
"Apa? Ta-Tapi kenapa?"
"...."
"Iya, mangga Kang. Nanti Ayi minta kyai Solihin untuk mengumumkannya di mushola."
"...."
"Iya, baik Kang."
Bik Susan sangat terkejut begitu suaminya menelepon dan memberikan kabar tentang meninggalnya sang majikan. Untuk sejenak, Bik Susan duduk di ruang tamu. Bik Susan mencoba mengatur detak jantungnya yang sempat tak beraturan. Setelah dirasa sudah mampu menguasai dirinya, dia kemudian pergi ke rumah kyai Solihin, sesepuh di kampung Malaganti.
Tok-tok-tok!
"Iya, sebentar!"
Klek!
Pintu terbuka. Tampak seorang anak kecil berkerudung berdiri di sana.
"Nisa, apa abah ada di rumah?" tanya Bik Susan pada cucunya kyai Solihin.
"Ada, Bik. Mari silakan masuk!" ucap gadis kecil itu.
Bik Susan pun memasuki ruang tamu di rumah kyai Solihin.
"Sebentar ya, Bik. Nisa panggil abah dulu," ucap gadis kecil itu. Dia pun langsung masuk ke dalam untuk memanggil kyai Solihin.
Tak berapa lama, kyai Solihin datang ke ruang tamu. "Susan, ada apa malam-malam datang kemari?" tanya kyai Solihin yang merasa heran.
"Iya, Pak Kyai. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Bapak. Sebenernya, saya mau minta tolong untuk mengumumkan berita duka di mushola," jawab Bik Susan.
Kyai Solihin mengerutkan keningnya, "Berita duka, siapa yang meninggal?" tanya kyai Solihin.
"Bapak Wira baru saja meninggal, Pak Kyai," jawab Bik Susan.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ya sudah, saya pergi ke mushola dulu. Kamu pulanglah, minta tetangga untuk segera membereskan rumah pak Wira. Setelah dari mushola, saya langsung ke rumah beliau," ucap kyai Solihin.
"Baik, Pak Kyai."
__ADS_1
Setelah berpamitan, Bik Susan pun pulang. Beberapa menit kemudian, terdengar berita duka dari pengeras suara yang berada di mushola samping rumah kakek Wira.
🍀🍀🍀
Perjalanan di desa memang tidak seramai di ibu kota. Hingga 20 menit kemudian, ambulan yang membawa jenazah kakek Wira tiba di rumah. Pekarangan rumah sudah dipenuhi oleh para tetangga yang hendak melayat. Di antaranya terdapat beberapa tokoh masyarakat di sana. Maklumlah, kakek Wira menjadi salah satu orang yang paling dermawan di kampung ini. Banyak orang yang pernah merasakan kebaikan hati kakek Wira. Begitu juga ustadz Hasan, beliau hadir di antara para sesepuh yang sedang duduk bersila di ruang tamu.
Jenazah di bawa ke halaman samping rumah untuk dimandikan. Setelah dimandikan jenazah dikafani dan segera dibawa ke mushola untuk disholatkan. Tak ingin menunda waktu, atas persetujuan Gintani, jenazah pun segera dikebumikan.
Tentu saja Gintani melakukan itu atas izin dari paman Arman juga, putra pertama kakek Wira yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke negeri jiran. Karena terhalang jarak dan waktu, dengan terpaksa paman Arman pun merelakan jenazah ayahnya dimakamkan tanpa harus menunggu kepulangannya. Paman Arman hanya melakukan video call untuk melihat wajah ayahnya yang terakhir kalinya.
Meskipun di malam hari, tapi pemakaman kakek Wira berlangsung dengan sangat khidmat. Banyak para pelayat yang mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Kebetulan, kakek Wira dimakamkan tidak jauh dari perkebunan miliknya. Tepatnya di belakang kebun pepaya.
Selesai pemakaman, Gintani dan para pelayat kembali ke rumah. Masih dalam suasana duka, semua sesepuh kampung berada di rumah untuk memberi semangat kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Yang sabar, ya Gin. Aku turut berduka atas meninggalnya kakek kamu," ucap seorang gadis yang baru saja tiba bersama ibunya.
Merasa mengenal suara sang gadis, Gintani mendongakkan wajahnya. "Mbak Jessica?" Gintani terkejut mendapati Jessica datang bersama Umi Kulsum.
"Iya Gin." Jessica merangkul Gintani.
"Bagaimana Mbak Jessica bisa berada di sini?" tanya Gintani, heran.
"Nak Gintan, Umi turut berduka cita atas kepergian kakek kamu," ucap Umi Kulsum memeluk Gintani.
Gintani membalas pelukan Umi Kulsum, "Terima kasih Umi," jawab Gintani.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pak Wira?" tanya Umi Kulsum.
"Kakek kena serangan jantung, Umi," jawab Gintani
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Umi Kulsum, terkejut.
"Mungkin kakek kecapean. Seharian kemarin, dia pergi bersama ustadz Hasan untuk mengurusi pendirian pondok pesantren," jawab Gintani.
Umi Kulsum mengerutkan keningnya, "Kemarin?" tanyanya lagi.
"Iya Umi," jawab Gintani
"Tapi itu tidak mungkin, Nak Gintan. Kemarin, kami sekeluarga baru pulang dari bandara. Ini kami baru sampai dan langsung kemari karena mendengar kabar meninggalnya kakek Wira," jawab Umi Kulsum.
__ADS_1
Gintani terhenyak, "Apa Umi yakin?" tanya Gintani.
"Kamu bisa tanya Jessica kalau tidak percaya," jawab Umi Kulsum.
Gintani menatap nanar ke arah Jessica. Sejurus kemudian Jessica menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Umi Kulsum. "Apa yang dikatakan Umi benar, Gin. Kemarin kami baru mendarat di bandara. Kami baru pulang dari Mesir, menjenguk Husni," jawab Jessica.
Lalu, ke mana perginya kakek Wira kemarin? Bahkan, sampai seharian seperti itu. Pergi ke mana sebenarnya beliau, hingga bisa kecapean dan mengalami serangan jantung seperti ini? batin Gintani.
🍀🍀🍀
Di kediaman Amijaya. Nyonya Rosma mengetuk pintu kamar Argha.
"Masuklah!" jawab Argha dari dalam kamarnya.
Nyonya Rosma masuk, dia kemudian duduk di tepi ranjang. Tampak Argha sedang mengisap batang rokoknya.
"Ar, Mama boleh bicara?" tanya Nyonya Rosma.
"Hmm...." Hanya itu jawaban Argha.
"Kenapa kamu tidak coba melanjutkan kembali hubungan kamu dengan Ilona? Mama lihat, dia gadis yang sangat baik," ucap Nyonya Rosma.
Argha mengerutkan keningnya, Tiba-tiba dia ingat satu hal yang sedari tadi ingin dia tanyakan pads Ilona. Tapi Argha tidak sempat bertanya karena pikirannya masih dibayangi oleh kedatangan kakek Wira yang mendadak.
"Oh iya, Ma. Kenapa tadi siang Mama bisa datang bersama Ilona?" tanya Argha, heran.
"Mama tidak sengaja bertemu Ilona. Siang itu Mama hendak makan siang, namun saat Mama menyeberangi jalan menuju kafe, tiba-tiba seorang bocah jalanan menjambret tas Mama. Waktu itu Mama sempat tarik-menarik tas sama bocah jalanan tersebut. Lalu Ilona datang untuk membantu Mama. Mama ajak dia makan siang deh, jawab Nyonya Rosma.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Argha.
"Ar, dulu Mama pikir Ilona itu hanya wanita pengganggu, tapi ternyata Mama salah. Ilona sudah menceritakan semua kebenaran tentang hubungan kalian baik di masa lalu ataupun saat ini. Karena hari ini kamu sudah resmi berpisah dengan Gintani, jadi Mama rasa tidak ada salahnya kamu mencoba melanjutkan hubungan kamu dengan Ilona."
Argha tersenyum tipis. "Tidak semudah itu, Ma. Lebih baik, sekarang Mama keluar dari kamar Argha. Jujur saja, Argha capek dan Argha tidak ingin berhubungan lagi dengan seorang wanita. Entah itu dengan Ilona, ataupun wanita lainnya."
Nyonya Rosma menggerutu dalam hati, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. Dia pun hanya melengos keluar dari kamarnya Argha.
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya ya 🤗🙏
__ADS_1