
Tap ... Tap ...Tap ...
Langkah kaki Argha terdengar menggema memenuhi ruangan megah itu. Tuan Jaya menghentikan kunyahannya. Dia melirik ke arah sumber suara. Dahinya mengernyit saat melihat Argha berjalan tergesa-gesa menuruni tangga.
"Mau kemana, Ar?" tanya Tuan Jaya ketika Argha melewati ruang makan.
Argha melirik, raut kesalnya terlihat sangat jelas di wajahnya. "Ada urusan sebentar, Pah!" jawab Argha singkat. Dia kembali mengayunkan langkahnya menuju pintu depan.
Tuan Jaya hanya bisa menghela napas, melihat sikap anaknya. Sementara itu, seringai dingin tersungging tipis di kedua sudut bibir Jessica.
Baguslah, Argha pergi. Dengan begitu, aku bisa leluasa mendekati cewek matre itu, batin Jessica.
"Ehm... Ehm...!" Jessica mulai memancing perhatian orang-orang di sekitar meja makan. "Ngomong-ngomong, Jessi penasaran Tan? Kok Argha bisa mengenal gadis seperti Gintani?" tanya Jessica.
Tuan Jaya menatap tajam ke arah tamu istrinya.
"Eh, ma ... maaf Om! Emm ... maksud Jessi, Gintani kan gadis berhijab, dan kita sendiri tahu kalau Argha paling alergi dengan cewek berhijab. Tapi kok Gintani bisa berubah menjadi gadis berhijab, ya? Padahal, dulu .... "
"Apa maksud kamu? Apa sebelumnya kamu pernah bertemu Gintani?" tanya Nyonya Rosma penasaran.
"Mmm ... sebenarnya ... Jessi ... Jessi pernah menolong Gintani waktu dia pingsan di pinggir jalan. Tapi kejadiannya sudah lama kok, Tan! Sekitar tiga tahun yang lalu."
"Benarkah? Itu artinya, Gintani pernah tinggal di kota ini dong! Ngomong-ngomong, di mana kamu ketemu dia?"
"Di pusat kota, mm ... kalau tidak salah, sekitar 500 meter dari hotel Crown. Cuma, waktu itu, kondisi Gintani sangat mengenaskan. Bajunya koyak, dan ada luka lebam di sekitar bibirnya.
Deg....
Tuan Jaya memegang dadanya yang mulai terasa sakit. Apa Jessica mengetahui kejadian itu? pikir Tuan Jaya.
Nyonya Rosma semakin tertarik mendengar cerita masa lalu menantunya. "Terus, apa lagi yang kau ketahui tentang dia? Apa yang terjadi padanya sehingga dia kamu temukan dalam kondisi seperti itu?"
"Jujur, Jessi nggak tahu, Tan. Keesokan harinya, Gintani pamit pulang tanpa mau bercerita apa pun."
Ah, syukurlah! Ternyata hanya itu saja yang dia ketahui. Batin tuan Jaya.
Sementara itu, Nyonya Rosma merasa kesal dengan cerita Jessica yang seolah menggantung.
🍀🍀🍀
Argha mendaratkan bokongnya di belakang kemudi. Dia mengusap kasar wajahnya, dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi mobilnya. "Kenapa Gintan? Kenapa kau tidak pernah membiarkan semuanya mengalir begitu saja? Padahal aku sedang berusaha untuk menerima pernikahan kita. Aku berjanji, aku akan melupakan masa laluku seandainya kamu bisa membuka pintu hatimu untukku," gumam Argha, menatap kosong ke depan.
Drrt... Drrt...
Getaran ponselnya, seketika membuyarkan lamunan Argha. Dia segera merogoh saku jaketnya untuk mengangkat panggilan telpon.
"Ya, hallo! Apa kau sudah menemukannya?" tanya Argha.
__ADS_1
"Dia sedang berada di apartemennya."
"Seret dia ke tempat Alex!"
"Tapi bos, aku sedang makan siang."
"Aku tidak peduli! Sekarang juga, kamu jemput dia di apartemennya. Setengah jam lagi, aku tiba di tempat Alex."
Argha mematikan telponnya dan melemparkan ke atas kursi samping. Sejurus kemudian, dia mulai menyalakan mesinnya dan melajukan kendaraan beroda empat itu menuju tempat sahabatnya.
🍀🍀🍀
Bram tiba di apartemen sahabatnya setelah melewati sepuluh menit perjalanan. Tiba di sana, dia segera menekan bel pintu apartemen Kevin.
Klek...
Pintu terbuka. Tampak Kevin yang masih mengenakan celana boxer dan kaos oblong nya.
"Ish, lo baru bangun, Kev?" tanya Bram, kesal.
Kevin hanya menguap, menjawab pertanyaan Bram.
"Lo bener-bener nggak ada sopan santunnya ya, Kev!" sungut Bram, bertambah kesal dengan tingkah sahabatnya yang satu ini
"Lo yang nggak ada sopan santunnya ! Ngapain lo gangguin orang tidur siang, ck!" Kevin berdecak kesal.
"Eits, lo apa-apaan sih Bram? Emang lo mau ngajak gua kemana?"
"Sudah, jangan banyak tanya! Cepat ganti baju!" Bram kembali mendorong Kevin ke dalam kamarnya.
Tak lama berselang, Kevin kembali lagi ke ruang tengah. "Ok, gua siap! Lo mau ajak gua ke mana sekarang?"
"Ke tempat Alex."
"What! Ngapain? Tunggu ... tunggu, apa lo disuruh Argha buat jemput gua?"
"Hmm."
"No! Sorry, gua nggak bakalan ikut sama lo. Lo bilang aja, lo nggak pernah ketemu gua!"
"Lo ada masalah apa sih, Kev? Kenapa juga lo kek orang ketakutan gitu?"
"Ish, Bram! Please, tolong sekali ini saja. Tolong lindungi gua!"
"Apa ini soal Jessica yang kabur?"
"Sepertinya, iya! Sejak tadi siang, Argha beberapa kali menghubungi gua. Tapi gua nggak angkat telponnya."
"Damn! Kenapa nggak diangkat? Ah, bener-bener lo, ya!" ucap Bram, seolah hendak memangsa Kevin. "Ikut gua!" Bram menarik kerah baju Kevin.
__ADS_1
"Ish, Bram! Jangan seret-seret dong! Lo kata gua kambing, huh!" dengus Kevin, kesal.
"Udah, nggak usah banyak ngomong, lo! Ayo!" Bram menarik Kevin keluar dari apartemen.
🍀🍀🍀
Argha tiba di tempat Alex bertepatan dengan kedatangan mobil yang di kendarai Bram. Setelah memarkirkan mobilnya, dia segera menghampiri kedua sahabatnya yang baru saja keluar dari mobil.
Bugh...!
Argha mendaratkan bogem mentahnya tepat di rahang kanan sahabatnya. Kevin jatuh tersungkur. Kembali Argha ingin melayangkan tinjunya. Namun dengan sigap, Alex menahan tangan Argha.
"Lo apa-apaan sih, Ar! Datang-datang sudah bikin rusuh saja!" ujar Alex, geram.
"Brengsek! Jawab gua ! Kenapa Jessica bisa lepas dari pengawasan lo, hah?" teriak Argha, murka.
"Lo sabar dulu, Ar! Kita bisa bicarakan baik-baik di dalam. Bram, bawa Kevin masuk!" perintah Alex.
"Lepas!" bentak Argha, menepiskan tangannya dari cengkraman Alex.
Alex melepaskan tangan si tuan arogan itu. Dia kemudian mengikuti Argha yang mulai memasuki PUB.
Tiba di room 9.
"Jelaskan semuanya padaku!" perintah Argha meminta penjelasan Kevin tentang kaburnya Jessica.
"Sorry, Ar! Waktu itu, Jessica kesakitan sehingga nyokap gua mengajak dia pergi ke rumah sakit. Namun siapa sangka, jika semua itu hanya akal-akalan Jessica saja. Di bantu sopir nyokap, Jessica melarikan diri dari rumah sakit."
"Damn!"
Brak...
Argha menendang meja di depannya. Sehingga menjatuhkan botol minuman yang sudah disuguhkan Alex.
"Sudahlah, Ar! Biarkan saja Jessica pergi, yang penting dia tidak mengganggu kehidupan lo lagi." ujar Alex
"Dia ada di rumah gua sekarang. Dan yang lebih gilanya lagi, Gintani meminta gua untuk mengizinkan wanita itu tinggal di rumah."
"What....!!"
Bersambung....
Hai... Hai... Hai... reader aku tercinta. Jika berkenan, mampir yuk di karya recehan othor yang pertama.
Kisah perjuangan seorang pemuda dalam mencari dan membuktikan ketulusan cintanya terhadap seorang gadis yang sudah tidak percaya akan adanya cinta. Bagaimana kisah selanjutnya? Simak saja di cerita yang bertajuk Perjuangan CEO Muda, by Restviani
Makasih.....
__ADS_1