Takdir Gintani

Takdir Gintani
Sepi


__ADS_3

Argha menatap nanar kedua mobil sahabatnya yang terus melaju menembus jalanan ibukota. Dengan langkah gontai, dia pergi ke tempat parkir. Argha membuka pintu mobilnya. Setelah dia masuk, dia pun menutup pintu mobil dengan sangat kasar. Argha menyandarkan punggungnya, kemudian memejamkan mata. Terbayang kembali semua tatapan kecewa istrinya. Ya Tuhan...entah berapa banyak luka yang aku tanamkan untuknya? batin Argha. Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, akhirnya Argha melajukan mobilnya.


🍀🍀🍀


Tiba di rumah, Jessica segera meminta asisten rumah tangganya untuk membersihkan kamar tamu yang dulu pernah ditempati Gintani. Sambil menunggu, Jessica membawa tamunya untuk duduk di ruang keluarga.


"Kak, apa kakak ipar akan lama tinggal di sini?" tanya Nadhifa.


Gintani hanya diam. Dia sendiri tidak tahu harus sampai kapan dia terus menghindar dari Argha. Hatinya memang terluka, namun tidak adil jika dia meninggalkan Argha tanpa memberikan kesempatan untuk bicara. Tapi, penjelasan apa lagi yang bisa dia dengar saat matanya telah melihat sebuah bentuk pengkhianatan dengan jelas.


"Ish...!" Gintani hanya meringis menahan rasa sakit di kepalanya. Semakin jauh dia berpikir, semakin hebat rasa sakit menyerang kepalanya.


"Sudahlah, Fa! Tidak perlu ditanyakan lagi. Biarkan Gintani menenangkan hatinya dulu di sini," ucap Jessica.


"Aku pikir, Apa yang dikatakan Jessica ada benarnya juga, Fa," timpal Bram.


"Tapi kakak ipar tidak bisa selamanya sembunyi dari kenyataan. Dia tidak bisa mengabaikan sebuah permasalahan dalam rumah tangganya."


"Permisi...! Kamarnya sudah siap, Non." Ucapan asisten rumah tangga Jessica, menjeda obrolan mereka.


"Aku ke kamar dulu, mau istirahat!" pamit Gintani.


"Aku antar Gin!" ujar Jessica.


"Tapi kakak ipar, kita belum selesai bicara," sela Nadhifa.


"Kita bicara besok saja, Fa!" jawab Gintani.


"Ish...!" Nadhifa hanya melipat kedua tangannya di depan dada seraya menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. Sedangkan Gintani terus melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.


"Sudahlah Fa, tidak usah dipaksakan!" ucap Bram.


"Tapi kak, ini tidak baik bagi hubungan mereka."


"Aku ngerti..., tapi biarkan dia membangun kekuatannya dulu. Masih mending Argha memberikan alasan yang masuk akal tentang menghilangnya dia beberapa hari yang lalu. Lah kalau alasannya terkesan dibuat-buat? Atau ada alasan lain yang bikin dia sakit hati lagi, apa nggak bakalan rapuh tuh, perasaan Gintani mendengarnya?" jawab Bram.


"Apa yang dikatakan Bram, itu semuanya benar, Fa. Setegar-tegarnya karang di tepi lautan, tapi semuanya akan terkikis jika terus dihantam ombak," timpal Alex. "Begitu juga dengan Gintani. Kita semua tahu jika Gintani orang yang sangat sabar dan tegar. Tapi apa kadarnya masih tetap akan sama, jika dia terus-terusan mendapatkan kekecewaan dari kakak kamu?" Tanya Alex.

__ADS_1


"Dia juga seorang wanita, Fa. Sama seperti kamu. Dan aku rasa, di dunia ini, tidak akan ada wanita yang hanya bisa pasrah ketika suaminya berkhianat. Jujur aku memang tidak tahu apa pun tentang kasus yang menimpa Argha saat ini. Tapi hilang tanpa kabar di saat istrinya sangat membutuhkan dia, itu sudah menjadi satu kesalahan fatal. Terlebih lagi, saat istrinya tahu jika dia menghilang demi gadis itu, yang nota bene adalah mantan pacarnya. Coba kamu tempatkan posisi kamu di posisi Gintani! Apa yang akan kamu lakukan, Fa?" tanya Alex lagi.


Nadhifa terdiam. Terluka! Tentu saja dia pun akan merasa terluka jika dia berada dalam posisi Gintani. Tapi jujur saja, Nadhifa tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa ikatan rumah tangga kakaknya. Bantu mereka menyelesaikan masalahnya, Tuhan. Aku tidak menginginkan mereka berpisah. Nadhifa memanjatkan do'a keselamatan bagi rumah tangga kakaknya dalam hati.


.


.


.


Di dalam kamar. Gintani masih asyik menatap kebun belakang dari balik jendela kamar. Hatinya bergumam tentang satu puisi yang dia rangkai untuk suaminya.


Harusnya tak pernah datang jika akan membawa kecewa.


Harusnya tak pernah pergi jika untuk ditangisi.


Harusnya tak pernah bersuara jika untuk membawa luka.


Harusnya tak usah berlalu jika untuk membuat rindu.


Harusnya tak pernah bermimpi jika untuk menepi.


Sungguh!


Harusnya kau tak pernah hadir jika untuk merenggut semua kenyamanan yang telah kujalani.


Gintani menghela napasnya sejenak. Sejurus kemudian dia mengayunkan langkahnya menuju ranjang. Gintani kembali merebahkan dirinya di ranjang untuk merehatkan tubuh dan pikirannya.


🍀🍀🍀


Brak!


Argha membanting pintu kamarnya dengan keras.


Prank!


Dia kemudian melemparkan ponselnya ke cermin rias hingga ponsel dan cermin itu hancur seketika.

__ADS_1


"Argghhh! Brengsek! Brengsek!" umpat Argha menggelegar di kamar itu.


Brugh!


Brugh!


Brugh!


Berulang kali Argha memukul dinding kamarnya hingga dinding berwarna abu itu ternoda oleh darah dari punggung tangannya.


Argha mengacak rambutnya dengan kasar. Puas memberantakan kamarnya, dia mulai luruh menangis di sudut ruangan. Sesak mulai menghimpit dadanya. Rasa sesal mulai menyelimuti hatinya. Dia pun mulai berandai-andai.


Seandainya aku tidak menghiraukan pesan itu? Seandainya aku bisa menolak permintaan Na? Seandainya aku mampu bersikap tegas terhadap hubunganku?


Seandainya...? Seandainya...dan seandainya-seandainya yang lain terus berdengung di pikiran Argha. Letih akhirnya membuat Argha terkulai lemah tak berdaya di tempat itu.


.


.


.


Menjelang magrib, Argha mengerjapkan matanya. Dia mengayunkan langkah kakinya menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia pun mulai asyik menghangatkan tubuhnya dalam rendaman air hangat di bathtub. Selang setengah jam kemudian, air di dalam bathtub mulai terasa dingin. Argha mengerjapkan matanya. Dia kemudian turun dan berjalan ke bilik bersekatkan kaca bening. Argha menyalakan kran. Air shower pun mulai turun menghujani tubuh kekarnya. Puas membersihkan badan. Argha melirik hunger, dia baru sadar jika dia tidak membawa handuk.


"Gin! Gin!" teriak Argha."Tolong handuknya!" pinta Argha seraya terus berteriak.


Argha menunggu beberapa saat sambil mengusap air di seluruh badan oleh kedua tangannya.


"Gin! Aku kedinginan nih! Handuknya dong, Yang!" Argha kembali berteriak memanggil istrinya.


Namun tak ada jawaban apa pun dari dalam kamar. Argha menarik napasnya panjang. Dia baru ingat jika Gintani sedang tidak ada di apartemen. Akhirnya, Argha keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Setelah membereskan kamarnya yang seperti kapal pecah. Argha keluar menuju dapur. Dia membuka lemari bahan makanan dan mengeluarkan sebungkus mie instan. Beberapa menit kemudian, mie instan telah siap untuk di santap. Sejenak, Argha menatap kursi yang sering diduduki istrinya saat sedang makan. Bayangan senyum dan gelak tawa sang istri mulai menari-nari di kedua pelupuk matanya. Sepi...! Semuanya terasa sepi tanpa kehadiran kamu, Gin, batin Argha.


Argha meletakkan sendoknya dengan kasar. Sejurus kemudian, dia kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu, Argha menyambar kunci mobilnya.


"Aku akan membawamu pulang, Gin!"

__ADS_1


Bersambung...


Mohon maaf jika telat up ya...! Maklumlah, akhir-akhir ini, author sedang banyak kerjaan di sekolah. Tapi demi kalian para readers yang masih setia mendukung karya ini, insya Allah author akan membagi waktu agar tidak bolong up-nya. Makasih yaaa.... 🤗🙏


__ADS_2