
Argha mendengus kesal saat menyadari jika ibunya telah membodohinya. Beberapa jam yang lalu, Argha mendapatkan telpon dari ibunya yang mengatakan jika ayahnya sakit dan terlihat lemas. Namun kenyataannya, sang ayah terlihat baik-baik saja. Hanya wajahnya sedikit pucat karena kelelahan.
“Mau kemana kamu, Ar ?” tanya nyonya Rosma.
“Argha mau pulang mah. Sepertinya papah juga sudah terlihat baikan.” jawab Argha.
“Tunggu sayang ! Kita makan malam sama-sama dulu !” cegah nyonya Rosma.
“Tapi mah...!”
“Sudahlah kak ! Kita makan malam bareng yuk ! lagian Fa udah lama nggak makan malam bareng kakak ! Fa kangen tahu, sama kakak !” bujuk Nadhifa manja, seraya bergelayut di tangan kekar milik kakaknya.
Argha yang pada dasarnya sangat menyayangi Nadhifa, hanya bisa mengangguk pasrah menerima permintaan adiknya. Mereka pun bersama-sama menuju ruang makan.
Argha melihat ayahnya telah duduk di ruang makan. “Loh, papah kok bangun ? Bukanya papah masih sakit ?” tanya Argha.
“Papah baik-baik saja, nak ! Lagipula, mana mungkin papah melewatkan waktu kebersamaan kita. Papah sangat merindukan kamu, Ar !" ucap tuan Jaya.
Argha tersenyum. Dia kemudian menggeser kursi di dekat ayahnya dan mendudukinya. Begitu juga dengan nyonya Rosma dan Nadhifa. Nyonya Rosma duduk di sebelah kiri suaminya, berhadapan dengan putra sulung suaminya. Sedangkan Nadhifa, dia menarik kursi di samping Argha dan mendudukinya.
Tak lama kemudian.
“Hallo selamat malam !” sapa seorang wanita yang tinggi semampai dengan body bak gitar spanyol, berdiri di hadapan mereka.
“Ah Jessica. Apa kabar sayang ?” ujar nyonya Rosma seraya berdiri dan mendekati Jessica untuk memberikan pelukan menyambut kedatangannya.
“Aku baik-baik saja tante ! Muahhh…! Muaahhh…!” jawab Jessica seraya bercipika cipiki dengan nyonya Rosma.
“Duduk yuk ! kita makan bareng !“ ujar nyonya Rosma seraya menggandeng tangan Jessica mendekati meja makannya.
“Fa ! Pindah duduknya sini !” nyonya rosma memberikan perintah kepada anaknya.
“Ish, mamah apaan sih, nggak mau ah !” tolak Nadhifa.
“Pindah !” suara nyonya Rosma mulai meninggi satu oktaf.
“ck !”
Nadhifa hanya bisa berdecak kesal melihat sikap mamahnya. Dengan memasang wajah yang ditekuk, Nadhifa pun menggeser kursinya ke belakang. Dia mulai berdiri dan berjalan mendekati kursi ibunya dengan langkah kaki yang dihentak-hentakan.
__ADS_1
“Ayo duduk di samping calon suamimu, Jes !” perintah nyonya Rosma kepada Jessica.
"Uhuk…! Uhuk…!"
Tuan Jaya yang sedang meminum teh jahenya langsung tersedak begitu mendengar kata calon suami dari mulut istrinya. Dia pun menatap tajam ke arah istrinya.
Mendapat tatapan tajam dari sang suami, nyonya Rosma hanya bisa mendelikkan matanya. Dia merasa menang saat Argha pun tak menolak perintahnya.
Ya ! Memang benar, Argha hanya mampu diam saat nyonya Rosma memerintahkan tamunya duduk bersebelahan dengannya. Bukannya Argha menerima begitu saja perlakuan ibunya, namun Argha hanya tidak ingin berdebat lagi dengan ibunya. Apalagi di depan ayahnya. Meskipun Argha jauh dengan ayahnya, tapi dia masih memiliki rasa hormat untuk ayahnya.
Sementara itu, Jessica duduk di sebelah Argha dengan senyum penuh kemenangan. Dengan sangat anggun, dia mendaratkan bokongnya di atas kursi di samping orang yang pernah menjadi pacarnya selama 2 tahun. Jessica tersenyum kepada Argha. Tentunya dia memberikan senyum terbaiknya. Senyum maut yang dulu pernah membuat Argha bertekuk lutut di hadapannya.
Sayangnya, Argha hanya mendengus kesal melihat senyum penuh tipu daya itu. Dua tahun menjalani kebersamaan akibat desakan ibunya, telah membuat Argha menyadari siapa sebenarnya Jessica. Melihat senyum itu, rasanya Argha ingin mengakhiri makan malam yang belum di mulai ini. Tapi demi sang ayah, dia pun mencoba menahannya.
“Aku ambilkan makanannya ya, yang !” ujar Jessica seraya mengambil piring Argha.
“Tidak perlu !” jawab Argha merebut piringnya dari tangan Jessica.
Dengan terpaksa, Jessica melepaskan piring itu dan membiarkan Argha menyendok nasi dan lauknya sendiri.
Tuan Jaya hanya mengusap dada melihat kejadian itu.
☘️☘️☘️
Dari waktu ke waktu, Gintani mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dengan bantuan bik Susan, Gintani pun menemukan seorang penjahit handal di kampung itu. Gintani meminta penjahit itu untuk menjadi gurunya. Kebetulan, penjahit itu memiliki putri yang sebaya dengan Gintani. Karena itu Gintani sangat menyukai tinggal di kampung ini. Sedikit demi sedikit rasa sakit hatinya mulai terlupakan.
"Mau kemana Sya ?” tanya Gintani yang melihat Raisya terlihat rapi dengan gamis modernnya
“Aku mau mengikuti kajian keagamaan di surau desa tetangga. Apa kamu mau ikut ?” tanya Raisya kepada Gintani.
Gintani melirik ke arah ibunya Raisya yang tak lain adalah guru menjahitnya.
Bu Aisyah tersenyum, seolah mengerti arti tatapan Gintani. "Pergilah !” ujar bu Aisyah.
Bola mata yang berwarna hitam pekat itu terlihat berbinar setelah mendapatkan izin dari guru menjahitnya.
"Ayuk, Sya ! Aku ikut kamu !” ujar Gintani.
"Eh tunggu dulu ! Apa kamu yakin mau pergi dengan pakaian seperti itu ?” tanya Raisya mengulum senyum melihat kepolosan Gintani.
__ADS_1
"Memangnya harus berpakaian seperti apa ?” tanya Gintani, heran.
"Kamu harus menggunakan gamis atau rok panjang dengan blouse berlengan panjang. Kamu juga harus menggunakan hijab. Kita ini mau ke pengajian loh, tan ! bukan nge-mall.” ujar Raisya.
"Yaah, aku nggak punya baju seperti itu Sya. Ya udah deh, aku nggak jadi ikut !” ujar Gintani bersedih.
“Nggak usah khawatir. Aku punya banyak baju muslim. Ikut aku yuk !"
Raisya menarik tangan Gintani ke dalam kamarnya. Dia pun mulai membuka lemari pakaiannya dan memilih-milih baju yang tepat untuk Gintani. Dia juga memilih hijab yang senada dengan warna dan corak bajunya agar terlihat matching. Setelah selesai, Raisya memberikan make up tipis dengan kesan natural di wajah ayu milik Gintani. Di rasa semuanya telah siap, Raisya pun segera berpamitan kepada ibunya untuk pergi mengikuti kajian tentang islam di kampung tetangganya.
Tiba di sana, sudah banyak jamaah yang sebagian besar terdiri dari ibu-ibu. Raisya pun mengajak Gintani duduk di depan. Saat ini yang memberikan materi adalah seorang ustadz muda yang sangat rupawan. Karena itu Raisya begitu bersemangat untuk mengikuti kajian ini.
“Gimana Tan, ustadz Husni tampan, kan ?” bisik Raisya di telinga Gintani.
Gintani hanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan Raisya.
"Sepertinya kau sangat bersemangat sekali mengikuti kajian ini, Sya ?" Gintani balik berbisik di telinga Raisya.
"Habis ustadz-nya ganteng sih…!" ucap Raisya seraya memelototi sang pemberi tausiyah hingga bola matanya seolah hendak keluar.
Gintani semakin melebarkan senyumnya mendengar pengakuan sahabatnya
“Bismillahirrohman nirrohim....
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wabihi nasta’inu ‘alaa umuriddunya waddiin. Wassholatu wassalamu ‘alaa asyrofil mursaliin, wa’alaa aalihi wa sohbihi ajma’iin. Amma ba’du."
"Ibu-ibu dan remaja muslimah yang saya hormati. Kajian kita pada kesempatan ini yaitu tentang kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya. Seperti yang kita ketahui, bahwa aurat perempuan itu…..bla…bla…"
Gintani tampak antusias mendengarkan ceramah ustadz Husni. Entah kenapa ada perasaan tak nyaman dihatinya saat dia mengetahui akibat-akibat jika seorang wanita tidak menutup aurat sebagai mana mestinya.
Sepulang dari kajian. Gintani tampak berpikir keras. Hatinya resah, namun Gintani tak menemukan jawabannya.
Tiba di rumah. Gintani menatap dirinya di depan cermin lemarinya. Dia menatap dirinya yang tengah mengenakan hijab. Gintani memang belum membuka pakaian yang dipinjamnya dari Raisya tadi. Sepanjang jalan batinnya berperang tentang keinginannya untuk menutupi auratnya. Akhirnya Gintani tersenyum seraya memegang erat hijabnya. "Bismillah hijrah." Gumam lirih Gintani.
Bersambung....
Semoga masih suka dengan ceritanya yaaa...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1