
Setelah selesai acara pernikahan, keluarga besar Argha berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Begitu juga dengan kakek Wira yang hendak pergi menemui anaknya Arman. Resepsi akan diadakan seminggu lagi, karena itu kakek Wira pergi ke Jakarta untuk mempersiapkan acara resepsi Gintani.
Kini tinggal sepasang pengantin baru yang menempati rumah panggung itu. Bik Susan tampak sibuk mengatur sisa jamuan para tamu undangan tadi.
"Neng, ini sisa makanannya masih banyak, mau di kemanakan ?" tanya bik Susan.
"Bagikan saja, bik !" jawab Gintani seraya mengambil air minum dari lemari pendingin.
"Apa neng Gintan mau menyisakan untuk makan malam nanti ?" tanya bik Susan lagi.
"Tidak usah bik, biar nanti Gintan masak lagi buat makan malam !" jawab Gintani.
"Oh ya sudah, bibik bagikan saja semuanya ya neng ?" ucap bik Susan.
Gintani pun mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selepas solat ashar, dia berpamitan kepada bik Susan untuk pergi ke rumah Raisya.
"Loh, neng nggak pamitan dulu sama tuan muda ?" tanya bik Susan heran.
"Dia sedang tidur bik. Kalau dia sudah bangun dan bertanya pada bibik, bilang saja aku ke rumah Raisya, ada urusan sebentar." jawab Gintani.
"Baiklah neng, hati-hati !"
Gintani tersenyum, "Assalamu'alaikum !" pamitnya.
"Wa'alaikumsalam !" jawab bik Susan seraya menatap heran punggung Gintani yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Heran, baru nikah sudah main ditinggal saja !" gumam bik Susan.
"Siapa yang ditinggal, bik ?" tanya Argha yang telah berdiri di belakang bik Susan.
"Astagfirullah...! Ish tuan, bibik sampai kaget ! Untung bibik tidak punya riwayat penyakit jantung." jawab bik Susan.
"He... he... he..., maaf bik ! Terus, siapa yang ditinggalkan ? Ngomong-ngomong, di mana istri saya ?" tanya Argha
"Eh anu..., itu tuan, mmm..., baru saja neng Gintani pergi ke rumah temannya. Katanya ada urusan sebentar." jawab bik Susan tergagap.
"Oh, jadi ceritanya aku yang ditinggalkan bik ?" tanya Argha kembali membahas topik utama yang tadi dia tanyakan.
__ADS_1
"Maaf tuan, bibik tidak bermaksud bersikap lancang terhadap tuan." jawab bik Susan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa bik, mungkin Gintani memang ada urusan sebentar dengan temannya. Ya sudah bik, aku ke kamar mandi dulu !" jawab Argha seraya pergi meninggalkan bik Susan yang masih membagi-bagi makanan ke dalam kotak makan.
Selesai mandi, Argha sudah terlihat rapi memakai celana panjang hitam yang berwarna senada dengan kaos lengan panjangnya. Dia berdiri di depan pintu rumah panggung itu. Kedua tangannya merentang hingga menempel di kedua sisi pintu depan. Tatapan matanya lurus ke depan melihat seorang gadis yang berjalan memasuki pekarangan rumah seraya menunduk.
"Dari mana saja kamu ?" tanya dingin Argha saat gadis itu semakin mendekati pintu rumah.
Gintani mendongakkan wajahnya. Netranya menangkap pria tampan yang tengah berdiri menghalangi pintu masuk. Tatapan dingin sang pria tepat menusuk jantungnya. Sejenak Gintani merasa takut melihat tatapan dingin itu. Namun saat dia teringat kembali tentang perjanjian yang pernah di tandatangani nya, Gintani membalas tajam tatapan itu.
"Maaf tuan, bukankah di dalam surat perjanjian itu sudah tertulis jelas jika kita tidak akan saling mencampuri urusan pribadi masing-masing ? Jadi aku rasa, aku tidak perlu melaporkan setiap kegiatanku padamu !" jawab Gintani sinis seraya menerobos masuk melalui celah di bawah tangan Argha.
Grep...
Brugh...
Argha menurunkan tangannya sebelum Gintani berhasil menerobos celah itu. Dia kemudian menarik kedua bahu Gintani.
"Dengar, wanita ! Kau adalah istriku ! Jadi bersikaplah seperti layaknya seorang istri ! Aku suamimu dan kau wajib mendapatkan izinku jika ingin pergi ke manapun. Jangan ulangi lagi ! Atau aku tidak akan segan-segan untuk menghukum mu !"
"Ish...!"
Argha mendorong kasar tubuh Gintani hingga punggungnya menyentuh keras tepi pintu. Setelah itu Argha pergi meninggalkan Gintani.
Gintani meringis kesakitan. Namun sekuat mungkin dia menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan rintihan yang terlalu keras. Gintani hanya menatap sendu sebuah mobil hitam yang mulai keluar dari pekarangan rumahnya.
🍀🍀🍀
Senja temaram mulai menghilang di ufuk barat. Sang kegelapan mulai mengembangkan sayapnya, namun Gintani belum mendengar deru mobil yang akan membawa suaminya kembali.
Selepas menyiapkan makan malamnya, Gintani pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia sedikit merasakan perih di punggungnya saat mulai mengguyur sekujur badannya dengan air pegunungan itu.
"Ish...!"
Gintani kembali meringis, dia berusaha untuk melihat apa penyebab perih yang dia rasakan di punggungnya. Namun Gintani tak bisa meraihnya dengan pandangannya. Dia pun hanya kembali meringis ketika menyabuni tubuhnya.
__ADS_1
Selesai mandi. Gintani segera pergi ke kamarnya untuk berpakaian. Dia membuka sedikit bathrobe nya dan memunggungi cermin. Gintani melirik ke arah cermin. Dia terkejut mendapati luka menganga sepanjang sekitar 5 cm.
Luka itu masih terus mengeluarkan darah segar. Sejenak Gintani termenung berusaha mengingat kejadian apa hingga membuat punggungnya terluka. Dia hanya mampu menghela napasnya saat menyadari penyebab luka itu.
Karena tangannya tak mampu menjangkau luka tersebut, akhirnya Gintani segera memakai pakaiannya tanpa mengobati luka di punggungnya. Selesai berpakaian, Gintani pergi ke ruang tengah untuk menunggu suaminya pulang. Namun hingga beberapa jam menunggu, pria sombong nan arrogant itu belum juga muncul. Karena merasa lapar, Gintani pun pergi ke meja makan untuk menyantap makan malamnya sendirian.
Rumah tangga seperti apa yang akan aku jalani, ya Allah...? batin Gintani seraya mengunyah pelan makanannya.
Selepas makan dan membereskan bekas makannya, Gintani segera pergi berwudhu dan menunaikan solat Isya. Matanya sudah sangat mengantuk, namun nyeri di punggungnya tak pernah berkurang. Akhirnya Gintani tidur menyamping untuk mengurangi rasa perih di punggungnya.
Pukul 21.30, Argha tiba di rumah. Dia segera membersihkan dirinya setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membicarakan proyek dengan pak Iman, sang ajudan pemerintah daerah setempat. Sebenarnya, tadi sore dia mendapat undangan makan malam dari pak Iman. Awalnya Argha berniat untuk mengajak Gintani. Namun melihat sikap Gintani yang sedikit kurang ajar atas teguran nya, dia pun mulai emosi dan meninggalkan Gintani sendirian di rumah.
Argha hanya bisa menghela napasnya saat melihat Gintani tertidur menyamping.
Hmm, mungkin dia enggan untuk melihat keberadaan ku di sampingnya, karena itu dia tidur membelakangi aku. Benar-benar gadis yang tidak tahu diri ! gerutu Argha dalam hati.
Argha mulai merebahkan tubuhnya di samping Gintani. Dia pun menyibakkan selimut yang sedang dipakai Gintani. Jujur saja, tanpa AC pun, udara di rumah ini terasa dingin karena terletak di kaki pegunungan.
Saat dia hendak membenarkan selimutnya, Argha melihat bercak merah di pakaian tidur Gintani. Argha terkejut, menyadari jika bercak merah itu adalah darah. Perlahan dia mulai membuka tali kimono baju tidur Gintani agar sedikit longgar. Argha menyibakan kimono tersebut. Dia mulai mencari sumber yang telah meninggalkan noda darah di pakaian itu.
Argha tampak tertegun melihat luka memanjang yang terlihat kontras di putih mulusnya kulit punggung istrinya. Seketika, Argha teringat perbuatannya terhadap Gintani sore tadi. Mungkinkah luka ini akibat dorongan kasar yang aku lakukan sore tadi ? batin Argha.
Argha merasa bersalah, dia kemudian mencari salep di kotak obat yang menempel di dinding ruang keluarga. Setelah itu dia kembali ke kamar.
Argha segera mengeluarkan kapas dan sedikit menuang alkohol di atas kapas tersebut. Dengan hati-hati dia mulai mengusap luka itu dan membersihkan sisa darah yang mulai mengering. Maafkan aku yang hanya bisa memberimu luka di malam pertama kita. Batin Argha seraya mengobati luka Gintani
"Ish.....!"
Gintani kembali meringis merasakan perih di punggungnya. Dia mengerjapkan matanya saat punggungnya terasa dingin oleh sentuhan tangan seseorang. Gintani melirik ke belakang, dia mendapati wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan tatapan berembun.
Kau...?" ucap lirih Gintani.
"Maafkan aku !" jawab Argha seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Gintani.
Hangat..., sejenak Gintani merasakan cairan hangat menempel di kulit lehernya.
Bersambung.....
__ADS_1
Masih suka kan cerita ArGhin nya.... 🤭🤭
Jangan lupa like vote n komennya yaaa