Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kau !


__ADS_3

Waktu yang dipinta Argha pun tiba. Malam ini, Argha meminta Bram untuk mengecek kembali semua persiapan menuju kota itu.


“Kamu sudah memesan tiket pesawatnya ?” tanya Argha kepada asistennya.


Dahi Bram berkerut mendengar pertanyaan bos nya. Yang benar saja, apakah perjalanan Jakarta-Tasikmalaya harus menggunakan pesawat ? pikir Bram.


“Maaf bos. Aku pikir kita akan berangkat menggunakan mobil saja.” jawab Bram.


“Yang benar saja kamu, Bram ! Aku tidak akan sudi mengendarai mobil selama 5-6 jam. Belum lagi besok hari weekend. Aku tidak mau terjebak kemacetan di sepanjang jalan ! Lagian heran ya, sama bokap. Ngapain juga dia pilih lokasi terpencil seperti itu ? Huh, benar-benar menyusahkan saja !” gerutu Argha.


“Oke, bos ! Aku cek dulu penerbangan pertama besok menuju kota Tasikmalaya.” jawab Bram.


“Jika tidak ada penerbangan. Kamu minta Sani menyiapkan jet pribadi kita !” perintah Argha.


"Eit dah…, sultan mah bebas mo ngapain juga." gerutu Bram seraya menepuk jidatnya sendiri.


“Banyak omong lo ! Buruan pergi !” teriak Argha seraya melemparkan bantal sofanya.


Bram hanya bisa cengengesan mendapati sikap arogan sahabatnya.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya. Dengan menggunakan jet pribadinya, Argha berangkat menuju kota Tasikmalaya. Jarak tempuh Jakarta - Tasikmalaya dilalui selama kurang lebih satu jam. Tiba di bandara Wiriadinata, mereka disambut oleh sebuah mobil dinas pemerintahan kabupaten. Perjalanan bandara menuju penginapan di kabupaten memakan waktu sekitar 45 menit.


“Tunggu ! Aku ingin langsung melihat lokasi !” ujar Argha.


“Tapi tuan, kita baru saja sampai. Apa anda tidak ingin beristirahat dulu ?” tanya ajudan yang diperintahkan untuk mendampingi Argha.


“Hanya sebentar saja !” pinta Argha.


“Baiklah kalau begitu !” jawab pak Iman, sang ajudan.


Pak Iman kembali memutar mobilnya keluar dari hotel Asri Dewi. Perjalanan dilalui selama 30 menit sebelum mereka akhirnya tiba di sebuah jalan yang semakin menyempit. Pak Iman memarkirkan mobilnya di pelataran parkir stasiun televisi swasta. Setelah itu mereka berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km untuk mencapai lokasi.


“Ini, tuan ! Di sinilah lokasi yang akan dijadikan tempat wisata alam. Di depan ada sebuah air terjun dan di bawahnya terdapat kolam.” ujar pak Iman menunjukkan lokasi tempatnya.


Argha menyusuri jalanan berbatu menuju kolam air terjun yang dia tunjukan. Tiba di sana. Argha merentangkan tangannya seraya menengadahkan wajahnya ke atas untuk menghirup udara segar pegunungan. Saat dia hendak berbalik. Netranya menangkap seorang gadis berhijab yang tengah duduk di atas, di sebuah batu besar. Sayangnya, wajah sang gadis tidak begitu jelas terlihat oleh Argha. Entah apa yang tengah dilakukan gadis itu. Satu yang pasti, Argha bisa melihat jika gadis itu sedang menikmati pemandangan air terjun di depannya.



“Mari pak ! Saya antarkan kembali ke tempat penginapan !” ujar pak Iman.


Seketika Argha mengurungkan niatnya untuk mendekati gadis itu saat pak Iman mengajaknya kembali ke penginapan. Argha pun mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu. Mereka akhirnya kembali ke penginapan untuk beristirahat.


Argha dan Bram segera membersihkan dirinya begitu mereka sampai di kamar hotel. Setelah itu mereka beristirahat sejenak di kamarnya masing-masing.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain. Gintani tampak masih asyik melihat aliran air terjun yang saling berkejaran. Entah kenapa, semenjak Raisya mengajaknya kemari, tempat ini seolah menjadi candu bagi Gintani. Di tempat inilah Gintani bisa merasakan sebuah kedamaian. Beban hidupnya selama ini, seakan terhempas seperti aliran air terjun yang tiba di kolam.


“Sudah ku duga, kamu pasti berada di sini !”


Suara Raisya sahabatnya, seketika membuyarkan lamunan Gintani.


“Astagfirullah….! Kamu ngagetin aja sih, Sya !” ujar Gintani seraya menepuk pelan lengan sahabatnya.


“Maaf, Tan ! Kamu lagi ngapain sih, ngelamun sendirian di sini? Kesambet jin Cimedang, baru tau rasa ntar !” ujar Raisya.


“Ish, kok do’ain Gintan yang jelek sih Sya ! Nggak baik, tau !" rengut Gintani.


“Abisnya gue udah bolak balik ke rumah lo. Kakek lo bilang lo belum pulang juga, kan capek gue. Lagian kenapa telpon gua nggak di angkat !" gerutu Raisya.


“Ya elah Sya. Kamu lupa ya ? Di sini kan nggak ada sinyal." ucap Gintani.


“Oh iya ya, he...he...he..…!” jawab Raisya terkekeh.


“Ngapain kamu cari aku, Sya ?" tanya Gintani.


“Mmm, gue cuma mau menyampaikan amanat dari ustadz Husni, Tan. Katanya besok lo diminta untuk menemuinya di sini !” jawab Raisya.


"Ngapain ?” tanya Gintani, heran.


“Gue nggak tahu.” jawab Raisya.


“Tapi maaf, lo harus menemuinya. Sebenarnya, ustadz Husni ingin melanjutkan studinya ke Mesir. Karena itu dia ingin bertemu lo untuk berpamitan." saran Raisya.


Gintani menghela napasya, "Haruskah ?” tanyanya pada Raisya.


Risya pun mengangguk menjawab pertanyaan Gintani.


🍀🍀🍀


"Apa kamu sudah tentukan jadwal pertemuan kita dengan perwakilan pemda setempat ?” tanya Argha kepada asistennya.


Bram mengangguk seraya menyantap makan malamnya.


“Jam berapa ?” Argha kembali bertanya.


“Sekitar pukul 8 pagi di aula pemda ?" jawab Bram.


“Serius ? Apa perkantoran tidak libur ? Bukan kah esok hari minggu ?” tanya Argha, heran.


"Sebenarnya libur bos ! Tapi pihak pemda ingin mengenalkan kita kepada kegiatan Car Free Day yang dilaksanakan di pendopo kabupaten. Ya sambil menikmati aneka kuliner khas Tasikmalaya. Aku dengar setiap hari Minggu selalu diadakan aerobic di halaman depan pendopo. Lumayan kan bos, sekalian cuci mata !” jawab Bram, bersemangat.


"Cuci mata lo tuh pakai detergen !” sungut Argha kesal melihat tingkah playboy Bram yang hanya omong kosong doang.

__ADS_1


“Carikan aku sebuah moge buat pergi ke tempat lokasi ?


"Uhuk…uhukkk “


Bram tersedak begitu mendengar perintah bos nya.


“Lah, bukannya tadi kita udah dari tempat lokasi, bos ?” tanya Bram.


“Besok sebelum pulang, aku mau mampir dulu ke tempat lokasi itu.” jawab Argha santai.


“Sendiri ?” Bram merasa heran.


“Ya…”


“oke.”


🍀🍀🍀


Keesokan harinya. Selepas meeting, dengan menggunakan sebuah motor Suzuki Thunder yang telah di sewanya melalui pihak hotel, Argha pun pergi ke lokasi yang kemarin dikunjunginya. Seperti biasa, dia memarkirkan motornya di tempat parkir stasiun televisi daerah setempat. Setelah menitipkan motornya pada pihak keamanan, Argha mulai menyusuri jalan setapak. Kali ini tujuannya adalah mendaki bukit yang ada di sekitar lokasi.


Tiba di atas, Argha kembali merentangkan tangannya seraya memejamkan matanya. Semilir angin terasa dingin menerpa wajahnya. Argha tersenyum merasakan kesegaran udara yang masih sangat bersih dan menyejukkan. Dia membuka matanya menatap pemandangan di bawah bukit yang begitu indah.



Argha berlari-lari kecil mengelilingi area bukit. Setelah agak berkeringat, dia pun mulai duduk dan menyandarkan tubuhnya di bawah pohon yang cukup rindang. Entah kenapa Argha merasa betah untuk berlama-lama tinggal di tempat ini. Tiba-tiba terbersit di hatinya untuk mendirikan Villa pribadinya di bukit ini.


Puas merasai kedamaian dan sejuknya udara pegunungan, argha melirik jam yang melingkar di tangannya. waktu menunjukkan pukul 10.21. Hmm, ternyata sudah siang. Aku harus segera pergi dari sini. Gumam Argha dalam hati.


Argha kembali menuruni bukit. Saat dia tiba di bawah, netranya kembali terkunci pada seorang gadis berhijab yang sedang berdiri di tepi kolam air terjun.



Sepertinya itu gadis yang sama. Batin Argha. "Apa yang dia lakukan di sini sendirian ?" gumamnya.


Karena merasa penasaran, Argha pun berjalan mendekati gadis itu…


“Permisi….!”


Gadis itu membalikkan tubuhnya saat seseorang menyapanya.


“Kau….!!!


Byurrrr……


Bersambung....


Semoga masih suka ceritanya meskipun othor telat up... 🙏

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya yaaa... ☺☺


__ADS_2