
Mata Ilona membulat sempurna mendengar pernyataan pamannya. Sedangkan Hendra, masih dengan tertawa renyah, dia pergi begitu saja meninggalkan Ilona.
Ilona tidak menyangka jika sang paman akan selihai itu dalam melakukan sebuah permainan. Hmm, pantas saja dulu pihak kepolisian tidak berhasil menciduknya. Ternyata dia melakukan kejahatannya begitu sempurna. Semua permainannya tak pernah meninggalkan jejak.
Ilona mendengus kesal saat mengingat kembali kelicikan sang paman terhadap perusahaan ayahnya. Namun, dia tidak mampu berbuat apa-apa. Terlebih lagi, sekarang kehidupan Ilona sangat bergantung pada pamannya.
Tak ingin menghiraukan urusan Hendra, Ilona pun pergi menuju ruang baca. Di sana dia merebahkan dirinya di atas sofa. Penyakitnya semakin menggerogoti imunitasnya. Meski hanya melakukan aktivitas ringan, tapi itu membuat tubuh Ilona sangat kelelahan. Tanpa sadar, Ilona pun kembali merangkai mimpinya.
🍀🍀🍀
Menjelang magrib, Gintani tiba di rumahnya. Perjalanan setengah hari yang begitu melelahkan. Gintani segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah menunaikan solat magrib, dia pergi ke mushola untuk mengikuti acara tahlilan almarhum kakek Wira.
Acara yang selalu dipenuhi banyak jamaah menurut Bik Susan. Gintani hanya bisa tersenyum penuh rasa syukur melihat para jamaah itu. Memanglah benar kata pepatah, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.
Selama hidupnya, kakek Wira adalah orang yang sangat ramah, baik hati dan begitu dermawan terhadap orang-orang di sekitar lingkungannya. Karena itulah, orang-orang banyak mengenang semua kebaikan kakek Wira. Mereka pun berbondong-bondong pergi ke mushola untuk mengirim do'a dan mengikuti acara tahlilan kakek Wira.
Menjelang isya, acara tahlilan pun selesai. Kemudian dilanjutkan dengan solat isya berjamaah. Selesai solat isya, Gintani bersama Bik Susan pulang ke rumahnya. Sebenernya dari tadi dia ingin segera beristirahat, tapi mengingat pentingnya acara tahlilan sang kakek, gintani memaksakan diri untuk menghadiri acara tersebut.
"Makan dulu, Neng!" ucap Bik Susan saat melihat Gintani hendak pergi ke kamarnya.
"Gintan nggak lapar, Bik," jawab Gintani.
"Ish, tidak baik membiarkan perut kosong seperti itu. Apalagi Neng sedang hamil. Setidaknya pikirkan si utun (jabang bayi) dalam perut Neng. Dia juga butuh asupan gizi yang baik untuk perkembangannya." Bik Susan mencoba menasihati Gintani.
Mendengar calon anaknya disebutkan, Gintani akhirnya menuruti perintah Bik Susan. Apa yang dikatakan Bik Susan memanglah benar, dia harus tetap makan makanan yang bergizi untuk kebutuhan anaknya. Gintani kemudian duduk dan mulai menyendok nasi dan lauk pauknya. Sejak mengetahui dirinya hamil, selera makannya mulai menurun. Entahlah, apa pun yang masuk ke mulutnya, pasti akan kembali dia keluarkan. Karena itulah dia tidak berselera untuk makan. Tapi mulai saat ini, Gintani akan memaksakan diri untuk makan demi si buah hati yang berada dalam rahimnya.
Selesai makan, Gintani kembali membersihkan dirinya. Lepas itu, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Rasa lelah dan kantuk mulai menyerangnya. Tak perlu membutuhkan waktu lama, Gintani segera terlelap ke alam mimpi.
🍀🍀🍀
"Kakak kamu mana, Fa?" tanya Tuan Jaya saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ada di kamarnya, Pa," jawab Nadhifa sambil membolak-balikan majalah yang sedang dibacanya.
__ADS_1
"Oh, jadi dia sudah pulang, kapan?" tanya Tuan jaya lagi.
"Bik Siti bilang sih, tadi pagi," jawab Nadhifa.
"Tadi pagi, dan dia belum keluar kamar sampai sekarang?" tanya Tuan Jaya, terkejut.
Nadhifa mengangguk.
"Ada apa lagi dengan anak itu?" gerutu Tuan Jaya dengan kesal.
"Mungkin dia masih memikirkan masalahannya dengan kak Gintan, Pa," Nadhifa mencoba menebak kemungkinan yang terjadi kepada kakaknya.
"Masalah apa lagi? Bukankah urusannya dengan Gintani sudah selesai?" tanya Tuan Jaya penuh penekanan.
"Entahlah, Fa sendiri tidak tahu. Mungkin kak Argha menyesal dengan keputusan yang sudah dia ambil," tutur Nadhifa.
"Tidak mungkin dia menyesal. Keputusan Argha untuk berpisah dari Gintani, itu sudah keputusan yang tepat. Mungkin saja dia sedang banyak pekerjaan. Sudah ah, jangan pada suudzon gitu" tegur Nyonya Rosma.
"Ya, 'kan siapa tahu, Ma." Nadhifa berusaha membela diri.
"Iya, Pa," jawab Nyonya Rosma.
"Kamu juga tidur, Fa. Besok kerja, 'kan?" perintah Tuan Jaya.
"Iya, Pa," jawab Nadhifa.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya.
Entah kenapa, semenjak hamil, Gintani selalu tidur kembali setelah solat subuh. Rasa lemas setelah memuntahkan isi perutnya di pagi hari, membuat dia sedikit kepayahan. Setiap pagi, Bik Susan membawa sarapan Gintani ke kamarnya. Setelah makan, Gintani akan kembali tidur dan baru bisa bangun sekitar jam 9 pagi.
Sebenarnya, Gintani agak malu dengan kebiasaan barunya, tapi dia tidak punya pilihan lain. Lagi pula, semenjak dia hamil, kakek Wira dan Bik Susan selalu memanjakannya. Terlebih lagi Bik Susan, dia tidak pernah membiarkan Gintani melakukan pekerjaan dapur dan yang lainnya.
__ADS_1
Gintani mengerjapkan matanya saat matahari mulai meninggi. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang. Kepalanya sedikit pusing setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan kemarin. Setelah dirasa nyaman, Gintani pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Astaghfirullah hal adzim," pekik Bik Susan tepat saat Gintani keluar dari kamarnya.
"Kenapa, Bik?" tanya Gintani yang merasa heran dengan reaksi Bik Susan saat menonton TV.
"Eh, Non!" Bik Susan terkejut, sejurus kemudian dia meraih remote dan mematikan TV-nya.
"Kok dimatikan, Bik?" tanya Gintani semakin heran.
"Eh, anu ... itu, Non.... Emm ... acaranya tidak ada yang seru," ucap Bik Susan, gugup.
"Masak sih," Gintani melirik jam dinding. Jarum jam berhenti di angka 10. "Loh, bukannya jam segini acara favorit Bibik, ya?" goda Gintani.
"Acara apaan Neng?" tanya Bik Susan, heran.
"Itu, tuh ... gosip selebritis murahan," gurau Gintani.
"Ah si Neng bisa saja," jawab Bik Susan.
"Coba Gintan lihat Bik," ucap Gintani hendak menyalakan kembali televisinya.
"Eh, jangan Neng!" Bik Susan mencoba mencegahnya.
Terlambat, Gintani sudah menekan tombol power pada remote yang sedang dipegangnya.
"Pagi ini, dunia bisnis dihebohkan dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang CEO muda yang menduduki peringkat CEO terbaik di negara kita. Siapa sangka, jika CEO tersebut terlibat skandal dengan seorang wanita. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia sendiri bilang jika wanita yang bersamanya semalam adalah calon istrinya. Tapi, bagaimana bisa? Bukankah dia masih terikat pernikahan dengan istrinya? Baiklah pemirsa, berikut adalah cuplikan detik-detik penggerebekan sang CEO."
Deg-deg-deg
Jantung Gintani seakan berhenti berdetak saat melihat tayangan di televisi. Di sana, terpampang jelas jika mantan suaminya tengah berdebat dengan petugas satpol PP. Dan yang lebih mengejutkan lagi, wanita yang tengah duduk berbalut selimut di sandaran ranjang, wanita itu adalah Ilona.
Ya Tuhan, mas. Kamu menuduh aku selingkuh, padahal kamu sendiri yang bermain gila di belakangku, batin Gintani mencengkeram kuat remote yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏