Takdir Gintani

Takdir Gintani
Merpati Putih


__ADS_3

Pagi mulai menyapa. Gintani masih sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Dia sengaja menyuruh bik Susan untuk beristirahat karena dia tidak mau merepotkan wanita itu.


Sementara itu, di dalam kamarnya, tampak Argha sedang mengemasi pakaiannya ke dalam kopernya. Hari ini dia hendak kembali ke Jakarta. Ada banyak pekerjaan yang sudah menunggunya semenjak dia melangsungkan pernikahan.


"Berkemaslah!" perintah Argha saat dia melihat Gintani memasuki kamarnya.


Gintani mengernyitkan keningnya, namun dia enggan untuk bertanya. Sekilas dia melirik koper milik Argha yang telah terisi dengan pakaiannya. Gintani pun paham maksud dari perintah suaminya.


"Jam berapa kita berangkat?" tanya Gintani tak ingin berbasa-basi.


"Secepatnya!" jawab Argha masih menata pakaiannya.


Gintani pun segera mengeluarkan koper miliknya dan mulai menata pakaian dan barang-barang yang hendak di bawanya. Selesai berkemas, Gintani meminta izin untuk pergi ke surau.


"Untuk apa kau pergi ke sana?" tanya Argha.


"Aku tidak mungkin meninggalkan surau tanpa berpamitan kepada pak ustadz," jawab Gintani.


"Jadi kau ingin menemui ustadz muda yang kau cium itu? Apa sebegitu berartinya dia, hingga kau harus berpamitan dengannya ?"


Gintani menatap tajam suaminya. "Jika kau tidak pernah tahu kebenarannya, maka sebaiknya kau diam!" ucap Gintani seraya berlalu pergi dari hadapan suaminya.


Argha hanya mampu mengepalkan kedua tangannya saat melihat sikap Gintani. Ingin rasanya dia menyambar tubuh ramping itu untuk memberikan hukuman. Namun Argha sadar jika surat perjanjian yang dibuatnya, membuat dia tak memiliki kekuasaan apa pun terhadap kehidupan pribadi Gintani.


Selepas berkemas, Argha keluar dari kamarnya.


"Sarapan dulu, tuan!" ucap bik Susan begitu melihat tuannya keluar kamar.


Argha tersenyum, dia kemudian menduduki kursinya untuk memulai sarapan.


"Istri saya mana, bik? Apa dia sudah sarapan ?" tanya Argha seraya menyendok nasi.


"Neng Gintan sedang pergi ke surau depan untuk berpamitan kepada kyai Solihin. Neng Gintan berpesan agar tuan sarapan duluan, katanya tidak perlu menunggu dia pulang," jawab bik Susan seraya membantu menuangkan air minum untuk majikannya.

__ADS_1


Selera Argha seketika menghilang saat mendengar jawaban bik Susan. Argha pun segera pergi ke depan untuk memanaskan mobilnya. Beberapa menit kemudian, dia melihat gadis cantik bermata sendu itu memasuki halaman rumahnya seraya memegang tangkai bunga di depan dadanya.



Hati Argha mulai meradang melihat tangkai bunga yang dipegang erat Gintani. Seketika pikirannya langsung melayang mengingat pemuda bersorban itu. Argha segera menghampiri Gintani dan merebut bunga itu dari tangan Gintani.


Gintani terkejut, sontak dia mendongakkan wajahnya dan menatap tajam suaminya seraya mengernyitkan keningnya.


"Suamimu masih berada di hadapanmu, Gintan! Berani-beraninya kamu pergi menemui laki-laki itu tanpa izin dariku, hah!" ujar Argha geram. Rahangnya mengeras menahan amarah.


Gintani hanya mampu memutarkan kedua bola matanya. Dia lelah menghadapi prasangka buruk laki-laki arrogant di hadapannya. Dia pun kembali melangkahkan kakinya melewati suaminya.


Brugh....


Argha menarik tangan Gintani sehingga gadis itu terjerembab dalam pelukannya.


"Jawab aku Gintan! Jangan hanya diam! Setidaknya, bisakah kau berpura-pura menjadi istriku hanya untuk satu tahun setengah saja! Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi aku tidak bisa mengorbankan kebahagiaan ayahku. Dia sangat berharap dengan perjodohan ini. Lupakan dulu laki-laki itu sampai kita bisa mencari jalan keluar untuk memutuskan ikatan ini."


Dada Gintani terasa sesak mendengar tuduhan suaminya. Ternyata, sikap nekatnya terhadap ustadz Husni dulu, membuat laki-laki yang sedang memeluknya itu menjadi salah paham. Namun Gintani terlalu lelah untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Biarlah dia dengan pemikirannya sendiri, toh semua itu tidak akan ada pengaruhnya bagi jalan pernikahan yang sedang aku jalani, batin Gintani.


"Assalamu'alaikum, Nak Gintan!" sapa seorang lelaki tua berjenggot putih yang datang bersama seorang anak kecil berhijab.


Gintani segera mendorong tubuh Argha. Dia kemudian menoleh ke arah orang yang menyapanya.


"Eh, wa'alaikumsalam Pak Kyai!" jawab Gintani. "Mohon maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Ah ini ... saya cuma ingin mengantar cucu saya untuk memberikan kenang-kenangan dari anak-anak MDA," jawab kyai Solihin. "Ah, jadi ini suami kamu, Nak Gintan!" lanjutnya.


"Eh iya, Pak Haji, perkenalkan, ini suami saya, namanya Mas Argha. Mas, beliau Kyai Solihin, pengurus surau dan kepala MDA, tempat Gintan ngajar," jawab Gintani.


"Saya Haji Solihin. Senang bisa bertemu dengan anda. Mohon maaf kemarin saya tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian," ujar kyai Solihin seraya mengulurkan tangannya.


Sa ... saya, Argha, Pak Haji !" Dengan gugup Argha menerima uluran tangan Kyai Solihin, orang yang tanpa alasan dicemburuinya.

__ADS_1


Tunggu, benarkah aku cemburu? Tidak ... Tidak...! Aku tidak cemburu, aku hanya tidak ingin dia melewati batasannya. Batin Argha yang selalu menyangkal perasaannya.


"Ayo Nisa, berikan bingkisannya!" perintah kyai Solihin.


"Kak Gintan, ini hadiah pernikahan dari kami semua. Semoga Kak Gintan menyukainya," ucap gadis cilik berusia 7 tahun itu.


"Ah Terima kasih sayang!" ujar Gintani seraya berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis cilik itu. "Apapun yang kalian berikan, kakak pasti akan menyukainya. Boleh kakak buka sekarang?" tanya Gintani.


Nisa mengangguk senang.


Gintani segera membuka bungkusan kertas itu. Sejurus kemudian, tampak sebuah lukisan sepasang burung merpati yang sangat indah.



"Cantik sekali Nisa! Terima kasih, nak!"


"Sama-sama Kak! Nisa ingat kalau kak Gintan sangat menyukai burung merpati putih, karena itu Nisa sama temen-temen melukis sepasang burung merpati ini untuk kakak. Semoga pernikahan kakak langgeng ya!" do'a tulus gadis kecil ini.


Gintani mengelus lembut pipi Anisa. Aamiin, Terima kasih sayang," ucapnya.


"Om, titip kak Gintan, ya!" pinta Anisa malu-malu.


Argha yang sedang melamun menatap lukisan merpati putih itu, seketika terhenyak saat merasakan seseorang menarik ujung sweater yang dipakainya.


"Eh, i ... iya sayang! Om pasti akan menjaga kak Gintani. Bukankah dia istri om, juga?" jawab Argha.


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu, Gintan! Semoga selamat sampai tujuan!" ucap Kyai Solihin.


Setelah mengucapkan salam, dia pun kembali meraih tangan cucunya dan mengajaknya pulang.


Tinggal Argha yang menatap penuh tanya ke arah Gintani. Merpati putih ? gumamnya dalam hati....


Bersambung....

__ADS_1


Mohon maaf, 3 hari ke depan hiatus dulu yaaa. Tapi tak usah khawatir, stok part masih ada untuk hari esok.... 🤭🤭


Ditunggu boom like nya gaisss


__ADS_2