Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kamu Bodoh!


__ADS_3

"Apa maksud Anda?" tanya Tuan Hanzel yang tubuhnya mulai merasa lemas.


"Kami tidak berhasil menyelamatkan nyawa putra Anda." Dokter paruh baya itu menjawab pertanyaan Tuan Hanzel dengan penuh penyesalan.


"Oh my God!" gumam Tuan Hanzel.


"Tidaaak!" Gintani menjerit, sejurus kemudian dia pun tidak sadarkan diri.


Argha terkejut. Dan dia bertambah terkejut ketika Gintani jatuh tak sadarkan diri di pangkuannya.


"Gin! Gintan Sayang! Bangun, Gin!" ucap Argha menepuk pelan pipi istrinya. Namun Gintani masih tidak bereaksi.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," gumam Tuan Jaya dan Pak Jamal bersamaan.


"Mal! Cepat hubungi Bramantyo. Suruh dia mengirimkan beberapa orang karyawan untuk membereskan rumah Tuan Hanzel," perintah Tuan Jaya pada asistennya.


Pak Jamal mengangguk. Sejurus kemudian, dia pergi mencari tempat sepi untuk menghubungi anaknya. Sementara itu, Tuan Jaya mengikuti Tuan Hanzel yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam ruang operasi.


Ke-Kenapa Nak? Kenapa kamu tega meninggalkan Daddy sendirian di dunia ini?" ucap Tuan Hanzel meratapi kepergian putra semata wayangnya. "Kamu sudah tidak sayang Daddy lagi? Mana janji kamu sama mommy. Kamu bilang kamu akan menjaga Daddy sampai ajak menjemput Daddy. Tapi kenapa malah kamu yang duluan pergi? Kenapa justru malah kamu yang meninggalkan Daddy? Apa salah Daddy sama kamu? Kenapa kamu tega membiarkan Daddy hidup sebatang kara di dunia ini? Kenapa, Nak?" Tuan Hanzel terus meracau seraya memeluk anaknya.


Tuan Jaya mendekati sahabatnya. Dia pun mengusap pelan punggung Tuan Hanzel.


"Jodoh, kematian, kebahagiaan dan musibah itu Allah yang mengaturnya. Kita sebagai umatNya hanya mampu menjalankan takdir yang sudah digariskan pada hidup kita. Bersabarlah, Han!" ucap Tuan Jaya mencoba menenangkan sahabatnya.


"Aku tahu Jay. Tapi aku tidak pernah menyangka akan secepat ini. Seandainya aku bisa meminta, mungkin aku akan meminta Tuhan mengambil nyawaku dan menukarnya dengan kehidupan anakku. Dia masih sangat muda, Jay. Masa depannya masih panjang. Aku tidak sanggup, Jay! Aku tidak sanggup kehilangan putraku satu-satunya," ucap Tuan Hanzel kembali tersedu di hadapan jasad putranya.


"Aku paham!" Tuan Jaya menepuk-nepuk bahu sahabatnya. "Aku sangat memahami perasaanmu. Menangislah untuk saat ini, lepas itu, ikhlaskan!" Tuan Jaya mencoba terlihat kuat dan baik-baik saja. Meskipun hatinya menjerit melihat kenyataan anak sahabat yang telah dianggap putranya sendiri, kini telah terbaring kaku di hadapannya. Tanpa terasa, buliran air mata mulai menggenang di kedua sudut mata Tuan Jaya.


Sementara itu di kamar perawatan. Argha masih setia menunggui istrinya yang belum sadarkan diri. Padahal hatinya sudah sangat gundah karena ingin melihat jasad Richard. Kenapa kamu tidak bisa bertahan, bang? Kenapa? batin Argha mengepalkan jarinya.


Beberapa menit berlalu.

__ADS_1


"Kakak!" Sapaan Nadhifa membuat Argha mendongakkan kepalanya.


"Fa! Kamu di sini?" tanya Argha yang tak percaya akan kedatangan adiknya.


"Iya, Kakak. Tadi aku bagi tugas sama kak Bram. Aku pergi ke rumah sakit untuk bantuin kakak dan kakak ipar. Sedangkan kak Bram pergi ke rumahnya daddy Hanzel untuk mempersiapkan pemulangan jasad kak Richard." Nadhifa menjelaskan kedatangannya.


"Oh, ya sudah. Kakak boleh minta tolong, Fa?" tanya Argha.


"Iya. Mau minta tolong apa, Kak?" Nadhifa balik bertanya.


"Kakak titip kakak iparmu sebentar, kakak mau ke ruang operasi dulu, melihat keadaan di sana." Ujar argha menitipkan Gintani kepada adiknya.


"Iya, Kak. Boleh,kok," jawab Nadhifa.


Argha kemudian meninggalkan Gintani bersama Nadhifa. Dia pergi ke ruang operasi untuk melihat jenasah dokter Richard. Meskipun selama ini Argha selalu mengatakan jika dia sangat membenci dokter Richard. Namun jauh di lubuk hatinya, Argha sangat menghormati dan menyayangi dokter Richard.


Tiba di sana, Argha mendapati Tuan Hanzel tengah memeluk jenazah dokter Richard. Ada ayahnya juga yang dengan sabar berdiri di samping Tuan Hanzel.


"Dad, Pa!" panggil Argha kepada kedua orang tua itu.


Argha berjalan mendekati mereka.


"Kamu temani daddy Hanzel dulu, Papa akan pergi ke bagian administrasi untuk mengurusi kepulangan jenazah bang Richard," ucap Tuan Jaya.


"Iya, Pa," jawab Argha.


Tuan Jaya pun keluar untuk menemui bagian administrasi.


Argha menatap kosong pada jasad yang terlentang di hadapannya. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi saat melihat tubuh yang sudah terbaring kaku.


Aku benar-benar tidak pernah menyangka jika pertemuan kita akan sesingkat ini, bang. Kamu bahkan belum mendengar aku memaafkanmu. Tapi sejujurnya, aku nggak pernah benci sama kamu, bang. Aku sayang kamu. Dari dulu sampai sekarang, aku sangat menyayangi kamu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan istriku, meskipun untuk itu, kamu bahkan rela memberikan nyawa kamu sendiri. Aku menyesal bang, aku benar-benar menyesal. Maafkan aku, bang! Aku benar-benar minta maaf, batin Argha.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Ciiittt!


Mobil Ilona berhenti di pelataran tempat parkir apartemennya. Sejenak dia terpaku, memegang erat kemudinya. "Dasar laki-laki bodoh. Kenapa harus tiba-tiba muncul? Kenapa, hah? ****!" umpatnya sambil memukuli kemudi itu dengan kerasnya.


Bayangan dokter Richard yang terpental dan jatuh ke aspal kembali melintas dalam pikiran Ilona. Tiba-tiba Ilona menjerit.


"Tidak! Ini bukan salahku! Ini bukan salahku! Dia sendiri yang datang dan tiba-tiba berdiri di hadapanku. Dia yang salah! Dia yang salah! Aarggh!" teriak Ilona histeris.


Tok-tok-tok!


Hingga akhirnya ketukan di kaca jendela mobilnya menghentikan sikap Ilona. Ilona menekan tombol windows control


"Maaf Nona, apa ada masalah?" tanya penjaga keamanan di apartemen tempat dia tinggal.


"Ah, tidak apa-apa, Pak," jawab Ilona tersipu malu.


"Syukurlah. Maaf mengganggu, kalau begitu, saya pergi dulu. Permisi!" Setelah berpamitan, penjaga keamanan itu pergi dari hadapan Ilona.


Beberapa menit setelah kepergian penjaga keamanan di apartemennya, Ilona pun membuka pintu mobilnya. Bergegas dia pergi ke apartmennya. Ilona menekan password pintunya. setelah terbuka, Ilona segera memasuki apartemennya.


"Sudah pulang, Nona. Bagaimana hasil pemeriksaan hari ini?" Pertanyaan sang perawat pun tak digubrisnya untuk hari inim


Ilona ngeloyor begitu saja memasuki kamarnya. Dia kemudian mengunci pintu kamar dan segera pergi ke kamar mandi. Di sanalah akhirnya Ilona menumpahkan rasa yang ada. Dia menangis, dia menjerit sepuasnya. Dia meraih dan membuang semua pernak-pernik yang menempel di dinding kamar mandi.


Brak!


Dispenser sabun, shampoo, odol dan beberapa sikap gigi semuanya hancur berantakan.


Bodoh! Kamu Bodoh Rich! Aku sudah memperingatkan kamu untuk menjauh dari wanita terkutuk itu, tapi kamu malah mengabaikannya. Bukan aku yang salah, tapi kamu! Kamu yang salah! Kamu! Ilona jatuh terduduk. Emosinya telah terkuras habis hingga dia merasa lemas tak berdaya.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya


__ADS_2