Takdir Gintani

Takdir Gintani
Serpihan Kenangan


__ADS_3

"Pergilah, Nak!" ucap Umi Kulsum.


Jessica mengangguk. Setelah merapikan kopernya, dia kemudian pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil. Tak lama berselang, Jessica menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju taman kota.


Jessica tersenyum riang, hatinya sungguh terasa senang mengingat pada akhirnya dia akan mendapatkan sebuah keluarga utuh. Keluarga yang dirindukannya sejak dia berumur 10 tahun. Ya, kecelakaan yang menimpa orang tuanya terjadi tepat pada saat usia Jessica menginjak 10 tahun.


Saat itu, Jessica benar-benar kehilangan arah. Tak ada satu pun dari keluarga besar ayah dan ibunya yang mau menerima dan merawat Jessica setelah kepergian orang tuanya. Hingga akhirnya Jessica kecil terpaksa diasuh oleh asisten rumah tangganya.


"Hhh, sekarang aku mengerti kenapa mereka tidak ingin merawatku. Ternyata aku bukanlah keturunan yang diharapkan," keluh Jessica memukul pelan setir mobilnya. "Tapi sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Yang terpenting saat ini, aku sudah memiliki orang-orang yang menyayangi aku. Umi juga bilang, jika aku memiliki saudara laki-laki. Hmm, sepertinya akan sangat menyenangkan jika kami tinggal bersama," gumam Jessica lagi.


Karena terlalu asyik melamun, tanpa sadar Jessica telah sampai di tempat tujuan. Dia segera mencari tempat parkir yang aman. Setelah memarkirkan mobilnya, dia kemudian mengayunkan langkahnya memasuki taman kota.


Seperti apa yang telah mereka janjikan, Jessica mendapati Gintani yang sedang duduk di salah satu bangku di sudut taman.


"Hai, sorry ya, lama!" ucap Jessica sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak apa-apa, Mbak. Gintan juga baru sampai," jawab Gintani menerima uluran tangan Jessica. "Tumben, Mbak minta ketemuan, memangnya ada apa?" tanya Gintani setelah mereka duduk berdampingan di bangku itu.


"Mm, tidak ada acara yang khusus, sih. Sebenarnya, aku cuma mau pamit saja sama kamu," jawab Jessica.


"Pamit?" tanya Gintani, mengerutkan keningnya.


"Iya, Gin. Besok aku mau pergi dari kota ini. Aku mau tinggal bersama ibu kandungku," ucap Jessica.


"Ibu kandung?" Gintani semakin tidak mengerti. "Tapi, mohon maaf, Mbak. Bukannya orang tua Mbak Jessica sudah meninggal?" tanya Gintani hati-hati, takut menyinggung perasaan Jessica.


"Hhh, ternyata selama ini aku hanyalah anak angkat dari ibuku."


"Ma-Maksudnya?"


"Ceritanya panjang, Gin. Lain kali kalau ada kesempatan, pasti akan aku ceritakan."


"Baiklah, Gintan sendiri tidak akan memaksa kalau Mbak Jessica belum mau cerita."


Jessica mengusap punggung tangan Gintani sambil tersenyum. "Oh iya, ngomong-ngomong, Argha apa kabar?" tanya Jessica.


"Dia baik," jawab Gintani lesu, seolah enggan membahas ataupun mendengar nama Argha.

__ADS_1


"Hei, kok murung gitu ... apa sesuatu terjadi pada kalian?" tanya Jessica penuh selidik.


"Tidak, kami baik-baik saja, kok," elak Gintani.


"Ayolah, Gin! Aku sahabatmu, akan aku bantu sebisaku jika kamu memiliki masalah dengan Argha."


"Hhh." Gintani menghela napasnya. "Sebenarnya, akhir-akhir ini Gintan merasa kurang nyaman dengan sikap Ilona."


"Maksud kamu?"


"Apa Mbak tahu jika Ilona divonis penyakit kanker?"


"Innalillahi, benarkah?"


"Ya. Menurut Mas Argha seperti itu. Sebenarnya Gintan sudah coba memahami sikap dia pada Mas Argha. Tapi entah kenapa, hati Gintan sakit saat melihat Mas Argha terlalu mementingkan Ilona dibandingkan Gintan."


"Ya Tuhan, Gin. Tentu saja kamu akan merasa tidak nyaman. Istri mana yang ridho melihat suaminya lebih memperhatikan orang lain?"


"Hmm, tapi wajar sih, Mbak. Bukankah Ilona cinta sejatinya Mas Argha? Mungkin karena itu juga dia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja."


"Ilona. Siapa lagi?"


"Apa?! Bhuahahaa,...." Jessica tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Gintani.


"Ish, kok malah ketawa sih, Mbak," rengut Gintani sedikit kesal melihat sikap Jessica.


"Maaf-maaf, habisnya kamu lucu, Gin. Dari mana kamu bisa menarik kesimpulan jika Ilona cinta sejatinya Argha?"


"Hhh..., Mbak. Dulu, saat awal menikah, Mas Argha sering menggumamkan nama Na, siapa lagi kalau bukan Ilona?"


Jessica manggut-manggut. Sejurus kemudian dia merogoh ponselnya. "Kemarilah, lihat ini!" ucap Jessica seraya membuka galeri ponselnya. Setelah menemukan apa yang dia cari, Jessica pun menunjukkannya kepada Gintani.


"Siapa gadis kecil ini, Mbak?" tanya Gintani. Keningnya sedikit berkerut melihat foto seorang anak kecil berambut panjang kecoklatan. Tunggu, syal dan bendera ini? Entah kenapa Gintani merasa tidak asing dengan kedua benda itu.


"Dia adalah gadis masa kecil Argha. Namanya Na, aku sendiri tidak tahu Na siapa, Bram hanya memberitahukan jika gadis itu bernama Na. Gadis yang selalu dicarinya hingga akhirnya dia menikah denganmu."


"Lalu, Ilona?"

__ADS_1


Ilona hanyalah seorang gadis yang sangat terobsesi untuk menjadi pacarnya Argha. Dulu mereka sekolah di tempat yang sama, meskipun berbeda tingkatan. Argha pernah bercerita jika dulu dia sempat menolong Ilona dari anak-anak berandalan yang berada di sekolahnya. Sejak saat itulah mereka berteman baik. Namun sepertinya, Ilona menyalahartikan kebaikan Argha. Dia menganggap, jika perhatian yang diberikan oleh Argha, itu adalah perhatian sebagai lawan jenis. Meskipun aku sendiri tidak tahu kebenarannya, tapi itulah yang pernah Argha ceritakan padaku tentang Ilona.


Gintani menghela napasnya. "Tapi, kenapa dari sikapnya, Mas Argha seolah mengistimewakan Ilona?"


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Namun yang jelas, berhati-hatilah terhadap Ilona. Dia itu orang yang bisa menghalalkan berbagai macam cara untuk mencapai keinginannya. Saranku, jangan pernah terpancing dalam permainannya. Mungkin saja saat ini dia mencoba mendekati suamimu dengan alasan penyakitnya."


"Ya, bisa jadi. Lalu apa yang harus Gintan lakukan?"


"Berilah kepercayaan terhadap Argha. Percayalah ... aku pernah berada di posisi kamu, dan bodohnya, aku terjebak oleh permainan Ilona. Aku mengekang Argha hingga Argha merasa benci padaku."


"Apa Gintan sanggup?"


"Pasti sanggup. Aku bisa melihat jika Argha sangat mencintai kamu. Bersabarlah!"


"Ngomong-ngomong, dari mana Mbak mendapatkan foto ini?" tanya Gintani yang masih penasaran dengan foto Na kecil.


"Diam-diam aku pernah memotretnya saat Argha meminta Bram untuk mencari keberadaan gadis itu," jawab Jessica.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Gintani.


"Ya sudah Gin, ini sudah sangat siang. Aku pamit dulu. Jaga diri baik-baik ya," ucap Jessica memeluk Gintani.


"Mbak juga. Kabari Gintan jika sudah sampai di tempat baru. Gintan akan sangat merindukan Mbak." Gintani membalas pelukan Jessica seraya mengusap punggung Jessica.


"Aku juga. Aku do'akan semoga hubungan kamu dan Argha segera membaik. Langgeng hingga akhir hayat."


"Aamiin"


Setelah berpamitan, akhirnya Jessica pergi meninggalkan Gintani yang masih asyik duduk sendirian di taman itu. Tiba-tiba bayangan seorang anak kecil kembali melintas di kepalanya.


"Ayo Kakak, foto aku!" teriak gadis kecil itu dengan riangnya. Dia berlari mengelilingi pohon akasia seraya mengibarkan bendera Palestina di tangannya.


"Aargh!" Gintani memegang kepalanya yang terasa berat. Serpihan kenangan itu kembali menyakiti kepalanya. "Ish, si-siapa kedua anak itu?"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2