Takdir Gintani

Takdir Gintani
Gugatan Cerai


__ADS_3

Tanpa sadar Kakek Wira menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.


"Aww, Kakek kenapa?" pekik Gintani. "Kakek tidak apa-apa?" tanya Gintani yang cukup terkejut dengan reaksi sang kakek.


"Ti-Tidak apa-apa, Nak. Kakek hanya kaget saja mendengar kabar yang kamu bawa," ucap Kakek Wira sambil membalikkan badannya.


"Apa Kakek tidak senang dengan kabar yang Gintan bawa?" tanya Gintani.


"Kamu itu bicara apa toh, Nak? Tentu saja Kakek sangat bahagia mendengar kabar ini. Bisa kamu bayangkan, sebentar lagi, rumah ini akan ramai dengan celotehan seorang anak kecil," ucap Kakek Wira. "Hanya saja...." Kakek Wira menggantungkan kalimatnya.


"Hanya saja?" tanya Gintani.


"Sudahlah, Nak. Tidak usah dihiraukan ucapan Kakekmu ini. Kakek ke kamar mandi dulu, ya! Sebentar lagi magrib," jawab Kakek Wira, mengusap pucuk kepala Gintani.


Gintani mengangguk, tapi entah kenapa hatinya merasa tidak tenang melihat reaksi sang kakek. Hmm, apa sebenarnya yang Kakek cemaskan? batin Gintani.


Tak lama berselang, suara kumandang azan pun mulai terdengar dari mushola yang berada di samping rumah. Gintani segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu, dia segera menunaikan kewajibannya.


Sementara itu di kamar. Kakek Wira tampak sedang duduk termenung di atas sajadahnya. Hatinya kembali terasa perih saat membayangkan Gintani hamil di tengah prahara rumah tangganya. Lalu, apa yang akan terjadi pada anak itu? Aku tidak mau nasib anak itu seperti ibunya, yang harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Selama ini, hatiku sudah cukup sakit melihat cucuku berjuang tanpa ayah, dan aku tidak ingin kesakitan itu terulang kembali. Aku tidak akan membiarkan cicitku lahir dan tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Bagaimanapun juga, Argha harus tahu jika Gintani sedang mengandung anaknya. Dia tidak boleh menceraikan Gintani, karena perceraian itu tidak akan sah, batin Kakek Wira.


Keesokan harinya.


Ketika azan subuh berkumandang, Kakek Wira mendatangi rumah Bik Susan dan Mang Rakib. Dia mengetuk pelan pintu belakang rumah Bik Susan agar tidak membangunkan anak-anak Bik Susan yang masih tertidur.


"San, Susan! Apa kamu sudah bangun?" tanya pelan Kakek Wira.


Bik Susan yang sedang berada di dapur, cukup terkejut mendengar bisikan majikannya di pintu belakang. Dia pun segera membuka pintu belakang rumahnya.


"Bapak? Kenapa sepagi ini Bapak datang kemari? Apa Bapak membutuhkan sesuatu?" tanya Bik Susan pada orang yang sudah dianggapnya ayah.


"Tidak-tidak, Bapak tidak butuh apa-apa. Bapak hanya ingin menitipkan Gintani sebentar," jawab Kakek Wira.


"Loh, memangnya Bapak mau ke mana?" Bik Susan kembali bertanya. Dia merasa heran melihat majikannya sudah berdandan rapi.


"Bapak ada urusan dulu ke kota. Tapi, nanti sore bapak pulang lagi," jawab Kakek Wira.


"Oh, begitu ya," jawab Bik Susan.


"Tapi, tolong rahasiakan ini pada Gintani ya, San?" pinta Kakek Wira.


Bik Susan mengernyitkan keningnya, "Kenapa, Pak? Terus kalau Neng gintan menanyakan Bapak, Susan kudu bilang apa?" tanya Bik Susan, heran.

__ADS_1


"Kamu bilang saja, Bapak sedang mengunjungi ustadz Hasan untuk membahas pembangunan pondok pesantren. Pokoknya, jangan sampai Gintani tahu Bapak pergi ke kota," tegas Kakek Wira.


"Memang Bapak ke kota mau menemui siapa? Tuan Arman?" tanya Bik Susan yang indera kekepoannya mulai bereaksi.


Kakek Wira menggelengkan kepalanya. "Bapak hendak menemui Nak Argha. Mungkin jika Nak Argha tahu Gintani sedang hamil, dia akan menarik kembali ucapannya," jawab Kakek Wira.


"Tapi Pak, kata Neng Gintan, kita–"


"Sudahlah Susan, nanti keburu siang. Kita bahas semuanya sepulang Bapak dari kota. Sekarang tolong panggilkan Rakib. Suruh dia antarkan Bapak ke terminal," perintah Kakek Wira.


Tak ingin membantah lagi, Bik Susan pun pergi ke dalam untuk memanggil suaminya. Tak lama kemudian, Mang Rakib datang sambil membawa kunci mobilnya. "Mari, Pak, saya antarkan ke terminal!" ucap Mang Rakib setelah mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Kakek Wira mengangguk, sejurus kemudian, dia menaiki mobil bak Mang Rakib. Setelah itu, Mang Rakib melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat suasana masih sangat pagi dan jalanan pun masih terlihat gelap.


Pukul 05.00 Gintani terbangun. Seperti biasa, dia pun pergi ke kamar mandi untuk menenangkan perutnya yang sedang bergejolak. Gintani menyeka mulutnya yang terasa pahit.


"Sabar ya, Nak. Mama mohon, jangan rewel yaaa. Kita pasti kuat melewati semua ujian ini," ucap Gintani sambil mengelus pelan perutnya yang masih terlihat datar. Setelah agak baikan, Gintani segera mengambil wudhu dan bergegas keluar untuk menjalankan solat subuh.


Selepas mengaji, Gintani pergi ke dapur. "Kok tumben jam segini Bik Susan belum datang," gumam Gintani yang melihat tidak ada siapa pun di dapur. Dia kemudian pergi ke kamar kakeknya. Di depan kamar sang kakek, Gintani mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Kek, apa Gintan boleh masuk?" tanya Gintani.


Tok-tok-tok!


"Kek, Gintan boleh masuk, nggak?" Kali ini Gintani bertanya sambil mengetuk pintu kamar sang kakek.


Namun tak ada jawaban yang terdengar dari dalam kamar. Gintani pun memutuskan untuk masuk. Dia membuka pintu kamar. Gintani tertegun di ambang pintu saat melihat tak ada siapa pun di dalam kamar. Akhirnya ia kembali menutup pintu kamar dan pergi ke belakang untuk menemui Bik Susan di rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Bik!" sapa Gintani.


"Wa'alaikumsalam." Terdengar jawaban seorang anak kecil dari dalam rumah. Beberapa detik kemudian, pintu rumah Bik Susan terbuka.


"Kak gintan?" tanya anak kecil itu.


"Hai Safa, mamanya ada?" tanya Gintani kepada anak kecil yang membukakan pintu.


"Mama sedang pergi ke ladang, Kak," jawab Safa.


"Oh, gitu ya. Apa Safa lihat kakek Wira?" tanya Gintani lagi.


Anak kecil itu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Gintani sedikit kecewa, tapi dia berusaha menutupinya. "Ya sudah, Kak Gintan pulang dulu, ya! Nanti kalau mama sudah pulang dari ladang, tolong bilangin kalau Kak Gintan mencarinya, oke!" ucap Gintani


"Iya, Kak," jawab Safa.


Gintani tersenyum. Dia kemudian mengusap pelan pucuk kepala bocah berusia 6 tahun itu. Lepas itu, dia kembali ke rumahnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Menjelang dzuhur, Kakek Wira tiba di kantor Argha. Awalnya dia datang ke rumah Argha. Namun asisten rumah tangganya bilang jika Argha masih berada di kantor. Tak ingin membuang waktu, Kakek Wira pun mengunjungi Argha di kantornya. Kakek Wira memasuki ruangan Argha begitu sang sekretaris mempersilakan dia masuk.


"Assalamu'alaikum, Nak Argha!" sapa Kakel Wira.


"Wa'alaikumsalam," jawab Argha tanpa ingin melihat sedikit pun wajah Kakek Wira. Argha masih sibuk menandatangani dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya.


"Nak Argha, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Kakek Wira.


Argha menghela napasnya, dia kemudian menghentikan pekerjaannya. "Apa lagi yang ingin Anda bicarakan?" tanya Argha, dingin.


"Ini mengenai hubungan kalian, kamu dan cucu Kakek. Begini Nak Argha, ka–"


"Tunggu!" Argha menghentikan kalimat Kakek Wira. "Tidak ada lagi hubungan antara aku dan wanita itu setelah dokumen ini resmi dikeluarkan!"


Argha seolah enggan menyebutkan nama istrinya. Sejenak dia membuka laci meja kerjanya untuk mengambil sesuatu. Ia kemudian menyerahkan sebuah map berwarna coklat kepada Kakek Wira.


"Apa ini Nak Argha?" tanya Kakek Wira.


"Itu surat gugatan cerai untuk cucu Anda," jawab Argha, tegas.


Deg!


Jantung Kakek Wira seolah berhenti berdetak mendengar kalimat yang keluar dari mulut cucu menantunya.


"A-Apa kamu berniat menceraikan cucu Kakek?" tanya Kakek Wira.


"Apa Anda tidak bisa membaca apa yang tertera di dalam lembaran berkas itu?" Argha malah balik bertanya.


"Tapi kamu tidak bisa menceraikannya!"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya ya πŸ€—πŸ™

__ADS_1


__ADS_2