
Gintani tersenyum melihat Argha kelabakan oleh sikap Mega. Namun, lama-kelamaan dia merasa kasihan juga kepada Argha.
"Mbak Mega, sudah lama tinggal di sini?" tanya Gintani yang seketika mengalihkan perhatian Mega.
Mega membenarkan duduknya. Dia kembali bergeser sedikit menjauhi Argha.
"Sebenarnya aku lahir dan besar di sini. Tapi semenjak aku menikah, aku ikut suami tinggal di luar negeri. Sekarang, sudah mau dua tahun tinggal di sini," jawab Mega.
"Oh, begitu ya. Suami Mbak Mega kerja di mana?" tanya Gintani lagi.
Wajah Mega seketika murung mendengar pertanyaan Gintani.
"Suami saya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Karena itu saya memutuskan kembali ke kampung halaman dan membuka usaha di sini," jawab Mega, sendu karena teringat akan suaminya.
Gintani terkejut. "Maafkan Gintan, Mbak. Gintan tidak bermaksud membuat Mbak Mega bersedih lagi," kata Gintani menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya tadi.
"Tidak apa-apa, Mbak. Oh iya, Mbak Gintan sama Mas Alex sudah lama menikah?" tanya Mega.
"Uhuk!" Argha langsung tersedak mendengar pertanyaan Mega yang menganggap Gintani dan Alex sepasang suami-istri.
"Sebenarnya meβ"
"Kami baru mau melangsungkan pernikahan. Mungkin dalam waktu dekat ini." Gintani memotong kalimat Argha.
Ucapan Gintani bukan hanya membuat Argha terkejut. Namun, Alex pun tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Gintani. Dia benar-benar tidak menyangka jika Gintani bisa nekat berkata seperti itu.
Ish, apa-apaan ini? batin Argha mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Waah, aku pikir kalian pasangan suami-istri. Ternyata baru mau menikah, ya. Selamat ya Gin, Mas Al ... aku turut bahagia mendengar kabar baik ini," ucap Mega.
Alex hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Mega. Sedangkan Gintani, dia mengulum senyumnya melihat ekspresi Argha yang mulai kebakaran jenggot.
Putri yang sedang menikmati makanannya tidak begitu mempedulikan obrolan orang-orang dewasa itu. Dia terus makan dengan lahapnya. Sesekali, Putri melemparkan makanan ke kolam untuk melihat ikan-ikan yang berada di sana. Wajah anak itu terlihat sumringah, menikmati hadiah kemenangannya.
Suasana seketika berubah dingin. Argha tak memiliki selera lagi untuk menyantap makanannya. Ucapan Gintani tadi membuat mood Argha seketika menghilang. Rasanya Argha ingin berteriak untuk mengakui Gintani sebagai istrinya.
Selesai menyantap makanannya, Gintani pamit undur diri karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Alex menawarkan diri untuk mengantar Gintani pulang. Namun, Gintani menolaknya dengan alasan tidak ada yang menjaga Putri. Jujur, Gintani masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada Argha. Akhirnya Alex pun menunggui Putri hingga selesai menikmati hidangan terakhirnya.
__ADS_1
"Permisi, aku ke toilet dulu sebentar!" pamit Argha.
Tiba di ujung koridor toilet, Argha segera berbalik arah dan berlari ke pintu samping yang terhubung langsung ke tempat parkir.
Argha segera mengambil mobil dan melajukannya dengan kencang. Tiba di depan restoran, tampak Gintani yang tengah menunggu taksi onlinenya.
Ciiittt!
Argha menginjak pedal rem dan berhenti di hadapan Gintani.
"Masuk!" perintah Argha.
Gintani bergeming.
"Masuk kataku!" Argha kembali memberikan perintah.
Namun, Gintani hanya berlalu begitu saja.
Argha sudah habis kesabaran. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Dengan langkah cepat Argha menyusul Gintani.
Argha menangkap tubuh Gintani dan menggendongnya di pundak. Setelah itu, Argha membuka pintu mobilnya dan menghempaskan tubuh Gintani di kursi depan.
"Apa-apaan kamu, Mas?" teriak Gintani yang tidak terima dengan perlakuan Argha.
"Ssst!" Argha menempelkan telunjuknya di bibir. "Diam, dan ikuti aku!" teriak Argha.
Argha kembali melajukan mobilnya menuju bukit kenangan. Tiba di kaki bukit, Argha menghentikan mobilnya. Dia menyeret Gintani keluar dan kembali menggendongnya ala bridal style menuju puncak bukit kenangan.
Argha menurunkan Gintani di bawah pohon akasia tepat di depan tulisan yang pernah mereka buat.
"Apa kamu bisa mengingat ini?" tanya Argha.
Sontak Gintani kaget mendengar pertanyaan Argha. Apa dia sudah tahu semua kebenarannya? batin Gintani.
Gintani tak berani menatap Argha. Dia masih memandang tulisan itu dengan tatap dan pikiran yang kosong.
"Aku tahu kamu Na. Tapi kenapa kamu tidak pernah mengatakan semuanya dari awal? Kenapa Na? Padahal selama ini kamu tahu jika aku sedang mencarimu. Kenapa kamu tega mempermainkan perasaanku, Na? Kenapa?" Argha berteriak meluapkan semua kekesalannya. Dia mengira jika Gintani menyembunyikan semua kebenaran tentang dirinya yang sedang dia cari selama ini.
__ADS_1
"Apa kamu masih membenciku atas pertemuan pertama kita? Apa kamu masih menyimpan dendam padaku, sehingga kamu tega menutupi jati dirimu sendiri dan membuat aku hampir gila karena mencari keberadaan kamu?" tuding Argha.
"Kamu sudah tidak waras, Mas!" ucap Gintani, membalikkan badannya
Brugh!
Argha kembali menarik tangan Gintani hingga wanita itu berbalik dan jatuh terjerembab ke dalam pelukannya.
"Ya! Kamu benar, Gin! Aku memang sudah tidak waras! Aku tidak waras karena merindukan kamu. Bertahun-tahun aku mencarimu. Hampir setiap tahun aku datang ke tempat ini untuk menemui kamu. Tapi kenapa kamu tidak pernah datang? Bahkan di tanggal kita berjanji untuk bertemu di sini, kamu masih menyembunyikan identitasmu. Kenapa Gin? Kenapa?"
Argha sudah tidak kuasa lagi membendung perasaannya. Amarah dan kerinduannya bercampur menjadi satu.
"Aku hilang ingatan dan di hari itu, hari yang pernah kita janjikan dulu. Di waktu itu pula aku mendapatkan serpihan memoriku secara utuh. Apa kamu puas? Sekarang lepaskan Aku! Ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan," ucap Gintani penuh ketegasan.
Argha terdiam mendengar pengakuan Gintani. Perlahan, Argha mulai mengerti kenapa Gintani sering merasakan sakit di kepalanya. Pantas saja selama ini dia tidak mengenalku, batin Argha.
"Tidak Gin, aku tidak akan melepaskan kamu lagi," ucap Argha tegas.
"Jangan gila kamu, Mas! Kita sudah bercerai dan kamu tidak berhak mengatur hidupku!" ucap Gintani.
"Kita belum bercerai, Gin!" ucap Argha penuh kepastian.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Gintani heran.
"Seorang suami tidak bisa menceraikan istrinya saat istrinya tengah hamil," ucap Argha.
"Hahahaha, apa kamu pikir aku bodoh? Aku tahu tentang itu, Mas. Tapi jangan lupa, kamu pernah mengembalikan aku kepada kakek. Kamu tidak pernah menafkahi aku baik secara lahir ataupun batin selama kurang lebih dari 5 tahun. Ditambah lagi aku sudah melewati masa iddahku, apa itu belum cukup menjadi bukti kalau di antara kita sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi, hah?" ucap Gintani berapi-api.
"Tentu saja itu belum cukup, Gin. Pernikahan kita bukan hanya tercatat di mata agama, tapi juga di mata hukum. Dan menurut hukum yang berlaku di negara kita, sebuah perceraian tidak akan sah tanpa ada keputusan hasil sidang perceraian. Bukankah selama ini kita tidak melakukan persidangan perceraian? Jadi, sudah bisa dipastikan kalau perceraian kita cacat hukum. Dan kamu tidak bisa menikah dengan orang lain begitu saja," ucap Argha panjang lebar.
Gintani mendekati Argha. "Baiklah, jika itu menurutmu Tuan Argha yang terhormat. Kalau begitu, tunggu saja, besok aku pasti akan melayangkan surat gugatan cerai kepadamu!" ucap Gintani dengan sangat dingin.
"Percuma! Sekeras apa pun kamu berusaha, aku tegaskan sekali lagi kalau kamu tidak bisa bercerai dari aku! Titik! Tapi jika kamu tetap memaksa, maka kamu akan kehilangan hak asuh Putri untuk selamanya!
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya ππ€
__ADS_1