
Pak jamal sangat terkejut mendengar ucapan Tuan Jaya.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Pak Jamal.
"Entahlah, Saya sendiri tidak mengerti kenapa bisa terjadi. Ayo, kita harus segera menemui Hanzel!" ajak Tuan Jaya.
Pak Jamal mengangguk. Dia kemudian segera membuka lift khusus yang tersambung ke tempat parkir.
Dalam perjalanan menuju rumah Tuan Hanzel, Tuan Jaya menghubungi Argha dan menyuruhnya untuk segera pergi ke rumah Tuan Hanzel. Satu jam kemudian, Tuan Jaya tiba di rumah sahabatnya.
Rumah besar itu tampak sepi setelah kepergian dokter Richard. Tuan Hanzel tampak sedang berkemas begitu Tuan Jaya tiba di rumahnya.
"Jadi pergi, Han?" tanya Tuan Jaya.
Tuan Hanzel melirik sahabatnya. "Tidak ada yang bisa aku pertahankan untuk tinggal di sini, Jay," jawab Tuan Hanzel.
"Hhhh, aku tahu, dan aku tak bisa berkata apa-apa. Aku menghormati semua keputusan kamu, Han. Aku harap, itu yang terbaik untuk kamu," jawab Tuan Jaya yang sudah menyerah membujuk sahabatnya.
"Terima kasih, Jay," ucap Tuan Hanzel. "Ngomong-ngomong, kabar apa yang akan kamu sampaikan, Jay?" tanya Tuan Jaya.
"Sepertinya kita akanβ"
"Assalamu'alaikum!"
Ucapan Tuan Jaya terputus saat mendengar salam dari Argha.
"Wa'alaikumsalam, masuk Nak!" perintah Tuan Hanzel.
Argha memasuki ruang keluarga dan duduk di samping ayahnya.
"Apa kabar, Dad?" tanya Argha sambil menyalami Tuan Hanzel.
"Kabar baik. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu?" Tuan Hanzel balik bertanya.
"Baik, Dad," jawab Argha.
"Gintani, apa kabar?" Tuan Hanzel menanyakan kabar istrinya Argha.
"Alhamdulillah, Gintani juga baik," jawab Argha.
"Hmm, syukurlah," ucap Tuan Hanzel. "Ngomong-ngomong, apa yang akan kamu sampaikan, Jay?" sambung Tuan Hanzel.
Tuan jaya menarik napasnya sejenak. Dia menatap anak dan juga sahabatnya silih berganti.
"Begini, Han, Ar ... sepertinya kita akan menemui kesulitan untuk mendapatkan pelaku tabrak lari yang telah menewaskan Richard," ucap Tuan Jaya, nada suaranya terdengar sangat sedih.
__ADS_1
"Maksud Papa?" tanya Argha terkejut sekaligus heran mendengar ucapan ayahnya.
"Tadi pihak kepolisian menelepon Papa. Mereka bilang jika bukti rekaman CCTV yang berada di rumah sakit telah diambil oleh pihak kepolisian lain." Tuan Jaya menjelaskan alasan dari kemungkinan yang sedang dia pikirkan.
"Tunggu, apa maksudnya ini? Pihak kepolisian yang mana?" Argha semakin tidak mengerti dengan ucapan ayahnya.
"Papa sendiri tidak tahu, Ar. Mereka tidak mengatakan secara detail. Tadi siang mereka pergi ke rumah sakit untuk mengambil rekaman CCTV, akan tetapi dua orang yang mengaku dari pihak kepolisian telah mengelabui rumah sakit dan membawa barang bukti itu bersamanya." Tuan Jaya mencoba menjelaskan kepada putranya.
"Shitt!" Argha memukul pelan pinggir sofa. Dia benar-benar marah dan merasa seseorang sedang mempermainkannya. "Apa mungkin mereka adalah suruhan si pelaku tabrak lari itu?" tanya Argha.
"Ya, mungkin saja," jawab Tuan Jaya.
"Berarti, sudah bisa dipastikan kalau si pelaku adalah orang yang memiliki pengaruh cukup kuat di kota ini." Tuan Hanzel yang sedari tadi diam, akhirnya turut angkat bicara.
"Ya, Daddy benar. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin, 'kan, kita menghentikan semua laporan kita?" tanya Argha merasa ragu atas apa yang harus dia lakukan ke depannya.
"Tentu saja tidak, Ar! Papa akan meminta kepolisian untuk terus mengusut kasus ini. Di samping itu, Papa juga akan menyewa detektif swasta agar menyelidiki kasus ini," jawab Tuan Jaya.
"Ide yang bagus, Pa! Argha setuju dengan rencana Papa. Kita tidak boleh membiarkan pelakunya hidup bebas berkeliaran," jawab Argha.
"Hmm, kamu benar, Ar. Oh iya, Han ... bagaimana dengan pembangunan rumah sakit internasional kita. Apa masih akan terus dilanjutkan?" tanya Tuan Jaya kepada Tuan Hanzel.
Untuk sejenak, Tuan Hanzel menghela napasnya. "Ini adalah impian Richard, Jay. Tidak ada alasan bagiku untuk menghentikannya," jawab Tuan Hanzel.
"Lalu, bagaimana dengan proses pemantauannya?" tanya Tuan Jaya lagi.
Argha dan ayahnya saling tatap. "Baiklah, kami akan usahakan untuk tidak mengecewakan kamu dan almarhum Richard," ucap Tuan Jaya.
"Dad, untuk menghormati almarhum atas semua dedikasinya di dunia kesehatan, bagaimana kalau kita menamai rumah sakit ini dengan nama Richard International Hospital?" tanya Argha.
Tuan Hanzel sedikit mengerutkan keningnya. "Apa itu tidak berlebihan, Nak?" tanya Tuan Hanzel.
"Tentu saja tidak, Dad. Ini hanya untuk. mengenang abang saja, agar semua orang tetap mengingat beliau," ucap Argha.
"Daddy terserah kamu saja, Nak!" jawab Tuan Hanzel.
πππ
Nando yang merasa terdesak akhirnya dengan terpaksa menerima tawaran Ilona. Meskipun hatinya menolak, tapi Nando tak punya pilihan lain. Sekarang, dia hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya agar rencana itu bisa berjalan mulus.
Drrt.... Drrt...
Getaran ponsel di saku jaketnya memaksa Nando meminggirkan kendaraannya. Nando pun menghentikan laju motornya. Dia kemudian merogoh saku jaketnya. "Kevin?" gumam Nando. Sejurus kemudian, Nando mengangkat ponselnya.
"Ya, Bro!" sapa Nando.
__ADS_1
"Lo sibuk hari ini?" tanya Kevin.
"Tidak, kenapa?" Nando malah balik bertanya.
"Gue mau bikin konten terakhir sama kakak ipar. Seperti biasa, kameramen gue lagi ada urusan lain. Lo bisa, 'kan, gantiin dia?" tanya Kevin.
"Boleh. Kapan pembuatan kontennya?" tanya Nando.
"Mungkin lusa. Nunggu kondisi kakak ipar membaik dulu," jawab Kevin.
"Apa dia sakit?" tanya Nando.
"Tidak. Dia hanya sedang mengalami sedikit masalah saja," jawab Kevin.
"Baiklah. Kabari saja jika semuanya sudah siap," ucap Nando.
"Oke. Kalau gitu gue tutup dulu teleponnya bro!"
"Oke."
Nando kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket beberapa detik setelah Kevin menutup teleponnya.
"Mungkin, sebentar lagi waktunya akan tiba," gumam Nando
Nando kembali menyalakan mesin motor. Namun saat dia hendak melajukannya, getaran ponsel kembali menghentikan pergerakan Nando.
Nando merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel. Sesaat keningnya berkerut saat mendapati nama Celine di layar ponselnya. "Ish, ada apa dia menelpon aku?" gumam Nando. Dia kemudian mengangkat teleponnya.
Belum sempat Nando berbicara, si pemilik suara di ujung telepon telah berteriak-teriak memakinya.
"Nan! Lo itu bisa nggak sih, kerja? Ini sudah lebih dari dua minggu, dan lo sama sekali nggak pernah ngasih gue kabar baik. Apa lo nggak tahu kalo temen gua marah-marah terus sama gua?" tanya Celine.
Nando menghela napasnya.
"Kalian bisa sabar, nggak? Apa kalian pikir ini rencana yang sangat mudah? Dengar, kita harus merencanakan semua ini dengan matang, supaya hasilnya juga jelas," jawab Nando.
"Terserah! Yang jelas, temen gue nggak mau lo ngulur waktu lagi. Paham!"
Tut.. Tut.. Tut..
Sambungan telepon terputus begitu saja. Nando hanya mendengus kesal mendengar tekanan dari mantan kekasihnya itu.
"Huh, menyebalkan!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa ππ€