Takdir Gintani

Takdir Gintani
Dinding Pembatas


__ADS_3

"Tu ... tuan, toiletnya di sebelah mana?" tanya Gintani, gugup.


Argha mengulum senyum melihat istrinya salah tingkah. "Ayo!" ajaknya seraya meraih tangan Gintani.


Ceklek...!


Argha membuka ruangan yang cukup besar, dan ruangan itu adalah kamar pribadinya.


"Tu ... tuan...."


"Masuklah! Kamar mandinya ada di dalam," ucap Argha.



Dengan perasaan tak menentu, Gintani memasuki kamar mewah suaminya. Kamar yang bernuansa dark blue, yang menegaskan kemaskulinan pemiliknya.


Gintani melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lagi-lagi, dia dibuat terpana oleh ruangan-ruangan yang berada di apartemen suaminya.



Ya Tuhan, pantaskah aku bersanding dengan lelaki sempurna sepertinya? batin Gintani meremas ujung kerudungnya.


Gintani berdiri di depan wastafel. Alasan dia pergi ke kamar mandi hanyalah untuk menetralisir kegugupan karena ucapan suaminya.


Tidak ... aku tidak boleh jatuh cinta padanya! Dia telah memiliki cinta yang lain di hatinya. Cepat atau lambat, aku pasti akan dibuang dari kehidupannya. Hamba mohon, jaga hati hamba untuk tidak mengharapkan akhir yang indah bersamanya, **Y**a Tuhan ....


Gintani menyalakan kran air. Dia pun mulai membasuh mukanya. Setelah dirasa cukup tenang, Gintani segera keluar dari kamar mandi.


Tiba di kamar, Gintani terkejut mendapati dua buah kopernya telah tersimpan rapi di sudut kamar. "Siapa yang mengantarnya?" gumam Gintani. Karena penasaran, Gintani segera pergi ke ruang tengah untuk mencari suaminya.


"Ma ... maaf Tuan, siapa yang mengantar koper kemari?" tanya Gintani.


"Oh, itu petugas hotel," jawab Argha seraya memainkan ponselnya.


"Lalu, bagaimana dengan pakaian kita yang ada di rumah? Aku tidak tahu jika Tuan akan mengajakku pindah, karena itu aku tidak membawa pakaianku selain yang aku pakai. Apa aku perlu kembali ke rumah?"


"Tidak usah."


"Tapi Tuan, atau ... perlukah kita meminta tolong pak Munir untuk mengantarkannya kemari?"


"Kemarilah!" perintah Argha seraya menepuk sofa di sampingnya.


Gintani mendekati Argha dan duduk di samping suaminya.

__ADS_1


Argha merengkuh bahu Gintani. Dia menyandarkan punggung Gintani di sandaran sofa. Argha kemudian berbaring dan menjadikan pangkuan Gintani sebagai bantalnya. Sambil memejamkan matanya, Argha berkata, "Tidak ada seorang pun yang tahu tempat ini kecuali, Dhifa dan kamu. Jadi, aku harap kamu tidak bersikap ceroboh sehingga bisa membuat orang lain mengetahui tempat ini."


Gintani menatap suaminya yang sedang tertidur di pangkuannya. Raut wajah kelelahan, tampak begitu jelas. "Ma ... maaf," ucap Gintani lirih.


Argha membuka matanya. Dia tersenyum kepada istrinya. "Bisakah kau membuka hijabmu?" pinta Argha, pelan.


"Ta ... tapi...."


"Di sini hanya ada kita berdua, Swety. Dan aku suamimu, kau tidak akan berdosa jika menampakkan auratmu di hadapanku," ujar Argha.


Gintani mengangguk. Dia pun mulai melucuti kain hitam panjang yang bernama pashmina itu dari kepalanya. Tampak rambut hitamnya yang tergulung ke atas.


Argha menelan salivanya saat melihat leher jenjang milik Gintani yang begitu mulus. Rasanya Argha ingin menggigitnya dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Argha mengulurkan tangannya, meraih ikat rambut Gintani dan menariknya. Seketika, rambut panjang Gintani jatuh tergerai menyapu wajahnya. Wangi aroma shampoo, menyeruak di indra penciuman Argha. Di tambah lagi dengan wangi parfum yg digunakan Gintani, semakin membuat Argha bergairah.


"Gin, bisakah kita memulainya dari awal?" tanya Argha, mengelus pipi Gintani yang sangat merona.


"Apa tidak terlalu cepat, Tuan?"


"Maksud kamu?"


Gintani mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin terlihat lemah di mata suaminya.


"Jujur, aku tidak ingin berharap banyak dari ikatan ini. Ada dinding pembatas yang tidak akan mungkin bisa aku robohkan."


"Dengan cara apa, Tuan? Ada banyak luka yang telah tertoreh di hati kita masing-masing. Bagiku... engkau tidak lebih dari orang yang telah membeli hidupku. Sedangkan bagimu ... aku hanyalah istri cadanganmu selama satu tahun setengah. Bagaimana jika tahun depan dia kembali padamu? Akankah kau mempertahankan aku?" tanya Gintani mulai terbawa emosi.


"Mbak Jessica saja tidak mampu meruntuhkan dinding itu selama dua tahun. Lalu bagaimana denganku, yang hanya kau berikan waktu satu tahun setengah. Bagaimana caranya aku mengajarimu untuk meruntuhkan dinding itu, Mas? Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya," ucap Gintani.


Tes...


Tes...


buliran air mata, mulai menetes dan jatuh di pipi Argha.


Argha membuka matanya. Dia menatap istrinya yang telah berlinang air mata. Argha bangkit dan meraih Gintani ke dalam pelukannya.


"Mungkin aku memang keterlaluan. Mungkin aku memang sangat egois. Tapi aku tidak bisa mengingkari janjiku pada, Na. Aku mohon Gin, bersabarlah!"


Gintani mendorong kasar tubuh suaminya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Argha akan berkata demikian. Sebenarnya hati kamu terbuat dari apa, Mas! batinnya.


Gintani pun segera kembali ke kamar untuk menumpahkan kekesalannya.


"Gin, tunggu!"

__ADS_1


Ting tong....


Argha hendak berlari menyusul istrinya. Namun suara bel di pintu apartemennya, menghentikan langkahnya. Argha berbalik arah dan segera membuka pintu. Tampak seorang kurir yang mengantarkan makanan online pesanannya. Setelah membayarnya, Argha pergi ke dapur. Dia mulai menata makanan itu di atas piring, dan membawanya ke kamar.


🍀🍀🍀


Di sebuah rumah sakit internasional di negara adikuasa. Seorang gadis berbalut perban di wajahnya tampak merajuk kepada salah satu dokter muda.


"Ayolah, Rich! Kapan kamu akan melepas perban ini dari wajahku!" rengeknya.


"Sabar, Na! Semuanya butuh proses," jawab Richard, sang dokter ahli bedah plastik.


"Tapi ini sudah hampir sebulan, Rich! Aku sudah tidak sabar lagi untuk menemui kekasihku."


"Huh! Apa kamu yakin dia akan menerimamu kembali, Na?"


"Dia sangat perhatian padaku, Rich. Baginya, aku adalah cinta pertamanya. Aku yakin dia pasti akan selalu menungguku."


"Ya, semoga saja!" ucap sang dokter seraya merapikan perban yang baru saja dipasang.


"Oh iya Rich, apa sudah ada jadwal, untuk operasi selaput daraku?" tanya gadis itu.


"Mungkin dalam sebulan ke depan, baru kita akan membuat jadwalnya, Na. Aku tidak ingin mengambil resiko terlalu jauh. Kita tunggu saja perbanmu di buka. Setelah observasi, kita akan menentukan waktu yang terbaik untuk menjalani operasi virginitasmu."


"Huh, lama sekali! Aku benar-benar sudah merasa bosan tinggal di sini!" dengus gadis itu, kesal.


"Bersabarlah, Na! Bukankah setelah ini, kau akan meraih kebahagiaanmu dengan cinta pertamamu?"


"Ya, kau benar Rich... aku sudah tidak sabar untuk segera menemuinya," ucap gadis itu seraya tersenyum membayangkan wajah tampan sang pujaan hatinya.


"Minumlah vitamin ini untuk memperbaiki jaringan kulitmu!" ucap sang dokter muda seraya menyerahkan beberapa butir vitamin.


Sang gadis menerimanya dan segera menelannya.


"Tidurlah!" perintah dokter tampan itu seraya mengecup bibir merah muda sang gadis.


Si gadis tersenyum, dia pun segera membaringkan tubuhnya di atas bed hospital.


"Have a nice dream!"


Bersambung ya gaisss.....


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2