
Gintani memekik keras saat kedua tangan Nando mengangkat tubuhnya. Layaknya adegan sebuah penculikan, Nando mengangkat tubuh Gintani dan memasukkan dia ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Gintani.
Gintani terus meronta, namun Nando mencekal lengan Gintani dengan kuat. Nando membuka laci dashboard dan mengambil lakban hitam. Sejurus kemudian, dia menutup mulut Gintani dengan lakban tersebut. Kedua tangan dan kaki Gintani pun tak lepas dari jamahan Nando. Hingga akhirnya, lakban hitam itu habis untuk mengikat Gintani.
Mata Gintani menatap tak percaya pada Nando yang masih bertelanjang dada. Seperti orang yang kesetanan, Nando menjalankan mobilnya secara ugal-ugalan. Pikirannya kalut saat Gintani mengucapkan kata putus. Bagaimanapun juga, dia sangat mencintai gadis itu. Gadis kecil mungil berambut panjang dengan bibir tipis yang selalu menggodanya untuk mencium. Namun sayangnya, gadis itu begitu menjaga dirinya.
Tidak, Gin. Di dunia ini, tak ada lagi wanita yang begitu sempurna selain dirimu. Aku tidak mau kehilangan kamu. Apa pun akan aku lakukan asal aku bisa memiliki kamu dalam hidupku, batin Nando.
Tiga puluh menit melewati perjalanan yang begitu sepi, akhirnya Nando tiba di sebuah rumah tua namun masih kelihatan asri. Dengan kasar, dia membuka pintu mobil dan kembali menggendong Gintani. Nando mendobrak pintu rumah yang sudah rapuh. Dia kemudian membawa Gintani ke lantai atas.
Krak!
Kakinya menendang pintu kamar hingga terbuka. Nando menghempaskan tubuh Gintani di atas ranjang tua berukiran mawar emas.
"Maafkan aku Gintan, kamu yang telah memaksa aku bertindak sekasar ini," ucap Nando dengan suara serak.
"Hmmp...hmmp...."
Gintani hanya mampu berteriak tertahan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak ada lagi Nando yang lugu dan penuh kelembutan. Tak ada lagi Nando yang selalu membuatnya ceria. Tak ada lagi tatapan kehangatan yang selalu membuat Gintani merasa dilindungi. Dalam sekejap, Nando berubah seperti seekor singa yang kelaparan. Dia begitu buas, begitu kasar. Tatapan matanya seolah ingin menguliti tubuh Gintani hidup-hidup.
Brugh...
Tiba-tiba saja, Nando berlutut di tepi ranjang. Tangannya menyentuh kaki Gintani dan mengusapnya penuh kelembutan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Jangan takut! Aku mohon, jangan pernah takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu. A-aku hanya ingin bersamamu, Tan. Aku mencintaimu," ucap lirih Nando.
Gintani menggerak-gerakkan kedua kakinya. Rasanya dia sudah tidak sudi disentuh oleh tangan yang pernah memeluk pinggang polos gadis lain. Kini, hanya rasa jijik yang tersisa di hatinya.
Lepaskan aku! Dasar laki-laki bajingan, lepaskan aku! jerit Gintani dalam hati. Namun apalah daya, jeritan itu tak mampu keluar dari mulutnya.
Menit demi menit berlalu. Nando enggan beranjak dari duduknya, sedangkan Gintani hanya bisa pasrah menerima perlakuan kekasihnya. Lilitan lakban di tangan dan kakinya telah menimbulkan luka akibat gesekan-gesekan yang dia lakukan. Gintani pun hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Hingga rasa lelah membuat dia mengantuk.
__ADS_1
Nando berdiri begitu dia menyadari tak ada perlawanan lagi dari Gintani. Sejurus kemudian, dia membaringkan tubuh Gintani yang terlihat kelelahan. Setelah itu, dia meraih baju dalam lemari dan pergi ke kamar mandi.
Selesai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Nando kemudian turun ke dapur untuk menyiapkan makanan. Namun sebelumnya, tangan kekarnya meraih gagang telpon dan berbicara penuh kelembutan dengan seseorang di ujung telepon. Lepas itu, dia mulai membuka lemari makanan dan mendapati beberapa bungkus mie instan dengan berbagai macam nama. Nando meraih dua bungkus mie instan, kemudian membolak-balikan kemasan mie tersebut untuk melihat tanggal kadaluarsa.
"Hmm, lumayan...masih lama," ucap Nando.
Sedetik kemudian, dia pun mulai mengisi air ke dalam panci kecil dan menaruhnya di atas kompor yang telah menyala. Dia mulai memasak mie instan itu untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.
Beberapa menit berlalu hingga akhirnya mie tersebut matang. Nando menuangkannya ke dalam mangkuk dan membawanya kembali ke atas.
Kriettt...
Sebagian tubuhnya dia gunakan untuk membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci. Gintani masih tampak terlelap dengan wajahnya yang terlihat pucat. Senyum tipis terukir di bibir Nando.
"Apa kamu tahu, Tan? Risiko apa pun sanggup aku tanggung asalkan aku bisa hidup bersamamu," gumam Nando menatap lekat wajah cantik Gintani.
Wangi aroma mie instan yang menggugah selera, membangunkan Gintani dari tidurnya. Perlahan, dia mulai membuka kedua kelopak mata indahnya. Mata yang terlihat sembab itu seketika menatap Nando penuh kebencian.
Gintani memalingkan wajahnya. Sungguh, dia tidak ingin melihat wajah lugu yang penuh tipu muslihat.
"Huff...!"
Nando membuang napasnya dengan kasar. Dia kembali menaruh mangkuk mie itu di atas nakas. Sejurus kemudian, kedua tangannya dia ulurkan untuk membantu Gintani bangun.
Perlahan, Nando membuka lakban yang merekat di mulut Gintani. Warna merah bekas lakban terpampang jelas di sekitar bibir Gintani.
"Maafkan aku," ucap Nando seraya telunjuknya menyapu bibir tipis itu.
Kembali Gintani memalingkan wajahnya.
"Jangan sentuh aku!" ucap Gintani dengan nada dingin.
Mendengar nada ketidaksukaan dari kekasih hatinya, Nando akhirnya menghentikan perbuatannya. Dia kembali meraih mangkuk hendak menyuapi Gintani.
__ADS_1
"Makanlah!" ucap Nando penuh kelembutan.
"Aku tidak mau," jawab Gintani, ketus.
"Ayolah, Tan. Jangan mempersulit keadaan, aku tahu kamu lapar," bujuk Nando.
"Lepaskan aku, Nan! Aku mohon lepaskan aku!" pinta Gintani.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu. Aku mencintaimu, Tan. Aku sangat mencintaimu. Sebentar lagi kita akan menikah," ucap Nando mengiba.
"Kamu benar-benar sudah tidak waras, Nan. Memangnya, siapa yang ingin menikah dengan laki-laki bejat sepertimu? Apa kamu pikir, setelah aku melihat kegilaanmu bersama Celine, aku masih ingin berhubungan denganmu? Hmm, jangan mimpi!" ucap Gintani dengan sinisnya.
Prang!
Nando melemparkan mangkuk mie yang sedang dipegangnya. Sejurus kemudian, dia mencengkeram kedua rahang Gintani dan menekannya hingga punggung Gintani menyentuh sandaran ranjang yang berukir emas.
"Dengar Gintan, suka atau tidak, lusa, kamu akan menjadi pengantinku. Camkan itu! Dan ingat, jangan coba-coba kabur dari tempat ini. Kalau tidak...," Nando menjeda omongannya.
"Kalau tidak, apa? Apa yang akan kamu lakukan padaku, hah?" ucap Gintani, lantang.
"Kalau tidak..., aku akan berbuat sesuatu yang tidak akan pernah kamu bayangkan sebelumnya," ancam Nando seraya melepaskan cengkeramannya.
"Aku mohon, lepaskan aku Nan! Apa untungnya kamu menyekap aku di sini? Hari ini, esok, ataupun lusa. Aku tidak akan pernah sudi menjadi pengantin kamu!" teriak Gintani.
Nando hanya melambaikan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya meraih mangkok mie miliknya dan berlalu keluar, meninggalkan Gintani yang masih mengoceh dengan sumpah serapahnya.
Bersambung....
Hai kawan...
Jangan lupa like, vote n komennya, yaaa
Makasih...
__ADS_1