
Argha tersenyum senang mendapatkan notifikasi pesan whatsapp dari Gintani. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Gintani meminta bertemu dengannya. Mungkin ini adalah awal yang cukup baik, pikir Argha.
Argha kembali menyimpan ponselnya. Setelah itu, dia berbaring dan menarik selimut hingga menutupi dadanya. Cuaca malam ini begitu dingin, berbanding terbalik dengan hatinya yang terasa hangat karena pesan dari wanita yang dicintainya.
Rasa kantuk pun mulai menyerang Argha. Akhirnya Argha terlelap dengan membawa senyum kebahagiaan. Berharap jika dia bisa memimpikan wanita cantik berhijab itu.
Keesokan harinya, Argha bangun lebih awal dari biasanya. Setelah menunaikan solat subuh, dia berencana untuk berolah raga mengelilingi perkampungan. Rasa senang semalam, masih terlihat jelas di raut wajahnya. Membuat Enin Ifah mengernyitkan kening keriputnya.
"Mau ke mana kamu, Di?" tanya Nin Ifah.
"Adi mau jogging dulu, Nin," jawab Argha.
"Tumben ... biasanya habis solat tidur lagi," ledek Nin Ifah.
Argha hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Setelah berpamitan, dia mulai berlari mengelilingi perkampungan.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di lain tempat. Tampak Gintani sedang mematut dirinya di depan cermin meja rias. Sesekali, dia mengusap wajahnya yang terlihat pucat. Ya! Sudah lama Gintani tidak pernah memoles diri. Entah kenapa, janji temu yang semalam dia sampaikan kepada Argha, membuat dia mencemaskan penampilannya.
Layaknya seorang anak remaja, Gintani tersenyum imut membayangkan pertemuan mereka yang akan terjadi beberapa jam lagi. Tidak bisa dia pungkiri, jika dia masih memiliki rasa itu untuk Argha. Terlebih lagi saat mengingat kebaikan Argha di masa kecil. Tiba-tiba saja membuat Gintani merindukannya.
Baiklah, Mas. Kita akan bertemu sebagai Adi dan Na. Aku harap kita bisa melepaskan ego kita masing-masing demi anak kita. Besok, kita bertemu di bukit itu.
Begitulah kira-kira pesan yang Gintani kirim semalam.
.
.
.
Selepas solat dzuhur, Gintani pergi ke bukit itu dengan menggunakan ojek online. Tiba di sana, tampak Argha sedang memandangi pohon akasia. Gintani mendekatinya.
"Sudah lama?" tanya Gintani bersikap dingin. Masih mempertahankan rasa gengsinya untuk bersikap baik kepada Argha.
"Nggak juga, mungkin sekitar ... 10 menit," jawab Argha," melirik jam di tangannya.
Gintani menatap tulisan yang sudah terlihat buram itu. "Aku tidak pernah menyangka jika tulisan ini masih bisa dibaca," ucap Gintani.
"Kamu benar. Padahal sudah bertahun-tahun," jawab Argha. "Jadi, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memberikan aku kesempatan?" tanya Argha lagi.
__ADS_1
Aku-kamu, sebenarnya Argha merasa risih dengan panggilan itu. Tapi, demi menjaga perasaan Gintani, Argha mencoba mengikuti alur yang telah Gintani buat.
"Demi Putri, aku mau kembali rujuk denganmu. Tapi dengan satu syarat," ucap Gintani.
Mata Argha berbinar seketika. Tentu saja, bukankah selama ini kata rujuk selalu dia harapkan?
"Apa pun persyaratan kamu, pasti akan aku ikuti," jawab Argha, yakin.
"Aku ingin, kita bukan hanya melafalkan niat rujuk. Tapi juga, aku ingin kamu menikahi aku lagi di depan penghulu," ucap Gintani, tegas.
Argha tersenyum. "Itu tidak menjadi masalah, Na. Aku pasti akan menikahi kamu di depan penghulu dan semua orang. Bila perlu, kita akan kembali menikah dan menggelar resepsi akbar di Jakarta," ucap Argha, bangga.
"Itu tidak perlu. Aku ingin menikah di rumah kakek dengan disaksikan orang-orang terdekatku," jawab Gintani.
"Tentu saja. Apa pun yang kamu inginkan, tentu saja akan aku penuhi. Jadi, kapan kita bisa menikah ulang?" tanya Argha.
"Lusa. Hari ini aku akan pulang ke kampung halaman. Aku akan meminta mang Rakib dan bik Susan untuk mengurusnya," ucap Gintani.
"Aku antar, Na!" Argha menawarkan diri untuk mengantar Gintani.
"Tidak perlu, aku sudah minta bang Alex untuk mengantar kami," jawab Gintani.
Untuk beberapa saat mereka diam dalam pemikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Gintani melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Kamu ngomong apa sih, Na? Bagaimana mungkin aku mengecewakan darah dagingku sendiri," jawab Argha.
Gintani tersenyum tipis. Setelah itu dia berpamitan untuk pulang. Argha menawarkan diri untuk mengantar Gintani pulang, tapi Gintani menolaknya.
.
.
.
Pukul dua lewat, dengan diantar oleh Alex, Gintani pulang ke kampung halamannya. Mina ikut serta bersama mereka untuk menjaga Putri. Bagaimanapun juga, Putri tidak pernah bisa lepas dari pengasuhnya itu. Menjelang tengah malam, mereka tiba di rumah kakek Wira.
Bik Susan menangis haru melihat kedatangan Gintani dan putrinya. Ini merupakan pertemuan pertama setelah hampir 6 tahun bik Susan harap-harap cemas menanti kabar tentang anak majikannya itu. Setelah selesai acara melepas rindu, bik Susan mempersilakan tamu-tamunya untuk beristirahat.
Tidak butuh waktu lama untuk menidurkan Putri di kamar. Setelah melihat anaknya terlelap, Gintani kembali keluar. Dia berjalan ke arah kamar bik Susan.
"Mang! Bik! Apa boleh kita bicara sebentar?" tanya Gintani sambil mengetuk pintu kamar bik Susan.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, tampak mang Rakib dan bik Susan berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Neng?" tanya bik Susan.
"Gintan mau ngomong sesuatu sama kalian. Penting, Bik!" ucap Gintani.
"Ya sudah, kalau begitu, mari kita pergi ke ruang keluarga!" ajak mang Rakib.
Mereka mengangguk, kemudian pergi ke ruang keluarga.
"Mau bicara apa, Neng?" tanya mang Rakib begitu mereka duduk di kursi ruangan itu.
"Gintan mau rujuk sama mas Argha," ucap Gintani.
Mang Rakib dan bik Susan tampak terkejut.
"Jadi, Neng sudah ketemu sama den Argha?" tanya bik Susan.
Gintani mengangguk.
"Lalu, Neng Kecil?" tanya bik Susan lagi.
"Argha sudah mengetahui keberadaan Putri. Karena itu, kami memutuskan rujuk demi Putri juga," ucap Gintani.
Mang Rakib menghela napasnya. "Kalau Mamang, sih, terserah kalian saja. Toh kalian yang menjalani. Jika memang ini yang terbaik buat putri kalian, Mamang pasti menyetujui keputusan Neng Gintan," ucap mang Rakib.
"Terima kasih, Mang. Tapi, Gintan butuh bantuan Mang Rakib dan Bik Susan," ucap Gintani.
"Katakan saja, Neng. Kalau memang kami bisa melakukannya, maka kami akan melakukan semaksimal mungkin," ucap mang Rakib.
"Gintani ingin menikah ulang dengan mas Argha. Karena itu, Gintani butuh penghulu dan juga beberapa orang sesepuh yang bisa dijadikan saksi dalam mengucap ulang ijab qabul. Bisakah Mamang mengundang penghulu, Ustadz Hasan dan juga Kyai Solihin untuk menghadiri pernikahan Gintan?" Pinta Gintani.
Bik Susan tersenyum seraya mengusap lembut rambut Gintani. "Tentu saja, Neng. Kami bisa melakukan itu. Biar kami urus semua persiapan pernikahan Neng dengan den Argha," ucap bik Susan.
"Terima kasih, Bik," jawab Gintani.
"Ya sudah, ini sudah malam. Sebaiknya Neng istirahat dulu," ucap bik Susan.
Gintani mengangguk. Setelah berpamitan, dia kemudian kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏