamu berbuat sesuatu yang akan merugikan diri kamu sendiri. Terlebih lagi di sisa usia_" Dokter Richard diam.
"Usia? Usia apa maksudmu, Rich? Sisa usia??" tanya Ilona semakin tidak mengerti.
Dokter Richard kembali menghela napasnya. Dia kemudian menyerahkan amplop coklat berlogo rumah sakit Harapan yang sedari tadi dipegangnya.
Ilona menerima amplop tersebut dan membukanya. Keningnya semakin berkerut karena tidak memahami bahasa medis dari laporan yang berada dalam amplop itu.
"Apa ini, Rich?" tanya Ilona.
"Isinya?" tanya Ilona lagi.
"Kamu didiagnosa memiliki penyakit kanker ovarium stadium akhir."
Deg!
Jantung Ilona seakan berhenti berdetak mendengar jawaban Dokter Richard.
"Apa penyakitku parah?"
Dokter Richard mengangguk.
"Seberapa parah?" tanya Ilona.
"Stadium akhir, artinya sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh, hanya saja dengan pengobatan teratur dan layak, kita bisa menghambat pergerakannya."
"Berapa persen?" tanya Ilona
__ADS_1
"Kurang dari dua puluh persen," jawab Dokter Richard.
Ilona pun terdiam mendengar jawaban Dokter Richard.
🍀🍀🍀
Satu persatu, acara pembukaan coffee shop yang dikelola oleh Alya dan didanai Kevin, telah ditampilkan. Dimulai dari pembukaan, sambutan, gunting pita, do'a dan tutup. Acara terakhir adalah hiburan yang dimeriahkan oleh artis-artis ibukota.
Karena tidak terlalu menyukai keramaian, Gintani memilih menepi dan duduk di sudut ruangan. Matanya menatap lurus ke arah panggung untuk menikmati lantunan lagu yang didendangkan oleh salah seorang penyanyi senior di ibukota.
"Boleh gabung, Tan?" tanya seorang laki-laki.
Gintani menoleh, tampak pria itu tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih bersih. Jantung Gintani berpacu dengan ritme tak beraturan. Ada rasa tidak nyaman harus berdekatan kembali dengan Nando. Pria yang pernah mengisi hatinya, dan juga pernah melecehkan dirinya. Rasa benci semakin menjadi saat dulu dia memergoki Nando hampir melecehkan gadis yang kini telah menjadi adik iparnya.
"Aku lihat, kursi yang lain masih banyak yang kosong," jawab Gintani dingin.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu, Tan," ucap Nando tak menghiraukan sebuah kode dari Gintani yang merasa keberatan Nando duduk di mejanya.
"Minta maaf untuk apa? Kita baru saja bertemu, dan aku rasa tak ada kesalahan dari pertemuan ini. Jadi untuk apa Anda meminta maaf padaku?" ucap Gintani masih dengan nada yang datar.
"Tan, aku tahu aku telah banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Dan aku," Sejenak Nando menundukkan wajahnya untuk mengumpulkan keberanian menatap paras cantik penuh keteduhan itu. "Aku benar-benar menyesal telah memperlakukan kamu begitu buruknya saat itu. Aku mohon maafkan aku."
Belum juga Gintani menjawab, tiba-tiba sebuah tepukan pelan di bahunya membuat Gintani menoleh.
"Kamu ternyata di sini, Gin?" ujar Alya.
"Eh, iya Al. Maaf, kamu, kan tahu kalo aku kurang suka keramaian."
"Hadeuh, Gintan-Gintan..., kelakuan kamu masih sama kayak dulu , ya?" Alya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Gintani. "Ya sudah, aku ke sini cuma mau kasih tahu, kalau suami kamu sudah menunggumu di depan."
"Benarkah?"
"Hem-eh," Alya mengangguk.
"Ya sudah, kalau gitu, aku pulang dulu ya Al!" pamit Gintani seraya menyampirkan tali tas selempangnya di bahu. Tanpa mengucap permisi ke arah Nando, Gintani pun pergi begitu saja.
Nando tersenyum kecut melihat sikap wanita yang dicintainya hingga saat ini. Meskipun tidak mendapat respon yang baik, namun hati Nando berbunga-bunga saat kembali bertemu mantan.
Sudah aku duga, akan sulit kembali meluluhkan seorang Gintania Nur'aini, batin Nando seraya menyesap kopi hitam kesukaannya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komennya yaaa 🤗🙏