Takdir Gintani

Takdir Gintani
Berpisah


__ADS_3

"Ada apa ini Nak Argha? Jika memang ada masalah, sebaiknya kita bicarakan baik-baik. Jangan terbawa emosi. Ingatlah Nak, emosi itu salah satu bisikan setan," ucap Kakek Wira mencoba bicara baik-baik dengan cucu menantunya.


"Gintani berselingkuh," jawab Argha tanpa basa-basi.


Kembali Kakek Wira terkejut mendengar jawaban Argha.


"Tapi, bagaimana mungkin? Selama ini Kakek selalu mendidik Gintani dengan baik. Dia tidak mungkin melakukan perbuatan hina seperti itu," tegas Kakek Wira. Ada rasa tak suka saat cucu menantunya menuduh cucunya berbuat yang tidak-tidak.


"Anda bisa tanya sendiri kepada cucu Anda. Gintani itu tidak sebaik yang Anda kira. Dia pernah menjual dirinya pada saya saat dia masih gadis. Dan sekarang, saat kami sudah terikat janji, saya pikir Gintani bisa berubah, tapi nyatanya, sama saja. Dia tidak pernah puas dengan satu laki-laki. Sekali pelacur maka selamanya akan tetap menjadi pela–"


"Cukup Mas! Hentikan semua ucapanmu!" Gintani memotong kalimat Argha. Dia sudah tidak tahan lagi mendengar penghinaan Argha.


"Kenapa? Apa kamu keberatan? Hei, sadar diri donk! Bukankah itu kenyataan yang ada tentang diri kamu, dasar wanita murahan!" Argha mulai berteriak kepada Gintani.


"Cukup Nak Argha! Ini rumah saya, dan sungguh sangat tidak sopan jika Nak Argha bersikap kasar di rumah orang lain. Sekarang, silakan kalian pulang. Jika tujuan kalian hanya untuk mengembalikan Gintani, saya pikir saya sudah menerimanya. Mulai sekarang, kalian sudah tidak memiliki hak apa pun lagi terhadap cucu saya. Pintunya masih terbuka, saya rasa kalian tahu di mana arah pintunya," ucap Kakek Wira seraya berlalu pergi ke kamarnya.


"Aku rasa, apa yang diucapkan Kakek sudah jelas Tuan Argha yang terhormat. Silakan Anda pergi dari sini. Dan satu lagi Tuan Argha, aku pastikan kamu akan menyesal jika suatu hari nanti kebenaran itu terbongkar," ucap Gintani penuh penekanan.


"Cih, jangan pernah berbicara tentang kebenaran di hadapanku. Faktanya, kamu memang terlahir sebagai wanita hina, dan selamanya akan selalu seperti itu!" jawab Argha, geram.


Gintani maju beberapa langkah mendekati suaminya, tepatnya mantan suami.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat indah di pipi mulus Argha. "Tamparan ini tidak sepadan dengan hinaan yg telah kamu torehkan untukku. Namun aku harap, tamparan ini akan selalu kamu ingat sebelum kamu menghina seorang wanita. Dengarkan aku baik-baik Tuan Argha Putra Adisastra. Aku memang tidak punya bukti apa pun untuk membela diri. Namun aku yakin, Tuhan tidak pernah tidur. Suatu hari nanti kamu akan menarik kembali semua kata-katamu, Tuan Argha. Camkan itu!"


Setelah puas mengutarakan isi hatinya, Gintani pergi ke kamar. Dia pun tak menghiraukan keberadaan Argha dan Tuan Jaya. Sampai detik mereka pergi, baik Gintani dan Kakek Wira, tak ingin menemuinya. Hingga Argha dan Tuan Jaya terpaksa berpamitan kepada Bik Susan dan Mang Rakib.

__ADS_1


Ada rasa sesak menyelimuti hati Argha saat meninggalkan rumah itu. Entahlah, tapi separuh jiwanya seakan tertinggal dalam rumah itu. Semua kehangatan dan kelembutan istrinya mulai menari-nari dalam benaknya. Tiba-tiba saja rasa rindu menggelitik hatinya. Tapi tidak! Saat ini mereka sudah bukan suami istri lagi. Mereka telah berpisah, dan itu adalah jalan yang terbaik sebelum mereka saling menyakiti.


Tanpa menjeda waktu, Argha dan Tuan Jaya pun kembali ke kotanya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Gintani merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Secara lahir maupun fisik, sungguh sangat melelahkan. Kembali air matanya meleleh saat mengingat hinaan sang suami. Dia benar-benar tidak pernah menyangka harus mengalami nasib seperti ini di dalam pernikahannya.


Ujian apalagi ini, Tuhan? Kenapa Engkau hukum aku atas kesalahan yang tidak aku perbuat. Sungguh aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku bisa sampai berada di tempat itu? Nando? Ya, aku harus menghubungi Nando dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu?


Gintani meraih tasnya. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Gintani mencoba menghubungi Nando. Namun ternyata, nomor Nando sudah tidak aktif lagi. Beberapa kali Gintani menekan nama Nando dalam kontaknya, tapi hasilnya tetap sama.


Gintani semakin yakin jika ini hanyalah sebuah permainan kotor untuk menghancurkan hubungannya dengan Argha. Tapi kenapa? Ada apa dibalik semua ini? Dan kenapa Nando tega melakukan semua ini? Apa hubungan Nando dengan pernikahannya?


"Aargh!"


Gintani kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. Semakin Gintani memikirkannya, semakin sakit pula kepalanya. Gintani pun bangkit dan segera pergi ke kamar mandi. Mungkin guyuran air dingin di tubuhnya, bisa membuat berat di kepalanya sedikit menghilang. Gintani pun mulai membersihkan dirinya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Bagaimana Lex, semua persiapannya sudah beres?" tanya Heru pada Alex yang sudah dia jadikan asistennya.


"Semuanya sudah siap, Her. Hanya tinggal menunggu harinya saja," jawab Alex.


"Baiklah, kita undang juga beberapa tokoh masyarakat dan warga sekitar Lex. Saya nggak mau mereka salah paham dengan beroperasinya pabrik ini di wilayah mereka," ucap Heru.


"Tentu saja, undangan untuk para tokoh masyarakat sudah disebar. Sedangkan untuk para warga, mungkin nanti sore akan kita umumkan di mushola," jawab Alex.

__ADS_1


"Ide yang bagus. Semoga saja pabrik ini bisa membawa keberkahan bagi para warga di sini," ucap Heru.


"Aaminn ... aku yakin berkah, Her. Dengan dibukanya kembali pabrik ini, para warga bisa kembali menjadi orang-orang yang produktif," timpal Alex.


"Iya Lex, kamu benar. Aku senang akhirnya mereka memiliki pekerjaan lagi untuk menghidupi anak istrinya," ucap Heru.


"Tepat sekali. Sebagai perwakilan dari para warga di sini, saya ucapkan terima kasih karena Bapak Khairuman Heru Satria sudah mau bersedia membuka pabrik terbengkalai ini menjadi sebuah pabrik yang produktif kembali," ucap Alex seraya membungkukkan setengah badannya


"Apaan sih, Lex. Nggak usah terlalu menyanjung saya seperti itu, ah. Ini juga berkat dukungan kamu dan para pekerja," jawab Heru.


"Hahaha,... tapi bener, 'kan? Seandainya kamu tidak datang ke desa ini, mungkin selamanya pabrik ini akan menjadi pabrik tua yang tak terurus," ucap Alex.


"Hmm, bisa jadi."


"Eh, ngomong-ngomong, apa motivasi kamu datang ke desa ini? Tidak mungkin, 'kan, pabrik tua yang terpencil ini bisa menarik perhatianmu sampai sejauh ini?" tanya Alex, penasaran.


"Hahaha ... bisa saja kamu, Lex. Namun sejujurnya, saya datang ke mari hanya untuk menenangkan hati saja," jawab Heru.


"Dari?"


"Yang jelas dari seorang wanita, hehehe...."


"Memang, di mana pun juga, seorang wanita selalu membuat hati para pria gelisah," timpal Alex.


"Hahaha, kamu bisa saja, lex!"


Heru dan Alex tertawa memikirkan nasib mereka yang tak jauh beda.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya.. πŸ™πŸ€—


__ADS_2