Takdir Gintani

Takdir Gintani
Menyerah


__ADS_3

Seulas senyum terukir di kedua bibir Heru saat merasakan sentuhan kecil di dada bidangnya. Heru kemudian tersenyum lebar saat jari jemari mungil itu terasa bergerak-gerak.


"Saya merasakannya Sus, di-dia bergerak." Heru bersorak gembira mendapati keajaiban yang ada.


Perawat itu segera mendekati Heru. Dia meraba kedua kaki bayi mungil tersebut. Hangat, batinnya. Perawat tersebut kemudian memeriksa pergelangan tangan bayi mungil itu. Ekspresi wajahnya terlihat sangat terkejut. Dia kemudian menggosok-gosok telapak kaki mungil sang bayi untuk memberikan kehangatan, hingga akhirnya ....


Oeekkk ... oeeekkk ... oeeekkkk....


Tangisan sang bayi pecah hingga mengejutkan semua orang yang berada di ruangan itu.


"Ayo, kita baringkan dia dalam inkubator, Pak!" ucap perawat yang membawa bayi tadi.


Heru menyerahkan bayi mungil itu kepada perawat. Sejurus kemudian, perawat itu memasukkan bayinya ke dalam tabung inkubator. Semua orang tampak terharu dengan perjuangan ayah muda tersebut.


"Selamat ya, Pak. Keyakinan, kegigihan dan kasih sayang Anda telah mengembalikan putri Anda ke dalam pelukan kalian. Sungguh, ini di luar jangkauan nalar manusia. Padahal, kami sebagai tim medis, sudah melihat sendiri jika bayi itu telah tiada," ucap perawat.


"Kun fayakun. Apa pun yang Tuhan kehendaki, itu pasti akan terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin bagi diriNya," jawab Heru, tegas.


"Subhanallah ...." Semua perawat itu mengucap kalimat tasbih untuk memuji keagungan Sang Pencipta.


"Ini pakaiannya, Pak. Sebaiknya Anda kenakan kembali jika tidak ingin membuat kami jatuh cinta dengan tubuh atletis Anda," gurau perawat yang tadi memberikan selimut.


Heru tersenyum mesem sambil menerima kemejanya. Beberapa menit kemudian.


"Sebaiknya, Anda menunggu di luar saja, Pak. Biar kami yang menangani putri Anda," saran perawat yang sedang memasang selang infus di tangan mungil bayi itu.


Heru mengangguk. Setelah mengenakan kemejanya, dia pun keluar. Di depan pintu Heru bertemu dengan salah satu dokter yang mungkin akan memeriksa bayi itu. Dokter tersebut tersenyum sambil menepuk bahu kanan Heru.


"Sungguh keajaiban yang sangat luar biasa. Kepercayaan dan kasih sayang Anda telah membuktikan tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Selamat, perjuangan Anda patut mendapatkan pujian," ucap dokter itu.


"Terima kasih, Dok," jawab Heru.


"Permisi, saya akan melihat kondisi putri Anda dulu," lanjut dokter tadi.


"Iya, silakan Dok," kata Heru.


Heru kemudian duduk di depan ruangan bayi.


Menjelang sore. Selesai operasi, Gintani kemudian dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi. Sebenarnya, Heru ingin menemaninya, tetapi dokter melarangnya, mengingat kondisi Gintani masih sangat kritis. Heru hanya bisa pasrah dan melihat wanita cantik itu dari balik jendela kaca.


Ponsel Heru bergetar, dia merogoh saku celananya. "Alex," gumam Heru.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Lex," sapa Heru.


"Wa'alaikumsalam. Kamu di mana, Her?" tanya Alex.


"Aku ... aku sedang di rumah sakit, Lex." Awalnya Heru tampak ragu untuk berbicara. Namun, dia menyadari jika Alex pasti sedang mencemaskan keadaannya.


"Apa kamu sakit?"


Hmm, benar saja, suara Alex terdengar seperti orang yang sedang merasa khawatir.


"Tidak Lex, bukan aku yang sakit. Ada insiden kecil di jalan. Sudahlah, kamu tidak usah khawatir," jawab Heru.


"Perlu aku ke sana menemani kamu, Her?" tanya Alex.


"Tidak usah. Kamu urus saja kantor," jawab Heru.


"Ya sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya, ya," kata Alex.


Huff, Heru bisa bernapas dengan lega saat Alex menutup teleponnya. Dia merasa, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang sedang dihadapinya saat ini kepada Alex.


Malam terus merayap, namun Gintani masih belum sadar. Hingga akhirnya, Heru mulai terlelap di kursi tunggu.


🍀🍀🍀


Namun, entah kenapa perasaannya terasa sangat hampa. Tidak seperti kemarin, dia begitu bersemangat menyambut hari. Semalam Argha tidak bisa tidur. Dia terus gelisah tanpa alasan. Setiap kali dia berusaha memejamkan matanya. Bayangan anak kecil berwajah pucat selalu menari-nari dalam benaknya.


Dengan langkah gontai, Argha terus melangkah menyusuri jalanan setapak yang cukup terjal. Semalam hujan turun deras, karena itu, tanah bukit cukup licin untuk dia lalui.


Tiba di atas bukit, Argha segera mendekati pohon akasia. Tempat yang akan selalu memberikan kedamaian dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, dia bertemu dengan gadis kecil itu di tempat ini. Gadis yang telah membuat Argha lebih percaya diri lagi dalam menjalani kehidupan yang harus dia lalui semenjak ibunya meninggal.


Argha duduk di bawah pohon. Dia menyandarkan punggungnya di batang pohon tersebut. Satu per satu kenangannya bersama Na kecil, kembali melintas dalam pikirannya. Senyum argha pun mengembang, ketika membayangkan gadis itu tengah berlari-lari.


"Apa itu, Na?"


"Ini namanya balado ikan tongkol. Ayo, makan!"


"Tidak! Kakak tidak mau!"


"Kenapa, Kak?"


"Kakak tidak suka ikan."

__ADS_1


"Tapi ini rasanya enak, loh."


"Tetap saja, bau amis."


"Ayo Na suapin, pasti rasa bau amisnya hilang."


Argha kecil itu tampak ragu, tapi saat melihat ketulusan di wajah Na, dia pun mulai membuka mulutnya.


"Hmm, enak Na."


"Apa, Na bilang. Enak, 'kan?"


Argha tersenyum membayangkan kisah balado ikan tongkol dalam hidupnya. Sejak saat itu, Argha selalu meminta sang nenek untuk membuatkan makanan yang kini menjadi favoritnya.


Argha melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari sudah semakin siang, tapi tidak ada tanda-tanda akan kedatangan seseorang. Argha masih berusaha bersabar. Mungkin Na, masih dalam perjalanan, batin Argha.


🍀🍀🍀


Sementara itu di rumah sakit. Heru semakin gelisah. Gintani sudah dipindahkan ke ruangan VVIP atas permintaan Heru. Namun sampai siang ini, wanita itu masih belum sadar.


"Bagaimana ini Dok, apa yang terjadi padanya?" tanya Heru kepada dokter yang sedang memeriksa Gintani.


"Sebenarnya, saya sendiri heran Pak, kenapa istri Anda belum sadar. Padahal, seharusnya sudah tidak ada pengaruh anastesi dalam tubuhnya," jawab dokter itu.


"Lalu, kenapa dia masih belum sadar juga?" tanya Heru, cemas.


"Kita tunggu hingga sore hari, Pak. Kalau istri Anda masih belum sadar juga, maka kemungkinannya hanya satu," jawab dokter itu.


"Apa itu Dok?" Heru semakin penasaran dengan ucapan sang dokter.


"Mungkin istri Anda mengalami koma," jawab dokter.


Deg!


Jantung Heru seakan berhenti berdetak mendengar jawaban dokter yang menangani Gintani. Ya Allah ... cobaan apa lagi ini? Sungguh malang sekali nasib wanita itu, batin Heru, menatap nanar wajah Gintani yang terlihat pucat.


🍀🍀🍀


Lelah Menunggu, akhirnya Argha memutuskan untuk pulang. Dia melangkahkan kakinya menuruni bukit. Ternyata penantiannya selama ini sia-sia. Hingga menjelang magrib, tak ada seorang pun yang datang ke tempat ini. Hati Argha benar-benar hampa. Harapannya bertemu Na kecil telah musnah.


Mungkin ini pertanda agar aku bisa segera bertanggung jawab kepada Ilona. Baiklah Na, kakak menyerah. Mulai sekarang kita akan mengambil jalan masing-masing. Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2