Takdir Gintani

Takdir Gintani
Putri Merajuk


__ADS_3

"Om, sudah siang. Putri pulang dulu, ya?" ucap Putri membuyarkan lamunan Argha.


"Eh, iya ... ayo, Om antar!" Argha menawarkan diri untuk mengantarkan Putri pulang.


"Nggak usah, Om. Putri dijemput sama Uteng, kok," jawab Putri.


Sebenarnya Argha penasaran ingin bertemu ibunya Putri yang mungkin saja orang yang selama ini dia cari. Namun, Argha juga merasa bingung, apa yang harus dia katakan nanti jika bertemu dengan Na. Akhirnya Argha pun membiarkan Putri menuruni bukit sendirian.


Setelah Putri tak terlihat dari pandangannya, Argha segera bangkit dan kembali mengitari pohon akasia. Dia melihat ukiran nama itu masih tertera jelas di sana.


Apa kabarmu, Na? Selama ini aku selalu mencarimu. Tapi, bukannya bertemu kamu, aku malah bertemu dengan putrimu. Takdir itu lucu sekali ya, Na. Padahal, selama ini kamu tak pernah jauh dari tempat ini. Tapi, entah kenapa terlalu sulit bagi aku untuk menemukan kamu. Apa ini yang dinamakan permainan takdir? Seperti apa kamu sekarang, Na. Masihkah kamu mengingat kak Adimu? batin Argha.


🍀🍀🍀


Sepanjang perjalanan, Putri hanya diam saja. Mina pun merasa heran dengan perubahan sikap Putri. Biasanya, dia selalu cerewet dalam hal apa pun. Putri selalu bercerita tentang kejadian yang terjadi di sekolahnya. Tapi sekarang, sedikit pun dia tak mengeluarkan suara.


Tiba di rumah, Putri segera masuk ke kamarnya. Setelah mencuci kaki dan tangannya, dia langsung merebahkan diri di atas ranjang tanpa berganti pakaian. Sejurus kemudian, Putri memejamkan matanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Putri mana, Min?" tanya Gintani yang heran melihat Mina datang sendirian.


"Non Putri sudah duluan masuk rumah, Nya," jawab Mina.


"Kok tumben, biasanya dia barengan sama kamu, "kan, Min?" tanya Gintani.


"Iya, Nya. Nggak tahu, hari ini non Putri terlihat beda, Nya. Tadi aja sewaktu pulang dari sekolah, dia terlihat pendiam. Biasanya, sepanjang perjalanan dia selalu bawel bercerita tentang kegiatan sekolahnya. Tapi sekarang, dia hanya diam saja," jawab Mina.


Gintani mengerutkan keningnya. "Ya sudah, biar aku lihat keadaan Putri," ucap Gintani.


Gintani pergi ke dapur untuk mengambil makan siang Putri. Beberapa menit kemudian, dia pergi ke kamar putrinya.

__ADS_1


Gintani membuka pintu kamar Putri. Terlihat jika anak itu sedang tidur terlentang. Gintani mendekati Putri dan menyimpan piring makanannya di atas meja belajar. Dia kemudian duduk di tepi ranjang. Gintani mengulurkan tangannya, dia meraba kening Putri. "Sedikit hangat," gumam Gintani.


"Putri, Sayang ... bangun, Nak!" Gintani mengguncang pelan bahu putrinya.


Putri mengerjapkan matanya. "Mama," gumam Putri. Dia kemudian bangkit dan duduk berhadapan dengan ibunya.


"Apa Putri sakit?" tanya Gintani lagi.


Putri menggelengkan kepalanya.


"Tapi, badan Putri kok terasa hangat?" tanya Gintani lagi.


"Putri baik-baik saja, Ma. Putri hanya kangen sama papa," jawab Putri.


"Ya Tuhan, Nak ... jadi Putri kangen sama papa Heru. Ya sudah, nanti kita telepon papa Heru. Sekarang, Putri makan dulu, ya," ucap Gintani.


Putri menggelengkan kepalanya. "Putri nggak lapar, Ma," katanya.


Putri tetap menggelengkan kepalanya.


Gintani tahu, ada yang tidak beres dengan putrinya. "Kemarilah, tidur di pangkuan Mama," ucap Gintani seraya menepuk pahanya.


Putri menurut, dia pun merebahkan kepalanya di pangkuan Gintani.


"Ada apa, Nak? Katakan pada Mama. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Gintani penuh kelembutan.


"Mama, kenapa papa tidak tinggal bersama kita? Apa Mama dan papa sedang bertengkar?" tanya Putri dengan polosnya.


Gintani terhenyak mendengar pertanyaan Putri. Kenapa anaknya bertanya seperti itu? Tidak biasanya Putri mengurusi permasalahan orang dewasa, batin Gintani.

__ADS_1


"Kok tumben pertanyaan Putri seperti itu?" Gintani balik bertanya.


"Tadi di sekolah, ibu guru menerangkan tentang keluarga yang bahagia. Kata ibu guru, keluarga itu terdiri dari ayah, ibu dan anak. Mereka tinggal dalam satu rumah. Sebagai anak, Putri juga harus bisa membantu ayah dan ibu. Tapi Putri sedih, karena Putri tidak bisa membantu papa. Putri sering membantu Mama, tapi Putri nggak pernah membantu papa. Dan itu karena papa nggak tinggal sama kita. Eca bilang, kalau mama sama papa nggak tinggal satu rumah, itu artinya mereka sedang bertengkar. Apa memang Mama dan papa sedang bertengkar?" Putri berbicara panjang lebar tentang kejadian di sekolah yang mengusik hatinya.


Gintani begitu terkejut mendengar pengakuan Putri. Usia Putri baru menjelang 5 tahun, tapi kenapa dia bisa berpikiran seperti itu? Apa dia mulai mencari arti keluarga yang sebenarnya? batin Gintani.


"Sayang, tidak semua orang tua yang terpisah itu karena bertengkar. Papa Heru tidak bisa tinggal di sini karena papa Heru juga punya rumah yang harus dia urus, begitu juga dengan Mama," jawab Gintani mencoba memberikan jawaban, meskipun dia sendiri tidak tahu apakah jawabannya masuk akal atau tidak.


"Kenapa papa Heru tidak pindah saja ke rumah kita? Atau kita yang pindah ke rumah papa Heru. Teman putri bilang, Mama dan papa tinggal berpisah di rumah kecil karena ingin membuat rumah yang sangat besar untuk kita bertiga. Tapi Putri nggak butuh rumah besar. Rumah kita yang sekarang juga sudah cukup, asal Putri bisa tinggal bersama Mama dan papa Heru. Putri mau kita tinggal bareng, tidur bareng. Sama kaya Eca yang suka tidur sama mama papanya," rengek Putri.


Gintani bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Putri. Ini pertama kalinya Putri merajuk soal Heru, ayah angkatnya. Selama ini, hanya Heru yang dia kenal sebagai papanya. Karena itu dia mulai merajuk dan meminta agar ayahnya bisa tinggal bersamanya. Ya Tuhan, bagaimana ini? batin gintani.


"Putri Sayang, papa tidak bisa pulang ke rumah ini karena rumah papa jauh lebih dekat dengan kantornya dibandingkan dengan rumah kita." Gintani kembali memberikan alasan.


"Nggak! Pokoknya Putri mau papa pulang ke sini. Tidak ada alasan karena pekerjaan. Kantor papanya Eca juga jauh, tapi dia tetap bisa pulang ke rumahnya. Putri nggak mau tahu, pokoknya Putri mau papa pulang ke rumah ini. Titik!" ucap Putri dengan nada sedikit membentak.


Putri bangkit dari pangkuan Gintani. Setelah itu dia mengambil skateboard-nya kemudian pergi meninggalkan Gintani.


Gintani terkejut melihat kemarahan Putri. Ini pertama kalinya Putri bersikap seperti itu. "Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?" gumam Gintani.


"Putri, tunggu Nak!" teriak Gintani menyusul Putri keluar.


Tapi Putri tak menggubris panggilan Gintani. Dia malah semakin berlari keluar dari pekarangan rumah.


Gintani hendak menyusul Putri ke luar halaman, tapi dering telepon di atas nakas ruang keluarga menghentikan langkahnya.


"Hallo! Assalamu'alaikum, ah syukurlah Mas menelepon."


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2