
Senja mulai menghilang. Warna kejinggaan pun mulai berganti dengan gelapnya malam. Gintani masih terus menunggu kedatangan suaminya dengan perasaan kacau. Kecemasan mulai tergambar di raut wajahnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Entah kenapa, hatinya terasa gundah tanpa alasan. Apakah mungkin ini firasat seorang istri yang terabaikan?
"Assalamu'alaikum...!" Tiba-tiba, seseorang mengucap salam seraya membuka pintu kamar rawat Gintani. Tampak Nadhifa memasuki kamar diikuti oleh Bram di belakangnya. "Kakak ipar!" ucap Nadhifa seraya menghambur memeluk Gintani yang tengah duduk bersandar di ranjang.
"Sst...sudahlah, Fa!" Gintani mencoba menenangkan Nadhifa yang terisak dalam pelukannya.
"Maafkan kami, Gin! Kami baru bisa menjenguk kamu sekarang," ucap Bram seraya menaruh keranjang buah di atas nakas.
"Tidak apa-apa, Kak!" jawab Gintani.
Nadhifa mengurai pelukannya. "Kenapa Kakak tidak memberitahu Dhifa dari kemarin? Kalau Dhifa tahu, Dhifa pasti segera datang buat temenin Kakak di sini."
"Maaf, Fa. Ponsel Kakak hilang. Lagipula, Kakak tidak mau mengganggu konsentrasi bekerja kamu," jawab Gintani.
"Ish, Kakak ini...!" Nadhifa mengerucutkan bibirnya.
"Oh iya, Gin! Apa Argha belum juga datang?" tanya Bram
Gintani menggelengkan kepalanya.
"Ish, kemana sebenarnya dia?" gerutu Bram
"Jadi, Kak Bram juga tidak tahu kemana perginya Mas Argha?" tanya Gintani.
"Jujur aku tidak tahu, Gin. Kemarin dia pergi terburu-buru. Dia sendiri tidak mengatakan dia mau pergi kemana. Namun ekspresi wajahnya terlihat cemas."
"Cemas?" tanya Gintani heran.
Bram mengangguk. "Dia terlihat cemas begitu mendapatkan pesan. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa yang telah mengirimnya pesan. Argha tidak mengatakan apa pun."
Jantung Gintani berdegup semakin tak beraturan. Hatinya benar-benar gelisah begitu mendengar penuturan Bram. Di mana kamu, Mas? Kenapa perasaanku tak enak begini? batin Gintani memegang dadanya.
"Sudahlah, Kak! Jangan terlalu dipikirkan! Mungkin ada pekerjaan penting yang harus segera diurus Kak Argha." Nadhifa mencoba menenangkan Gintani.
Malam ini, Nadhifa dan Bram memutuskan untuk menjaga Gintani di rumah sakit.
🍀🍀🍀
Di apartemen, Ilona masih terus merintih menahan rasa sakit di area perut bawahnya. Suara rintihannya mulai berubah menjadi erangan kecil saat rasa sakit itu terus menyerang.
"Aargh...! Sakit sekali, Kak!" pekik Ilona seraya membungkukkan badan memegangi perut bagian bawahnya.
"Na, kita ke rumah sakit ya? Jujur, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku bukan dokter, Na!"
"Nggak Kak, aku nggak butuh dokter. Aku hanya butuh Kakak terus berada di sampingku," jawab Ilona.
"Ish, Na! Percuma Kakak menemani kamu. Semua itu tidak akan meredakan rasa sakitmu," jawab Argha.
Ilona terus menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar degil, sehingga membuat Argha kembali mendecak kesal.
"Ya, sudah...! Terserah kamu saja!" ucap Argha berlalu pergi meninggalkan Ilona.
__ADS_1
"Ma-mau kemana, Kak?"
"Aku mau mengambil air hangat untuk meredakan rasa sakit di perut kamu," jawab Argha.
Beberapa menit kemudian, dia kembali lagi dengan alat kompres yang telah diisi air hangat. Argha pun meletakkan alat tersebut di perut Ilona yang tengah berbaring.
Untuk beberapa waktu, rasa sakit yang Ilona rasakan mulai reda. Ilona kembali memejamkan matanya. Sementara, Argha terus menerus merutuki nasibnya yang terjebak di apartemen Ilona.
.
.
.
Menjelang pagi, Argha kembali terbangun karena mendengar erangan Ilona yang semakin hebat. Setengah sadar, dia pun segera berlari menuju ranjang Ilona.
"Na..! Kamu kenapa, Na?" tanya Argha, panik.
"Sa...Sakit Kak...! Aarghh...! Sa-sakit sekali...!" jerit tertahan Ilona yang terus memegangi perut bagian bawahnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Na!" ucap Argha, memangku tubuh Ilona.
"Turunkan, Kak! Na nggak mau ke rumah sakit!" Ilona mulai meronta di pangkuan Argha.
"Cukup ilona! Ini perintah dan Kakak tidak mau kamu membangkang perintah Kakak!" Argha meninggikan suaranya.
Seketika Ilona pun tertunduk seraya menyusupkan wajahnya di ceruk leher Argha.
🍀🍀🍀
"Kakak mohon, Fa! Tolong bujuk pihak rumah sakit agar mengizinkan Kakak pulang! Kakak sudah nggak betah di sini terus," rengek Gintani kepada adik iparnya.
"Tapi Kak, visit dokter jam 9 pagi. Kakak tidak bisa seenaknya meninggalkan rumah sakit ini."
"Tapi Kakak sudah nggak tahan, Fa. Apalagi Kakak kepikiran Kakak kamu terus. Kakak ingin mencarinya, Fa."
"Sudahlah Kak! Papah sudah mengutus orang untuk melacak keberadaan Kak Argha. Kakak istirahat saja di sini. Kesehatan Kakak jauh lebih penting daripada mengkhawatirkan keberadaan Kak argha yang nggak jelas."
"Fa...! Jangan bicara seperti itu! Bagaimanapun juga, kakak kamu adalah suaminya Kakak. Jadi sudah kewajiban Kakak untuk mengkhawatirkan dia."
"Ish Kakak ini...."
"Ada apa ini?" tanya Bram yang baru saja pulang membeli sarapan untuk mereka.
'Kak Gintan memaksa untuk pulang terus, Kak. Fa nggak tahu harus gimana lagi membujuk Kak Gintan, huff!" keluh Nadhifa.
"Ya sudah, kalian makan saja dulu! Biar aku temui dokter jaga untuk memeriksa Gintani, apakah sudah diperbolehkan pulang atau belum?" ujar Bram.
"Tadi Fa sudah tanya perawat, dia bilang jadwal kepulangan itu harus menunggu visit dokter. Dan visit dokternya jam 9 pagi."
"Tapi itu terlalu lama, Fa. Kak Bram, tolong bujuk dokter jaga agar bisa memberikan izin pulang untuk Gintan, please!" ucap Gintani seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Bram hanya bisa menghela napasnya. Sejurus kemudian, dia mengangguk, menyanggupi permintaan Gintani.
.
.
.
Setelah melakukan negosiasi yang cukup alot, akhirnya Bram berhasil membujuk dokter Richard yang kebetulan baru tiba di rumah sakit. Bersama-sama, mereka pun pergi ke ruang rawan Gintani. Dokter Richard kembali memeriksa keadaan Gintani. Sebelum Gintani pulang, dia menyempatkan diri untuk mengganti kain kasa di kepala Gintani dengan yang baru.
"Ingat baik-baik ya Gin, ganti kasanya setiap pagi! Gunakan cairan infus untuk membersihkan lukanya. Setelah itu, tetesi dengan betadine saja dan bungkus lagi dengan kain kasa yang baru!" ucap dokter Richard seraya kembali membalut kepala Gintani.
"Iya, Kak! Cerewet sekali sih, jadi dokter!" cebik Gintani.
"Ish kamu ini...! Ya sudah, tolong di tebus obat-obatannya di apotek, Bram!" pinta dokter Richard seraya menyerahkan salinan resep yang telah ia siapkan sebelumnya.
Bram pergi ke apotek, sedangkan Nadhifa membereskan barang-barang milik kakak iparnya. Beberapa menit kemudian, mereka keluar ruangan. Gintani duduk di kursi roda yang di dorong dokter Richard. Sementara Nadhifa berjalan di sampingnya sambil menjinjing tas yang berisi pakaian Gintani.
.
.
.
"Gintani! Kamu sudah diizinkan pulang?" Tiba-tiba Jessica datang menghampiri mereka.
"Loh, Mbak Jessica...? Sedang apa di sini? Mbak sakit?" tanya Gintani yang merasa terkejut melihat kedatangan Jessica di rumah sakit.
"Ish, aku tuh sengaja ke sini untuk menemani kamu. Aku nggak mau kamu melamun sendirian di kamarmu. Tapi syukurlah, kamu sudah di izinkan pulang," jawab Jessica.
Saat mereka tengah berbincang-bincang seraya menunggu Bram. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang yang sangat dikenalinya.
"Apa kalian tidak melihat dia kesakitan seperti ini, hah?" bentak Argha kepada salah seorang perawat.
"Saya mengerti Pak, tapi kami tidak bisa menindaknya lebih lanjut jika bapak tidak mengisi formulir pendaftaran pasien. Mohon maaf Pak, ini sudah prosedur rumah sakit," jawab perawat itu dengan perasaan gugup.
"Huh, rumah sakit macam apa ini? Sudah dua malam dia menahan sakit seperti ini. Apa kalian akan membiarkan dia sekarat dulu, baru menindak pasien, hah?" Argha kembali berteriak, sedangkan Ilona masih merintih kesakitan dalam pangkuan Argha.
Deg... Deg... Deg....
Jantung Gintani berdetak kencang saat mendengar ucapan suaminya. Tak disangka, pertemuan tak terduganya dengan sang suami membuat hati Gintani hancur berkeping-keping.
"Ja-jadi, selama dua malam Mas bersamanya?"
Seketika, Argha menoleh saat mendengar suara wanita yang sangat dirindukannya.
"Gi-gintan!"
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya ya....
__ADS_1
Makasih....