
Gintani menutup pintu kamar dan menguncinya. Jantungnya berdegup kencang. Hampir saja dia melakukan perbuatan yang tidak senonoh dengan lelaki yang bukan mahramnya. Gintani pun merutuki perbuatannya.
Tubuhnya luruh di balik pintu. Gintani menyesal, sungguh sangat menyesal. Dirinya kini seolah tak memiliki harga diri lagi. Apa yang aku lakukan Tuhan? Kenapa aku bisa terbuai seperti ini? Entah setan mana yang telah merasuki sehingga aku sanggup menganiaya diriku sendiri? Jerit Gintani dalam hatinya.
Gintani hanya bisa mendekap kedua lututnya sambil menundukkan kepala. Bahunya mulai berguncang, dan dia pun mulai menangis. Gintani membekap mulutnya agar tangisnya tak sampai terdengar keluar. Cukup lama dia menangis hingga akhirnya dia merasa lelah dan tertidur di lantai.
Di kamar Putri.
Heru menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Dia menengadahkan wajah. Matanya menatap kosong langit-langit kamar. Setelah semua ini, semuanya pasti akan berubah, batin Heru.
Ingin rasanya Heru berlari mengejar Gintani dan meminta maaf. Tapi setelah apa yang dia lakukan, rasanya Heru tak punya nyali untuk berhadapan dengan Gintani. Sama seperti Gintani, Heru pun hanya bisa merutuki perbuatannya dalam hati.
Bodoh! Benar-benar bodoh kamu, Her!
🍀🍀🍀
Di dalam kamarnya. Argha kembali mematung di depan jendela yang telah ia buka kacanya. Semilir angin dingin menusuk kulitnya. Sesekali, kepulan asap rokok keluar dari mulutnya. Sejak berpisah dari Gintani, Argha kembali menyentuh barang syubhat itu. Dan setiap kali Argha memiliki masalah, maka satu-satunya hal yang bisa menenangkannya adalah merokok.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok, Argha kembali menutup jendela kamarnya. Dia merebahkan diri di atas ranjang, mencoba untuk tidur. Tapi getaran ponsel di atas nakas memaksa Argha mengurungkan niatnya. Argha meraih ponsel itu dan melihat beberapa notifikasi pesan masuk. Argha membuka pesan itu satu per satu.
Kakak, kapan Kakak akan pulang? Aku sudah tidak sanggup lagi mengurus Miki.
Dari Nadhifa
Bagaimana keadaan Enin sekarang? Apa tidak sebaiknya kamu membawa beliau ke Jakarta setelah acara 7 hari pengajian kakekmu?
Dari Papa
Bro, Tuan Anwar meminta pertemuannya dipercepat menjadi pekan depan. Apa lo bisa segera pulang? Tuan Anwar ingin bertemu langsung sama lo.
Dari Bram
Dan beberapa pesan lain dari para koleganya. Argha meletakkan kembali ponselnya tanpa berniat untuk membalas pesan-pesan itu. Dia kemudian menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Malam ini begitu dingin, sedingin hatinya yang telah kehilangan anak dan istrinya.
Tapi tiba-tiba saja Argha membuka matanya. Tunggu! Dulu dia menceraikan Gintani pada saat istrinya sedang mengandung. Sedangkan di dalam agama, perceraian seperti itu tentu saja tidak sah. Bukankah seorang suami tidak bisa menceraikan istrinya pada saat istrinya sedang hamil? pikir Argha.
__ADS_1
Seukir senyum tipis melengkung di kedua sudut bibir Argha. Aku harus menanyakan perihal ini pada ahlinya, agar aku tidak salah langkah. Dan semoga saja perceraian itu tidak sah, batin Argha.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya. Seperti biasa Gintani bangun subuh dan mulai membersihkan dirinya. Selesai solat subuh, dia kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Pada saat dia hendak menata makanan di atas meja. Tiba-tiba Heru keluar dari kamar mandi. Untuk sejenak mereka saling tatap, hingga sejurus kemudian Gintani memutus pandangannya. Dia kembali ke dapur untuk mengambil makanan.
Heru kembali ke kamar Putri untuk berganti pakaian. Setelah rapi dia mulai bergabung di meja makan. Putri sendiri sudah ikut bangun dan duduk manis mengenakan seragam sekolahnya. Mereka mulai sarapan bersama. Kecanggungan mulai tercipta di antara mereka.
"Oh iya, Ma. Kenapa semalam Mama enggak tidur bersama kita?" tanya Putri memecah kebisuan.
Gintani dan Heru saling tatap mendapati pertanyaan Putri. Sejurus kemudian Gintani mengalihkan pandangannya dan mulai sibuk menyendok makanan untuk Putri.
"Kata siapa? Mama tidur kok, di samping Putri," jawab Gintani.
Putri mencebikan bibirnya. "Enggak usah bohong ya ma. Putri lihat kok, cuma Papa yg tidur di samping Putri," bantah Putri.
"Itu karena, mungkin ... mungkin karena Mama sedang buang air kecil, karena itu kamu enggak lihat Mama." Gintani mencoba memberikan alasan.
"Sudah-sudah, enggak usah dibahas. Sekarang lanjutkan sarapan kamu, Put!" Heru menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
Gibtani diam. Dia kemudian pergi lagi ke dapur. Gintani menyibukkan diri di dapur sampai mereka selesai sarapan.
"Ma, Putri berangkat dulu, ya!" teriak Putri dari ruang keluarga.
"Ya, sebentar! Mama ambil kunci motor dulu." Gintani menjawab dengan berteriak pula.
Heru datang menghampiri Gintani. "Biar Putri aku yang antar, Gin," ucapnya
"Tidak usah Mas, nanti merepotkan," jawab Gintani.
"Tidak apa-apa, sekalian jalan saja," jawab Heru.
"Kantor Mas, 'kan berbeda arah dengan sekolahan Putri. Nanti Mas bisa terlambat." Gintani masih berusaha untuk meyakinkan Heru agar tidak mengantarkan putrinya.
__ADS_1
"Kok malah ribut di sini, sih. Buruan, nanti Putri terlambat ke sekolahnya!"
Tiba-tiba Putri sudah berdiri di hadapan mereka sambil berkacak pinggang.
"Ya sudah, ayo berangkat Put!" ajak Heru pada anak asuhnya.
Putri mengangguk. Dia pun mencium punggung tangan Gintani. Setelah itu, mereka pergi dari hadapan Gintani.
Gintani hanya bisa menghela napasnya.
🍀🍀🍀
Hari demi hari berlalu. Sejak insiden di kamar Putri, Gintani selalu berusaha untuk tidak terlalu bergantung kepada Heru. Dia tidak pernah menelepon Heru untuk hal-hal yang tidak penting. Terlebih lagi untuk urusan Putri.
Gintani sadar. Semakin dia bergantung kepada Heru. Maka semakin besar peluang anaknya untuk terluka. Bagaimanapun juga, Heru bukanlah ayah kandung Putri. Dan Putri harus terbiasa untuk bisa jauh dari Heru.
Sedangkan Heru sendiri, dia sadar jika saat ini Gintani tengah menjaga jarak dengannya. Heru tak ingin mempertanyakan itu karena dia sendiri merasa malu untuk bertanya. Heru hanya bisa pasrah. Biarlah Tuhan yang memutuskan akan seperti apa nasib hubungannya dengan Gintani, kelak.
Sementara itu, di rumah Heru. Terlihat gurat kecemasan di wajah sang ayah. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan dalam membina hubungan, Satria merasa khawatir tentang kebahagiaan Heru. Bagaimanapun juga, dia akan semakin berumur. Dia ingin melihat Heru membina rumah tangga sebelum dia akhirnya pergi menghadap Sang Pencipta.
"Ma, bagaimana kalau kita jodohkan Heru dengan putrinya teman Papa," ucap Satria pada istrinya.
Maya begitu terkejut mendengar ucapan suaminya. Terakhir mereka menjodohkan Heru, itu menjadi sebuah kesalahan. Karena itu Maya merasa trauma dengan yang namanya perjodohan lagi. Maya tersenyum menatap suaminya.
"Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi, Pa. Biarkan Heru mencari pasangan hidupnya sendiri. Lagi pula aku dengar dari Aldi, Heru tengah mendekati seseorang di kota tempat dia membuka pabriknya," ucap Maya.
"Iya, ngejar sih ngejar, tapi enggak dapat-dapat juga. Papa cuma khawatir saja sama masa depan Heru."
"Ya sudah, nanti kita bicara lagi sama Heru. Sekarang Papa cepat sarapannya. Bukankah hari ini ada meeting penting?"
Satria tersenyum kepada istrinya. Maya memang selalu bisa meneduhkan hatinya setiap kali merasa kepanasan.
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏
__ADS_1