
"Masak apa, Gin?" tanya Argha begitu tiba di dapur.
"Balado ikan tongkol," jawab Gintani sambil menyeduh kopi hitam untuk suaminya.
"Benarkah?" Argha membuka tudung saji. Tampak jelas balado ikan tongkol dalam sebuah oval plate yang menggugah selera makan Argha.
"Hmm... sepertinya enak, Gin!" ucap Argha seraya mendaratkan bokongnya di kursi makan.
"Entahlah, aku belum mencobanya," jawab Gintani seraya menaruh cangkir kopi hitam itu di depan suaminya. "Aku ambilkan sekarang, Mas?" tawar Gintani.
"Boleh," jawab Argha seraya menyesap kopi hitamnya.
Gintani mengambil nasi dan lauknya untuk ditaruh di piring suaminya. Setelah itu dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri dengan lauk yang berbeda.
"Nggak makan balado ikan tongkolnya, Gin?" tanya Argha lagi.
Gintani menggelengkan kepalanya.
Argha mengernyitkan keningnya saat suapan pertama masuk ke mulutnya.
"Kenapa Mas? Nggak enak, ya?" cicit Gintani.
"Emm,... Enak kok!" jawab Argha mengunyah makanannya. Meskipun rasanya tak seenak makanan yang dibawa temannya dulu, namun Argha sangat menyukai balado ikan tongkol. Argha pun makan dengan lahapnya.
"Jangan banyak-banyak, Mas! Nanti bisa sakit perut pagi-pagi sudah makan yang pedas," Gintani mengingatkan suaminya.
"Tenang Gin, perutku ini sudah beradaptasi dengan masakan seperti ini sedari kecil," jawab Argha disela-sela kunyahannya. "Lagipula, masakan kamu enak, Gin. Aku yakin aku bakalan baik-baik saja."
"Hmm... maaf ya,bang...nggak ada receh!" gurau Gintani.
"Lembaran juga, boleh lah!" jawab Argha membalas gurauan Gintani.
"Duh mohon maaf ya, bang! Boro-boro lembaran, recehan pun adek nggak punya. Abisnya suami adek pelit sih, nggak pernah ngasih uang jajan!" Kembali Gintani bergurau seraya beranjak mendekati dispenser untuk mengambil air minum.
Jleb....!
Hati Argha terasa seperti ditusuk belati mendengar gurauan istrinya. Mungkin itu memang hanya sekedar gurauan, tapi bagi Argha, itu seperti sebuah sindiran yang sangat telak.
Ya! Selama ini, Argha akui jika dia memang tidak pernah memberikan Gintani rupiah. Argha pikir, dengan menyediakan bahan makanan di dapur, pakaian, perhiasan, tas, sepatu dan kosmetik di kamarnya, itu sudah cukup bagi Gintani. Argha tidak pernah menyadari jika istrinya pun berhak menyimpan uang untuk dirinya sendiri.
Argha kemudian mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Dia mengeluarkan salah satu kartu saktinya yang berwarna hitam. Dia menaruh kartu itu, menunggu Gintani duduk kembali di kursinya.
__ADS_1
"Ini untukmu, Gin! Pakailah! Maafkan jika selama ini aku tidak peka terhadap kebutuhanmu," ucap Argha.
Sejenak Gintani tertegun melihat kartu sakti itu. Dia menatap suaminya penuh kelembutan. Dengan tersenyum, Gintani menggeser kembali kartu itu ke depan suaminya.
"Nggak perlu, Mas! Gintan tidak membutuhkan ini. Apa pun yang Gintan butuhkan, semuanya sudah Mas sediakan. Simpanlah!"
"Aku mohon, Gin! Jangan buat aku semakin tampak buruk sebagai seorang suami. Sudah kewajibanku untuk menafkahi kamu. Terimalah!" pinta Argha seraya kembali menggeser kartu sakti itu.
Gintani kembali tersenyum. "Baiklah, Mas!"
Mereka pun kembali melanjutkan makannya.
"Ngomong-ngomong ... memangnya dari kecil Mas Argha sering makan masakan seperti ini?" tanya Gintani penasaran.
"Hem-eh ... balado ikan tongkol itu makanan favorit aku, Gin. Memangnya kamu belum pernah mencobanya?" tanya Argha.
Gintani hanya menggelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa? Ini enak kok, Gin!" jawab Argha lagi.
"Apa enaknya... orang penampakannya saja penuh dengan cabai merah begitu," rengut Gintani.
"Ya balado ikan tongkol memang seperti ini penampakannya, Gin. Emang kamu nggak pernah tahu?" tanya Argha penasaran.
Argha menyendok sedikit ikan tongkolnya, "Makanlah!" ucapnya seraya menyodorkan sendok berisikan ikan balado itu di depan mulut Gintani.
"Tapi Mas...!" Gintani menolak halus dengan cara menutup mulutnya sendiri.
"Cobalah, demi aku! Kamu harus terbiasa menyukai apa yang suamimu sukai. Lagipula ini kan masakan kamu sendiri. Bagaimana mungkin orang bisa bilang enak kalau kamu sendiri tidak yakin dengan kemampuan kamu sendiri. Ayo... Aaa... "
Gintani membuka mulutnya dan membiarkan suaminya menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Perlahan, Gintani mulai mengunyah makanan tersebut. Senyum tipis terbersit di kedua sudut bibirnya.
"Enak Mas...! Rasanya gurih..!" ucap Gintani dengan mata berbinar.
Argha tersenyum senang, "Aku bilang juga apa. Enak kan...?? Aku suapin lagi ya...!" ujar Argha.
Aah bilang aja kamu modus Ar..., batin si author.
Gintani mengangguk dengan malu-malu.
Pagi itu, berkat balado ikan tongkol, ikatan suami istri itu pun semakin bertambah erat.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Sementara itu di rumah Arman Hadikusumah.
Celine, gadis berambut pendek itu masih terus saja menggulingkan-gulingkan badannya dengan perasaan yang semakin resah. Tangannya masih memegang sebuah foto anak kecil yang telah diberikan Jessica beberapa minggu yang lalu.
Sebenarnya cukup sederhana, hanya saja aku tidak tahu harus dari mana memulainya. Tapi aku penasaran, siapa sebenarnya anak ini? Dari mana dia berasal. Dan jessica? Ada-ada saja, dia menyuruh aku bermain peran tanpa aku ketahui apa yang harus aku perankan. Huh, bikin susah saja! dengus Celine seraya melemparkan foto tersebut.
"Cel... ! Celine...! Sarapan sudah siap Nak!" teriak Ibu Shella dari dapur.
"Iya Mah! Sebentar lagi Celine turun!" jawab Celine dengan berteriak pula.
Huh! Sungguh keluarga yang tidak punya adab sopan santun, batin author.
Celine pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah itu dia keluar dari kamarnya. Dengan senyum ceria, Celine menuruni tangga rumahnya satu persatu dan langsung menuju meja makan. Tiba di sana, Celine sudah mendapati kedua orang tuanya tengah duduk menikmati sarapannya.
"Cel, nanti siang temani Mamah ke mall yuk!" ajak ibunya.
"Ngapain Mah?" tanya Celine seraya mengunyah makanannya.
"Mamah mau beli gaun baru buat acara besok malam."
Celine mengernyitkan keningnya, "Acara apaan, Mah?"
"Undangan jamuan makan malam dari rekan kerja Papah kamu yang baru saja datang dari Amerika."
"Celine boleh ikut, Mah?" tanya Celine, antusias.
"Tanya saja sama Papah kamu!"
"Gimana, Pah ... Celine boleh ikut, kan? Please?" rayu Celine seraya menampakkan wajah puppy eyes-nya.
"Kita lihat saja nanti ya, Nak!" jawab Pak Arman.
"Kok gitu sih, Pah!" rengek Celine.
Pak Arman menghela napasnya sejenak. "Nak, itu bukan family gathering. Itu jamuan khusus untuk menyambut kedatangan investor asing dari luar negeri. Kita lihat saja nanti! Jika ada rekan-rekan Papah yang membawa serta anaknya, pasti Papah juga bawa kamu," jawab Pak Arman mencoba memberikan pengertian terhadap putri satu-satunya itu.
"Iya.. Iya.., Celine ngerti kok!" gerutu Celine.
"Ya sudah, lanjutkan makannya! Setelah itu segera bersiap!" perintah Ibu Shella.
"Oke Mah!"
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya yaaa.... 🙏🤗