
Setelah melihat Gintani sudah tenang. Akhirnya Alex memutuskan untuk pulang. Sudah dua hari dia tidak pulang ke rumah. Meskipun Geisha tahu kemana Alex pergi, tapi tetap saja Alex merasa tidak enak. Terlebih lagi, Alex telah mengambil libur di luar jatah cutinya.
Sebelum pergi, Alex mengunjungi Putri di kamarnya. Gadis kecil itu masih asyik terlelap. Tak tega membangungkan Putri untuk berpamitan, Alex hanya mencium kening gadis kecil itu.
"Om janji Sayang, apa pun perseteruan antara mama dan papa kamu, Om tidak akan pernah membiarkan kamu menjadi korban keegoisan mereka," ucap pelan Alex.
Selesai berpamitan kepada Putri yang masih tertidur, Alex akhirnya keluar kamar. Dia kembali pergi ke dapur untuk menemui Mina.
"Min, tolong jaga Gintani dan Putri, ya? Kabari aku jika sesuatu terjadi kepada mereka," pinta Alex kepada Mina.
"Baik, Pak," jawab Mina.
Setelah berbincang sebentar dengan pengasuhnya Putri, Alex pun pamit pulang.
🍀🍀🍀
Argha menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Sungguh, dia sangat menyesali tindakannya terhadap Gintani tadi siang. Tapi Argha tidak punya pilihan lain. Rasa takut kehilangan Gintani semakin besar. Apalagi saat dia mengetahui jika Gintani adalah Na, gadis masa kecilnya.
Tidak Na ... aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi dari hidupku. Terlebih lagi kita memiliki seorang putri yang begitu cantik dan pintar. Dia sangat membutuhkan kita sebagai orang tuanya. Karena itu, aku akan selalu mempertahankan pernikahan kita, batin Argha.
Argha melirik foto ibunya yang terpajang di atas nakas di samping tempat tidur. Dia kemudian meraih foto itu dan mengusapnya perlahan.
"Aku telah merasakan bagaimana hidup tanpa seorang ibu. Hampa! Tetapi aku tidak akan membiarkan anakku mengalami perasaan yang sama. Papa janji, Put. Papa akan memberikan orang tua yang utuh untuk kamu," gumam Argha.
Drrt... Drrt...!
Tiba-tiba ponsel di atas bantal bergetar. Argha meraih benda pipih itu. Dahinya berkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Argha pun menggeser tombol berwarna hijau.
"Ya, hallo!" kata Argha dengan nada dingin.
"Aku tunggu kamu di restoran MD besok pada jam makan siang!" ucap si penelepon yang tak lain adalah Alex.
"Ada urusan apa lo ngajak gue ketemuan?" tanya Argha dengan sinisnya.
"Besok kamu akan tahu semuanya. Pastikan saja kamu datang tepat waktu!" ucap Alex tegas.
__ADS_1
Tut-tut-tut!
Sambungan terputus. Argha hanya bisa mendengus kesal sambil melemparkan ponselnya. Untuk meredam kekesalannya, Argha segera pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Selepas itu, dia kembali ke kamarnya untuk menunaikan solat isya.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, Gintani terlihat gelisah saat melihat Putri tengah bersiap menggunakan seragam sekolahnya. Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba menjadi parno ketika harus berjauhan dari anaknya.
"Min, untuk hari ini biar aku yang mengantar dan menunggui Putri di sekolahnya," ucap Gintani kepada pengasuh Putri.
"Baik, Nyonya," jawab Mina sambil menyisir dan merapikan rambut Putri.
Putri mengernyit. "Kenapa Putri harus ditunggui, Ma? Putri, 'kan sudah besar. Putri berani, kok, sekolah sendirian," ucap Putri.
"Tidak apa-apa, Nak. Mumpung Mama enggak banyak kerjaan juga," jawab Gintani, mencoba menutupi alasan yang sebenarnya.
Setelah Putri terlihat rapi, Gintani kemudian mengajak Putri ke ruang makan untuk sarapan.
"Mama, suapin ya, Nak!" ucap Gintani seraya menyendok nasi dan lauk pauknya.
"Mama, Putri sudah besar. Sudah bisa makan sendiri," jawab Putri.
Putri tersenyum, dia kemudian membuka mulutnya dan mau disuapi makan oleh sang ibu.
🍀🍀🍀
Alex melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Alex segera membereskan berkas-berkas yang sudah ditandatanganinya. Setelah itu, dia mengambil kunci mobilnya yang tersimpan di dalam laci.
Setelah berpesan kepada sekretarisnya, Alex kemudian menuruni tangga dan langsung menuju tempat parkiran.
Alex melajukan mobilnya membelah jalanan perkotaan. Sesekali dia menarik napas panjang, mencoba menyusun kata yang akan dia sampaikan kepada Argha. Tanpa terasa, Alex sudah tiba di restoran MD. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju tempat parkir.
Beberapa menit kemudian, Alex memasuki restoran tersebut. Alex menanyakan private room yang telah dipesan oleh Argha. Seorang pelayan kemudian mengantarkan Alex ke ruangan itu.
Tiba di ruangan tersebut, Alex telah melihat Argha tengah duduk. Dia kemudian mendatangi meja tersebut.
__ADS_1
"Apa kabar, Ar?" tanya Alex berbasa-basi.
Namun, rupanya Argha tidak ingin menggubris sapaan Alex. Dia malah diam tanpa ingin mempersilakan Alex duduk.
Alex yang memang sudah mengenal tabiat temannya, hanya bisa menghela napas. Dia kemudian menarik salah satu kursi yang berhadapan dengan Argha.
"Ada apa kamu meminta kita ketemuan?" tanya Argha.
Kembali Alex menarik napasnya panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Ini tentang Putri, Ar," ucap Alex.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Argha terlihat antusias ketika membahas sesuatu tentang putrinya.
"Aku hanya ingin memberikan pendapat jika membawa hak asuh Putri ke jalur hukum, itu adalah perbuatan yang tidak terpuji," ucap Alex.
Argha tersenyum kecut. "Kenapa? Apa Gintani merasa takut menghadapi aku?" tanya Argha.
Alex tersenyum sinis. "Aku melakukan ini justru karena aku merasa kasihan melihat kamu, Ar. Apa kamu tidak sadar jika apa yang akan kamu lakukan, akan melukai perasaan Gintani. Semakin dia terluka, maka akan semakin sulit bagi kamu untuk mendapatkan cintanya kembali. Lagi pula, Putri adalah dunianya Gintani. Kamu bisa bayangkan apa yg akan terjadi kepada Gintani jika sampai kamu merebut dunia dia satu-satunya itu. Tolong pikirkan kembali, Ar! Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari," ucap Alex panjang lebar.
"Sudah, ceramahnya Al?" tanya Argha seolah mengejek setiap kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Alex.
Argha membenahi duduknya. "Tapi, maafkan aku, Al. Keputusanku tidak akan berubah. Seandainya Gintani mau kembali padaku, mungkin semua ini tidak akan terjadi!" lanjut Argha penuh ketegasan.
Alex kembali meminta Argha untuk merubah keputusannya.
"Apa kamu tahu, Ar? Percuma kamu mengambil jalur hukum setelah semua perbuatan kamu terhadap Gintani. Semua itu hanya akan mematahkan semua usaha kamu," ucap Alex.
"Maksud kamu?" Argha bertanya sambil mengernyitkan keningnya karena merasa heran.
"Apa kamu lupa dengan semua pengkhianatan kamu terhadap Gintani? Dia tidak akan tinggal diam demi mempertahankan hak asuh anaknya. Saran saya, lupakan tuntutan ini atau semua aibmu akan terbongkar di hadapan siapa saja!"
Seketika, Argha bergeming mendengar perkataan Alex.
"Jika kamu memang sangat mencintai Gintani, berjuanglah untuk mendapatkannya kembali. Namun, bukan dengan cara seperti ini. Mengambil hak asuh Putri, itu bukan solusi yang baik. Saran saya, berdamailah dengan Gintani untuk menjaga putri kalian bersama. Atau kamu akan kehilangan mereka untuk selamanya."
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🙏🤗