Takdir Gintani

Takdir Gintani
Berulah


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...!


"Masuk!"


Ceklek!


Seorang wanita paruh baya memasuki kamar Gintani.


"Maaf, Non...sudah ditunggu makan malam oleh Nona jessica," ucap perempuan itu.


"Ah, ya Bik. Sebentar lagi, Gintan keluar," jawab Gintani.


"Baiklah, kalau begitu, Bibik permisi dulu."


Asisten rumah tangga Jessica yang disuruh untuk memanggil Gintani pun pamit undur diri.


Gintani menghela napasnya sejenak. Sungguh, dia tidak memiliki keinginan untuk menyentuh makanan. Tapi dia juga tak enak hati jika sampai menolak ajakan tuan rumah. Gintani membersihkan wajahnya, sejurus kemudian, dia pergi ke ruang makan untuk menemui Jessica.


"Makan Gin!" ajak Jessica begitu melihat Gintani memasuki ruang makan.


Gintani tersenyum, "Iya, Mbak!" jawabnya. Lepas itu, Gintani menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Tapi dia sama sekali tak menyentuh piringnya.


Jessica mengernyitkan keningnya setelah melihat Gintani hanya diam saja. "Makanan itu untuk dimakan, Gin, bukan untuk dilihatin," ujar Jessica.


Gintani tersenyum. "Maaf, Mbak...Gintan lagi nggak selera aja," jawabnya.


Jessica menarik piring yang berada di hadapan Gintani. 'Kamu harus makan, Gin, supaya lebih cepat sehat. Kamu tuh butuh asupan gizi yang baik untuk memulihkan tenaga kamu. Ayo makan! Aku sengaja meminta Bibik untuk membuatkan makanan 4 sehat 5 sempurna untuk kamu," cerocos Jessica seraya menyendok nasi dan lauk pauknya ke dalam piring Gintani. Lalu, dia menggeser piring itu ke hadapan Gintani.


Gintani tersenyum kecut mendengar ucapan Jessica. Mungkin memang benar jika tubuhnya membutuhkan asupan nutrisi. Namun bagaimana dengan hatinya? Bukankah hatinya juga membutuhkan hal yang sama? Lalu gizi seperti apa yang bisa menyeimbangkan kadar kegundahan dan ketenangan di hatinya. Bayangan suami yang tengah menggendong wanita lain, membuat hati Gintani terasa lemah tak berdaya.


"Malah bengong...ayo, dimakan, Gin!" ucap Jessica, membuyarkan lamunan Gintani.


"Eh, i-iya Mbak." Akhirnya, Gintani mulai menyendok makanannya. Sedikit demi sedikit, dia mulai memasukkan makanan itu ke mulutnya. Gintani mengunyah makanan itu meski tanpa selera. Dia tidak mau mengecewakan Jessica yang sudah menolongnya menampung Gintani yang tengah dilanda kegelisahan.


Jessica memandang Gintani yang tengah makan. Wajah sendunya membuat dia merasa iba. Kenapa harus Gintani yang menjadi pasangan seorang pria yang sangat egois itu? Seperti saat pertama kali bertemu, perasaan itulah yang pernah muncul untuk Gintani. Perasaan iba terhadap jalan hidup yang harus dia lalui.


Lo nggak salah Gin, maafkan gua yang berusaha menghancurkan pernikahan lo. Tapi jujur, gua ngelakuin semua ini hanya untuk membalas semua perbuatan Argha ke gua. Tapi melihat sikap Argha kemarin, gua bener-bener nggak tega Gin. Gua nggak tega buat nyakitin lo lagi. Terlebih lagi, lo adalah pemberi kehidupan gua. Seandainya lo nggak nyelamatin gua, mungkin gua dah nggak ada lagi di dunia ini, batin Jessica.


Meskipun membutuhkan waktu lama, namun Gintani bisa juga menyelesaikan makan malamnya.


"Ngapain, Gin?" tanya Jessica yang melihat Gintani membawa piring kotornya ke tempat cucian.


"Cuci piring, Mbak," jawab Gintani.


"Udah, biarin aja! Biar Bibik yang membereskan semuanya," cegah Jessica.

__ADS_1


"Tapi mbak...!"


"Udah, nggak apa-apa. Itu, kan, sudah tugas mereka. Lagipula, aku menggaji mereka bukan untuk berleha-leha," ujar Jessica. "Ke ruang TV yuk!" ajaknya seraya menarik tangan Gintani.


Gintani hanya bisa pasrah ketika Jessica menyeret langkahnya menuju ruang keluarga. Tiba di sana, Jessica mulai mengeluarkan beberapa koleksi VCD-nya.


"Lo suka film India nggak?" tanya Jessica.


Gintani tersenyum, "Entahlah...aku suka, tapi tidak terlalu memaksakan diri untuk menontonnya," jawab Gintani.


"Benarkah? Lo nggak pernah luangin waktu berdua gitu, ma Argha?"


Gintani mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"


"Ya maksud gua, lo nggak pernah jalanin Q-time lo ma Argha? Ya ngapain kek, nonton, jalan-jalan, makan atau...apa aja deh," ucap Jessica seraya memilih VCD yang akan mereka tonton.


"Hmm... aku pernah piknik sama Mas Argha. Tapi aku nggak tahu apa itu bisa dikategorikan Q-time berdua. Soalnya, waktu itu aku mengajak Nadhifa dan Kak Bram," jawab Gintani seraya tersenyum mengingat kembali kebersamaan mereka.


"Ya Tuhan, Gin...itu namanya bukan Q-time berdua, tapi Q-time together. Ada-ada saja sih lo."


"Gitu, ya...? Hehehe..." Gintani terkekeh.


Setelah beberapa menit mencari, akhirnya pilihan Jessica jatuh pada sebuah film terbaru aktor kesayangannya.


Film pun dimulai. "Waah, aku tahu nih film ini!" deru Gintani seraya menarik kedua kakinya ke atas sofa dan melipatnya menyilang. Gintani duduk bersila, dia terlihat antusia saat film dimulai. Begitu juga dengan Jessica.


"Boleh, Mbak...anggap aja kita lagi berada di bioskop," jawab Gintani.


Trek!


Lampu pun mulai padam. Akhirnya mereka mulai menikmati film yang selalu disertai lantunan-lantunan merdu dari suara khas seorang Alka Yagnik dan Sonu Nigam.


Gintani mulai melupakan kegundahannya. Dia mulai bisa menggoyangkan kepala saat aktor dan aktrisnya mulai berdendang menyanyikan sebuah lagu india.


Pun dengan Jessica yang tengah menari-nari karena ikut terbawa suasana film. Sampai-sampai Gintani tergelak melihat kelakuan temannya. Tiba-tiba


"Buka pintu gerbangnya!"


"Mamang mohon, Den! Ini sudah malam, jangan buat kegaduhan di rumah ini!"


"Aku tidak berbuat kegaduhan, aku hanya ingin menjemput istriku pulang. Tolong buka pintunya!"


"Maaf, Den Argha bisa kembali lagi besok jika ingin menjemput Neng Gintani."


"Tidak bisa, aku harus membawa istriku pulang hari ini, tolong buka pintunya!"

__ADS_1


Samar-samar Jessica dan Gintani mendengar keributan yang tengah terjadi di luar.


"Lo denger nggak?" tanya Jessica.


"Iya, Mbak. Sepertinya ada yang sedang adu mulut di luar. Kira-kira, siapa yang datang malam-malam begini?" tanya Gintani, heran.


"Entahlah!" Jessica mengangkat kedua bahunya.


"Gin! Gintan! Keluarlah!" teriak Argha. "Gin! Ayo kita pulang! Kita bicarakan semuanya di rumah. Aku mohon, keluarlah!"


"Gin, sepertinya ada yang memanggil kamu," ujar Jessica.


"Se-sepertinya, itu Mas Argha, Mbak," ucap Gintani terkejut mendengar suara suaminya yang tengah berteriak-teriak di luar.


Jessica memakai sandalnya. Dia kemudian pergi keluar untuk melihat keributan itu. Sedangkan Gintani, dia masih bergeming di atas sofa.


"Mbak...!" panggil Gintani.


Jessica menoleh. "Kenapa, Gin?"


"Tolong jangan biarkan Mas Argha masuk. Gintan nggak mau ketemu Mas Argha untuk saat ini," pinta Gintani.


Jessica mengangguk. Setelah itu dia pun pergi.


.


.


.


"Ada apa ini?" tanya Jessica begitu dia sampai di pintu gerbang.


"Jes, tolong buka gerbangnya! Gua mo jemput bini gua," ujar Argha.


"Udah deh Ar, lo nggak usah berulah lagi. Kasih bini lo kesempatan buat nenangin dirinya!"


"Gimana gua nggak berulah, melihat bini gua tinggal serumah dengan wanita ular seperti lo!" teriak Argha, ketus.


"Ish Ar, mulut lo emang selalu pedes sedari dulu. Terserah apa tanggapan lo, yg jelas, gua nggak akan ngebiarin lo masuk dan menyakiti bini lo lagi. Jadi sebaiknya, lo pulang!" ucap Jessica seraya membalikkan badannya meninggalkan Argha.


"Jes..! Tunggu..! Jessica..!"


Bersambung...


Mohon maaf jika beberapa hari ini author memang sangat amat terlambat untuk up bab baru. itu dikarenakan author sedang mengerjakan sebuah misi kepenulisan yang dipercayakan oleh pihak terkait kepada author.

__ADS_1


author juga ingin mengucapkan ribuan terima kasih untuk para readers setia Takdir Gintani ini. Terima kasih semuanya.


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa 🙏🤗


__ADS_2