
Tiga hari telah berlalu. Orderan pertama Gintani pun telah siap. Ya, Geisha menjadi pelanggan pertama yang menjahit bajunya di Rumah Jahit Putri, nama yang diberikan Gintani untuk usaha barunya.
"Ini bajunya, Ge. Semoga suka," ucap Gintani.
Geisha membuka bungkusan plastik bening tersebut dan membentangkan baju hasil jahitan Gintani.
"Wow, ini cantik sekali, Gin. Jahitannya juga rapi," ucap Geisha sambil mengamati sisi-sisi jahitan satu per satu.
Gintani hanya tersenyum mendengar pujian Geisha.
"Jadi, berapa ongkosnya?" tanya Geisha.
"75 ribu, Ge," jawab Gintani.
"Kok murah banget, Gin!" Geisha begitu terkejut dengan harga yang dipatok Gintani untuk sebuah baju terusan.
"Itu karena bahannya dari kamu, Ge. Kalau dari Gintan, ya mungkin beda lagi harganya," jawab Gintani, jujur.
"Oh begitu ya. Tapi untuk harga segitu, di sini termasuk murah, loh, Gin," kata Geisha, melipat kembali bajunya.
"Tidak apa-apa, Ge. Hitung-hitung promosi juga," jawab Gintani.
"Iya, nanti aku bantu promosi ke teman-teman arisanku," kata Geisha.
"Waduh ... makasih banyak, loh, Ge. Jadi malu, nih," ucap Gintani.
"Ish, nggak apa-apa kali, Gin. Biar nanti banyak pelanggan juga," jawab Geisha.
"Aamiin," ucap Gintani.
🍀🍀🍀
Setelah urusannya di Jakarta selesai, Heru segera kembali untuk mengurusi pabriknya. Begitu dia tiba di rumah, dia meminta Mina untuk menemuinya di ruang kerja.
"Permisi Tuan, apa Tuan memanggil saya?" tanya Mina begitu memasuki ruang kerja Heru.
"Iya Min, kemarilah!" panggil Heru.
Mina mendekati meja kerja Heru.
"Duduklah, Min!" perintah Heru.
Mina kemudian duduk di kursi yang telah tersedia di depan meja kerja Heru.
"Apa kamu masih ingin merawat Putri?" tanya Heru.
"Tentu saja, Tuan. Sejak kecil saya mengurus non Putri, dia sudah seperti bagian dari jiwa saya," ucap Mina.
"Kenapa waktu itu kamu tidak ikut nyonya Gintani?" tanya Heru lagi.
"Nyonya Gintani tidak mengizinkan saya ikut. Beliau bilang, beliau tidak mampu membayar jasa saya. Padahal, jika saya harus mengasuh Outri tanpa bayaran pun ... saya bersedia, Tuan. Tapi nyonya Gintani tetap tidak mengizinkan saya," jawab Mina.
Heru menghela napasnya. "Sekarang juga, kemasi barang-barang kamu!" perintah Heru.
"Apa tuan memecat saya?" tanya Mina dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
"Saya tidak akan memecat kamu, saya akan mempekerjakan kamu di rumah nyonya Gintani. Saya dengar, dia buka usaha jahit di rumahnya. Pasti dia akan kerepotan harus menjahit sambil mengasuh Putri. Jadi, saya minta, kamu jagain Putri lagi. Urusan gaji, biar saya yg urus," ucap Heru, menjelaskan niatnya.
"Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bertemu dengan non Putri lagi. Terima kasih, Tuan," ucap Mina merasa senang.
"Ya, sama-sama. Cepat kemasi pakaian kamu! Sore ini kita akan pergi ke rumah Gintani." Heru kembali memberikan perintah.
Mina mengangguk. Setelah berpamitan, dia kemudian pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya. Selesai berkemas, Mina kembali menuruni tangga dan langsung menemui tuannya yang sudah berdiri di samping mobil.
"Masuk!" perintah Heru.
Mina membuka bagasi mobil dan memasukkan kopernya. Setelah itu dia membuka pintu samping dan duduk bersebelahan dengan Heru.
Tanpa banyak bicara, Heru melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Gintani lewat pesan WA dua hari yang lalu.
🍀🍀🍀
Hanya tinggal menunggu waktu kurang dari seminggu, pernikahan Bram dan Nadhifa akan diselenggarakan. Undangan telah disebar, dan rona kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah Nadhifa.
Melihat adiknya begitu bahagia dengan rencana pernikahannya, Argha pun mengurungkan niat untuk memberi tahu Bram tentang keberadaan Miki. Lagi pula, Miki sudah berhenti bertanya tentang siapa ayahnya, jadi tidak ada salahnya aku merahasiakan ini untuk beberapa waktu, batin Argha.
"Bagaimana, apa kalian bahagia akan menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Argha kepada Bram dan Nadhifa saat sedang makan siang bersama.
"Pertanyaan konyol seperti apa itu, Kakak? Tentu saja kami bahagia dengan rencana kami untuk menikah," jawab Nadhifa.
"Jika di kemudian hari, ada rintangan yang mungkin akan menghalangi pernikahan kalian, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Argha lagi.
"Tergantung seperti apa rintangannya? Jika itu rintangan kecil, yang hanya melibatkan kami berdua, tentu kami akan menghadapinya. Tapi jika itu sudah melibatkan keluarga besar, entahlah," jawab Nadhifa lagi.
"Tapi yang jelas, sebesar apa pun rintangan itu, tentu akan kami hadapi bersama. Benar, 'kan, Fa?" ucap Bram.
Nadhifa tersenyum. "Tentu saja, Kak."
"Hmm, Kakak do'akan, semoga hubungan kalian langgeng," ucap Argha.
"Terima kasih, Kak," jawab Nadhifa.
"Thanks Bro," timpal Bram
🍀🍀🍀
"Putri, Sayang ... jangan main gunting, Nak!" ucap Gintani saat dia melihat putri kecilnya memainkan sebuah gunting.
"Assalamu'alaikum!" sapa Heru sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam!" Gintani menggendong Putri dan segera pergi ke depan untuk membukakan pintu.
"Apa kabar putrinya Papa?" sapa Heru seraya mengulurkan tangannya.
"Papa ..." celoteh Putri sambil mencondongkan badannya minta digendong Heru.
Heru tersenyum kemudian menggendong putri kecilnya.
"Coba lihat, Papa datang sama siapa?" ucap Heru sambil memperlihatkan Mina yang tengah berdiri di belakangnya.
"Uteng ... yeaaay Uteng," Putri kembali berceloteh.
__ADS_1
Mina langsung menghampiri tuanya. "Non Putri, Uteng kangen sama Non Putri," ucap Mina.
Putri mengulurkan tangannya, meminta Mina untuk menggendongnya. Heru pun menyerahkan Putri kepada Mina.
"Ayo masuk, Mas?" ajak Gintani.
Mereka kemudian memasuki rumah Gintani. Ruang tamu terlihat seperti kapal pecah. Rupanya Gintani sedang mengerjakan pekerjaannya. Dan Putri? Tentunya anak itu sedang menemani ibunya sambil bermain.
Heru melihat ada barang-barang yang sangat berbahaya jika dimainkan oleh anak seusia Putri. Karena itu, niatnya membawa Mina kemari memang sudah tepat.
"Mas ingin kamu mengizinkan Mina untuk mengasuh Putri di sini, Gin," ucap Heru.
Gintani terkejut. "Tapi, itu tidak perlu, Mas. Gintan masih sanggup mengurusi Putri, kok," jawab Gintani.
"Kamu lihat keadaan rumah kamu, Gin! Begitu banyak benda-benda yang berbahaya yang bisa dimainkan Putri saat kamu bekerja. Apa kamu tidak khawatir akan keselamatan anakmu?" tanya Heru.
Gintani diam. Apa yang dikatakan Heru memang benar. Tadi juga, Putri hampir menjadikan gunting sebagai mainannya.
"Tapi, Mas ... Gintan tidak punya cukup uang untuk membayar tenaga seseorang," jawab Gintani.
"Sudah, kamu jangan memikirkan hal itu. Mina bekerja untuk Mas, sudah tugas Mas untuk menggajinya," kata Heru.
"Mas, gintan tidak mau merepotkan Mas lagi. Gintan sudah terlalu banyak berhutang budi sama Mas Heru," ucap Gintani.
"Tolong jangan ditolak, Gin. Mas melakukan ini demi keselamatan Putri. Lagi pula, kamu sudah punya usaha sendiri. Mas hanya akan menggaji Mina sampai kamu sanggup menggajinya sendiri. Mas yakin suatu hari nanti, usaha baru kamu akan menjadi sebuah usaha yang cukup besar. Setelah itu, kamu boleh menggaji Mina dengan uangmu sendiri," kata Heru.
Gintani tersenyum. "Terima kasih, Mas."
"Iya, sama-sama. Ngomong-ngomong, Mas dengar dari Alex kalau jahitan kamu sangat rapi sekali, benarkah itu?" tanya Heru, penasaran.
"Ah, bang Alex hanya membesar-besarkan saja. Jahitan Gintan sama kok, dengan para penjahit yang lain," ucap Gintani.
"Boleh Mas lihat contohnya?" pinta Heru.
Gintani mengambil salah satu kemeja laki-laki yang baru saja selesai dia jahit. Dia kemudian menyerahkannya kepada Heru.
Heru menerima kemeja itu dan mulai mengamatinya. Apa yang dia dengar memang tidak salah, jahitan Gintani terlihat sangat rapi.
"Kalau begitu, Mas pesan 2 kodi untuk pakaian seragam pabrik," ucap Heru.
Gintani sangat terkejut mendengarnya.
"Serius, Mas?"
Heru mengangguk.
"Tapi, Gintan bisa mengerjakannya minggu depan. Sekarang, Gintan sedang mengerjakan pesanan teman-teman Geisha. Nggak pa-pa, 'kan, Mas?"
"Iya, terserah kamu saja. Yang penting bisa selesai sebelum akhir tahun."
"Siap, Bos!"
Heru tersenyum lebar melihat rona kebahagiaan terpancar di wajah Gintani yang semakin meneduhkan.
Apa aku telah jatuh cinta kepada janda beranak satu ini? Bagaimana tanggapan keluargaku jika aku menikahinya. Mungkin aku bisa meyakinkan papa dan mama, tapi bunda Rita? Entahlah...
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏