Takdir Gintani

Takdir Gintani
Penyesalan Tuan Jaya


__ADS_3

Sebuah tamparan kembali memotong kalimat Argha.


"Sudah Papa, hentikan ... fa mohon jangan tampar Kak Argha lagi. Bu-Bukankah setiap orang bisa melakukan kesalahan, Pa. Jangan hukum Kak Argha seperti itu, Fa mohon.." Nadhifa memohon kepada ayahnya.


"Minggir kamu, Fa! Papa harus memberikan pelajaran untuk Kakak kamu itu! Dia bukan hanya telah melukai Papa, tapi dia juga telah mencoreng nama baik keluarga. Apa yang harus Papa katakan pada keluarga besar kita tentang skandal yang telah dia buat, Fa? Bahkan keluarga besar kita belum mengetahui perceraian mereka, tapi Kakakmu itu...? Ya Tuhan ... Papa tidak tahu bagaimana mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu di akhirat kelak. Papa telah gagal, Fa. Papa telah gagal mendidik Kakakmu. Seandainya bunda kamu masih hidup, dia pasti akan menyesal karena telah melahirkan anak sebejat kamu, Ar!" teriak Tuan Jaya.


Puas melampiaskan amarahnya, Tuan Jaya pergi ke ruang kerja. Dia mengunci diri di sana.


Ayo, Fa bantu, Kak," ucap Nadhifa memegang lengan Argha dan membantunya untuk berdiri.


Dengan dipapah oleh Nadhifa, Argha berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya. Tiba di kamar, Argha duduk menyandar di headboard ranjang. Sedangkan Nadhifa, dia kembali turun untuk membawa es batu dan handuk kecil.


Beberapa menit kemudian, Nadhifa mengompres luka-luka di sekitar wajah Argha. Tamparan Tuan Jaya begitu keras, sehingga meninggalkan lebam-lebam kebiruan di wajah Argha.


"Maaf, ya Kak. Sakit, ya?" tanya Nadhifa yang melihat Argha meringis saat dia mengompresnya.


"Tidak apa-apa, Dek. Cuma sedikit," jawab Argha.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Kak? Kenapa berita itu bisa sampai muncul di televisi?" tanya Nadhifa, penasaran.


"Sudahlah, Dek. Kakak tidak ingin membahasnya," jawab Argha.


Nadhifa diam. Sebenarnya dia sangat kecewa dengan jawaban kakaknya. Tapi dia tahu, tak ada yang bisa memaksa Argha. Nadhifa pun kembali mengompres luka-luka itu.

__ADS_1


"Sudah selesai, Kak," ucap Nadhifa seraya membereskan bekas kompresan.


"Terima kasih, Dek," ucap Argha.


"Sama-sama. Kalau begitu, Kakak istirahatlah! Jika butuh sesuatu, Kakak bisa telepon Fa," jawab Nadhifa.


Argha mengangguk. Setelah Nadhifa pergi, Argha mulai merebahkan tubuhnya. Hati dan pikirannya benar-benar kacau saat ini. Entah bagaimana reaksi Gintani jika sampai dia tahu tentang berita ini? Tapi semua ini tidak akan terjadi jika dia tidak berselingkuh. Ini salahnya! Sudah jelas semua ini terjadi karena kesalahan dia. "Dasar wanita pembawa sial!" rutuk argha.


🍀🍀🍀


Bik Susan mendekati Gintani yang sedang asyik duduk di gazebo yang berada di kebun pepaya milik kakek Wira. Tampak Gintani sedang duduk menekuk kedua lutut dan mendekapnya dengan kedua tangan. Pandangannya lurus menatap hamparan sawah yang berada di bawah kebun. Namun, tatapan mata itu terlihat kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Bik susan mendekati Gintani dan duduk di sampingnya.


"Neng, Bibik tahu ini sangat berat untuk Neng. Tapi Bibik mohon, jangan terlalu dipikirkan. Neng harus ingat, Neng sedang mengandung. Tidak boleh stress, karena tidak baik untuk perkembangan janin yang ada di dalam kandungan Neng." Bik Susan mencoba menenangkan Gintani. Dia tahu jika saat ini hati Gintani pasti sedang terguncang karena berita tentang skandal mantan suaminya.


"Huss! Tidak baik berbicara seperti itu. Dalam hal ini, anak kalian tidak bersalah. Seorang anak tidak bisa memilih benih siapa dan dari ibu mana dia akan lahir. Anak itu anugerah. Titipan Gusti Allah, jadi patut kita syukuri, Neng. Yang terpenting, kita wajib mendidiknya agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang telah dilakukan orang tuanya." Bik Susan memberikan nasihat untuk Gintani.


Gintani hanya tersenyum tipis mendengar nasihat Bik Susan.


"Bibik benar, anak ini sama sekali tidak bersalah. Dia tidak harus menanggung kesalahan orang tuanya. Karena itu, biarlah baginya, mas Argha sudah mati. Dia tidak punya hak sedikit pun atas diri anak ini. Dan Gintan tidak akan pernah membiarkan anak ini mengetahui siapa ayahnya," tutur Gintani.


"Tapi, Neng ... baik den Argha ataupun anak Neng, mereka harus mengetahui satu sama lain. Tidak baik menyembunyikan sesuatu, apalagi ini menyangkut kehidupan seseorang. Masa depan anak kalian," saran Bik Susan.


"Tidak Bik! Mas Argha sudah cukup melukai hati Gintan. Dan Gintan tidak mau jika suatu hari nanti, mas Argha melukai hati anak Gintan," ucap Gintani dengan tegas.

__ADS_1


Bik susan terdiam. Dia tahu jika saat ini Gintani sedang emosi. Hatinya sedang bergejolak karena amarah. Dan orang yang sedang dikuasai amarah, dia tidak akan bisa menerima nasihat orang lain.


"Sudahlah, lebih baik sekarang Neng ambil wudhu dan solatlah. Waktu dzuhur sebentar lagi sudah mau habis. Ada baiknya kita curhat sama Gusti Allah, biar bisa mendapatkan ketenangan batin," ucap Bik Susan.


Gintani mengangguk, dia kemudian pergi ke rumahnya.


🍀🍀🍀


Hari sudah semakin sore. Namun para pemburu berita masih tetap berkeliaran di sekitar rumah Argha. Tuan Jaya bahkan harus menambah penjaga keamanan untuk berjaga-jaga dari sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Sudah cukup lama Tuan Jaya mengurung diri di ruang kerjanya. Dia bahkan tidak keluar untuk makan siang. Rumah terasa sepi karena semua orang tengah sibuk menyendiri di kamarnya masing-masing.


Mungkin hanya nyonya Rosma saja yang tidak terpengaruh dengan pemberitaan televisi. Bahkan, jika dia tidak mendapatkan ancaman dari suaminya, rasanya dia ingin menemui wartawan itu dan membeberkan aib putra angkat dan menantunya, tepatnya mantan menantunya yang sangat dia benci.


Tuam Jaya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya.


Ayah yakin bunda sudah melihat apa yang telah terjadi pada anak kita. Ayah juga yakin, bunda pasti sangat kecewa dengan sikap Argha. Tapi ayah mohon, jangan terlalu menyalahkan Argha. Salahkan ayah, bun. Ayah yang membuat Argha menjadi seperti itu. Ayah yang tidak bisa mendidik Argha dengan baik. Seandainya ayah tidak pernah menikah lagi dan fokus merawat Argha, semua ini tidak akan terjadi, bun. Ayah yakin, Argha pasti akan tumbuh menjadi seorang lelaki seperti apa yang kita harapkan. Tapi sekarang ... Ayah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Maafkan ayah, bun....


Ini kali kedua Tuan Jaya meneteskan air mata karena perbuatan anaknya.


Entah gadis mana lagi yang akan kau hancurkan masa depannya, nak? Papa sudah tidak sanggup lagi, nak. Semua ini salah Papa. Maafkan Papa, nak. Papa menyesal karena telah menikah lagi tanpa memikirkan perasaanmu dulu, maafkan Papa....


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2