Takdir Gintani

Takdir Gintani
Dikejar wartawan


__ADS_3

Sementara itu di kantor APA Architecture, terlihat begitu banyak orang yang sedang berkerumun di halaman kantor.


"Kenapa kantor kita ramai sekali, Bram? Kamu tidak sedang merekrut karyawan baru, 'kan?" tanya Argha kepada asistennya.


"Tidak Bos," jawab Argha mengernyitkan keningnya.


"Lalu, kenapa ramai sekali?" Argha kembali bertanya.


"Ish, mana saya tahu, Bos. Tapi tunggu ... sepertinya mereka orang-orang pers, Bos," ucap Bram saat menyadari banyak di antara orang-orang itu yang memegang kamera.


"Maksud kamu, wartawan?" tanya Argha, heran.


"Sepertinya sih, begitu," jawab Bram.


"Ish, memangnya ada acara apa di kantor kita, sampai harus dikerubutin wartawan segala?" ucap Argha dengan kesal.


"Yaaa, mana saya tahu ... Anda, 'kan, bosnya," sahut Bram.


"Eh itu CEO-nya!"


Salah seorang wartawan berteriak sambil menunjuk mobil Argha yang baru memasuki halaman kantor. Sontak semua orang yang sedang berkerumun itu melirik ke arah mobil yang ditunjuk wartawan tadi. Seketika mereka berlarian menuju mobil Argha yang baru saja terparkir.


Melihat hal itu, Argha dan Bram terkejut. Sesaat mereka saling pandang, tidak mengerti dengan maksud dan tujuan para wartawan itu.


Para wartawan itu semakin mendekati mobil Argha. Bahkan di antara mereka ada yang berteriak-teriak memanggil nama Argha.


"Lari, Bram ... lari" ucap Argha sambil menepuk-nepuk jok kemudi yang ada di hadapannya.


"Maksud lo, gue harus keluar dan lari, gitu?" tanya Bram dengan memperlihatkan wajah lugunya.


"Bukan itu maksud gue, kampret!" Argha menjitak kepala sahabatnya. "Ayo, lajukan lagi mobilnya!" Perintah Argha.


"Ish, yang benar saja ... kita, 'kan, baru sampai bos!" gerutu Bram, kesal.


"Terus, lo mau kita dibikin perkedel tempe sama tuh wartawan? Ayo cabut!" Argha kembali memberi perintah sambil mendengus kesal.


Bram akhirnya menuruti perintah bosnya. Dia kemudian melajukan kembali mobilnya dan keluar dari gedung itu.


"Kita kemana, Bos?" tanya Bram begitu berhasil terlepas dari kejaran para wartawan itu.


"Ke Apartemenku saja," jawab Argha.

__ADS_1


Bram mengangguk, di pertigaan depan dia kemudian membelokkan mobilnya menuju apartemen Argha.


Beberapa menit telah berlalu. Saat mereka tiba di apartemen pribadi Argha, mereka kembali terkejut. Di apartemen, Bram dan Argha kembali melihat begitu banyak wartawan di sana. Para wartawan itu berkumpul di depan pintu lobi apartemen. Bahkan pihak keamanan apartemen sampai kewalahan menghadapi para wartawan itu.


"Bagaimana ini, bos?" tanya Bram.


"Ish, gue juga nggak tahu, tapi gue yakin mereka pasti lagi nyari gue. Lo denger sendiri, 'kan, tadi mereka manggil-manggil nama gue," ucap Argha semakin salah tingkah.


"Lagian lo punya masalah apa sih sama mereka, sampai-sampai dikejar tuh wartawan kek buronan gitu?" tanya Argha, kesal sekaligus penasaran.


"Mana gue tahu, dodol! Dah, putar balik, kita ke apartemen lo aja!" perintah Argha.


"Jangan Bos! Gua nggak yakin kalau di sana aman," ujar Bram.


"Maksud lo?" tanya Argha heran.


"Sebentar!"


Bram mengeluarkan ponselnya. Sejurus kemudian, dia menghubungi seseorang. Sepintas terlihat keterkejutan di raut wajah Bram. Sesuai dugaannya, di sekitar apartemen Bram pun terlihat kerumunan orang-orang yang memegang kamera. Dan kemungkinannya, orang-orang itu adalah para wartawan yang tengah mengejar mereka. Bram mengetahui hal itu dari salah seorang penjaga keamanan yang dihubunginya.


"Jadi kita ke mana, Bos?" tanya Bram lagi.


Hening. Argha tidak menjawab pertanyaan Bram. Dia sendiri bingung harus pergi ke mana. Sejenak, Argha dan Bram diam untuk berpikir.


Argha dan Bram saling pandang lewat kaca spion depan, sedetik kemudian mereka saling membuang muka, merasa jijik dengan tingkah mereka sendiri. Akhirnya Bram melajukan kendaraannya menuju apartemen Kevin.


🍀🍀🍀


Bik susan merebut remote yang sedang dipegang Gintani.


Biar Bibik matikan, Neng!" ucapnya. Sejurus kemudian, Bik Susan mematikan televisinya.


"Dasar berita nggak bermutu! Pagi-pagi sudah menyebar gosip murahan," dengus Bik Susan dengan kesalnya.


Gintani bergeming mendengar ucapan Bik Susan.


"Jangan terlalu dipikirkan, Neng. Bibik yakin, itu berita, pasti cuma gosip saja." Bik Susan mendekati Gintani serta mengusap-usap punggung Gintani untuk menenangkannya.


Namun, Gintani masih tetap diam.


"Sebaiknya Neng pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, setelah itu Bibik akan ajak Neng ke rumah kyai Solihin. Kita minta air do'a ya, Neng. Biar hati Neng diberikan ketenangan," ucap Bik Susan.

__ADS_1


Gintani melirik ke arah Bik Susan. Dia pun tersenyum tipis. "Tidak usah, Bik. Gintan baik-baik aja, kok," jawab Gintani.


"Tapi, Neng...."


Gintani menggenggam erat kedua tangan Bik Susan.


"Gintan kuat, Bik ... Insya Allah Gintan kuat. Gintan masih punya Tuhan, Gintan masih punya Bibik dan mamamg. Gintan masih punya sahabat-sahabat Gintan. Bibik tidak usah khawatir, Gintan pasti kuat," ucap Gintani dengan tegar, berusaha untuk tidak menitikkan air mata demi laki-laki brengek itu lagi.


Tak kuasa menahan haru, Bik Susan pun meraih Gintani ke dalam pelukannya. Tangannya yang kasar karena selalu bekerja di ladang, mengusal lembut rambut panjang Gintani.


"Neng tidak usah khawatir, Bibik akan selalu ada buat Neng," ucap Bik Susan.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di rumah Abi Hasan, Umi Kulsum berteriak-teriak memanggil putrinya.


"Jessica! Jessica! Kemarilah, Nak!" teriak Umi Kulsum.


"Iya, Mi!" teriak Jessica dari dalam kamarnya.


"Jessica! Ayo cepat, Nak!" Kembali Umi Kulsum berteriak.


Jessica datang tergopoh-gopoh dari kamarnya.


"Ya, Umi! Jessi nggak tuli, ya? Ngapain Umi teriak-teriak memanggil Jessi seperti itu? Tumben, nggak biasanya Umi manggil Jessi kenceng-kenceng," ucap Jessica.


"Coba kamu lihat berita itu, Nak! Bukankah itu mantan suaminya Gintani, 'kan? Orang yang kamu ceritakan semalam?" Umi kulsum menunjuk tayangan yang sedang menjadi trending topic di televisi.


Mulut Jessica terbuka lebar menyaksikan berita itu.


"Gila! Dia benar-benar sudah gila! Belum ada seminggu dia bercerai, malah sudah berbuat mesum sama wanita lain. Jangan-jangan, justru dia yang sudah berselingkuh, tetapi malah menyalahkan Gintani. Ish, dasar laki-laki biadab," umpat Jessica dengan sangat kesal.


"Huss! Jangan suudzon kamu!" Umi Kulsum memperingatkan putrinya untuk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain.


"Ini bukan suudzon Umi, ini fakta! Dia sudah menuduh Gintani berselingkuh, tapi dia sendiri malah main gila bersama perempuan lain. Apa namanya kalau bukan selingkuh? Bisa jadi, dia yang berselingkuh, tapi karena nggak mau ketahuan, ya akhirnya dia yang menuduh Gintani selingkuh. Masuk akal, 'kan, Mi?" Jessica membela diri.


"Ya sudah, terlepas apa pun alasannya, yang terpenting, sekarang kamu harus sering-sering mengunjungi Gintani, agar dia tidak merasa sendirian. Kamu harus selalu motivasi dia agar tidak menyerah. Gintani anak yang baik. Umi tidak mau dia terus kepikiran soal berita skandal tentang suaminya. Kasihan calon anaknya. Jangan biarkan Gintani merasa stress. Temani dan hibur dia ya, Nak!" Umi Kulsum memberikan nasihak kepada Jessica.


"Iya, Mi."


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2