
"Sebenarnya, siapa wanita tadi, Min?" tanya Gintani kepada Mina.
"Sudah, Nyonya ... tidak usah ditanggapi. Dia memang orangnya begitu. Centil," jawab Mina.
"Hus! Jangan seperti itu, tak baik!" ucap Gintani.
"Tapi memang seperti itu kenyataannya, Nyonya. Dia memang suka kecentilan. Selalu saja ada alasan buat ketemu Tuan Heru," jawab Mina.
"Jadi, dia suka sama mas Heru?" tanya Gintani.
"Bukan hanya suka, tapi lebih tepatnya cinta. Dia bahkan dengan terang-terangan mengirimkan bunga dengan ucapan kata I Love U di dalam kartu yang terselip di sana. Hmm, dasar tante-tante nggak tahu malu," cibir Mina.
"Sudah ah, kamu semakin melantur saja omongannya," sahut Gintani.
Gintani menyudahi pembicaraannya tentang wanita yang tadi bertemu di taman. Tapi, hati kecilnya seolah tergelitik oleh ucapan Mina. Benarkah dia menyukai penolongnya?
🍀🍀🍀
Seminggu telah berlalu dari pertemuannya dengan Ilona. Dalam seminggu itu, sungguh Argha hampir dibuat frustasi oleh keadaan. Perkataan Ilona masih terngiang-ngiang di telinganya. Benarkah tentang semua yang dia katakan waktu itu? Tapi kenapa? Bagaimana bisa? Kembali Argha bertanya-tanya dalam hatinya. Sungguh, dia tak mampu mendapatkan jawaban yang masuk akal tentang anak yang diakui Ilona sebagai anaknya Bram.
Sejujurnya, Argha ingin bertanya kepada Bram tentang sejauh mana hubungan dia dengan Ilona dulu. Namun, Argha takut Bram salah paham. Bagaimanapun juga, bagi Argha, Bram bukan hanya sekedar asisten. Tapi juga, dia adalah sahabat terbaik yang Argha miliki. Terlebih lagi, dalam waktu kurang dari dua bulan, Bram bukan hanya menjadi seorang sahabat, tapi dia juga akan menjadi adik iparnya .
Argha menghela napasnya. Sungguh ia tak mampu berpikir jernih saat ini. Dia kembali mengeluarkan selembar foto yang pernah dikirim sipir wanita itu. Jika diamati dengan teliti, anak kecil itu sepintas memang mirip dengan Bram. Namun, Argha terlalu takut untuk berasumsi. Dia pun menyangkalnya dan menganggap jika semua ini masih permainan seorang Ilona.
Getaran ponsel di atas meja kerjanya membuyarkan lamunan Argha. Dia kemudian mengambil ponsel itu dan membaca id name yang tertera di layar ponselnya.
"Penjara wanita," gumam Argha. Seketika Argha menggeser icon berwarna hijau.
"Hallo! Assalamu'alaikum!" sapa Argha.
"Maaf Pak. Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa tahanan yang bernama Ilona baru saja meninggal dunia."
__ADS_1
Deg!
Argha begitu terkejut mendengar kabar kematian Ilona. Seketika, tangannya terasa lemas hingga ponsel itu terlepas dari genggamannya. Teriakan sipir wanita di ujung telepon pun tak digubrisnya.
Sejenak, Argha terpaku di kursi kebesarannya. Dia tidak menyangka jika Ilona akan pergi secepat ini. Padahal, seminggu yang lalu dia tampak baik-baik saja, meskipun wajahnya memang terlihat sangat pucat.
"Ar, apa kamu sudah mendapatkan kabar dari kepolisian?"
Pertanyaan Bram yang masuk tiba-tiba, membuyarkan lamunan Argha. Dia kemudian menoleh ke arah Bram. Untuk sejenak, pernyataan Ilona tentang anaknya dan Bram, berkelebat dalam benaknya. Tidak ... ini bukan waktu yang tepat untuk membahas semua itu, batin Argha.
"Ar, apa kamu sudah mendengar beritanya?" Bram kembali bertanya.
"Ya, aku sudah mendengarnya," jawab Argha.
"Apa kamu akan pergi ke sana?" tanya Bram lagi.
"Ilona mungkin memang bersalah. Tapi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak melihat dia yang terakhir kalinya. Aku akan menghadiri pemakamannya, Bram," jawab Argha.
Argha mengangguk, setelah itu dia segera membereskan pekerjaannya agar bisa menghadiri pemakaman Ilona.
.
.
.
Setelah jam makan siang, Argha dan Bram pergi ke TP tempat di mana Ilona di makamkan. Saat mereka tiba, jenazah Ilona baru saja dikuburkan. Sebelum para pengantar jenazah membubarkan diri, seorang ustadz paruh baya membacakan tahlil dan sedikit bertausyiah. Setelah acara selesai, barulah para pelayat itu pulang.
Tak banyak orang yang menghadiri pemakaman Ilona. Hanya beberapa sipir penjara dan petugas rumah sakit yang diperintahkan untuk menangani Ilona yang menghadiri pemakaman. Mungkin karena Ilona adalah seorang tahanan.
"Permisi Tuan Argha!" ucap seorang sipir wanita yang pernah menemuinya seminggu yang lalu.
__ADS_1
Argha menoleh. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Argha.
"Ilona menitipkan ini sebelum dia meninggal. Dia meminta saya untuk memberikannya kepada Anda," ucap sipir wanita tersebut seraya menyerahkan amplop berwarna putih.
Argha mengernyitkan keningnya. Namun, tanpa banyak bertanya dia pun menerima amplop putih tersebut dan memasukannya ke dalam saku celananya. Setelah semua orang pergi, Argha berjongkok di depan kuburan yang masih basah itu.
"Sungguh aku tidak punya kata apa pun lagi untuk menggambarkan semua perasaanku. Di satu sisi, aku begitu marah padamu. Aku sangat membenci semua sikapmu yang telah menyakiti keluargaku. Tapi di sisi lain, mungkin aku juga yang patut disalahkan atas semua kelakuanmu. Mungkin perhatianku kepadamu begitu berlebihan, hingga kamu pun menyalahartikan semua kebaikan itu. Maafkan aku yang tanpa sadar telah memberikan kamu sebuah harapan semu. Semoga Tuhan mengampuni semua kesalahanmu dan menempatkan kamu di sisiNya. Aamiin."
Bram menghampiri Argha, dia kemudian mengajak Argha kembali ke kantor. Namun, di tengah perjalanan, Argha meminta Bram untuk mengantarkannya pulang. Semangat kerjanya menghilang saat dia mendengar kabar kematian Ilona. Bram pun membelokkan mobilnya menuju apartemen Argha.
Tiba di apartemen, Argha segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Raga, hati dan pikirannya terasa lelah. Teringat akan amplop yang diberikan oleh sipir wanita tadi, Argha pun merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan isi dari amplop tersebut yang ternyata sebuah surat.
Teruntuk Kak Argha
Aku tahu, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membuat permintaan terakhir. Mengingat aku telah begitu banyak menyakitimu, aku sadar jika aku tak pantas untuk memiliki permintaan terakhir. Namun, pikiranku sudah benar-benar buntu, Kak. Aku tidak tahu harus kepada siapa aku mengungkapkan kebenaran ini. Sebuah kebenaran yang mungkin Kakak pun tidak akan mempercayainya.
Sudah aku katakan seminggu yang lalu, jika aku memiliki seorang putra. Aku tidak berharap Kakak akan mempercayainya atau tidak. Namun, aku hanya ingin menceritakan sedikit tentang dia. Namanya Michael, tapi dia senang dipanggil Miki. Saat ini usianya menginjak tujuh tahun, dan aku berharap dia bisa bersekolah di negara ibunya.
Mungkin Kakak kembali bertanya, siapa sebenarnya anak itu. Siapa ayahnya? Dan bagaimana dia bisa hadir ke dunia ini? Lewat tulisan ini, aku akan menjawab semua pertanyaan dalam benak Kakak.
Dia anakku, anak yang terlahir akibat sebuah kesalahan orang tuanya. Dan Kak Bram? Dia adalah ayah biologis dari anakku. Lalu, bagaimana itu bisa terjadi?
Kakak masih ingat saat kampus kakak mengadakan acara untuk hari jadinya? Saat itu aku meminta Kakak untuk mengajakku sebagai pasangan Kakak, bukan? Nah, di malam itulah kesalahan itu terjadi.
Mungkin, ini hukuman dari niat burukku. Jujur, saat itu aku berniat untuk menjebak Kakak agar tidur denganku. Namun, sepertinya Tuhan memiliki rencana lain. Entah bagaimana ceritanya, minuman yang aku campur dengan obat perangsang malam itu, habis ditenggak oleh kak Bram.
Orang suruhanku membawa kak Bram ke kamar. Malam itu, aku sengaja mematikan lampu agar aku bisa bercinta dengan Kakak. Malam itu, Jakak mencumbuku dengan penuh gairah, hingga pergulatan panas pun akhirnya terjadi. Aku benar-benar bahagia karena Kakak orang pertama yang merenggut kesucianku. Hingga setelah semuanya berakhir, aku menyalakan lampu dan begitu terkejut saat mendapati kak Bram tertidur bermandikan peluh.
Aku marah, dan aku tidak bisa menerima semuanya. Aku pun pergi meninggalkan kak Bram sendirian dan merutuki kebodohanku. Hingga sebulan setelah kejadian itu, aku mengalami perdebatan dengan Jessica yang menyebabkan wajahku tanpa sengaja tersiram air raksa. Saat aku sedang berada di rumah sakit, di situlah aku mengetahui jika aku telah hamil. Aku, mengandung anaknya kak Bram.
Bersambung
__ADS_1
Mohon maaf, telat up... 🙏🙏