Takdir Gintani

Takdir Gintani
Hancur


__ADS_3

Dug... Dug... Dug....!


Argha menggedor keras pintu apartemen setelah beberapa kali dia memencet bel, namun tak ada jawaban.


"Na! Na! Apa kamu di dalam?" teriak Argha memanggil nama si pemilik apartemen.


Prang!


Brakkk!


Prang!


"Aargghh...! Hentikan, jangan lakukan itu! Tolong jangan sakiti saya!"


Terdengar teriakan memohon seorang wanita dari dalam apartemen.


Argha semakin kalap, dia kembali menggedor pintu apartemen.


Dugh... Dugh.. Dugh...!


"Na! Buka pintunya!" teriak Argha seraya terus menghantamkan tubuhnya untuk membuka paksa pintu apartemen.


Brugh!


Brugh!


Brugh!


Brakk!


Akhirnya, Argha berhasil mendobrak pintu apartemen Ilona. Argha terkejut melihat Ilona tengah duduk terkulai di sudut ruangan. Kedua pipinya terlihat merah seperti bekas tamparan. Tetesan darah berceceran di keramik berwarna putih itu.


"Hei, siapa kalian?" teriak Argha kepada kedua lelaki bertopeng yang sedang berdiri di depan Ilona.


"Dengar wanita laknat, nasibmu beruntung hari ini. Ingat, jika kamu macam-macam dengan Jessica, akan aku pastikan hidupmu akan hancur!" ancam lelaki itu seraya melemparkan pecahan kaca yang sedari tadi di pegangnya.


Argha hendak melayangkan pukulan kepada kedua orang lelaki yang tengah melintas di hadapannya.


"Jangan Kak!" Ilona menghentikan pergerakan Argha. Dia mulai berdiri. Dengan tertatih-tatih Ilona menghampiri Argha dan menjatuhkan diri dalam pelukan suami orang.

__ADS_1


"Na! Ilona!" Argha mengguncang pelan tubuh Ilona. Namun Ilona bergeming. Sepertinya dia tidak sadarkan diri. Argha memangku Ilona dan membawanya ke kamar. Tiba di sana, dia membaringkan Ilona di atas kasur. Sejurus kemudian, Argha merogoh saku jasnya. Dia hendak mengambil ponsel untuk menghubungi dokter pribadinya. Tapi nihil, entah kemana benda pipih berwarna abu miliknya itu.


"Shitt!" Argha mengumpat saat menyadari jika dia telah melempar benda pipih itu di jok samping. Karena merasa kesal tak bisa menghubungi nomor yang telah mengirimnya foto penyiksaan Ilona, Argha membanting ponselnya ke samping. Ia pun hanya bisa merutuki kebodohannya.


Argha meraih tisu di atas nakas, dia mulai menyeka darah di sudut bibir Ilona yang terluka.


Ilona mengerjapkan matanya, di kemudian bangun dan memeluk argha dengan erat. "Kakak...aku takut kak... Aku sangat takut... Hiks...hiks..., wa...waanita itu menyuruh orang untuk mencelakai aku.... Aku takut sekali kak..." isak Ilona dalam pelukan Argha.


"Sst...! Sudahlah, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Mereka sudah pergi," ucap Argha berusaha menenangkan Ilona.


Ilona mengangguk, namun dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya.


Argha mulai merasa risih dengan sikap Ilona. Terlebih lagi dia teringat akan Gintani yang telah menaruh kepercayaan penuh terhadap dirinya. "Na, tolong lepaskan pelukannya!" pinta Argha.


Ilona terkejut mendengar ucapan Argha. Hei, apa artinya ini? Kenapa dia berbicara seperti itu? Selama ini Kak Argha tidak pernah menolak jika aku peluk. Tidak...tidak...! Kak Argha tidak boleh berubah! Aku tidak akan membiarkan siapa pun merubah Kak Argha. Ilona malah mengencangkan pelukannya.


"Na, Kakak mohon...kita bukan muhrim. Lagipula, Kakak sudah menikah. Kakak tidak mau melukai perasaan istri Kakak. Tolong jangan seperti ini, Na!" pinta Argha, mencoba mengurai pelukan Ilona yang malah bertambah erat.


Ilona tampak bergeming mendengar ucapan Argha. Tidak! Bukan ini yang dia inginkan!


Aku kembali bukan untuk sebuah penolakan. Tidak...! Ini tidak boleh terjadi! jerit Ilona dalam hati.


"Ish...." Ilona meringis saat merasakan sakit di tangannya.


"Ma-maaf!" ucap Argha yang tanpa sadar menyentuh luka sayatan di lengan Ilona. "Kita ke rumah sakit, Na!" ajak Argha. Namun Ilona menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Kak! Ini hanya luka kecil saja," jawab Ilona, memegang tangannya.


"Di mana kotak obatnya? Biar aku obati!" Argha menawarkan diri untuk mengobati Ilona. Dia ingin segera kembali ke kantor.


"Di laci meja rias, Kak," jawab Ilona.


Argha membuka laci meja rias Ilona. Saat tangannya meraih kotak obat itu, tanpa sengaja, matanya menangkap selembar foto yang tergeletak di sana. Argha mengambil dan mengamatinya sejenak. "Kamu masih menyimpan foto ini, Na?" tanya Argha menunjukkan foto dirinya dan ilona.



"Iya, Kak. Apa Kakak masih ingat dengan foto itu?" tanya Ilona.


"Tentu saja, foto ini di ambil waktu kita terpisah dari tim gara-gara kamu ingin pergi membeli minuman, kan? Kamu itu ya, dasar adik kecil yang selalu merepotkan kakak kamu ini,hehehe...." Argha terkekeh seraya mengacak rambut Ilona. "Karena ulah kamu, kita sampai ketinggalan bus," lanjut Argha mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Apa aku hanya akan selalu menjadi adikmu, Kak?" tanya Ilona menatap Argha.


"Maafkan aku, Na! Kakak pernah membangun perasaan lebih padamu, tapi jujur...Kakak tidak mampu. Dan di saat Kakak ingin mencoba, kamu pergi begitu saja. Namun kepergian kamu justru menyadarkan Kakak jika perasaan Kakak tetaplah sama. Bagi Kakak, kamu hanyalah sahabat Kakak, Na. Sahabat terbaik Kakak."


"Apa Kakak...Kakak mencintai istri Kakak...?" tanya Ilona, menatap tajam Argha. Berharap jika Argha akan menjawab, tidak.


"Pertanyaan kamu konyol sekali, Na. Jika Kakak tidak mencintai Gintani, mana mungkin Kakak menikahi dia."


"Gi...Gintani?"


"Ya...namanya Gintania Nur'aeni. Wanita berhati lembut yang telah menghancurkan semua keegoisan Kakak. Kapan-kapan, Kakak akan mengenalkan kamu padanya. Dia pasti senang bisa mengenalmu, Na."


Ilona hanya tersenyum tipis melihat Argha begitu ceria menceritakan istrinya. Hatinya sakit melihat binar bahagia terpancar di mata yang selama ini dirindukannya. Ternyata, semuanya telah berubah.


"Seandainya saja aku mampu berkata jujur tentang kecelakaan itu, aku yakin Kakak tidak akan berpaling dan menikah dengan gadis lain," gumam Ilona yang masih bisa di dengar oleh Argha.


"Ini bukan tentang berandai-andai, Na. Tapi ini tentang takdir. Ada atau tidak adanya dirimu saat itu, semua itu tidak akan bisa menjamin Kakak untuk bisa menghindari takdir. Yang namanya jodoh itu urusan Allah. Dan Dia telah memberikan Kakak jodoh yang terbaik menurutNya. Sekuat apa pun Kakak menghindar, Kakak tidak akan pernah bisa. Seperti Adam dan Hawa, maka kami pun kembali dipertemukan setelah sekian lama berpisah. Kakak yakin, Tuhan juga telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kamu, Na."


Ilona diam. Hatinya benar-benar kecewa mendapati kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.


"Kakak obati ya, Na!" Argha mulai memberikan cairan antiseptik di lengan Ilona yang terluka.


"Apa kakak tidak ingin bertanya tentang mereka? Siapa mereka, dan kenapa mereka menyerang aku?"


"Na, siapa pun mereka, Kakak tidak mau tahu. Kakak memang mencemaskan keadaan kamu. Tapi Kakak tidak bisa membantumu terlalu jauh. Jika memang itu perbuatan Jessica, Kakak janji, Kakak akan menyuruh Jessica untuk menjauhi kamu."


"Tapi Kak, wanita jahat itu tidak akan pernah berhenti mengganggu Ilona. Dia membenci Ilona karena telah merebut Kakak darinya. Karena itu, dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk menyiksa Ilona."


"Untuk apa Jessica menyiksa kamu, Na? Jika dia memang merasa terganggu karena ada orang yang merebut cintanya, mungkin sudah dari dulu Jessica menyakiti Gintani. Tapi pada kenyataannya, Jessica sama sekali tidak pernah menyentuh Gintani. Jadi apa untungnya dia menyakiti kamu? Bukankah istri Kak Argha itu Gintani? Kalaupun dia mau merusak hubungan Kakak, sudah pasti dia akan mengganggu Gintani, bukan kamu!" jawab Argha panjang lebar.


Terlepas dari kejadian tadi, sungguh Argha tidak ingin mengungkitnya. Sekalipun Ilona menyalahkan Jessica atas penyerangan terhadap dirinya. Argha tidak mau tau.


Sakit...! Sungguh sangat menyakitkan. Hati Ilona hancur berkeping-keping mendengar penuturan Argha.


Bersambung...


Sore gengs....! Jangan lupa like, vote n komennya yaaaa....


Makasih

__ADS_1


__ADS_2