
Alex begitu terkejut mendengar ucapan Gintani. Dia hanya melongo, terkesima dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Bang, Gintan tahu semua ini sangat keterlaluan. Tapi Gintan tidak bisa melihat raut wajah kekecewaan Putri. Dia begitu memimpikan sosok seorang ayah yang akan selalu dia idolakan. Gintan tahu, mungkin Gintan terkesan sombong karena terlalu memaksakan kehendak Gintan kepada Abang. Tapi, Gintan tidak punya pilihan lain. Abang bersedia, 'kan menolong Gintan? Apa Abang bersedia untuk menutupi aib Gintan hari ini?" tanya Gintani kepada Alex.
Kepala Alex semakin terasa berat mendengar semua ucapan Gintani. Seandainya ini terjadi beberapa tahun yang lalu, mungkin dengan segera Alex akan menjawab iya. Tapi kini ... Alex sendiri tidak tahu apa dirinya pantas untuk bersanding dengan wanita yang diam-diam telah dia cintai sejak awal mula bertemu.
Ah, Tan. Seandainya kamu tahu apa yang telah terjadi pada Abang saat ini, apa mungkin kamu masih sanggup meminta hal itu kepada Abang? batin Alex.
"Bagaimana, Neng?"
Belum sempat Alex menjawab, Bik Susan telah berdiri di ambang pintu untuk menanyakan pernikahan itu lagi.
"Tolong bilang padanya, pernikahan akan tetap berlangsung," ucap Alex, tegas.
Gintani begitu terkejut mendengar perkataan Alex, sedangkan Bik Susan kembali ke tempat akad seraya mengerutkan keningnya.
"Tolong tanya Mang Rakib, apa beliau punya kopiah? Abang mau wudhu dulu," ucap Alex.
Gintani begitu terharu mendengar ucapan Alex.
"Wudhulah, Bang! Akan Gintan ambilkan kopiah peninggalan almarhum kakek," ucap Gintani.
Alex mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Sedangkan Gintani membuka lemari bajunya untuk mengambil kopiah milik almarhum kakek.
Selepas wudhu, Alex kemudian melaksanakan sholat sunat hajat untuk memohon keridhoan Tuhan dalam langkah yang dia ambil. Beberapa menit kemudian, Alex menggandeng Gintani menuju meja akad.
Tiba di sana, Alex membisikkan sesuatu kepada Ustadz Hasan.
Ustadz Hasan tampak menganggukkan kepalanya. Dia kemudian membisikkan sesuatu kepada bapak penghulu.
"Baiklah! Saya paham," ucap pak penghulu.
Alex kemudian duduk di samping Gintani. Mang Rakib sendiri mengambil tempat duduk Alex untuk menjadi saksi pernikahan mereka.
"Saudara Alexander Winaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ananda Gintania Nur'aini binti almarhum Arya Wirahadikusuma dengan maskawin seperangkat alat solat dan emas sebesar 20 gram, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Ananda Gintania Nur'aini binti Arya Wirahadikusuma dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!"
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir," ucap penghulu itu.
Semua orang tampak mengangkat tangannya dan bermunajat kepada Tuhan Sang Maha Pencipta untuk memberkahi pasangan pengantin baru tersebut.
'Silakan, mempelai wanita untuk mencium punggung tangan suaminya," ucap bapak penghulu.
Gintani menyamping kemudian mencium punggung tangan Alex yang kini telah menjadi suaminya. Begitu pula dengan Alex, dengan penuh kelembutan dia mengecup kening wanita berhijab itu.
Acara dilanjutkan kepada wejangan bapak penghulu tentang adab-adab suami istri yang sesuai dengan syariat islam.
Kepala Alex semakin terasa berat. Matanya mulai berkunang-kunang. Sesekali dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sakit di bagian kepala belakang.
__ADS_1
Ya Tuhan ... tolong beri aku kekuatan, setidaknya sampai acara pernikahan ini selesai, batin Alex.
Namun, apalah daya. Terkadang, keinginan kita tidak pernah sejalan dengan apa yang telah Tuhan rencanakan. Pada saat pasangan pengantin itu tengah berdiri di pelaminan untuk menerima do'a dari para tamu, tiba-tiba Alex memekik pelan sambil memegang kepalanya.
"Aargghh!"
Gintani dan para tamu terkejut melihat Alex.
"Bang! Abang kenapa?" tanya Gintani, cemas.
Namun, pertanyaan Gintani hanya dijawab oleh ambruknya tubuh Alex ke lantai.
Gintani menjerit melihat hal itu. Begitu juga dengan para tamu undangan. Seketika mereka mengerumuni pasangan pengantin itu.
"Tolong beri jalan!" ucap Mang Rakib mendekat ke arah pelaminan.
Seketika para tamu undangan menyingkir.
"Apa yang terjadi, Neng?" tanya Mang Rakib lagi.
"Gintan nggak tahu, Mang. Tiba-tiba Bang Alex jatuh," jawab Gintani.
Mang Rakib langsung menggendong tubuh Alex yang sudah terkulai tak berdaya. "Kita bawa Den Alex ke rumah sakit," ucapnya.
Gintani mengangguk. Dia kemudian mengikuti Mang Rakib dari belakang.
"Ayo, Mang! Pakai mobil saya saja," ucap Jessica.
Mang Rakib kemudian merebahkan Alex di kursi belakang mobil Jessica. Gintani mengikutinya, dia meraih kepala Alex dan meletakkannya di pangkuan. Bulir keringat dingin tampak membasahi kening suaminya.
Gintani meraih tangan Alex. "Bertahanlah Bang, Gintan yakin Abang pasti akan baik-baik saja," ucap Gintani yang mulai berurai air mata.
Alex hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya.
"Biarkan ... Abang bicara, Tan," ucap Alex, lirih.
"Sudahlah, Bang! Jangan terlalu banyak bicara. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Abang pasti baik-baik saja," pinta Gintani sambil menyeka keringat suaminya.
"Tidak, Tan ... Abang harus bicara. A-Abang bahagia bisa meni-kah ... dengan ka-kamu. Kamu adalah istri idaman se-setiap pria. Ta-tapi A-Abang minta maaf. A-Abang tidak bisa menjaga ka-kamu."
Napas Alex semakin tersengal. Tubuhnya semakin lemas dan tangannya semakin terasa dingin Gintani rasakan.
"Sudah Bang! Jangan bicara lagi, Gintan mohon," ucap Gintani tak kuasa menahan bulir air mata yang terus meluncur dengan deras.
"To-tolong jangan be-benci Argha. Di-dia punya alasan yang ku-kuat meninggalkan kamu di acara per-nikahan ka-kalian. A-Abang ti-dak sanggup menjaga kalian. Ke-kembalilah ke-pada Argha."
"Cukup Bang! Gintan mohon, cukup. Jangan bicara apa pun lagi. Abang pasti baik-baik saja Gintan yakin itu!" ucap Gintani dalam isak tangisnya.
Alex mengulurkan tangannya. Dia mengusap lembut pipi istrinya yang mulai memerah. "Abang mencintai kamu, Tan," ucap Alex sebelum akhirnya dia menutup mata.
"Tolong lebih cepat lagi, Mbak! Gintan mohon!" teriak Gintani yang melihat suaminya menutup mata.
Meski panik, Jessica terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Mang Rakib segera memanggil perawat untuk membawa Alex.
__ADS_1
Setelah dikeluarkan dari mobil dan dipindahkan ke atas brankar, Alex kemudian dibawa ke ruang UGD. Tiba di sana, dua orang perawat menghentikan Mang Rakib dan Gintani. Dia menyuruh mereka untuk menunggu di luar UGD.
Gintani dan Mang Rakib hanya bisa menganggukan kepalanya. Mereka menunggu di luar ruang UGD dengan harap-harap cemas.
Dua puluh menit kemudian, seorang dokter paruh baya keluar dari ruang UGD. Gintani dan Mang Rakib segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Gintani.
"Mohon maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain," ucap dokter itu menatap prihatin ke arah Gintani yang masih mengenakan kebaya pengantin.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun!" ucap Mang Rakib dan Jessica yang baru saja tiba di depan ruang UGD.
Kedua kaki Gintani tak mampu menopang lagi tubuhnya. Seketika dia luruh, jatuh ke lantai.
Jessica segera menghambur ke arah Gintani dan memeluknya. "Kamu kuat, Gin. Kamu pasti kuat!" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Jessica.
Setelah beberapa menit berlalu, Mang Rakib akhirnya memgurus kepulangan jenazah Alex. Gintani menyerahkan nomor telepon Geisha dan meminta Jessica untuk menghubunginya dan mengatakan apa yang terjadi kepada Alex. Sementara itu, dia sendiri ikut duduk di dalam ambulan seraya memegang tangan Alex yang mulai semakin dingin.
Gintani tak mampu mengucapkan sepatah kata pun di hadapan tubuh yang telah terbujur kaku itu. Isak tangisnya mulai mereda, tetapi hatinya masih menjerit mengenang semua pengorbanan Alex. Dia mulai menjatuhkan tubuhnya di sebelah jenazah Alex. Sepanjang perjalanan, Gintani terus memeluk jenazah suaminya.
🍀🍀🍀
Dua hari telah berlalu setelah kematian Alex. Geisha sendiri telah mengikhlaskan kepergian kakaknya. Dia tidak keberatan jika kakaknya harus di makamkan di tempat Gintani, berdampingan dengan kakek Wira.
Dari Geisha juga Gintani tahu jika ternyata, selama dua tahun terakhir ini Alex menderita penyakit kanker otak. Hati Gintani semakin perih mengenang semua kebaikan laki-laki yang telah terkubur di hadapannya.
"Terima kasih, Bang! Terima kasih karena Abang selalu menjadi pahlawan bagi Gintan. Abang tidak usah cemas, Gintan pasti bisa mengurus diri Gintan dan Putri. Mungkin, ini sudah takdir Gintan, dan Gintan harus ikhlas menerimanya. Seperti Gintan iklas melepaskan kepergian Abang, agar Abang tenang di sisi-Nya. Gintan tidak akan pernah melupakan Abang. Gintan pergi dulu, ya, Bang! Besok Gintan kembali lagi ke sini," ucap Gintani membelai lembut pusara suaminya.
Temaram senja mulai datang, Gintani melangkahkan kakinya keluar dari tempat pemakaman dua orang yang teramat dia sayangi. Sebelum pulang, dia menyempatkan diri untuk berziarah ke makam kakeknya.
"Kakek tahu, akhir takdir Gintani tidak pernah indah seperti apa yang pernah kakek bilang pada Gintan. Tapi Gintan masih percaya jika takdir buruk adalah sebuah takdir indah yang tertunda. Gintan yakin, di saat yang tepat, takdir indah itu akan menyapa kehidupan Gintan. Di saat Putri bahagia, di saat itu pulalah Gintan bisa merasakan jika takdir itu indah. Gintan hanya bisa berharap dan berdoa, jika Putri tidak akan pernah merasakan semua kegetiran dari setiap takdir yang menghampirinya. Gintan rindu kakek."
Tiba di batas pemakaman, Gintani kembali membalikkan badannya.
Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untuk kalian, duhai para pahlawanku.
Tamat
Terima kasih untuk para readers dan teman-teman author yang sudah dengan setia membaca karya recehan othor yang kedua ini. Mohon maaf atas segala kekurangan othor dalam membuat karya ini.
Nantikan kisah Gintani selanjutnya dalam sequel Takdir Gintani yang berjudul Aku yang Tak Diakui
Bocah kecil itu berdiri di atas rooftop gedung APA Architecture. Matanya menatap nyalang hamparan kota yang berada di bawahnya. Dia seolah-olah berkata ; 'tanpa siapa pun, aku bisa berdiri kokoh di atas bumi'.
Di atas langit masih ada langit. Dan dia ingin membuktikan jika dialah langit itu.
Tahun demi tahun berlalu. Sekarang pun dia masih berdiri di atas rooftop. Wajahnya menengadah, kedua tangannya terbuka lebar. "Hari ini aku buktikan padamu, wahai Dunia Fana, bahwa aku yang tidak diharapkan, masih mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Aku tak butuh kamu, ayah. Karena aku masih memiliki Tuhan!"
Teriakan pemuda itu terdengar lantang, selantang auman sang raja hutan di singgasana belantaranya. Lalu, siapakah pemuda itu? Kenapa tekadnya menantang dunia, begitu kuat? Alasan apa yang membuat dia begitu membenci sang ayah?
Oh iya, nih. Othor juga punya karya baru yang beberapa hari yang lalu baru menetas di aplikasi membaca online kesayangan kalian. Jika ada yang masih berkenan membaca karya recehan othor yang ketiga, silakan boleh dikunjungi, yaaa!
__ADS_1
Byee.... Sampai jumpa di karya berikutnya...