
Demi membahagiakan ayahnya, akhirnya Argha mengikuti keinginan ayahnya untuk bertemu dengan gadis yang telah dijodohkannya sejak dia berada di dalam kandungan.
"Bagaimana, Ar ? Sudah siap ?" tanya tuan Jaya mendatangi kamar anaknya.
Ya ! Selepas makan malam dan obrolannya tentang perjodohan itu, tuan Jaya meminta Argha untuk menginap di mansionnya. Pagi ini, Argha tengah kembali mengecek semua perlengkapan yang hendak dibawanya berkunjung ke rumah gadis pilihan ayahnya.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Gintani pun hanya bisa diam menerima keputusan sang kakek. Semalam, tanpa bertanya, sang kakek pun telah memutuskan untuk menerima lamaran seorang pemuda yang tak dikenalnya. Kakek Wira hanya mengatakan jika pemuda itu adalah pemuda baik-baik yang bisa menerima keadaan dirinya apa adanya.
Gintani mulai berpikir, siapa kira-kira pemuda itu ? Seperti apa kebaikannya hingga dia bisa menerima cela yang ada dalam kehidupannya ? Apakah dia seorang malaikat berwujud manusia ?
Tak ingin terlalu pusing memikirkannya, Gintani pun hanya bisa pasrah dan memasrahkan segala urusannya dengan yang Maha Kuasa. Gintani tahu jika kakeknya telah memiliki keinginan, maka tak satu pun yang bisa mencegah keinginannya.
Daripada terus pusing memikirkan lelaki berhati malaikat itu, Gintani segera mengambil air wudhunya. Karena sebentar lagi mulai memasuki waktu solat dzuhur.
Selepas solat, Gintani kembali pergi ke kolam air terjun itu. Di sanalah dia selalu mendapatkan kedamaian untuk hatinya.
Beberapa bulan telah berlalu sejak peristiwa tak senonohnya terhadap ustadz muda itu. Meskipun Gintani menyesalinya, namun sepertinya cara itu sangatlah mujarab. Sejak kejadian itu, Gintani tak pernah mendengar kabar apa pun lagi tentang ustadz Husni.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di kediaman kakek Wira.
Sebuah mobil mewah terlihat hendak memasuki pekarangan rumah itu. Mang Rakib berlari tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu gerbang.
"Siang mang !" sapa tuan Jaya mendongakkan kepalanya dari balik jendela mobil. "Kakek Wira, ada ?" tanyanya lagi.
"Ada tuan ! Kebetulan kakek Wira sedang berada di kebun. Sebentar, saya panggilkan dulu !" jawab mang Rakib.
"Ah tidak usah, mang ! Biar nanti kami yang ke sana untuk menemui beliau !" jawab tuan Jaya.
__ADS_1
Setelah itu, Argha kembali melajukan mobilnya menuju pekarangan rumah kakek Wira. Argha memarkirkan mobilnya di samping sebelah kanan rumah panggung itu, karena ayahnya berniat langsung menemui kakek Wira di kebun belakang.
Selepas memarkirkan mobilnya, Argha mengikuti ayahnya ke kebun belakang. Argha merasa takjub dengan kebun luas yang ditanami pohon pepaya.
"Eh, Ar ! Kemarilah !" perintah tuan Jaya saat dia melihat anaknya tiba di perkebunan. "Kenalkan, ini ayah dari teman papah, namanya kakek Wira !" lanjut tuan Jaya.
Argha segera meraih tangan yang sudah tampak keriput itu. Dia pun mencium punggung tangan kakek Wira. Mungkin memang Argha seorang pria arrogant, tapi dia tidak pernah lupa tentang adab dan tata krama terhadap orang tua.
"Ah, ini toh yang namanya nak Argha." ujar kakek Wira seraya mengusap pucuk kepala Argha saat Argha membungkuk mencium tangannya. "Tampan sekali, pasti banyak gadis yang mengantri untuk menjadi pendampingnya, ya !" puji kakek Wira.
"Ah, kakek bisa saja !" Argha tersipu menanggapi ucapan kakek Wira. Berbeda dengan tuan Jaya yang malah mengejeknya.
"Kalau memang banyak yang mengantri, nggak mungkin Argha masih menjomblo sampai saat ini, yah !" ledek tuan Jaya.
"Ah, kamu bisa saja nak Ami ! Mana mungkin pria segagah nak Argha tak disukai para gadis. He... He... He...!" timpal kakek Wira.
Argha hanya tersenyum keki menanggapi kekehan kedua orang berbeda generasi itu.
"Ayo, mari ! Mari ! Kita masuk dan bicara di dalam !" ajak kakek Wira kepada tamunya.
"Anu pak, itu makan siangnya sudah siap !" ucap bik Susan.
"Ah ya ! Terima kasih, San !" jawab kakek Wira.
"Mari nak Ami, nak Argha, sebaiknya kita langsung makan siang saja !" ajak kakek Wira.
"Ah ya, kebetulan sekali kek, Argha juga sudah lapar." gurau Argha.
Tuan Jaya menepuk lengan anaknya, "Huss, kamu ini ! Malu-maluin saja !"
"He... He... He...!" Argha hanya terkekeh menanggapi teguran ayahnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, nak Ami ! Ayo mari nak Argha, silakan dinikmati makanan ala-ala kampung !" ucap kakek Wira.
Argha tidak menampik jika dirinya sudah sangat lapar. Apalagi aroma ikan asin sangat menggoda indra penciuman nya. Seketika Argha teringat akan kakek neneknya yang selalu menyajikan makanan seperti ini di kampung halaman ibunya. Argha pun segera duduk dan mulai menyendok makanannya.
"Siapa yang masak, kek ?" tanya Argha.
"Kenapa ? Tidak enak ya ?" tanya kakek Wira, cemas.
"Emmh, enak kok kek ! Argha suka !" jawab Argha.
"Alhamdulillah, kalau nak Argha suka. Ini cucu kakek yang masak."
"Ngomong-ngomong, di mana cucu kakek ?" tanya Argha yang mulai penasaran dengan gadis pilihan ayahnya.
"Kalau jam segini, dia sedang mengajar ngaji di MDA." jawab kakek Wira.
Tuan Jaya tersenyum mendengar jawaban kakek Wira. Dia tambah yakin jika keputusannya untuk menikahkan Argha dengan Gintani, adalah keputusan yang tepat.
"Dia gadis yang sangat cantik dan solehah. Beruntung sekali pria yang akan menjadi pendamping hidupnya." ujar tuan Jaya mencoba memancing reaksi putranya.
"Alhamdulillah, sejak kami memutuskan pindah ke kampung ini, dia sudah sangat berubah. Meski untuk tahun pertama, dia selalu merasa murung. Namun di tahun berikutnya, dia mulai mengikuti kajian agama. Sedikit demi sedikit, dia sudah melupakan kejadian pahit yang selalu menimpanya pada saat kami tinggal di kota. Sepertinya dia sudah berdamai dengan masa lalunya, dan saya sangat bersyukur untuk hal itu. Namun sayangnya, dia belum mau membuka hatinya untuk memiliki seorang pendamping. Bahkan ajakan ta'aruf seorang ustadz muda pun, ditolaknya." jawab kakek Wira merasa sedih akan keputusan yang diambil cucunya.
"Kalau boleh tahu, memangnya dulu kakek tinggal di mana ?" tanya Argha.
"Kakek tinggal di Jakarta, nak ! Namun, setelah kakek menjalani operasi transplantasi ginjal, cucu kakek mengajak kakek pindah dari kota itu. Mengingat semua ketidakadilan yang dia dapatkan dari paman dan bibinya, akhirnya kakek mengajak Gintani ke tempat ini. Karena hanya tempat ini yang kakek miliki."
" Uhuk....! Uhuk....!"
"Assalamu'alaikum...!"
Bersambung.....
__ADS_1
Ditunggu boom like nya ya readerskuh......
Makasih....