Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kembali Diusir


__ADS_3

Argha kembali ke panti asuhan itu setelah mendapatkan pemberitahuan dari pihak panti. Hari ini, surat adopsi Miki telah keluar, dan hari ini juga Argha sudah bisa membawa Miki. Meski ada sedikit keraguan di hati Argha, tapi Argha tetap melanjutkan niatnya untuk mengadopsi Miki.


"Ayo Miki, kita pulang!" ajak Argha kepada bocah kecil itu.


Miki tak menjawab. Namun, dia pun tak membantah ajakan Argha. Sebelum Miki pergi, dia meminta waktu pada Argha untuk menemui para pengasuh dan teman-temannya.


"Apa aku boleh berpamitan kepada semua teman-temanku?" tanya Miki menatap Argha begitu dingin.


Argha mengangguk, dia memberikan izin dan membiarkan Miki untuk berpamitan kepada para warga panti.


Miki kembali masuk ke dalam. Satu per satu, dia menyalami teman-temannya dan para pengasuh di sana. Miki menghampiri ibu Maria. Dia pun memeluk ibu Maria dengan erat. Air mata perpisahan mulai menetes di kedua pipinya.


"Sst ...jangan menangis, Nak! Kamu sangat beruntung karena ada orang yang bersedia merawatmu. Baik-baik di tempat barumu ya, Nak. Patuhi semua perintah dan nasihat orang tuamu di sana. Yang terpenting, tolong jangan bertingkah yang aneh-aneh, yang bisa merugikan diri kamu sendiri," ucap bu Maria, menasihati putra asuhnya.


Miki tak mampu berkata apa pun. Semua kalimat terasa hilang begitu saja saat dia menyadari jika setelah semua ini, semuanya akan terasa berbeda. Miki hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia telah mengerti ucapan bu Maria.


"Miki pergi dulu, ya, Bu. Ibu jaga diri baik-baik. Nanti kalau Miki sudah besar dan menjadi orang sukses, Miki pasti akan datang ke tempat ini lagi untuk menjenguk Ibu," ucap Miki.


Ibu Maria merasa terharu dengan semua ucapan Miki. Dia pun kembali memeluk Miki.


Setelah selesai berpamitan, Miki kembali menghampiri Argha. Sejurus kemudian, dia mengikuti langkah Argha yang telah masuki mobilnya. Mata beningnya menatap kosong rumah yang selama 7 tahun membesarkannya hingga hilang dari pandangan.


Tiba di bandara, Argha dan Miki segera menaiki pesawat pribadinya. Argha duduk di samping Miki. Dia mencoba mendekati Miki agar lebih akrab lagi.


"Kamu pasti akan betah tinggal di negara kita," ucap Argha memulai pembicaraan.


Miki diam. Dia hanya memejamkan matanya tanpa menghiraukan ucapan Argha.


"Apa kamu tidak ingin mengetahui tentang kakak kamu?" tanya Argha lagi.


"Apa itu perlu?" Miki malah balik bertanya.


Argha bergeming. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ucapan bocah kecil itu begitu dingin. Akhirnya Argha memutuskan untuk diam.


"Apa aku harus memanggilmu Kakak juga?" Tiba-tiba Miki mengajukan pertanyaan kepada Argha.


Argha mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud dari ucapan Miki. "Memangnya kenapa?" tanya Argha.


"Hmm, barangkali kamu pun sama seperti dia, yang tak pernah ingin mengakui aku," jawab Miki dingin.


"Tolong jangan berbelit-belit, aku sama sekali tidak mengerti apa maksud kamu," Argha mulai tak bisa menguasai emosi.


"Baguslah! Tidak ada yang perlu dimengerti. Kita tidak pernah terikat hubungan apa pun, jadi tak perlu saling memahami," jawab Miki dengan nada yang sangat sinis.

__ADS_1


Shitt! Argha mengumpat dalam hati. Bocah itu masih kecil, tapi kenapa kata-katanya begitu tajam? batin Argha.


"Panggil aku sesukamu saja," ucap Argha tak kalah ketusnya.


Menarik, jawab Miki dalam hati.


Pada akhirnya, mereka melewati perjalanan itu tanpa ada pembicaraan apa pun.


🍀🍀🍀


Entah kenapa perasaan Heru begitu gelisah. Sebenarnya dia enggan meninggalkan Gintani di rumah. Tapi, dia sendiri tak mampu menolak panggilan sang ayah. Entah apa yang keluarga Heru rencanakan, sehingga ayahnya menyuruh Heru pulang hari ini juga.


Pikiran Heru benar-benar tidak fokus. Berkali-kali dia hampir menabrak pembatas jalan. Akhirnya, Heru memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia pun membelokkan mobilnya menuju rest area terdekat.


🍀🍀🍀


Sementara itu di rumahnya. Para warga telah berkumpul di depan rumah Heru. Mereka berteriak-teriak memanggil-manggil Gintani dan Heru.


"Keluarlah kalian Heru, Gintani! Jangan terus bersembunyi di rumahmu. Kami sudah tahu jika kalian adalah pasangan kumpul kebo. Cih, dasar pasangan mesum!" teriak seorang wanita.


"Iya, keluarlah kalian! Kami tidak mau komplek kami dikotori oleh orang-orang seperti kalian!" timpal yang lainnya.


Dengan tergesa-gesa, Gintani menuruni tangga. Dia kemudian menghampiri Mina yang sedang menyetrika baju di kamar belakang.


Mina hanya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang majikan.


"Ada apa Nyonya, kenapa Anda terlihat cemas sekali?" tanya Mina.


"Di luar terdengar suara ribut-ribut, apa kamu tidak mendengarnya?" tanya Gintani lagi.


Mina membuka headset-nya. "Maaf Nyonya, aku tadi sedang mendengarkan musik," jawab Mina tersipu malu.


"Ayo kita lihat Min, mungkin terjadi sesuatu di luar sana," ucap Gintani.


Mina mengangguk. Dia kemudian menghentikan pekerjaannya dan mengikuti Gintani dari arah belakang.


"Cepat keluarlah Heru, Gintani!" teriak Imelda.


"Keluarlah wanita hina! Dasar nggak tahu malu. Kamu berhijab, tapi ternyata hijabmu itu hanya kedok belaka. Kamu nggak ada bedanya sama pelacur, cih! Keluar kamu, Gintani!"


Yang lainnya ikut menimpali ucapan Imelda. Semua cacian dan hinaan keluar dari mulut para warga.


"Sudah, dobrak saja pintu rumahnya dan seret mereka keluar!" teriak seseorang.

__ADS_1


Entah siapa yang memberikan komando. Namun, dengan serentak para warga menggedor-gedor pintu rumah Heru.


"Ada apa ini, Nyonya?" tanya mak Ijah yang baru saja datang dari dapur.


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Nyonya Gintan tunggu di sini saja, biar Mina yang keluar," ucap Mina.


"Nggak usah, biar aku saja yang keluar, kamu tolong jaga Putri, ya!" pinta Gintani kepada Mina.


Gintani membuka pintunya.


Bluk!


"Aww!"


Entah datang dari mana, tiba-tiba sebuah batu melayang dan mendarat tepat di kening Gintani. Spontan tangan Gintani memegang keningnya yang terasa basah. Rupanya, darah segar baru saja keluar dari kening Gintani. Dia meringis kesakitan.


Tak sampai di sana, seseorang menarik hijab Gintani dengan kuat hingga Gintani jatuh tersungkur ke lantai. Gintani mencoba bangkit, tapi seseorang menekan punggungnya.


"Apa kamu tidak malu dengan kerudungmu itu, hah? Dari luar saja tertutup rapi, tapi kelakuanmu? Cih, kelakuan kamu tak ubahnya seperti binatang saja. Berani-beraninya kamu mengotori lingkungan kami dengan kelakuan bejatmu!" Seseorang terus saja menghina Gintani.


"To-tolong lepaskan saya!" pinta Gintani.


"Melepaskan kamu? Enak saja ... apa kamu pikir kami akan membiarkan kalian untuk terus kumpul kebo, hah?" ucap warga lain.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, ini cuma salah paham," ucap Gintani.


Tapi tak ada seorang pun yang mau mendengarkan penjelasan Gintani.


"Sudah kita arak saja dia keliling komplek, biar dia jera!" teriak seseorang.


Gintani begitu terkejut. Seketika, pikirannya kembali melayang ke masa lalu. Entah untuk ke berapa kalinya dia diusir warga akibat salah paham. Gintani mencoba untuk berdiri. Namun,


seorang ibu-ibu bertubuh gempal mendekati Gintani dan menarik hijabnya hingga terlepas.


"Ayo kita arak dia sekarang!" ucap ibu tersebut seraya menarik pergelangan tangan Gintani.


"Tunggu!"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2