Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bertemu


__ADS_3

"Bram, lo kirim semua berkas yang harus gua tanda tangani!" perintah Argha pada asistennya.


"Yang benar saja bos, masa gua harus balik lagi ke kantor. Ini sudah sangat sore loh!" gerutu Bram.


"Gua nggak mau tahu! Besok pagi, tuh berkas sudah harus ada di apartemen gua. Sekalian, lo lembur!" titah Argha lagi.


"Bos, besok kan, weekend...!" protes Bram.


"Weekend-nya kan, diganti hari ini. Masih belum puas juga? Atau lo mau, nggak dapat restu dari abang ipar lo?" ancam Argha.


"Eits...jangan dong! Iya-iya, besok gua ke apartemen lo!" jawab Bram, pasrah.


Gintani hanya memukul pelan lengan suaminya.


"Apaan sih, Gin?" protes Argha.


"Kasian Kak Bram. Kamu kok, jadi bos galak banget sih?" tanya Gintani.


"Biarin Gin, biar dia nggak ngelunjak," jawab Argha seenaknya.


"Tapi ingat...! Jangan main pecat seenaknya. Cukup aku saja yang menjadi korban keegoisan kamu, Mas!"


Jleb!


Hati Argha bagaikan ditusuk pisau yang sangat tajam mendengar ucapan Gintani.


"Gin...!" panggil Argha.


Gintani mendongakkan kepalanya, "Kenapa, Mas?"


"Maafkan kesalahanku di masa lalu. Aku benar-benar pria yang sangat pengecut karena sudah membuat hidupmu mende_"


Telunjuk Gintani menyentuh bibir Argha. Dia kemudian menggelengkan kepalanya. "Ini takdir yang harus Gintan jalani. Tidak perlu menyesal, Mas. Karena sedalam apa pun Mas menyesal, semuanya tidak akan pernah mengembalikan waktu yang telah terlewati."


Argha meraih tangan Gintani dan mengecupnya. "Aku berjanji, aku akan mengganti semua duka dengan sukacita. Aku mencintaimu, Gin!"


Gintani semakin menyusupkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku juga sangat mencintaimu, Mas."


Sementara dua orang yang baru mengikrarkan kata cinta di kursi depan, hanya bisa saling melempar senyum menanggapi kemesraan penumpang belakang.


Syukurlah Ar...gua harap, setelah ini, hanya ada kebahagiaan yang selalu menyertai perjalanan rumah tangga lo, batin Bram.


🍀🍀🍀


Sabtu pagi.


Nadhifa masih bergelung selimut meski matahari sudah merangkak memancarkan sinar jingganya. Penunjuk waktu berhenti di angka 09.00, namun Nadhifa masih asyik merangkai mimpinya.


Ting tong...! Ting tong...!


Bunyi bel pintu di rumahnya masih tak mampu membangunkan Nadhifa dari tidurnya.


Ting tong...!


Sekali lagi bel pintu berbunyi, dan itu hanya mampu membuat Nadhifa menggeliatkan badannya saja.


Ting tong...!


"Ish, siapa sih...? Pagi-pagi sudah bertamu, kurang kerjaan saja!" gerutu Nadhifa. Mau tidak mau, dia akhirnya bangun untuk membukakan pintu.


Tap...tap...tap...


Langkah kaki Nadhifa terdengar menuruni tangga rumahnya. Sejenak netranya menyusuri sekeliling rumah. "Kemana perginya orang-orang? Tumben, kok sepi banget," batin Nadhifa.


Ting tong...!


Sekali lagi, bel pintu berbunyi. Nadhifa yang hendak pergi ke dapur mencari mbok Siti, mengurungkan niatnya. Dia segera berlari menuju pintu utama.

__ADS_1


Klek...


Nadhifa membuka pintu. Dahinya sedikit berkerut melihat seorang gadis yang tidak dikenalnya.


"Maaf, cari siapa?" tanya Nadhifa.


"Kak Argha, ada?" tanya gadis itu.


Nadhifa kembali mengernyitkan keningnya.


"Ini, rumah Argha Putra Adinata, kan?" tanya gadis itu lagi.


Nadhifa mengangguk.


"Bisa saya bertemu dengan Argha?"


"Mbak siapa, ya?" Nadhifa balik bertanya.


"Saya, teman SMA Kak Argha."


"Tapi, siapa?"


"Tolong bilang saja, temen perempuan semasa SMA-nya sudah datang. Kak Argha pasti tau, kok."


Ish...nggak jelas! batin Nadhifa. "Maaf ya Mbak, kak Argha sudah tidak tinggal di sini lagi. Dia sudah menikah dan memutuskan untuk hidup bersama keluarga kecilnya."


Wajah Ilona berubah saat mendengar jawaban Nadhifa. Namun dia berusaha untuk tidak menampakkan kegusarannya.


"Apa saya boleh tahu, sekarang dia tinggal di mana?"


"Maaf, saya tidak tahu."


Tiba-tiba,


"Ada tamu, Fa? Siapa?"


Jessica yang baru saja keluar dari paviliun, merasa penasaran mendengar percakapan seseorang. Dia kemudian menghampiri Nadhifa ke ruang utama.


Nadhifa dan Jessica saling pandang. Mereka sama-sama mengernyitkan keningnya saat melihat tingkah Ilona yang sedikit panik.


"Ka-kalau begitu, saya permisi!" pamit Ilona terburu-buru.


"Siapa, Fa?"


"Nggak tahu, tamu kurang kerjaan! Pagi-pagi sudah gangguin orang tidur saja!"


"Pagi?" tanya Jessica heran. "Sadar woyy...! Sudah siang kaliii..." sahut Jessica.


"Bodo ah...!" Nadhifa ngeloyor begitu saja melewati Jessica yang masih bergeming di samping pintu utama.


"Tapi dia siapa, Fa?" teriak Jessica.


"Nggak tahu, Kak! Dia nggak bilang namanya. Dia cuma bilang, kalau dia temen cewek Kak Argha waktu SMA," teriak Nadhifa seraya berlari menaiki tangga.


Deg....


Jessica terkejut mendengar jawaban Nadhifa. Apa mungkin, perempuan itu? batin Jessica.


🍀🍀🍀


Di ruang kerja.


Argha dan asistennya tampak sibuk mempelajari berkas-berkas penting. Ada beberapa kontrak kerja sama yang belum Argha tanda tangani. Termasuk kontrak untuk pembangunan rumah sakit milik tuan Hanzel.


"Gimana, Ar! Lo setuju untuk meng-handle proyek pembangunan rumah sakit itu?" tanya Bram.


Argha hanya bisa menghela napasnya. "Gua nggak punya pilihan lain, Bram. Daddy Hanzel sendiri yang meminta gua menangani langsung proyek ini. Gua jadi nggak enak hati buat nolak." jawab Argha.

__ADS_1


"Ya sudahlah, Ar! Lo terima saja! Jangan terlalu mencampur adukkan urusan perasaan sama pekerjaan," jawab Bram.


"Ya..., lo benar. Mana kontraknya?"


Bram menyerahkan file kontrak kerja yang diajukan pihak perusahaan Hanzel. Dengan terpaksa, Argha pun menerima dan menandatanganinya.


Tok.. Tok... Tok...


"Masuk...!"


Ceklek...


Pintu terbuka, tampak Gintani telah rapi memakai gamis dan hijab yang senada.


"Mas, aku mau izin keluar sebentar. Boleh?" tanya Gintani.


"Kemana, yang?"


Isi kulkas sudah habis, Mas. Aku mau ke minimarket depan buat beli bahan-bahan makanan," jawab Gintani.


"Nanti malam saja, Gin! Sekalian kita makan malam di luar.


"Makan malam?"


"Iya! Papah ngajak kita semua makan malam di luar. Katanya, dia kangen sama menantunya."


Gintani tersenyum, "Ya sudah, Gintan ke kamar lagi, ya?" pamit Gintani.


Argha mengangguk. Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, hari pun mulai semakin gelap. Saat Bram hendak pamit pulang, Argha justru mencegahnya. Dia meminta Bram untuk ikut makan malam bersama keluarganya. Bram pun tidak bisa menolaknya. Jujur saja, dia sendiri merindukan Nadhifa. Dan ini kesempatan untuk bertemu wanita yang baru sehari menjadi kekasihnya.


Pukul 19.20.mereka akhirnya tiba di sebuah restoran mewah yang sudah direservasi tuan Jaya. Argha segera menggandeng tangan istrinya memasuki lobi restoran. Sedangkan Bram mengikutinya dari belakang.


Brugh....


Tiba-tiba saja seorang wanita berlari dan memeluk Argha dari belakang. "Aku merindukanmu, Kakak...! Aku sangat merindukanmu."


Argha terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya. Dia pun segera membalikkan badannya. "Ilona" gumam Argha saat melihat wanita yang tengah tersenyum di hadapannya.


Wanita itu kembali memeluk Argha tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya. Dia sudah tak mampu menahan gejolak rindu di hatinya. Dia pun segera meluapkan kerinduan itu di saat memiliki kesempatan untuk bertemu dengan sang pujaan hati.


"Aku kembali Kakak...! Aku telah kembali," bisik wanita itu yang masih bisa di dengar oleh Gintani.


Seketika, Gintani melepaskan tangannya dari genggaman tangan Argha. Kakinya terasa lemas melihat suaminya dipeluk wanita lain. Terlebih lagi, dia mendengar kata-kata rindu terucap dari bibir wanita itu. Ilona...? A-apakah dia Na? Ja...jadi, di-dia sudah kembali? batin Gintani.


Perlahan, Gintani melangkah mundur. Pikirannya benar-benar kacau. Jika punya pintu doraemon, ingin rasanya Gintani mengeluarkannya dan segera pergi dari tempat ini.


"Gintan...!"


Panggilan Bram menyadarkan Argha dari keterkejutannya. Dia segera menoleh ke arah istrinya. Terlihat tatapan kecewa di kedua bola mata yang sangat teduh itu. Argha segera melepaskan kedua tangan wanita yang tengah memeluknya.


"Kakak...?" tanya wanita itu menatap heran.


"Syukurlah kamu baik-baik saja," jawab Argha dingin. Dia segera meraih tangan Gintani dan menahannya untuk tidak pergi.


"Kakak, apa kau tidak merindukan aku? Aku sudah kembali, Kak? Apa kau tidak ingin memelukku?" tanya Ilona penuh harap.


"Cukup, Na! Asal kanu tahu, aku tidak pernah merindukan kamu selama ini! Bagiku, kamu telah tiada sejak kamu pergi tanpa kabar. Dan aku tidak pernah mengharapkan kamu kembali!" Argha sedikit berteriak kepada wanita itu.


"Ayo pergi!"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like, vote n komennya...🙏🤗


__ADS_2