
"Permisi, dok! Ini hasil USG pasien yang bernama Ilona," ucap seorang perawat seraya menyerahkan selembar amplop besar berwarna coklat.
Dokter Richard menerima amplop tersebut. "Terima kasih," ujar dokter Richard.
"Sama-sama, dok. Kalau begitu, saya permisi," pamit perawat tersebut.
"Ah, ya!" jawab dokter Richard.
Perawat itu pun segera pergi dari ruangan dokter Richard.
Dokter Richard segera membuka amplop berwarna coklat tersebut. Sejurus kemudian, ekspresi terkejut tergambar jelas di raut wajahnya setelah dia melihat gambar hasil USG Ilona. Tangannya yang kekar buru-buru meraih gagang telepon yang berada di hadapannya.
"Siang, dok! Punya waktu senggang di jam istirahat, nanti?" tanya dokter Richard kepada seseorang di ujung telepon.
"Kenapa, dok? Ada yang bisa saya bantu?" Orang itu malah balik bertanya.
"Saya hanya ingin menanyakan sesuatu tentang kebenaran atas pasien saya yang bernama Ilona," ucap dokter Richard.
"Baiklah, lepas jam makan siang, kita bertemu di kantin rumah sakit," jawab dokter itu lagi.
"Ah, ya. Terima kasih atas waktunya, dok," kata dokter Richard.
"Sama-sama."
Setelah sambungannya terputus, dokter Richard kembali meletakkan gagang telepon tersebut pada tempatnya. Dia kemudian menyandarkan punggungnya.
Jika dugaanku benar, berarti nyawa Ilona terancam bahaya, batin dokter Richard seraya memejamkan matanya.
🍀🍀🍀
"Jadi, bagaimana? Apa kamu setuju dengan rencana yang aku buat?" tanya Ilona.
Celine hanya bisa melongo menatap wajah sahabatnya. Rasa tak percaya masih bergemuruh di hatinya. Dia memang sangat membenci Gintani. Tapi untuk melakukan tindakan sejauh itu? Tentunya Celine harus berpikir ribuan kali.
__ADS_1
"Cel, kok diam?" tanya Ilona seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Celine. "Kamu ngelamun, ya?" tuduh Ilona.
Lamunan Celine seketika buyar. "Eh, enggak kok. I-tu, anu...aku cuma lagi bayangin aja, apa semuanya akan berhasil?" tanya Celine mengalihkan tuduhan Ilona.
"Pasti berhasil, lah!" ucap Ilona penuh percaya diri.
"Tapi Tik, resikonya terlalu tinggi, loh!" Celine mencoba memperingatkan Ilona.
"Apa kamu takut?" tanya Ilona dengan nada mengejek.
"Bu-bukan begitu. Aku-aku hanya belum pernah melakukan tindakan jahat seperti itu," bantah Celine dengan raut wajah yang gugup.
"Belum pernah? Apa selama ini menyakiti perasaan sepupumu sendiri sedari kecil, bukan termasuk kejahatan?" Ilona semakin mengejek perbuatan Celine.
"Ish, tidak seperti itu juga, Tik. Rencana kamu itu terlalu berbahaya. Dan itu tindakan kriminal. Aku tidak mau kalau sampai harus berurusan dengan pihak yang berwajib."
"Ah, dasar enggak punya nyali. Bilang aja kamu nggak mau bantuin aku. Pengecut!" ucap Ilona seraya pergi meninggalkan kamar Celine.
"Eh, Tik, bukan begitu. Tunggu!" teriak Celine.
"Ayolah, Tik! Jangan seperti itu, tunggu aku!" Celine terus berteriak. Namun Ilona tak menggubrisnya. Dia hanya melambaikan tangan kirinya dan mengabaikan panggilan Celine.
🍀🍀🍀
Dokter Richard duduk di kursi kantin dengan wajah yang gelisah. Matanya masih menatap rekam medis yang baru saja dia terima dari rekan sesama dokter. Rasa tak percaya kembali menyergapnya.
"Jadi, sejak kapan Ilona menderita penyakit ini, dok?" tanya dokter Richard, gusar.
"Dugaanku, mungkin sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Melihat peradangan yang dia alami, sudah cukup parah," jawab dokter cantik itu.
Laluna, seorang dokter obgyn yang memang sudah sangat senior di rumah sakit Harapan.
"Apa masih ada harapan untuk dia sembuh, dok?" tanya dokter Richard lagi.
__ADS_1
"Dokter Richard, saya rasa Anda sendiri jauh memahami kondisi pasien Anda. Namun yang saya tahu, sejauh ini, jarang sekali orang yang bisa sembuh total dari penyakit ganas itu. Mungkin, jika dulu pasien Anda segera berobat dan menjaga diri, tingkat kerusakannya tidak akan separah ini. Tapi sekarang, Anda bisa melihat hasil USG-nya, kan? Saya yakin, Anda sudah bisa menyimpulkan seberapa lama dia akan bertahan," jawab dokter Laluna, tak ingin memberikan harapan palsu kepada pasiennya.
Dokter Richard terdiam. Rasa benci di hatinya seketika hilang setelah mengetahui kebenaran tentang Ilona.
"Saran saya, kita harus segera memberi tahu hal ini kepada Ilona. Bujuk dia untuk segera melakukan kemoterapi. Meskipun hasilnya memang fifty-fifty, tapi setidaknya itu bisa sedikit menghambat penyebaran cancer-nya."
Dokter Richard masih bergeming di tempatnya. Bukan hal yang mudah untuk membujuk Ilona. Dia itu wanita yang sangat keras kepala. Terlebih lagi, dokter Richard tidak tahu harus memulai dari mana untuk memberitahukan penyakit yang sedang menggerogoti tubuh Ilona.
Di satu sisi, sebagai seorang anak yang telah terdzolimi oleh sikap Ilona, dokter Richard memang sangat membenci dan mengutuk wanita ular itu. Wanita yang telah memanfaatkan ayahnya hanya untuk mencapai tujuannya. Namun di sisi lain, sebagai seorang dokter bedah yang menanganinya. Dokter Richard merasa iba dengan nasib tragis yang harus dialami Ilona. Terlebih lagi, setelah dia tahu jika Ilona adalah korban dari perbuatan bejat pamannya.
Masih tergambar jelas dalam ingatan dokter Richard saat Ilona menceritakan kisah hidupnya yang telah mengalami tindakan asusila sang paman sejak dia beranjak dewasa. Kisah itulah yang membuat dokter Richard paham akan perbuatan Ilona yang selalu menjerat pria hidung belang yang telah berumur.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Gumam dokter Richard yang masih bisa didengar oleh dokter Laluna.
Dokter wanita paruh baya itu pun tersenyum.
"Ajak dia pergi ke sebuah tempat yang bisa menenangkan hati dan pikirannya. Buat dia senyaman mungkin, agar dia bisa menerima semua kenyataan tentang dirinya," ucap dokter Laluna.
"Baiklah, dok. Saya rasa, waktu jam makan kita sudah hampir habis. Kalau begitu, saya permisi dulu. Kebetulan lepas ini, saya ada janji di luar dengan pasien saya," sambung dokter Laluna.
Dokter Richard melirik jam yang melingkar di tangannya. Memang benar apa yang dikatakan dokter Laluna. Tersisa waktu sekitar lima belas menit sebelum jam makan siangnya berakhir.
"Ah, ya. Silakan, dok!" Dokter Richard mempersilakan dokter Laluna untuk meninggalkan kantin terlebih dahulu. Setelah kepergian dokter Laluna, dokter Richard pun kembali menatap nanar hasil USG milik Ilona.
Mungkin ini teguran Tuhan untukmu, Na. Agar kamu bisa kembali ke jalan yang benar, batin dokter Richard
Puas bermonolog dalam hati, dokter Richard pun segera beranjak pergi. Dengan langkah gontai, dia kembali menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan. Meskipun hatinya terasa kacau, namun dokter Richard tidak bisa mengabaikan kewajibannya untuk menolong pasien-pasien yang membutuhkan pengobatan darinya.
"Semoga saja, penyakit ini bisa mengubah Ilona menjadi wanita yang lebih baik," gumam dokter Richard.
Bersambung yaaaa...
Makasih yang masih mau mendukung setiap Gintani dan Mas Argha...
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote n komennya, yaaa