Takdir Gintani

Takdir Gintani
Mencari Perhatian


__ADS_3

Setelah acara selesai, Argha mengajak mereka pergi ke sebuah restoran mewah untuk merayakan kemenangan Putri. Argha mengajak Gintani untuk ikut di mobilnya, tetapi Gintani menolak. Gintani malah menghampiri mobil Alex dan membuka pintunya. Argha hanya mendengus kesal. Namun, dia berusaha untuk bersikap sabar. Dibutuhkan ekstra sabar untuk menaklukkan kembali hati wanita itu.


"Ayo, Om! Kok malah bengong?" ucap Putri yang seketika menyadarkan Argha.


"Eh, iya. Ayo masuk, Nak!" jawab Argha sambil membuka pintu mobilnya.


Putri tersenyum, lantas dia segera masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama, Argha menyalakan mesin mobilnya dan mobil pun meluncur keluar dari tempat parkiran di sekolah Putri.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup mewah di kota itu. Putri turun dari mobil dengan wajah yang sangat ceria. Dia menarik-narik tangan Argha untuk segera memasuki restoran itu.


"Iya Sayang, sebentar!" ucap Argha yang masih ingin menunggu mobil Alex.


"Ayo Papa, Putri nggak sabar mau masuk dan pesan tempatnya. Eca bilang, perahu yang di tengah danau cuma ada tiga. Apa Papa tidak lihat mobil-mobil yang berjejer itu? Pengunjung restoran semakin banyak, nanti kita tidak kebagian tempat duduk di perahu," rengek Putri.


Argha tersenyum, bukan hanya baru kali ini dia mendengar rengekan manja anaknya. Namun, juga karena Putri akhirnya mau memanggilnya dirinya Papa.


"Kamu tenang saja, Nak. Papa sudah pesan tempat yang kamu inginkan itu. Jadi, seberapa banyaknya pengunjung restoran ini, tempat yang Putri mau tidak akan pernah mereka isi," jawab Argha.


"Benarkah? Kapan Papa memesan tempat itu?" tanya Putri.


"Ada deh ..." jawab Argha tersenyum dan mengajak Putri ke lobi restoran begitu melihat mobil Alex tiba.


Argha kembali tersenyum saat mengingat beberapa menit yang lalu dia mengirimkan pesan kepada si pemilik restoran untuk mengosongkan tempat yang putrinya inginkan. Ya Tuhan ... padahal setahun yang lalu, aku sering bolak-balik ke kota ini untuk membangun restoran yang begitu menarik perhatian anakku. Tapi kenapa waktu itu aku tidak bertemu dengan mereka? batin Argha.


Ya! Restoran MD adalah restoran hasil kerja sama antara Argha dengan teman masa kuliahnya yang bernama Mega. Mega seorang janda kembang yang memilih untuk kembali ke kampung halamannya setelah suaminya meninggal. Di sinilah dia membuka bisnis baru untuk memindahkan restoran miliknya yang berada di luar negeri. Mega meminta bantuan Argha untuk mendesain gedung restoran yang menurutnya unik dan berbeda dengan restoran yang pernah ada di kota ini. Argha sendiri tidak menyangka jika desain restoran yang dia buat ternyata menarik perhatian sang anak.


"Ayo jalannya lebih cepat lagi Papa, Putri ingin cepat-cepat duduk di perahu itu!" rajuk Putri membuyarkan lamunan Argha.


"Iya Sayang, iya," ucap Argha setengah berlari untuk mengimbangi langkah Putri yang tergesa-gesa berlari pula.


Tiba di restoran, mereka di sambut langsung oleh seorang wanita cantik bertubuh seksi dengan menggunakan pakaian yang serba kekurangan bahan.


"Hai, Argha!" sapa wanita itu.

__ADS_1


"Hai, Meg! Apa kabar?" Argha kembali menyapa sambil mengulurkan tangannya.


Bukannya menyambut uluran tangan Argha, wanita itu malah memeluk Argha sambil mencium pipi kiri dan kanan Argha.


Putri tertegun melihat perlakuan wanita itu terhadap orang yang mengaku papanya. Sedangkan tak jauh dari depan lobi, Gintani menatap geram melihat pemandangan di hadapannya.


"Dasar orang-orang tidak tahu malu. Tidakkah mereka melihat anak kecil yang tak pantas menyaksikan kelakuan mereka?" gumam Gintani yang masih bisa di dengar oleh Alex.


"Apa kamu cemburu?" Spontan Alex bertanya kepada Gintani.


"Gintan? Cemburu? Huh, yang benar saja ... rasa Gintan sudah mati untuk laki-laki itu. Gintan hanya tidak suka saja melihat mereka bersikap seperti itu di depan anak kecil. Apalagi anak itu anak kandungnya sendiri. Apa yang akan dipikirkan Putri tentang papa kandungnya nanti?" ucap Gintani.


"Bukankah itu lebih bagus. Biar Putri tahu seperti apa kelakuan papanya," ucap Alex, seraya pergi begitu saja.


Gintani tertegun mendengar ucapan Alex. Dia memang membenci Argha, tapi dia tidak ingin anaknya juga membenci papanya. Bagaimanapun juga, tidak ada yang namanya mantan anak ataupun mantan ayah.


Gintani segera menyusul Alex memasuki restoran itu. Tiba di sana Argha memperkenalkan Mega sebagai pemilik restoran sekaligus kawan karibnya.


Setelah berkenalan alakadarnya, Mega mengajak para tamunya ke tempat yang sudah dipesan Argha.


"Terima kasih loh, Ar. Desain yang kamu buat memang tak pernah ada duanya. Apa kamu tahu? Setiap pengunjung restoran ini selalu memuji desain interior hasil karya kamu. Mereka bilang desainnya sangat indah dan elegan," ucap Mega.


"Kamu terlalu memuji, Meg. Aku rasa, sama saja dengan desain arsitek yang lain juga," jawab Argha merendah.


"Ish, beda dong Ar," ucap wanita itu mendesah manja.


Gintani cukup terkejut jika interior yang sempat dia kagumi justru adalah hasil karya mantan suaminya. Huh, menyebalkan sekali, bisa tambah mengembang tuh, hidungnya kalau dia tahu aku memuji gaya arsitektur restoran ini, batin Gintani.


Tak berapa lama kemudian, makanan yang telah mereka pesan pun tiba. Mata Putri langsung berbinar melihat makanan-makanan aneh yang tersaji di atas meja. Selain interior bergaya Eropa, restoran ini juga terkenal dengan berbagai jenis makanan dari Eropa pula.


"Ya Tuhan, Meg ... seharusnya kamu juga menyajikan makanan-makanan ciri khas negara kita sendiri di restoran kamu ini," keluh Argha yang merasa bosan dengan makanan yang tersaji di atas meja.


"Tidak usah khawatir Honey, apa yang kamu inginkan, pasti akan segera terwujud," ucap Mega sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang membawa nampan yang berisi satu bakul nasi beserta lauk pauk dengan masakan khas Sunda.


Mata Argha membulat sempurna saat melihat satu piring oval yang berisikan balado ikan tongkol.


"Waah, balado ikat tongkol!" ucap Argha melebarkan senyumannya.


"Apa sih, yang tidak buat kamu, Ar." Kembali wanita itu berbicara dengan nada manja yang dibuat-buat.


Alex merinding mendengar perkataan mendayu wanita tersebut. Sedangkan Gintani hanya bisa menghela napasnya sambil menatap sinis ke arah Mega.


"Bagaimana kamu tahu kalau aku suka balado ikan tongkol?" tanya Argha sambil menyendok nasi dan makanan kesukaannya itu.


"Apa yang tidak aku tahu tentang kamu, Ar. Apa kamu tahu? Setiap hari aku selalu memperhatikan kamu makan siang di kantin kampus. Dan kamu paling sering meminta ibu kantin untuk menyediakan masakan tersebut," jawab Mega.


"Hahaha, kamu benar. Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka kalau kamu bisa memperhatikan aku sedetail itu," ucap Argha sambil mencicipi balado ikan tongkol yang disajikan Mega.


"Aku, 'kan pengagum rahasia kamu, Ar," kata Mega, menatap lembut wajah Argha.


Aha, dayung bersambut. Argha pun mendekati wajah Mega, dan menyentuh dagunya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang hal itu?" tanya Argha dengan nada yang sedikit menggoda.


"Itu karena perhatian kamu habis tersita oleh pacar kamu yang bernama Jessica," jawab Mega sedikit merajuk dengan wajah kesal.


"Uluh-uluh ... maafkan aku, Meg. Aku tidak sadar kalau sikap aku terhadap Jessica telah menyakiti perasaanmu." Kembali Argha mengatakan kalimat yang membuat Gintani meradang.


"Dasar laki-laki buaya," gumam pelan Gintani. Dia kemudian berdiri. "Maaf, aku permisi ke toilet dulu!" pamit Gintani dengan nada dingin.


"Ah iya, silakan!" jawab Mega.


Sudut mata Argha melirik ke arah Gintani. Terlihat dengan jelas raut kekesalan di wajah gadis berhijab itu. Upaya Argha untuk mencari perhatian wanita itu sepertinya berhasil.


Aku tahu kamu masih memiliki perasaan itu, Gin.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2