Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bukit Kenangan


__ADS_3

Argha terus melajukan kendaraannya. Dia berhenti di beberapa tempat untuk membeli sesuatu sebagai buah tangan untuk kakek dan neneknya. Menjelang tengah malam, dia baru tiba di rumah neneknya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Argha.


Nin Ifah segera membukakan pintu. Berkali-kali dia mengucek matanya yang telah rabun karena usia.


"A-Adi? Apa kamu Adi cucu Enin?" tanya Nin Ifah.


Argha mengangguk, sedetik kemudian dia memeluk wanita renta yang tak lain adalah neneknya.


"Apa kabar, Nin?" sapa Argha.


"Masya Allah ... Adi, Nin senang kamu datang. Alhamdulillah, kabar Nin baik, Nak. Kamu sendiri, bagaimana?" tanya Nin Ifah.


"Adi juga baik, Nin," jawab Argha.


"Ah, syukurlah ... ayo masuk, Nak!" Nin Ifah mengajak cucunya untuk masuk ke dalam.


Argha mengangguk, masih saring merangkul, mereka kemudian masuk ke dalam rumah.


"Siapa yang datang, Ambu?" tanya Aki Surya.


"Ini Bah, cucu kita datang," jawab Nin Ifah dengan begitu gembiranya.


Aki Surya keluar dari kamarnya.


"Alhamdulillah, Adi ... akhirnya kamu mengingat kami juga," kata Aki Surya.


"Iya, Aki. Maafkan Adi, Ki. Adi memang bukan cucu yang baik," jawab Argha.


"Sudah tidak apa-apa, Nak. Aki tahu kamu sangat sibuk, karena itu kamu tidak pernah punya waktu untuk mengunjungi kami," kata Aki Surya.


"Jangan bicara seperti itu, Ki. Adi jadi malu," ucap Argha.


"Hahaha, ayo kita duduk!" ajak Aki Surya.


"Eeh, Abah ... besok saja atuh, diajak ngobrolnya. Ini sudah malam, biarkan Adi istirahat. Dia pasti capek, setelah melakukan perjalanan kemari," kata Nin Ifah.


"Ah, ya.. Ambu benar. Ya sudah, istirahatlah di kamarmu, Nak!" Aki Surya menepuk bahu Argha dan menyuruhnya istirahat.


"Baik, Ki. Kalau begitu, Adi pamit dulu, ya Nin, Aki. Adi mau ke kamar," ucap Argha.


"Ya sudah, sok atuh!" jawab Aki Surya yang dibarengi anggukan dari Nin Ifah.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya, Gintani terbangun begitu mendengar ayam berkokok. Dia pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Brrrr...


Gintani bergidik saat merasakan dinginnya air pegunungan. Malaganti juga dataran tinggi, tapi airnya tidak sedingin seperti apa yang sedang dia rasakan saat ini.


Selesai wudhu, Gintani kembali ke kamarnya untuk menunaikan solat subuh. Setelah itu, dia membuka jendela kamar dan membiarkan udara segar pegunungan memasuki kamarnya.


Gintani berdiri dia menghirup kuat udara segar yang menyejukkan. Tiba-tiba, matanya terkunci pada sebuah pohon besar di atas bukit yang berada tak jauh dari panti asuhan ini.


Gintani merasa pemandangan itu tidak pernah asing dalam ingatannya. "Pohon itu ... sepertinya aku pernah melihat pohon itu. Tapi di mana?" gumam Gintani.


.


.


.


Matahari mulai terlihat dari balik bukit tersebut. Bayangan pohon akasia yang tadinya samar, kini sudah semakin jelas. Saat Gintani berusaha untuk mengingat pemandangan yang tak asing itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


"Siapa?" tanya Gintani.

__ADS_1


"Ini Ima, Kak," jawab seseorang dibalik pintu.


Gintani melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


"Ada apa, Dek?" tanya Gintani begitu pintu terbuka.


"Kak Gintan dipanggil Bu Ningsih untuk sarapan bersama," jawab Ima.


"Baiklah, ayo!" Gintani menutup pintu kamarnya. Setelah itu dia berjalan mengikuti Ima menuju ruang makan.


"Selamat pagi, Na!" sapa Bu Ningsih.


"Pagi, Bu!" jawab Gintani.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Bu Ningsih.


"Alhamdulillah, Bu ... sangat nyenyak," jawab Gintani.


"Ya sudah, ayo kita sarapan!" ajak Bu Ningsih.


Gintani mengangguk. Dia kemudian duduk bersama anak-anak yang lainnya untuk sarapan.


Selesai sarapan, Gintani kembali ke ruang kerja Bu Ningsih. Dia masih sangat penasaran dengan cerita masa lalunya.


"Sepertinya kamu memang mengalami amnesia, Na. Karena itu kamu tak mengingat satu pun kejadian yang menimpa kamu di panti ini," ucap Bu Ningsih.


"Mungkin saja, Bu. Tapi, entah kenapa kakek tidak pernah memberi tahu Gintan kalau Gintan mengalami lupa ingatan," kata Gintani.


"Mungkin kakek kamu tidak ingin kamu merasa cemas, dan pada akhirnya kamu kepikiran tentang apa yang kamu derita," ucap Bu Ningsih lagi sambil membereskan buku-buku yang ada di belakang kursinya.


"Iya, Bu. Mungkin memang seperti itu kejadiannya," jawab Gintani.


Bu Ningsih menghela napas. "Sudah, tidak usah terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa kecil kamu. Nanti, kamu bisa sakit kepala jika terus-terusan memikirkan hal itu." Bu Ningsih memberikan saran kepada Gintani.


Gintani mengangguk.


"Oh iya, Bu. Di belakang kamar, Gintan lihat ada bukit dan sebuah pohon yang sangat besar. Sebenarnya Gintan tidak tahu bukit apa itu. Tapi, entah kenapa Gintan merasa, bukit dan pohon itu tidak pernah asing bagi Gintan," kata Gintani.


"Chantika? Siapa Chantika, Bu?" tanya Gintani.


"Chantika, cucunya almarhumah ibu Ati, pemilik panti ini," jawab Bu Ningsih


"Apa dia masih berada di sini?" tanya Gintani lagi.


"Tidak, dia sudah kembali ke Jakarta. Waktu itu, pamannya yang mengasuh Chantika," jawab Bu Ningsih.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Gintani. "Bu, nanti siang, Gintan izin pergi ke bukit itu, boleh?" tanya Gintani.


"Memangnya kamu kuat, Na? Jalannya cukup terjal loh!" Bu Ningsih malah balik bertanya.


"Insya Allah, Bu," jawab Gintani.


"Ya sudah, nanti biar di temani Ima," usul Bu Ningsih.


"Tidak usah Bu, Gintan bisa sendiri," tolak Gintani.


Bu Ningsih tersenyum, "Baiklah, terserah kamu saja."


🍀🍀🍀


Sementara itu di tempat yang berbeda, tampak Heru sedang mengemasi bahan-bahan makanan yang akan dikirimkan ke panti asuhan Mutiara Bunda.


"Mau aku temani, Her?" tanya Alex menghampiri Heru.


"Tidak usah, Lex. Hari ini pengiriman ikan segar akan datang, kamu urus saja seperti biasanya," jawab Heru.


"Oke," kata Alex.

__ADS_1


Selesai mengemasi bahan makanan tersebut, Heru menyuruh pegawainya untuk memasukkan bahan makanan itu ke dalam mobil box.


"Aku pergi dulu ya, Lex!" pamit Heru setelah semua bahan makanan siap untuk diantarkan.


Alex hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.


🍀🍀🍀


Di lain tempat, Argha berpamitan kepada Aki Surya untuk berjalan-jalan mengitari pedesaan. Itu adalah kegiatan favorit Argha jika sedang berada di rumah kakek dan neneknya.


Sebenarnya Nin Ifah dan Aki Surya sangat ingin bertanya tentang perceraian cucunya. Namun, menantunya yang tak lain adalah Tuan Jaya, mewanti-wanti mereka untuk tidak membicarakan tentang perceraian itu di hadapan Argha.


"Mau kemana kamu, Adi?" tanya Nin Ifah saat melihat Argha mengeluarkan motornya dari garasi.


"Biasa, Nin ... jalan-jalan," jawab Argha.


"Ya, sudah ... hati-hati," lanjut Nin Ifah.


"Siap, Nin!"


Argha memanaskan motornya sebentar. Sepuluh menit kemudian, dia melajukan kendaraan beroda dua itu membelah jalanan setapak yang menuju bukit penuh kenangan.


🍀🍀🍀


Dengan bersusah payah, Gintani akhirnya tiba di bukit tersebut. Dia melihat pohon akasia yang sedari subuh menarik perhatiannya.


"Ayo kemari, Na!"


"Kita mau ke mana, Kakak?"


"Sudah ikut saja!"


Kedua anak kecil itu mendekati pohon akasia. Pria kecil mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya.


"Apa yang akan Kakak lakukan?"


"Kakak akan menuliskan nama kita di sini. Sebentar!"


Pria kecil itu mulai mengukir huruf demi huruf di batang pohon akasia. Setelah beberapa menit berlalu, dia tersenyum puas saat huruf-huruf itu tersusun menjadi sebuah kalimat yang utuh.


"Apa kamu bisa membaca?"


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


Pria kecil tersenyum. "Ini tulisannya, A-D-I-N-A kepanjangan dari Adi dan Na. Forever itu, selamanya. Jadi ADINA forever, artinya Adi dan Na selamanya. Apa kamu mengerti?"


Gadis kecil itu mengangguk.


"Kakak apa kita tidak akan berpisah untuk selamanya?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


Pria kecil itu menatap tajam kepada gadis kecilnya. Sejurus kemudian, kedua tangannya memegang bahu kecil milik sang putri. Cup, sebuah kecupan singkat dia layangkan di kening gadis itu.


Kamu adalah putrinya pangeran Adi. Suatu hari nanti, saat umur kamu sudah dewasa. Kita akan kembali ke tempat ini. Di situlah Kak Adi akan membawa kamu pergi menjadi pengantinnya Kak Adi."


Meski tak tahu artinya, anak kecil itu bersorak gembira.


"Kakak kapan aku dewasa dan menjadi pengantin Kakak?"


Pria kecil itu memperlihatkan dua jari kanannya dan tiga jari kirinya.


"Dua-tiga?" Gadis kecil itu menyebutkan angka


"Ya, nanti kalau usia kamu 23 tahun, Kakak akan menikahi kamu.


Yeayyyy....


Mereka tertawa dan berlarian mengitari pohon itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🙏🤗


__ADS_2