
"A-Aunty Jenny," gumamnya. Dokter Richard segera berdiri. Dia kemudian melangkahkan kakinya untuk menemui wanita berhijab yang wajahnya begitu familiar.
"Aunty Jennyta!" panggil dokter Richard, pelan.
Umi Kulsum yang merasa heran ada orang yang mengetahui identitas sebelumnya, segera mendongak. Keningnya sedikit berkerut melihat seorang pemuda yang gurat wajahnya begitu mirip dengan seseorang yang dikenalnya di masa lalu.
Anak ini? Kenapa wajahnya seperti tidak asing bagiku? Kenapa dia mirip sekali dengan mas Hanzel? Astaghfirullah hal adzim! A-apa mungkin dia putranya kak Jeli? batin Umi Kulsum.
Menyadari kemungkinan yang sedang terjadi, Umi Kulsum segera berdiri. Rasa penasaran menuntun dia melangkahkan kakinya mendekati pemuda yang tak lain adalah dokter Richard.
"Ri-Richi?" tanya Umi Kulsum
"Iya Aunty, ini Richi," jawab dokter Richard seraya meraih tangan Umi Kulsum.
"Ya Tuhan, jadi benar kamu Richi, putra kakakku?" tanya Umi Kulsum meraba wajah dokter Richard.
Dengan mata berkaca-kaca, dokter Richard menganggukkan kepalanya. Sejurus kemudian, Umi Kulsum merangkul dokter Richard. Mereka pun saling berpelukan untuk menumpahkan kerinduan yang mendalam.
"Aunty kemana saja? Kenapa Aunty tidak pernah pulang?" tanya dokter Richard dalam isak tangisnya.
"Maafkan Aunty, Nak. Ada banyak hal yang membuat Aunty tidak berani untuk pulang," jawab Umi Kulsum. Sejurus kemudian, dia menguraikan pelukannya. " Kamu sudah besar, Nak. Dan, apa ini?" tanya Umi Kulsum seraya meraba jas kebangsaan yang dikenakan dokter Richard. "Apa kamu seorang dokter?" tanya Umi Kulsum lagi.
"Yes Aunty, i'm a doctor now," jawab dokter Richard dengan bangganya.
"Alhamdulillah, Aunty senang mendengarnya. Bagaimana keadaan mommy dan daddy kamu?" tanya Umi Kulsum.
Seketika wajah dokter Richard berubah sendu.
"Ada apa Rich? Mommy dan daddy kamu baik-baik saja, kan?" tanya Umi Kulsum lagi.
"Daddy baik-baik saja. Sekarang beliau tinggal di Amerika. Mommy ... Emh, mommy.... " Dokter Richard tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
"Mommy kamu kenapa, Rich? Apa dia baik-baik saja?" tanya Umi Kulsum, mulai terlihat cemas.
Dokter Richard meraih tangan Umi Kulsum. "Ikutlah sebentar!" ucapnya.
Umi Kulsum menatap suaminya. Terlihat anggukan sang suami sebagai tanda mengizinkan Umi kulsum pergi. Umi Kulsum pun mengikuti ajakan keponakannya. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah makam yang berhadapan tepat dengan makam kedua orang tua Jessica.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini, Rich?" tanya Umi Kulsum yang terkejut begitu membaca nama yang tertulis dalam nisan.
"Mommy sudah meninggal sejak usia Richi 10 tahun, Aunty," jawab richi.
Seketika kedua kaki Umi Kulsum terasa lemas. Kejutan demi kejutan hari ini telah membuat tubuhnya lemah tak berdaya. Umi Kulsum pun jatuh pingsan dalam pelukan dokter Richard.
🍀🍀🍀
Gintani tiba di rumahnya saat kumandang adzan asar mulai terdengar. Keadaan rumah sangat sepi, hanya ada beberapa pelayan dan penjaga keamanan di rumah itu. Gintani segera pergi ke kamar Nadhifa untuk mengecek keadaannya. Saat pintu terbuka, tampak Nadhifa masih tertidur pulas. Mungkin karena pengaruh obat juga. Gintani pun kembali menutup pintu kamar Nadhifa. Dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
Gintani mendaratkan bokongnya di atas sofa. Pikiran dan hatinya benar-benar lelah untuk hari ini. Terlebih lagi, dia tidak mendapatkan kabar tentang suaminya sejak terakhir siang bertemu di rumah sakit. Entahlah dia sedang berada di mana. Meskipun Gintani berusaha untuk tidak peduli, tapi tidak bisa dipungkiri jika hatinya mencemaskan keadaan sang suami.
Setelah melepaskan lelahnya sejenak, Gintani pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Argha tampak telaten mengurus Ilona. Sebenarnya, pihak rumah sakit menyarankan Ilona untuk dirawat, namun Ilona menolaknya. Atas rasa kemanusiaan, Argha kembali mengantarkan Ilona ke apartemennya.
"Apa Kak Argha tidak pulang?" tanya Ilona.
"Sebentar lagi," jawab Argha sambil membereskan peralatan bekas makan Ilona. Setelah itu, Argha mengeluarkan beberapa butir obat yang harus diminum oleh Ilona. Argha menuangkan air putih ke dalam gelas Ilona. "Minumlah!" perintahnya menyerahkan obat itu ke genggaman tangan Ilona.
"Tidurlah! Aku sudah menyewa seorang perawat untuk menjagamu," ucap Argha. Tak lama kemudian, Argha memanggil perawat itu.
"Tolong jaga dia selama saya tidak ada," pinta Argha.
"Baik, Tuan!" jawab perawat itu.
Setelah berpamitan pada Ilona, argha pun pulang ke rumahnya.
🍀🍀🍀
Menjelang magrib, Argha baru tiba di rumah. Dia pun segera menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Kamar terlihat sepi begitu Argha tiba. Kemana Gintani, batinnya. Argha membuka pintu kamar mandi. Kosong. Ternyata istrinya tidak berada di sana.
Argha pun kembali melangkahkan kakinya hendak turun ke lantai bawah. Namun saat dia melewati pintu mushola kamar, sayup-sayup Argha mendengar suara istrinya yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Akhirnya Argha mengurungkan niatnya. Dengan tersenyum tipis, dia berbalik dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit berlalu. Selesai mandi, Argha melihat piyamanya telah tergeletak di atas ranjang. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya. Sepertinya, dia tidak marah dengan kejadian tadi siang, gumam Argha. Dia pun segera mengenakan pakaiannya dan pergi ke mushola untuk solat.
__ADS_1
"Gin!" panggil Argha selepas solat. Namun tak terdengar jawaban dari orang yang dipanggilnya. Argha keluar untuk mencari keberadaan Gintani. Tiba di ruang makan, tampak Gintani tengah sibuk menyiapkan makan malamnya.
"Masak apa, Gin?" tanya Argha.
Hening.
"Tolong buatkan kopi, ya, Sayang," ucapnya.
Gintani membuatkan secangkir kopi untuk suaminya tanpa berkata apa pun.
"Terima kasih," jawab Argha saat Gintani menyodorkan cangkir kopi itu.
Masih diam.
"Oh, iya, Gin? Rencana kita mengunjungi kakek Wira minggu depan, bagaimana? Apa kamu sudah menyiapkan semua keperluannya?" tanya Argha.
Gintani masih tak mau bicara.
"Gin, kok diam terus. Sariawan, ya?" goda argha.
"Bik Siti! panggil Gintani saat melihat asisten rumah tangganya tengah melintas di ruang makan.
"Iya, kenapa Non?" tanya Bik Siti, mendekati Gintani.
"Sisanya, tolong Bibi urus, ya. Saya mau ke kamar dulu," pinta Gintani. Setelah itu, Gintani kembali naik ke lantai dua menuju kamarnya. Entah kenapa, rasa pusing dan mual tiba-tiba menyerangnya. Terlebih lagi saat melihat kedatangan suaminya dengan wajah tanpa dosa.
Gintani merebahkan tubuh di atas ranjang. Dia mulai memijit keningnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tampak Argha masuk dan menghampirinya. Gintani pun segera memiringkan badan untuk menghindari tatapan dengan sang suami.
Argha menghela napasnya. Dia melangkah dan duduk di samping Gintani. "Aku tahu kamu, marah. Tapi aku mohon jangan seperti ini, Gin!" ucap Argha memecah kesunyian.
Gintani masih diam. Jujur saja, malam ini mood-nya begitu buruk. Dia sama sekali tidak ingin berbicara dengan Argha.
"Gin, lebih baik kamu marah daripada diam seperti ini. Jujur aku tidak sanggup kamu kamu cuekan seperti ini. "Bentak aku! Marahi aku, bila perlu pukul aku. Tapi tolong jangan diamkan aku, Gin!" pinta Argha.
Hening. Gintani masih enggan untuk berbicara. Dia malah menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut tersebut. Cukup lama keheningan terjadi di kamar itu, hingga akhirnya, Argha menyerah dan kembali turun untuk makan malam.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗