Takdir Gintani

Takdir Gintani
Aneh


__ADS_3

Gintani dan Jessica segera berlari mendekati Mang Diman. Tiba di sana, Gintani meraba kening Argha. Kecemasan tampak jelas di raut wajahnya.


"Bagaimana, Gin?" tanya Jessica yang sudah berdiri di samping Mang Diman.


"Panas, Mbak. Sepertinya, Mas Argha demam," jawab Gintani.


"Ya, sudah! Kita bawa ke rumah sakit, Gin. Mang, tolong pindahkan Argha ke kursi belakang!" pinta Jessica kepada Mang Diman.


Mang Diman mengangguk. Dia kembali mendekati kursi kemudi dan segera membantu Gintani memindahkan Argha ke kursi belakang.


Lepas itu, Jessica segera menduduki kursi kemudi. Sejurus kemudian, dia mulai melajukan mobil Argha menuju rumah sakit Harapan.


"Gin, ja-ngan pergi! Jangan tinggalin Mas! Mas mohon, Mas nggak mau pisah sama kamu! Gin...! Gin...!" panggil lirih Argha dalam igaunya.


Gintani menatap wajah pucat suaminya. Terbersit rasa iba di hati Gintani, terlebih lagi saat mendengar kata pisah.


Ya Tuhan, Mas...kenapa kamu mempunyai pikiran seperti itu? Bagaimana mungkin Gintan bisa meninggalkan separuh nyawa Gintan? batin Gintani seraya mengelus-elus wajah pucat suaminya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Jessica tiba lobi depan ruang UGD rumah sakit Harapan. Jessica segera keluar untuk mencari bantuan. Tak lama, dia datang bersama dua orang perawat laki-laki yang membawa brankar. Sejurus kemudian, kedua perawat itu segera memindahkan Argha ke atas brankar.


Tangan Argha yang mulai membiru, membuat kedua perawat itu melarikan Argha ke ruang ICU.


"Maaf, Bu! Sebaiknya, Ibu urus saja administrasinya terlebih dahulu. Biar kami yang membawa pasien ke kamar pemeriksaan," ucap salah seorang perawat kepada Gintani.


Gintani mengangguk, dia kemudian pergi ke ruang pendaftaran. Sedangkan Jessica, dia kembali melajukan mobilnya menuju tempat parkir.


"Gintan!" sapa dokter Richard yang kebetulan sedang berada di ruang pendaftaran.


"Do-dokter Richard," jawab Gintani.


"Kamu kenapa kemari? Apa luka di kepalamu kembali terasa sakit?" tanya dokter Richard.


Gintani menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya, bukan Gintan yang sakit, dok. Tapi Mas Argha," jawab Gintani.


"Argha? Kenapa? Ada apa dengannya?" tanya dokter Richard, terkejut.


"Sepertinya dia demam, dok. Se-semalaman di-dia mungkin kehujanan," jawab Gintani, terbata.


"Ya Tuhan...jangan-jangan, penyakit Argha kembali kambuh," gumam dokter Richard. "Di mana dia sekarang?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Di-dia dibawa perawat ke ruang ICU, dok."


Dokter Richard segera berlari.


"Tunggu, dok! Penyakit apa yang Anda maksud? Sebenarnya, Mas Argha punya penyakit apa?" teriak Gintani.


Namun dokter Richard tak mendengar perkataan Gintani. Dengan cepat, dia terus berlari menuju lift darurat yang akan segera membawanya ke ruang ICU.


Gintani hanya bisa menghela napasnya. Setelah itu, dia melanjutkan niatnya untuk mengurusi pendaftaran Argha sebagai salah satu pasien di rumah sakit Harapan.


"Bagaimana, Gin? Argha sudah ditangani?" ucap Jessica dengan napas tersengal. Setengah berlari, Jessica mencari keberadaan Gintani di lobi utama rumah sakit.


"Mas Argha sudah dibawa perawat ke ruang ICU. Ada dokter Richard juga yang tadi pergi untuk melihat keadaan Mas Argha. Gintan sedang urus pendaftarannya dulu. Ini sebentar lagi selesai," jawab Gintani panjang lebar.


"Ah, syukurlah!" Jessica sedikit membungkukkan badan untuk mengatur kembali napasnya.


Selesai mengurusi administrasi, Gintani dan Jessica pun segera pergi ke ruang ICU yang berada di lantai 3. Tiba di sana, mereka melihat dokter Richard yang hendak memasuki ruangan.


"Dok!" panggil Gintani.


Dokter Richard menghentikan langkahnya. Gintani dan Jessica segera berlari kecil menghampiri dokter Richard.


"Sebentar, ya, Gin! Saya periksa dulu. Tidak usah cemas. Argha pasti baik-baik saja. Saya yakin, kali ini dia pasti akan melewatinya kembali seperti biasanya. Berdo'a saja!" jawab dokter Richard seraya memasuki ruang ICU.


Gintani mengernyitkan keningnya. Dia semakin tidak mengerti dengan ucapan dokter Richard. Gintani menatap Jessica untuk meminta penjelasan. Mungkin saja Jessica mengetahui apa yang tidak Gintani ketahui. Bukankah Jessica mantan kekasih suaminya?


Namun Jessica hanya menggedikan kedua bahunya.


"Duduklah! Kita tunggu sampai dokter Richard selesai memeriksa Argha," ucap Jessica sambil menuntun Gintani ke kursi tunggu.


Gintani menurut. Dia duduk seraya menggigit ujung jari kelingkingnya.


"Gin, apa tidak sebaiknya kamu kabari keluarga Argha?" saran Jessica seraya menyerahkan ponselnya ke arah Gintani. Jessica tahu jika saat ini, Gintani tidak memegang alat komunikasi.


Gintani mengambil ponsel tersebut. Dia kemudian menghubungi ayah mertuanya. Gintani memberitahukan keberadaan Argha di rumah sakit. Setelah itu, dia menelepon Nadhifa dan Bram.


Sama dengan ayah mertuanya, Nadhifa dan Bram terdengar sangat panik saat Gintani memberi tahu tentang keadaan Argha. Tentu saja kepanikan mereka membuat Gintani semakin mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh dengan sikap keluarga Argha.


Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan kondisi suaminya? Adakah sesuatu hal yang tidak Gintani ketahui tentang diri suaminya?

__ADS_1


🍀🍀🍀


Di kediaman Celine Hadikusumah.


Ilona tampak meregangkan otot-ototnya setelah dia terbangun dari tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Semalaman dia terpaksa menceritakan tentang kecelakaan yang menimpanya, karena Celine terus mendesaknya untuk bercerita. Tanpa terasa malam semakin larut, hingga pukul dua dini hari, dia baru bisa memejamkan matanya.


Ilona melirik ke samping, sepertinya Celine sudah bangun lebih dulu. Terlihat jika keberadaannya sudah tak nampak di sisi Ilona.


Ilona segera turun dari ranjang. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, dia mulai turun setelah merapikan diri. Wajahnya kini terlihat segar. Jauh berbeda dari semalam saat dia datang ke rumah ini.


Nyonya Shella tampak tersenyum melihat ilona yang sudah berubah lebih fresh.


"Nyenyak tidurnya, Tik?" tanya Nyonya Shella yang sedang merapikan majalah-majalah Fashion, koleksi pribadinya.


"Nyenyak banget, Tan," jawab Ilona.


"Ya, sudah...! Sarapan dulu, gih!" perintah Nyonya Shella.


"Iya, Tan! Ngomong-ngomong, Celine kemana, Tan?" tanya Ilona yang merasa heran karena tidak melihat keberadaan Celine di rumah itu.


"Celine ikut papanya kerja. Semenjak dia lulus, dia menjadi sekretaris papanya. Ya, sekalian belajar, lah. Bukankah suatu hari nanti, perusahaan papanya akan jatuh juga ke tangan Celine?" jawab Nyonya Shella dengan bangganya.


Ilona tersenyum tipis. Beruntung sekali Celine, batin Ilona.


Ada rasa sakit terselip di hati Ilona saat dia mengingat kelicikan pamannya hingga perusahaan yang diwariskan sang ayah, hilang dari tangannya.


"Ayo, Tik! Sarapan dulu, sana! Mbok Inem sudah masak banyak buat nyambut kamu, loh!" tegur Nyonya Shella yang melihat Ilona sedang memandang kosong ke arahnya.


"Eh, i-iya, Tan!" Ilona terhenyak mendengar ucapan Nyonya Shella. Sejurus kemudian, dia membalikkan badannya untuk pergi ke ruang makan.


Deg!


Langkah Ilona terhenti saat tanpa sengaja, sudut matanya menangkap foto keluarga yang terpajang di dinding. Dadanya bergemuruh ketika dia menyadari salah satu orang yang dikenalnya.


Si-siapa dia? Kenapa fotonya bisa terpampang di sini?


Bersambung...


Jangan lupa like, vote n komennya, yaaa...

__ADS_1


Makasih... 🙏🤗


__ADS_2