
Gintani cukup terkejut mendengar penuturan Bik Susan. "Apa maksud Bik Susan? Apa ada yang Bibik sembunyikan dari Gintan?" tanya Gintani penuh selidik.
"Eh, itu ... anu ... itu, Neng...." Bik Susan tak mampu menjawab pertanyaan Gintani.
"Duduklah!" perintah Gintani pada Bik Susan.
Bik Susan mengangguk, beberapa detik kemudian, dia mendaratkan bokongnya di kursi samping Gintani.
Gintani memegang tangan Bik Susan. "Tolong katakan apa yang Bibik ketahui. Jangan ada yang disembunyikan lagi dari Gintan, Bik. Gintan mohon!" ucap Gintani.
Bik Susan menghela napasnya untuk sejenak. "Sebenarnya, kemarin pak Wira pergi bukan untuk menemui ustadz Hasan," ucap Bik Susan.
"Lalu?" tanya Gintani semakin penasaran.
"Beliau pergi ke kota untuk menemui den Argha," jawab Bik Susan.
Deg!
Gintani sangat terkejut mendengar pengakuan dari Bik Susan. Jadi, diam-diam kakek pergi ke kota untuk menemui mas Argha? Tapi kenapa? Untuk apa? batin Gintani
"Apa Bibik tahu untuk apa kakek menemui mas Argha?" tanya Gintani.
Bik Susan menggelengkan kepalanya.
"Apa Bibik yakin, surat itu memang kakek yang membawanya kemarin? Bibik yakin, tidak ada kurir ataupun tukang pos yang mengantarkan surat itu kemari?" cehcar Gintani kepada Bik Susan.
"Bibik sangat yakin, Neng. Tidak ada kurir ataupun tukang pos yang datang kemari. Itu pasti pak Wira yang membawanya dari kota. Mungkin den Argha sendiri yang memberikannya kepada pak Wira." Bik Susan menduga-duga dengan kemungkinan yang terjadi saat kakek Wira bertemu Argha.
Gintani meremas amplop itu. Ini sudah sangat keterlaluan! Mas Argha benar-benar kejam. Karena surat ini, kakek sampai terkena serangan jantung dan meninggal. Ya Tuhan ... di mana hati nurani pria sombong itu? Dan kenapa aku bisa terlalu bodoh karena pernah begitu mencintai pria itu? rutuk Gintani dalam hatinya.
Gintani segera memasuki kamarnya. Dia mulai berkemas seadanya. Aku harus bertemu dengan mas Argha dan memberinya pelajaran, batin Gintani.
Satu jam kemudian, Gintani kembali ke ruang makan untuk mencari Bik Susan.
"Bik, Gintan pergi dulu, ya?" pamit Gintani.
"Loh, mau ke mana, Neng?" tanya Bik Susan, heran.
"Gintan mau menemui mas Argha," jawab Gintani.
Bik Susan begitu terkejut mendengar ucapan Gintani.
"Ta-Tapi, Neng ... kondisi Neng sedang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Tolong jangan gegabah, Neng!" tegur Bik Susan.
"Gintan tahu, Bik. Insya Allah Gintan akan berhati-hati dan menjaga diri Gintan sendiri." Gintani mencoba meyakinkan Bik Susan.
"Tapi Neng, sebaiknya kita tunggu mang Rakib saja. Biar Neng diantar mang Rakib pergi ke kotanya." Bik Susan memberikan usul.
"Nggak usah Bik, Gintani nggak mau menyusahkan orang lain," tolak Gintani
"Ish, siapa yang orang lain? Bukankah Neng sudah menganggap kami seperti keluarga Neng sendiri?" Bik Susan malah balik bertanya.
__ADS_1
"Itu memang benar, tapi Gintan tidak mau melibatkan siapa pun dalam masalah yang sedang Gintan hadapi saat ini," jawab Gintani.
"Assalamu'alaikum...."
Tiba-tiba ucapan salam di luar menghentikan perdebatan Gintani dan Bik Susan.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Gintani dan Bik Susan berbarengan.
"Sebentar Neng, Bibik bukain pintu dulu," ucap Bik Susan. Dia kemudian pergi dari hadapan Gintani. Tak lama kemudian, Bik Susan datang kembali, "Neng, ada tamu yang cari Neng Gintan," ucap Bik Susan.
"Siapa?" tanya Gintani, heran.
"Katanya teman Neng. Namanya Jessica," ucap Bik Susan.
Buru-buru Gintani menghampiri Jessica di ruang tamu.
"Apa kabar, Mbak Jessica?" sapa Gintani.
"Baik," jawab Jessica. "Loh, kok kamu sudah rapi, Gin?" tanya Jessica yang merasa heran melihat Gintani.
"Iya Mbak, maaf ya, lain kali saja kita atur waktu untuk bertemu kembali. Hari ini, Gintan ada keperluan yang sangat penting," ucap Gintani dengan nada sangat menyesal.
Bik Susan yang sedang membawa air minum untuk tamunya kembali menyahuti ucapan Gintani.
"Ish, sudah Bibik bilang jangan sekarang, Neng. Kita tunggu sampai mang Rakib pulang dari ladang. Bibik takut kenapa-kenapa kalau Neng harus pergi naik bus. Neng harus ingat, kandungan Neng, tuh masih rawan," ucap Bik Susan.
"Tunggu-tunggu! Ada apa ini? Kenapa kalian berdebat? Dan itu, apa tadi ... kandungan? Ya kandungan ... kandungan apa? Kamu lagi hamil, Gin?" cehcar Jessica.
Gintani hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jessica. "Ya, Gintan sedang mengandung, Mbak!"
"Terima kasih, Mbak," jawab Gintani, membalas pelukan Jessica.
"Tapi, Bibik bilang, naik bus? Memangnya kamu mau pergi ke mana, Gin? Bibik benar loh, bahaya kalau kamu berkendaraan umum," timpal Jessica.
"Gintan mau menemui mas Argha, Mbak," jawab Gintani.
"Oh, kamu mau pulang? Ayo aku antarkan!" tawar Jessica.
Gintani dan Bik Susan hanya bisa saling pandang mendengar tawaran Jessica.
"Sebenarnya, Gintan mau bertemu mas Argha untuk meluruskan persoalan. Gintan tidak tinggal di rumah itu lagi, Mbak," jawab Gintani.
Jessica terkejut, "Apa maksud kamu?" tanyanya
"Ceritanya panjang, Mbak. Ya sudah, kalau begitu Gintan permisi dulu!"
"Ih si Eneng, kok nggak bisa dibilangin ya. Nanti atuh nunggu mang Rakib dulu!" cegah Bik Susan.
"Biar jessi yang antar Gintani, Bik. Ayo Gin, aku antarkan kamu untuk menemui Argha!" Sekali lagi Jessica menawarkan diri untuk membantu Gintani.
Gintani mengangguk.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Bang, mas Heru lama ya, perginya?" tanya Geisha kepada Alex.
"Kenapa? Kangen ya...?" Alex menggoda adiknya.
"Ih, apaan sih, Abang ... Geisha, 'kan, cuma nanya saja," ucap Geisha tersipu malu.
"Kamu suka sama Heru, Sha?" tanya Alex.
"Nggak Bang, Geisha sudah tidak memikirkan hal itu lagi," ucap Geisha.
"Tapi kamu harus memikirkan masa depan kamu, Sha. Dendi butuh figur seorang ayah," ucap Alex.
"Dendi, 'kan masih punya Abang. Atau, jangan-jangan, Abang sudah punya calon ya? Kok tumben ngomong seperti itu?" selidik Geisha.
"Hahaha, calon dari hongkong!" jawab Alex mengacak pelan rambut adiknya.
"Ish Abang, Geisha serius. Sudah waktunya Abang melepaskan bayangan almarhumah. Memangnya, selama tinggal di jakarta, Abang nggak pernah ketemu cewek?" tanya Geisha, penasaran.
"Cewek banyak, Sha!" teriak Alex.
"Yang memikat hati Abang? Apa di antara mereka tidak ada yang memikat hati Abang?" tanya Geisha menghampiri Alex yang sedang mengambil air minum di dapur.
Alex bergeming. Bayangan gadis cantik berambut panjang, terlintas dalam benaknya. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya.
Geisha tersenyum, "Pasti gadis itu sedang menari dalam lamunan Abang, 'kan?" Geisha menggoda kakaknya.
Alex hanya tersenyum menanggapi godaan adiknya.
🍀🍀🍀
Menjelang ashar, mobil yang dikendarai Jessica tiba di kantornya Argha. Setelah memarkirkan mobilnya, Gintani dan Jessica turun dan berjalan beriringan menuju kantor. Suasana di kantor mulai terlihat sepi, mungkin karena memang ini sudah waktunya jam makan pulang.
"Eh, apa kamu tahu kejadian kemarin?" tanya salah seorang office boy yang sedang membersihkan lantai.
"Kemarin jadwal liburku, jadi aku tidak tahu ada kejadian apa hari kemarin," jawab office boy yang sedang membersihkan kaca.
"Kabarnya, kakeknya nyonya Gintani datang ke kantor ini," ucap office boy yang membersihkan lantai.
"Nyonya Gintani? Bukannya dia istrinya bos yang berselingkuh itu?" tanya offline boy kedua.
Iya, aku lihat kakeknya sampai memohon supaya bos kita tidak menceraikan nyonya," jawab Office boy yang sedang membersihkan lantai.
"Lalu?"
"Ya, kamu tahu sendiri, 'kan, bagaimana sikap bos kita. Dia malah pergi begitu saja dengan pacarnya tanpa menghiraukan kakeknya nyonya.
Gintani dan Jessica hanya saling pandang mendengar percakapan mereka.
"Jadi benar, kakek saya kemarin datang kemari?
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like vote n komennya, ya 🤗🙏